
Bukan hanya Zira sekarang, Carey, Oma dan Opanya sudah berada di hadapan Raihan dan Raina.
" Raihan, Opa benar-benar kecewa sama kelakuan kamu," tegas Opa Nugraha yang tidak menyangka mendengar ucapan kasar Raihan.
" Kecewa, lalu bagaimana dengan Raihan, apa Opa, Oma dan kalian semuanya. Termasuk kamu Carey, apa kalian pikir aku tidak kecewa. Kalian semua merencanakan perjodohan kampungan ini. Di saat aku ingin menikahi wanita lain," teriak Raihan.
" Raihan," Addrian terus membentak Raihan.
" Mah, kenapa mama tidak menyetujui hubungan ku dengan Nara, ada apa ma. Mama menyuruh Nara kembali memutuskanku. Kenapa mama melakukan itu. Kenapa?" bentak Raihan.
" Raihan, kamu jangan terus membentak mama. Semua yang mama lakukan demi kebaikan kamu dan juga Nayra. Jadi mengertilah, jangan hanya melihat dari satu sisi saja," teriak Zira.
" Kamu harus tau Raihan. Mama menyuruh Nayra dulu ataupun kemari putus dari kamu. Agar Nayra tidak sempat terluka. Jadi tolong pahami semuanya," lanjut Zira lagi yang terus memberi Raihan pengertian.
" Benarkah, hanya karena mama takut jika Nayra sakit hati. Jika mama takut hal itu. Kenapa mama tidak membatalkan pernikahan ini hah!" ucap Raihan.
" Raihan perjodohan ini adalah wasiat, mama tidak bisa melakukan apapun. Kenapa kamu tidak bisa memahami sedikitpun. Kenapa kamu terus menyalahkan mama," sahut Zira.
" Bagaimana mungkin Raihan tidak menyalahkan mama. Mama yang mengatur kehidupan Raihan dan juga Nara. Seharusnya jika mama tidak ingin Raihan dan Nara bersama. Seharusnya mama tidak kembali memasukkan dia ke dalam keluarga kita. Drama balas dendam tidak akan pernah ada. Jika mama tidak pernah mengatur semuanya," teriak Raihan.
" Kamu selalu menuduh mama. Seakan akan, mama tidak ingin melihat kamu bahagia," sahut Zira dengan air matanya berlinang.
" Lalu apa ma jika tidak itu, sekarang Raihan tanya. Apa dengan menikahi Carey Raihan akan bahagia. Apa Nara akan bahagia," teriak Raihan.
Zira menarik napasnya dan membuatnya perlahan. Dia sudah tidak tau bagaiman menghadapi Raihan. Zira menyatukan ke-2 tangannya di hadapan Raihan.
" Mama mohon mengertilah semua ini. Tolong Raihan jalankan semua ini," ujar Zira memohon kepada Raihan. Raihan menggeleng melihat apa yang di lakukan mamanya.
" Apa yang kamu lakukan Zira," ujar Addrian melihat istrinya memohon ke pada Raihan.
" Semoga saja. Hati Raihan luluh dengan apa yang di lakukan Tante Zira. Aku yakin Raihan tidak akan bisa melihat hal itu," batin Carey tersenyum.
Raihan meneteskan air matanya saat melihat mamanya memohon kepadanya. Raihan memejamkan matanya dan langsung berlutut di depan Zira.
" Kak Raihan," lirih Raina melihat kakaknya yang berlutut.
" Raihan yang memohon sama mama sama papa. Tolong sekali ini saja. Biarkan Raihan bersama Nara. Raihan sangat mencintainya, Raihan mohon ma. Sekali saja, Raihan mohon," ujar Raihan dengan suara seraknya.
Zira memejamkan matanya, dengan air mata yang mengalir melihat Raihan yang berlutut memohon restu kepadanya.
" Tolong Raihan ma, Raihan tidak bisa hidup tanpa adanya Nara. Raihan mohon ma. Batalkan perjodohan itu. Raihan mohon ma," ujar Raihan lagi memohon dengan tulus.
Tidak ada jawaban dari Zira, Raihan bergeser dan berlutut di depan Oma dan Opanya. Oma dan Opanya kaget dengan apa yang di lakukan Raihan.
" Selama ini Raihan tidak meminta apapun kepada Oma dan Opa. Sekarang Raihan hanya meminta tolong biarkan Raihan menjalin hubungan dengan Nara," ujar Raihan yang terus berlutut.
__ADS_1
" Sialan jangan sampai mereka terpengaruh dengan perkataan Raihan," bagi Carey yang mulai gelisah.
Widia dan Nugraha tidak bisa menjawab apa-apa mereka hanya diam. Nugraha memijat kepalanya yang mulai berat.
Tidak sampai di situ. Bahkan Raihan melakukan hal yang sama kepada Carey. Dia benar-benar merendahkan dirinya. Di depan wanita yang menjadi orang ke-3 dalam hubungannya.
" Kak, kakak tidak perlu melakukan itu," sahut Raina yang merasa mamanya berlebihan harus memohon di depan Carey.
" Carey, selama ini kita ihanyalah sahabat. Kamu tau Carey bagaimana perasaanku, kenapa Nara. Kamu tau bagaimana hancurnya aku. Jika dia tidak bersamanya. Aku memohon sama kamu. Tolong batalkan semua ini. Batalkan pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Aku memohon Carey untuk menghentikan semuanya," ucap Raihan memohon tulus.
Carey menelan salavinanya melihat Raihan yang merendahkan dirinya hanya demi Nayra.
" Demi wanita itu kamu melakukan ini," batin Carey merasa panas.
" Carey, hanya kamu yang bisa menghentikannya," sahut Raihan lagi.
" Maaf Raihan aku tidak bisa. Aku ingin bahagia bersamamu. Aku ingin kita selalu bersama. Aku ingin memberimu kebahagian, jauh lebih besar dari apa yang di berikan Nayra," sahut Carey yang dengan egoisnya langsung menolak permohonan Raihan.
Raihan mendengarnya mendengus. Tersenyum miring. Dia memang salah melakukan itu. Dia lupa jika wanita yang di hadapinya bukan wanita yang memiliki hati. Raihan menghapus air matanya. Dan kembali berdiri.
" Jangan membandingkan dirimu dengan Nara, karena kau tidak akan pernah bisa menjadi dirinya," ujar Raihan denagan sinis. Carey yang mendengarnya menelan salavinanya.
" Terserah kamu mau berkata apa. Tetapi aku tidak mungkin membatalkan perjodohan itu. Tidak mungkin Raihan," ujar Carey menegaskan memegang tangan Raihan.
Dengan kekesalan Raihan menepis tangan Carey. Semakin lama dia benar-benar semakin muak dengan tingkah Carey
" Kami hanya menjalankan amanah Raihan. Jadi ikuti saja. Semua juga demi kebaikan keluarga kita," jawab Oma Widiya.
" Mama juga akan mengatakan hal yang sama?" tanya Raihan memastikan melihat mamanya.
" Maafkan mama, mama tidak bisa melakukan apapun," sahut Zira.
" Bagaimana jika Raihan tetap menolak?" tanya Raihan dengan sinis.
" Kamu anggota keluarga ini. Sebagai anak menurutlah. Jangan banyak membantah Raihan. Mulai sekarang kamu harus memikirkan pernikahan kamu dengan Carey," tegas Addrian.
Mendengarnya Raihan mendengus. Sementara lihatlah exsperesi Carey yang tersenyum miring. Raina melihat ekspresi itu menjadi jijik dengan sahabatnya yang memang tidak memiliki hati.
" Aku akan membongkar secepatnya siapa Nayra sebenarnya. Supaya senyum di wajahmu itu akan hilang," batin Raina yang melihat ke arah Carey dengan sinis.
" Tapi maaf Pa Raihan tidak akan menjalankan semua amanah yang kalian katakan," ujar Raihan dengan tegas.
" Jadi kamu akan tetap memilih Nayra di bandingkan keluarga kamu?" tanya Carey.
" Aku rasa kamu tau jawabannya," sahut Raihan melangkahkan kakinya. Percuma bicara panjang lebar tidak akan ada gunanya.
__ADS_1
" Jika kamu keluar dari pintu itu. Jangan pernah masuk lagi," sahut Addrian. Raihan menghentikan langkahnya.
" Papa akan mengisi Addrian?" tanya Raihan membalikkan tubuhnya.
" Jika kamu sangat egois. Papa juga bisa lebih egois," jawab Addrian.
" Baiklah, lagi pula Raihan tidak mungkin tinggal di rumah. Orang-orang yang tidak bisa mengerti Raihan," sahut Raihan dengan yakin.
" Kak Raihan," Raina mendekati kakanya mencoba menenangkannya.
" Kaka tidak apa-apa," ujar Raihan mengusap pucuk kepala Raina.
" Tinggalkan, semuanya papa ingin melihat apa kamu bisa hidup tanpa materi dari keluarga ini," sahut Addrian.
" Sayang," lirih Zira mencoba menenagkan suaminya. Mendengarnya Raihan tersenyum. Raihan mengeluarkan dompet dan kunci mobilnya. Meletakkan di atas meja.
" Memang itu bukan milik Raihan," ujar Raihan. Lalu Raihan kembali melangkahkan kakinya. Mungkin untuk terakhir kalinya tapak kakinya menginjakkan lantai rumah itu.
" Kak Raihan," panggil Raina. Raihan tetap berjalan menuju pintu.
" Apa-apaan sih Raihan," batin Carey gelisah.
" Raihan," panggil Zira.
Raihan menghentikan langkahnya di depan pintu. Bukan karena panggilan mamanya. Tetapi karena Eyangnya yang berdiri di depan Pintu bersama dengan Andini.
Andini dan Eyang Farah memajukan langkahnya. Membuat Raihan mundur 1 langkah. Kemunculan Eyang Farah membuat. Zira, Addrian, Widiya, Carey, dan Nugraha kaget dengan kedatangan Eyangnya.
Sementara Raina justru menjadi satu-satunya yang tersenyum.
" Mama," lirih Addrian yang langsung melihat ke arah Zira.
Farah melihat wajah Raihan yang masih memerah. Wajah tampan cucunya sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Farah mengambil sapu tangan dari tasnya dan melap wajah itu agar terlihat fress.
" Jika kamu menemuinya dalam ke adaan seperti ini. Itu hanya akan merusak moment. Jangan buat Nayra khawatir.
" Eyang," lirih Raihan.
" Andini berikan kunci mobil untuknya!" perintah Eyang Farah. Andini mengangguk.
" Ini kak," Raihan langsung meraihnya.
" Pergilah, temui dia, dia pasti sudah menunggumu," ujar Eyang Farah memegang ke-2 pundak Raihan.
" Terima kasih Eyang," ujar Addrian. Farah mengangguk. Dengan cepat Raihan pun pergi.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น