
Nayra dan Raina sedang sarapan pagi di depan Adverb. Raina sengaja menjemput Nayra saat ingin kekantor agar bisa mengobrol sebentar dengannya mengingat dengan apa yang di dapatkannya tadi malam. Dia ingin mencari tau lebih detail dari sumbernya langsung.
Mereka sudah mulai sarapan bersama. Nayra sarapan dengan bubur dan sama dengan Raina. Dengan segelas air putih.
" Nayra sejak kapan kamu kenal sama mama?" tanya Raina basa-basi.
" Sejak Raihan mengenalkan aku kepada Tante Zira. Om Addrian dan juga Bu Raina sendiri," jawab Nayra memang apa adanya.
" Kamu tau jika mama yang membiayai sekolah kamu dulu?" tanya Raina memastikan.
" Aku baru tau, saat lulus SMA. Saat sudah tidak bersama Raihan. Perlahan aku mengetahuinya. Jika Tante Zira merupakan salah satu pemberi beasiswa itu," jawab Nayra.
" Memang beasiswa?" ujar Raina tiba-tiba membuat Nayra terdiam.
" Kenapa Bu Raina mempertanyakan itu?" batin Nayra bingung.
" Hmmmm, maksud saya. Apa cuma kamu. Yang mendapat beasiswa itu?" tanya Raina memperlembut kata-kata nya.
" Saya juga tidak tau bu. Karena itu urusan pihak sekolah. Yang saya tau. Saat memasuki SMA. Barulah saya sering berbicara dengan intens dengan Tante Zira," jawab Nayra dengan tenang. Walau perasaannya tidak enak saat di intimidasi seperti ini.
" Apa orang tua kamu menyetujui semua yang di arahkan mama?" tanya Raina dengan hati-hati. Mendengar itu Nayra tidak jadi memasukkan sesendok bubur itu ke mulutnya.
" Hmmm, maksud saya...." Raina menjadi tidak enak mungkin omongannya menyinggung Nayra.
" Orang tua saya sudah bercerai sebelum bertemu dengan Raihan. Jadi saya juga tidak pernah bercerita atau mengatakan apapun tentang saya. Kepada mereka. Dan mereka juga tidak pernah menanyakan. Karena semenjak mereka bercerai. Saya tidak tinggal dengan mama atau pun papa," jawab Amira dengan wajah yang mulai murung.
" Maaf ya Nayra jika pertanyaan saya membuat kamu sedih," ujar Raina merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa Bu. Memang itu apa adanya. Makanya saya sudah menganggap Tante Zira dan Om Addrian adalah orang tua saya," sahut Nayra dengan senyum tipis di wajahnya.
" Nayra apa kamu pernah tinggal di New York?" tanya Raina sambil mengunyah kembali makanannya. Nayra yang mendengarnya malah tersenyum.
" Tinggal di sana. Ya tidak mungkin saya tinggal di sana," Jawab Nayra dengan santai.
" Sewaktu kecil gitu?" tanya Raina lagi. Nayra hanya menggelengkan kepalanya.
" Tidak pernah, lalu..." batin Raina bingung.
__ADS_1
" Memang kenapa Bu?" tanya Nayra bingung.
" Ohhh tidak, saya kira pernah, melihat dari wajah kamu. Kamu seperti belasteran," jawab Raina.
" Masa iya sih Bu, saya asli orang Indonesia. dan tinggal di Jakarta ini sejak lahir," sahut Nayra dengan tersenyum tipis.
" Pasti masa kecil kamu mengasyikkan. Apa lagi sudah tinggal di Jakarta. Sama seperti saya yang juga dari lahir sudah di Jakarta. Bagaimana masa kecil kamu. Boleh kali kita tukar cerita," ujar Raina dengan senyum lebar. Mencoba memancing Nayra.
" Seperti anak pada umumnya, saya kecil ya dengan seperti itu," jawab Nayra yang sedikit bingung. Entah kenapa dia bahkan tidak bisa menceritakan masa kecilnya.
" Oh iya, saya juga kalau sewaktu 3 tahun sering ribut mainan dengan kak Raihan. Dan mama dan papa pasti membela saya. Mereka selalu menemani kami bermain, mengantarkan sekolah sewaktu TK. Pasti kamu juga sama Mengingat kamu anak satu-satunya," ujar Raina dengan senyum saat mengingat bagaimana dia dulu kecil.
Nayra terdiam Dia bahkan tidak mengingat apapun saat dia kecil. Membuat Nayra menjadi bingung sendiri.
" Nayra iya bukan?" tanya Raina menunggu jawaban Nayra.
" Ha, tidak tau Bu. Saya juga tidak mengingat hal itu. Soalnya album kecil saya tidak ada. Malahan yang ada saat saya sudah memasuki SD. Jadi saya tidak ingat," jawab Nayra mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya dirinya bahkan berubah menjadi linglung.
" Masa kamu tidak ingat, kamu pelupa sekali. Kalau sekolah TK kamu di mana?" tanya Raina.
