
Pagi hari kembali cerah. Angga ikut bergabung membagikan sarapan kepada warga-warga yang sudah di masak di dapur umum.
" Ehmmmm," tegur Della yang berdiri di belakang Angga. Angga langsung menoleh.
" Della," ujar Angga melihat sebentar, dan kembali membagikan nasi kotak untuk para warga.
" Tumben banget kamu ikut kemari?" tanya Della.
" Aku hanya mengecek bagaimana karyawan ku bekerja. Aku takut jika mereka bermalas-malasan dan akhirnya malah merepotkan," jawab Angga dengan beribu alasan.
" Ohhh, aku kira karena seseorang," sahut Della dengan santai. Angga kembali menoleh ke arahnya.
" Iya karena kamu, aku tau kamu akan ada di sini, makanya aku datang, karena aku tau kamu pasti akan menyusahkan orang lain," ujar Angga.
" Apa iya," sahut Della.
" Sudahlah, apa pentingnya untukmu, sekarang lebih baik kamu bantuin," ujar Angga. Della mengangguk dan ikut membantu Angga.
" Nay belum makan?" tanya Ria yang sudah mengunyah makanannya bersama Anita mereka ber-3 duduk di atas rumput dengan bersilah kaki.
" Sebentar lagi," jawab Nayra sibuk dengan catatannya.
" Aduh Nay lo, kapan diamnya sih," sahut Anita yang kesal melihat Nayra yang terus kerja.
" Benar, kerja mulu, nggak di sini, nggak di kantor, kerja mulu," sahut Ria menambah ucapan Anita.
" Aduh, Nay seharusnya sewaktu di sini kita mengurangi pekerjaan kita. Mumpung Pak Raihan nggak ada jadi kita tidak mendengar ocehannya," ujar Ria mengoceh sambil mengunyah makanannya.
Nayra terdiam sedikit. Dia justru merindukan perintah Raihan yang tidak pernah masuk akal.
" Ehmmmm," entah sejak kapan Alex berdiri di belakang para wanita itu. Anita dan Ria saling melihat dan langsung mengangkat kepala melihat Alex.
" Pak Alex makan Pak," tawar Anita dengan gugup.
" Kalian makan apa sedang menggosip," ujar Alex menyindir.
" Makan Pak, tapi....,"
" Sambil menggosip," sahut Alex.
" Tidak kok pak," elak Anita.
" Hmmm, tidak di kantor tidak di sini, kalian tidak pernah berubah, dan kamu Nayra kenapa kamu belom makan?" tanya Alex dengan serius pada Nayra.
" Hah, saya," Nayra malah gugup kembali mendapat teguran soal makan.
" Iya kamu lah," jawab Alex membenarkan.
" Iya Pak sebentar lagi," ujar Nayra.
" Tidak ada kata sebentar lagi, sekarang kamu ambil makanan kamu dan cepat makan!" perintah Raihan.
" Ta-ta-tapi pak,"
__ADS_1
" Cepat!" Alex melototkan matanya pada Nayra. Anita dan Ria menyikukan Nayra agar segera berdiri.
" Baik Pak," sahut Nayra langsung berdiri dan lari dengan cepat.
" Dan kalian berdua awas kalau saya masih mendengarkan kalian ber-2 menggosip," ujar Alex dengan penuh penegasan.
" Ba-ba-baik pak," ujar Anita dan Ria yang menunduk. Alex pun pergi, sepertinya tujuannya menghampiri Anita, Ria dan Nayra hanya untuk memastikan Nayra makan atau tidak.
" Kenapa Pak Alex aneh banget," ujar Ria heran.
" Entahlah, biarin ajalah," sahut Anita melanjutkan makannya.
*********
Setelah kembali mendapat perintah dari Alex untuk makan. Nayra pun mengambil nasi kotak di dapur umum. Nayra kembali ke tenda terlebih dahulu mengembalikan berkas yang sedari tadi di pengangnya. Setelah itu baru dia bergabung dengan teman-temannya yang lain.
" Kenapa pak Alex aneh sekali, kenapa dia seperti ibu tiri yang menyuruh makan, bahkan bukan hanya sekali," gerutunya sambil berjalan menuju tenda.
Nayra terus mengoceh melihat kebawah. Tanpa melihat kedepan sampai-sampai karena tidak fokus berjalan Nayra menabrak tubuh kekar.
" Auh," ujar Nayra yang sudah berada di depan tubuh kekar itu. Dengan perlahan Nayra mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang ditabraknya.
Nayra menganga kaget, dan dengan spontan menutup mulutnya. Matanya melotot saat melihat Pria yang barusan di tabraknya.
" Kau," ujar Nayra tidak percaya melihat Raihan berada di hadapan. Ke-2 tangan Raihan berada di dalam saku celananya, Raihan menaikkan satu alisnya melihat Nayra yang masih bingung.
" Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" tanya Raihan dengan dingin.
" Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Nayra tanpa menjawab perkataan Raihan.
" Maaf, aku tidak sengaja, kalau begitu aku pergi dulu," ujar Nayra gugup dan melangkahkan kakinya Raihan langsung menahan pergelangan tangan Nayra dan mengembalikan wanita itu ke hadapannya.
