
Hampir melewati setengah hari di tempat rumah kaca Raihan dan Nayra. Akhirnya pasangan itu kembali pulang. Nayra dan Raihan berada di dalam mobil. Tangan ke-2nya saling menggenggam erat dengan senyum indah di wajah ke-2 nya.
Kebahagian Raihan jelas tidak bisa di ungkapkan. Selain melihat adik kembarnya yang juga akan menikah sebentar lagi dia juga benar-benar bisa memiliki Nayra seutuhnya
Begitu juga dengan Nayra yang akan tidak henti-hentinya tersenyum dan terus melihat kearah Raihan. Kebahagian yang tidak pernah di bayangkannya. Nayra benar-benar menjadi wanita paling bahagia.
Mendapatkan suami seperti Raihan. Yang sabar dengannya. Selalu menjaganya dan menerimanya apa adanya. Pria yang menjadi cinta pertamanya yang juga sekarang menjadi suaminya. Cuma Raihan yang membuatnya bahagia.
*********
Raina duduk di bangku jok belakang tepat di belakang supir. Setelah mengantarkan Amira sekolah. Raina langsung ikut menuju kantor membantu pekerjaan kakanya.
Harinya jelas sangat bahagia hari ini. Apalagi kemarin Raka mengatakan perasaannya di depan orang tuanya. Mengingatnya Raina jadi tersenyum geli.
" Apaan sih Raina, itu terus yang di pikirin," gumamnya geli sendiri. Mengalihkan pandangannya pada beberapa dokument yang ada di sampingnya.
Raina meletakkan dokumen-dokumen tersebut di pahanya dan membuka-bukanya sekedar mengecek sebelum dia memulai dapat pagi ini. Mewakili Raihan yang izin rapat. Maklum Raihan masih hangat-hangatnya sama istrinya.
" Astaga! Raina menepuk keningnya mengingat sesuatu.
" Astaga laporan kemarin masih ada sama Raka, aku lupa Raka kekantor agak siangan, aku telpon aja supaya dia mengirim laporannya," ujar Raina mengingat sesuatu. Mengambil ponselnya langsung menelpon Pria yang terus mengganggu pikirannya.
" Kok nggak di angkat?" batinnya bingung Raka tidak mengangkat telponnya.
" Pak, kita kerumah Raka, sebentar ya!" titah Raina pada supirnya.
" Baik Bu," jawab supir.
Raina memutuskan menjemput laporan penting ke rumah Raka. Karena Raka memang tidak mengangkat telponnya. Karena laporan itu penting Raina harus bergerak sendiri.
Tidak berapa lama Raina sampai di rumah Raka. Raina ke luar dari mobil dan melihat mobil merah yang terparkir yang bukan mobil Raka. Raina menatap heran pada mobil yang tidak di kenalnya itu.
" Mobil siapa itu," tanyanya bingung terus melihat mobil tersebut.
Raka memang tinggal sendiri, di rumah yang lumayan besar itu. Untuk Raina dia baru kali kerumah itu. Dulu dia pernah Kesana sebelum dekat dengan Raka.
Tanpa mempedulikan mobil yang mengganggu pikirannya. Raina mengetuk pintu rumah itu. Karena bel di rumah Raka tidak ada.
" Kemana dia, mobil ada. Tetapi tidak membukanya pintu," gumam Raina yang sedikit kesal. Raina memegang gagang pintu dan ternyata pintu tidak di kunci.
" Raka," panggil Raina. Sambil melangkah mencari-cari. Raina tidak dapat menemukan Raka. Dia terus memanggil Raka tidak kunjung meresponnya.
Raina menaiki anak tangga yang mungkin Raka berada di atas. Raina terus melangkahkan kakinya menelusuri ruangan itu.
Prangggg..
__ADS_1
Suara benda yang jatuh membuat Raina tersentak kaget. Mata Raina menuju ke arah suara itu berasal.
Raina melihat kamar yang terbuka sedikit. Dengan rasa penasaran Raina melangkah pelan menuju kamar itu.
Perasaan Raina tiba-tiba merasa tidak tenang ketika sudah berada di depan pintu kamar dari suara benda yang jatuh. Dengan gemetar tangan Raina memegang gagang pintu dan membuka pintu sedikit demi sedikit.
Mata Raina terbelalak sempurna ketika melihat pemandangan di depannya. Debaran jantungnya seketika berdebar tidak beraturan. Melihat Raka tanpa pakaian terbaring di atas ranjang dan wanita yang dia atasnya sedang mencumbui dirinya.
" Raka," kata itu keluar dari mulut Raina yang bergetar sedari tadi. Suara Raina membuat wanita itu menoleh kebelakang.
Raina kaget melihat wanita yang sedari tadi bersama Raka adalah Sarah wanita yang di katakan Raka sepupunya.
deru napas Raina terus naik turun dengan matanya bergenang menatap 2 manusia yang menjijikan itu. Raka mengangkat kepalanya. Dan bayangannya yang tidak jelas melihat Raina berdiri di depan pintu.
