Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 130


__ADS_3

" Kamu kenapa liatin terus?" tanya Raihan. Kesal dengan Nayra yang terus melihatnya dengan tersenyum mengejek.


" Dasar cemburuan," goda Nayra.


" Aku tidak cemburu. Aku tidak mungkin membiarkanmu. Menerima hadiah dari orang asing, itu bisa menjadi kebiasaan," sahut Raihan mengelak.


" Alasan," sahut Nayra dengan bibir kerucutnya.


" Lagi pula kamu sedekat itu sama Pak David. Sampai mengetahui ulang tahunmu," ujar Raihan mengalihkan topik.


" Ulang tahunku sama dengan ulangtahun Putrinya. Jadi wajar dia memberikan aku hadiah. Apalagi karena bekerja sama dengan Adverb. Pak David tidak bisa mengunjungi makam Puttrinya. Jadi apa salahnya menerima hadiahnya. Lagi pula ini bukannya hadiah yang paling istimewa," ujar Nayra terus menghirup aroma Liliy tersebut.


" Istimewa katamu. Jadi menurutmu seumur hidupmu itu hadiah paling istimewa yang kamu terima. Nara aku bisa membelikanmu 1 kontainer bunga liliy," sahut Raihan kembali kesal.


Nayra malah tersenyum mendengar nada suara Raihan yang masih di balut rasa cemburu.


" Iya aku tau, bahkan kamu menyiapkan ladang bunga Liliy untukku. Raihan semua hadiah itu istimewa untukku sangat berharga untukku. Dari siapapun itu berharga untukku. Tapi yang paling istimewa selama aku ulang tahun. Adalah hadiah yang kamu berikan tadi malam," sahut Nayra tersenyum.


" Hadiah, aku tidak memberimu hadiah tadi malam," sahut Raihan yang memang belum memberikan Nayra kado.


" Ini," ujar Nayra menunjukkan punggung tangannya. Cincin yang di berikan Raihan.


" Ini hadiah yang paling istimewa yang pernah aku terima," ujar Nayra dengan senyum kecerian di wajahnya. Raihan pun tidak kalah senyum bahagia saat mendengarnya.


" Benarkah?" tanya Raihan. Nayra mengangguk.


" Kenapa tidak bilang dari tadi. Jadi kita tidah perlu ribut," ujar Raihan.


" Kamu aja yang berlebihan," sahut Nayra ketus, " sudah sana pulang," usir Nayra.


" Kamu mengusirku, karena sudah mendapatkan itu?" tanya Raihan.


" Bukan begitu, aku mau mandi, mau kekantor juga, kamu juga kan, sudahlah sana pulang, aku harus siap-siap nanti telat," ujar Nayra.


" Ya sudah aku pulang dulu, aku tidak bisa mengantarmu kekantor, aku ada urusan sebentar," ujar Raihan mengusap pucuk kepala Nayra.


" Iya tidak apa-apa," jawab Nayra mengangguk tersenyum.


" Ingat, jangan di simpan lama-lama bunga itu. Jika sudah layu buang. Eh jangan hampir layu langsung buang. Aku akan membelikanmu yang baru," tegas Raihan masih saja cemburuan.


" Iya," jawab Nayra dengan nada tidak ikhlasnya.


" Ya sudah aku pulang dulu," ujar Raihan pamit sekali lagi.


" Hati-hati," sahut Nayra melambaikan tangannya melihat kepergian Raihan.

__ADS_1


" Dasar, cemburunya terlalu berlebihan. Sudah seperti itu. Tidak mau mengaku lagi," gerutu Nayra kembali menghirup aroma bunga liliy dengan wajahnya yang di penuhi senyum. Lalu Nayra memasuki Apartemennya.


***********


David berada di dalam mobil, duduk di jok belakang. Sementara Yogi fokus menyetir. Wajah David terlihat murung. Sedari tadi David melihat ponselnya.


Di layar ponsel itu terdapat foto bayi kecil. Matanya yang bergenang hanya melihat foto itu dengan dalam. Sambil terus mengusap-usapnya dengan jarinya.


" Selamat ulang tahun sayang, jika kamu masih hidup kamu sudah akan menjadi dewasa. Kamu akan merengek kepada papa. Meminta papa menikahkan mu. Maafkan papa seandainya papa tidak egois kamu tidak mungkin pergi. Semua ini salah papa. Papa yang salah.


Flass back.


David yang selesai meeting dengan kliennya mendapat pesan masuk. Yang ternyata pesan dari mamanya. Dimana David mendapatkan foto dari mamanya. Foto bayi kecil yang tertidur pulas.


..." Bayi kamu sudah lahir, lihatlah betapa cantiknya dia. Kelak dia akan menjadi pewaris Wilson,"...


..." Lalu bagaimana keadaan Jihan?" tanya David yang mencemaskan istrinya....


..." Dia baik-baik saja,"...


David tersenyum lebar ketika menerima foto bayinya dan kabar istrinya yang juga baik-baik saja. Wajahnya begitu bahagia dan tidak sabar akan pulang.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. David akhirnya bisa pulang. David mengambil penerbangan paling awal. Supaya sampai ke negaranya untuk melihat istri dan bayinya. Setelah melakukan perjalanan dengan lancar.