Jantung Nayra, semakin tidak beraturan karena kembali berhadapan dengan Raihan. Nayra baru saja memikirkan Pria itu dan sekarang sudah ada di depannya.
" Kenapa sopan santunmu semakin lama semakin tidak ada," ujar Raihan dengan sinis. Nayra menghela napasnya dengan teratur. Dia harus bisa menjaga image agar terlihat santai di depan Raihan.
" Aku-aku-aku," Nayra malah gugup dan tidak berani bicara.
" Aku apa?" tanya Raihan.
" Aku mau makan," jawab Nayra. Dia sudah tidak bisa menemukan jawaban apa-apa lagi. Selain kata-kata itu.
" Permisi," ujar Nayra lagi dan melangkahkan kakinya. Raihan kembali menahan lengan Nayra. Nayra mengangkat kepalanya dan melihat Raihan yang menatapnya sangat dalam.
" Makan di sini," ujar Raihan. Nayra bingung dengan permintaan Raihan.
Akhirnya Nayra pun makan di depan Raihan. Mereka duduk berduaanya di dalam tenda. Raihan bermain ponselnya, sementara Nayra tetap makan.
Meski sangat canggung harus makan di depan Raihan. Dia juga tidak tau kemana nasi yang di makannya.
" Kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" batin Nayra yang masih penasaran.
" Kau tidak makan?" tanya Nayra memberanikan diri.
__ADS_1
" Uruslah dirimu sendiri, jangan mengurus orang," sahut Raihan dengan sinis.
Nayra mendengarnya menarik ujung bibirnya. Sangat menyesal dia menanyakan hal itu kepada Raihan. Raihan memang suka berubah-ubah terkadang manis kepadanya dan terkadang sangat ketus kepadanya.
Karena mendengar Angga menyusul Nayra. Raihan tidak mau kalah. Dia langsung menyusul Nayra. Alih-alih ingin mengawasi beberapa karyawan lainnya.
" Ini itu semua gara-gara kamu pake bawa-bawa nama Pak Raihan, jadinya kan dia muncul," keluh Anita yang kesal. Baru tadi pagi kedatangan Raihan. Dia sudah di suruh ini itu.
" Haaa, sembarangan enak aja main salahin," sahut Ria yang tidak terima di salahkan.
" Kalau begini ceritanya jadi pengen cepat pulang," ujar Anita yang sudah tidak bersemangat.
" Kalau begitu, masalah itu aku juga setuju," sahut Ria langsung setuju.
*********
Hari Ke- 6 di Desa Suka Jadi.
Raihan sangat bosan dengan hari-harinya di desa itu. Semua itu hanya karena Nayra yang penasaran dengan keadaannya dan juga dengan Angga.
Raihan memang selalu mengawasi Nayra, agar tidak memiliki waktu dengan Angga. Pagi ini Raihan duduk di dalam tenda di depan laptop. Dia sangat malas untuk keluar.
Nayra yang kebetulan ingin mengambil sesuatu langsung memasuki tenda. Nayra terhenti sejenak saat melihat Raihan yang duduk. Nayra bingung melanjutkan langkahnya atau tidak.
Nayra membuang napasnya ke depan dan perlahan memasuki tenda. Nayra berusaha tenang berjalan melewati Raihan, Nayra menuju tasnya dan mengambil sesuatu yang di butuhkannya.
Nayra sempat melihat kearah Raihan. Raihan terlihat santai, tidak menegurnya sama sekali. Setelah selesai mengambil yang di butuhkannya, Nayra berdiri dan kembali melewati Raihan.
" Buatkan aku kopi!" ujar Raihan tiba-tiba, Nayra menghentikan langkahnya.
" Aku," sahut Nayra bingung.
" Apa ada orang lain, selain kau," ujar Raihan. Nayra melihat di sekelilingnya.
" Cepat, tunggu apa lagi!" ujar Raihan menatap Nayra tajam.
" Memang aku pembantunya," batin Nayra.
" Kenapa masih diam?" tanya Raihan.
" Ha, iya baik," sahut Nayra. Dia lebih memilih menuruti dari pada membantah Raihan yang akan menimbulkan percekcokan.
Nayra pun berjalan menuju dapur umum. Nayra langsung membuatkan Raihan kopi. Nayra sudah memasukkan gula dan kopi kedalam gelas dan menuang air panas ke dalam racikannya.
Nayra mengaduknya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu saat ingin mengantarkan kopi itu.
" Apa yakin dia bisa meminum seperti ini," ujar Nayra kembali meletakkan gelas di atas meja. Nayra melihat disekitar dapur, seperti mencari sesuatu.
Ya Nayra tersenyum saat menemukan susu. Nayra langsung menuang susu itu sedikit kedalam kopi itu.
" Hmmmm, jika seperti ini mungkin pasti bisa di minum," gumam Nayra tersenyum lebar.
Setelah mencampurkan susu kedalam racikan kopi tersebut. Nayra pun langsung mengantarkannya pada Raihan yang masih di dalam tenda.
__ADS_1
...Bersambung.........