Raka berusaha duduk dengan memijat kepalanya yang begitu berat.
" Raina," lirih Raka melihat Raina.
" Bajingan," kata pelan itu ke luar dari mulut Raina menatap penuh kebencian pada Raka. Raina dengan sakit hatinya langsung berlari keluar.
" Raina tunggu," panggil Raka berusaha berdiri.
" Raka kamu mau kemana?" Sarah berusaha menahan lengan Raka.
" Raka jangan pergi, kita harus melanjutkannya," ujar Sarah terus mencegah Raka.
" kamu gila!" tegas Raka berdiri dengan cepat. Berlari keluar dari kamar mengejar Raina.
Raina menuruni anak tangga. Beberapa kali tangannya menyeka air matanya yang terus tumpah karena melihat perbuatan Raka.
" Raina tunggu," Raka berhasil menghentikan Raina dan memegang tangan Raina.
" Lepaskan," tekan Raina yang tidak ingin membalikkan badannya.
" Raina kamu jangan salah paham dulu, aku tidak tau kenapa Sarah..."
Plakkkk.
Saat Raina berbalik badan langsung menampar Raka dengan kuat. Meluapkan kemarahannya. Sampai kepala Raka miring kesamping.
" Raina," lirih Raka.
Raina mengepal tangannya menatap Raka benar-benar penuh kebencian. Apalagi Raka yang berdiri di hadapannya tidak memakai pakaian dan terdapat beberapa merah-merah dia sekitar dada dan leher Raka. Yang membuat Raina semakin membenci Raka.
" Brengsek, bajingan, penipu, biadab," umpatan itu keluar dari mulut Nayra dengan suaranya yang menekan.
__ADS_1
" Raina semua tidak seperti yang kamu pikir, aku dan Sarah...."
Plakkkk.
Raina kembali menampar Raka di pipi yang sama.
" Sepupu katamu. Apa kau harus bercinta dengan saudaramu sendiri. Itu yang kau katakan sepupu. Kenapa bukan kau katakan saja jika dia saudara kandungmu. Biar aku lebih percaya," sahut Raina sinis.
" Sarah memang sepupuku," jawab Raka memang apa adanya.
" Tutup mulutmu. Mau dia sepupu, atau siapa. Itu sudah tidak ada gunanya lagi. Terimakasih Raka kamu benar-benar laki-laki yang hebat. Bisa mempermainkanku seperti ini. Kamu sungguh hebat," ujar Raina dengan air matanya yang jatuh penuh kebencian.
" Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Percayalah Raina aku tidak melakukan itu," ujar Raka berusaha membuat Raina percaya kepadanya.
" Cukup Raka. Kamu bicara itu akan menambah luka. Baru tadi malam kamu melamarku di depan orang tuaku. Apa yang kamu katakan, kamu menyukaiku, menerimaku dan juga Amira itu yang kamu katakan. Kamu tau aku sangat bahagia mendengar kata itu dari mulut kotormu. Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Tapi apa, kamu malah nyenyak tidur sambil bermain-main dengan wanita itu bahkan sampai pagi kalian belum selesai juga," ujar Nayra yang berbicara sambil tersenyum dengan air matanya yang mengalir.
" Tidak Raina tidak seperti itu," lirih Raka
" Kamu menyadarkanku Raka jika memang seharusnya aku tidak berharap banyak sama kamu. Seharusnya aku sadar dari awal aku wanita yang seperti apa. Dan mana mungkin ada pria yang mencintai wanita yang sudah pernah menikah," sahut Raina merendahkan dirinya.
" Raina cukup. Aku benar-benar sayang sama kamu. Sama Amira. Aku tidak pernah memikirkan hal lain tentang kamu dan Amira. Raina aku mohon beri aku kesempatan membuat pemikiran kamu salah. Semua ini tidak benar, percayalah Raina," ujar Raka memegang tangan Raina berusaha membujuk Raina.
" Lepaskan," Raina menepis tangan Raka dari tangannya. Raiana mengusap air matanya dengan ke-2 tangannya.
" Kamu sangat jahat," ujar Raina berusaha tegar.
" Raina," lirih Raka memajukan langkahnya.
" Jangan mendekat, aku sangat membencimu," lirih Raina berbalik badan dan berlari menuruni anak tangga.
" Raina," teriak Raka menuruni anak tangga mengejar Raina. Raina dengan cepat memasuki mobil.
Brakkk
" Jalan pak!" perintah Raina dengan air matang yang terus mengalir
" Raina buka pintunya aku mohon, Raina aku mohon," Raka memukul-mukul kaca mobil berharap Raina membukanya. Tetapi mobil terus melaju.
" Raina!" teriak Raka.
" Arhggggg," Raka mengacak rambutnya frustasi melihat semua yang terjadi. Dia benar-benar tidak tau kenapa semua bisa seperti itu.
Sementara di lantai atas kamar Raka. Sarah yang melihat dari jendela tersenyum penuh kemenangan. ketika melihat Raina meninggalkan Raka.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐นbersambung ๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1