David di jemput supir pribadinya. Wajahnya yang terlihat bahagia. Hanya senyum lebar yang ada di wajah pria tampan itu. Apa lagi jika dia Sudah tidak sabar menggendong bayinya.


Sekarang David menangis Sengugukan di bawah nisan bayi yang bertuliskan. Nara Raqilla Wilson. Nama bayi yang memang di rencanakan sebelumnya bersama Jihan.


Betapa hancurnya hatinya. Belum sempat menggendong bayi itu. Tapi Tuhan sudah mengambilnya. Bukan hanya David. Tetapi nyonya Wilson juga ada di sana.


Berdiri dengan air matanya yang mengalir deras. Cucu pertamanya yang di impi-impikannya. Yang sudah banyak perencanaan kedepan untuk cucunya. Cucu yang akan menjadi penerus tunggal. Hancur hanya beberapa hari setelah kelahiran bayi itu.


" Apa yang terjadi?" tanya David dengan suara seraknya.


" Nara keracunan ASI. Jihan meminum racun. Dan menyusukannya kepada Nara," jawab Nyonya Wilson. Mendengarnya David memejamkan matanya dia mengetahui pasti Jihan sengaja melakukan itu.


" Sekarang Jihan kritis di rumah sakit," lanjut Nyonya Willson. David hanya menyesal dengan apa yang terjadi mungkin dia juga bukan hanya kehilangan bayinya tetapi istrinya.


Setelah pulang dari pemakaman David mengunjungi Jihan yang masih kritis di rumah sakit.


" Kenapa kamu melakukannya Jihan. Apa kamu tidak mempercayaiku. Apa kamu tidak bisa menunggu sebentar saja. Jihan kamu bukan hanya membuat bayi kita mati. Tapi kamu juga akan kehilangan nyawa kamu. Kenapa kamu harus melakukan ini, kenapa Jihan," ujar David yang duduk di samping Jihan. Air matanya kembali menetes.


" Semua ini salahku, aku yang membuat semua ini terjadi," ujar David dengan penuh penyesalan.


Sebelumnya Jihan memang sengaja meminum racun dan menyusukannya kepada bayinya. Setelah bayi itu meminum air ASI-nya. Kondisi Jihan pun semakin memburuk. Menyebabkan Jihan koma selama beberapa hari.

__ADS_1


Setelah bangun dari komanya. Jihan di penuhi rasa bersalah dengan kebodohan yang di lakukannya. Dia berpikir jika dia juga akan mati. Tetapi tidak tuhan memberinya kehidupan agar bisa merasa bersalah seumur hidupnya. Karena telah membunuh anaknya darah dagingnya sendiri.


Setelah melahirkan. Harapan Jihan benar-benar hilang. Putus asa menyelimutinya. Suaminya tidak ada. Berarti menandakan bayinya akan di bawa pergi.


Rasa marah dan tidak rela di permainkan membuatnya nekat melakukan hal itu. Bukan kepuasan yang di dapatkannya melainkan penyesalan. Setelah keluar dari rumah sakit. Jihan mengurus perceraiannya. *Pernikahan yang sangat menyakitkan.


Setelah resmi bercerai dari suaminya. Jihan kembali ke New York bersama Carey. Selama 5 Tahun Jihan mengalami depresi berat. Selalu merasa di hantui kesalahan*.


Setelah melakukan pengobatan rutin. Akhirnya Jihan sembuh. Perlahan ingatan atas dosa yang di lakukannya hilang secara pelan-pelan.


Flassaon.


David mengusap air matanya mengingat bagaimana hancurnya dia saat kehilangan putrinya.


" Huhhhhhhh, papa sangat mencintaimu," gumam David mencium foto itu.


Yogi melihat dari kaca spion bagaimana majikannya yang sangat sedih. Yogi juga tau ini hari ulang tahun anak dari majikannya itu.


" Hmmmmm, Yogi," tegur David.


" Iya Pak," jawab David.


" Apa kamu sudah memberikan bunga itu kepada Nayra?" tanya David.


" Sudah Pak, tadi pagi saya mengantarkannya ke Apertemen Bu Nayra," jawab Yogi.


" Apa dia suka?" tanya David.


" Iya Pak, Bu Nayra sangat suka. Tadi saya juga bertemu dengan Pak Raihan," sahut Yogi.


" Raihan, CEO Adverb?" tanya David.


" Benar Pak, dia juga tunangan dari Bu Nayra," ujar David yang kebetulan mendengar langsung dari Raihan.


" Oh iya, benarkah," sahut David terkejut.


" Benar pa," jawab Yogi.


" Apa mereka akan menikah dalam waktu dekat?" tanya David kepo.


" Sepertinya iya Pa," jawab Yogi.


" Ya gadis itu memang layak mendapatkan calon suami seperti Pak Raihan. Jika saya punya Putri saya juga pasti akan menikahkan putri saya dengan pak Raihan," sahut David ikut bahagia mendengar kabar tentang rencana pernikahan Nayra.


Raka melihat majikannya dari kaca spion. Tersenyum. Saat majikannya kembali tersenyum lebar.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2