Nayra semakin bingung. Seakan semua pertanyaan Raina tidak bisa di jawabnya. Bahkan tidak terlintas di ingatannya saat dia memakai seragam TK.
" Kayaknya saya tidak TK Bu?" sahut Nayra dengan yakin. Raina malah tertawa kecil.
" Kamu ini lucu sekali. Masa iya kamu mengatakan tidak TK. Di semua data kamu saat melamar Kerja di kantor. Kamu TK. Di Jakarta pusat. Memang yang melamar bukan kamu apa," sahut Raina masih tertawa.
Nayra justru tidak mengerti. Sama sekali masa itu tidak terlintas di pikirannya. Tetapi dia juga saat mengisi data-data sekolah. Selalu menuliskan tempat TK di tempat yang barusan di katakan Raina.
" Lagi pula kamu aneh-aneh saja. Tidak TK. Tetapi guru SD kamu memiliki semua data prestasi kamu. Saat kamu masih TK. Makanya mama memberi kamu beasiswa. Karena kata pihak sekolah kamu sewaktu SD kamu sudah memiliki prestasi sejak TK," ujar Raina membuat Nayra seketika dia.
Apa yang di katakan Raina memang benar. Tetapi kenapa dia tidak mengingat hal itu. Bahkan bayangannya saja tidak terlintas di pikirannya.
" Kamu baik-baik aja?" tanya Raina memegang tangan Nayra
" Iya Bu. Mungkin saya lupa. Pasti mama yang tau semuanya. Soalnya saya hanya terbiasa mengingat apa yang di katakan," jawab Nayra yang masih tidak mengerti dengan dirinya.
" Ada apa dengan Nayra. Tidak mungkin dia tidak mengingat masa saat dia sekolah TK. Kalaupun tempat dia tidak ingat. Paling tidak ada satu yang di ingatnya, bahkan dia tidak mengingat pernah bertemu mama. Padahal usianya saat itu sudah 5 tahun," batin Raina.
__ADS_1
" Kenapa aku merasa. Jika aku lahir langsung berusia 5 tahun. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku dulu kecil. Sedangkan Raihan dulu bercerita kepadaku bagaimana masa kecilnya bersama temannya, dan aku bahkan tidak mengingat sedikit tentang itu. batin Nayra yang mulai aneh dengan dirinya sendiri.
*********
Raina kembali kekantor dengan tidak bersemangat. Raina berjalan dengan lemas. Dengan tas yang melayang-layang di pegangnya.
Sebenarnya dia masih memikirkan tentang pembicaraannya dengan Raina tadi. Bagaimana mungkin tidak ada memori tentangnya saat dia kecil.
Raina terus memikirkan hal itu. Berjalan tidak fokus seperti oranginglung. Padahal sedari tadi orang yang berpapasan dengannya. Selalu tersenyum menyapanya. Tetapi Nayra tidak membalas sapaan itu. Sibuk dengan pemikirannya.
Dari arah yang berlawanan. Raina berjalan dengan langkahnya yang Arrogant sambil menelpon. Raihan sibuk dengan telponnya dan Nayra juga sibuk dengan pemikirannya.
Ke-2 manusia itu semakin dekat. Tetapi masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tanpa melihat dan menyadari jika mereka semakin dekat. Dan alhasil ke-2 nya bertabrakan.
" Au," keluh Nayra saat kepalanya menabrak dada bidang Raihan. Nayra mundur sedikit. Dan melihat Raihan yang dengan wajah dinginnya berdiri di depannya. Masih dengan genggaman telepon di telinganya.
" Kamu kenapa? kamu tidak bisa berjalan dengan benar?" tanya Raihan menaikkan alisnya.
Nayra hanya diam tidak menjawab. Matanya terus melihat Raiahan.
" Nara aku sedang bicar," ujar Raihan melihat Nayra yang masih diam.
Bukannya menjawab Nayra mendekatkan dirinya pada Raiah. Melingkarkan ke-2 tangannya di tubuh Raihan lalu Nayra memeluk Raihan dengan erat.
Raihan kaget dengan apa yang di lakukan Nayra. Mendapat pelukan mendadak Nayra. Juga membuatnya bengong.
Raihan melihat di sekelilingnya. Seakan cemas jika ada yang melihat mereka. Walau memang beberapa orang sudah melihat mereka. Tetapi Raihan malah cemas.
Padahal beberapa hari ini. Dia yang agresif terhadap Nayra. Tanpa melihat tempat Raihan justru yang sering bertindak agresif terhadap Nayra. Tetapi sekarang Raihan malah schok dengan tindakan Nayra yang tiba-tiba.
" Nanti kutelpon lagi," ujar Raihan menutup telponnya.
" Ada apa Nara. Kamu tidak tau ini di mana. Apa kamu tau siapa yang kamu peluk, aku atasanmu," ujar Raihan. Nayra hanya diam malah semakin memeluk Raihan dengan erat.
" Kenapa aku tidak punya memori tentang masa kecilku," ujar Nayra tiba-tiba dengan pelan.
Raihan yang dapat mendengar perkataan Raina menjadi bingung.
__ADS_1
... ...
... 🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹...