
Mentari pagi kembali lagi. Kamar pengantin baru yang tadinya sangat rapi dan indah. Sekarang berserakan. Terdapat banyak pakaian berjatuhan di sana-sini.
Dan pasangan itu masih tertidur dengan berpelukan dengan selimut yang menutup tubuh polos mereka.
Sinar mata hari yang cerah itu yang menusuk mata Alex. Akhirnya membuat mata Alex mengerjap karena sinarnya yang begitu silau sangat terganggu.
Alex membuka matanya dan mata itu langsung melihat ke arah wajah Andini yang tertidur lelap yang begitu cantik membuat Alex langsung mencium kening itu. Mengusap-usap pipi Andini dan kembali lagi menciumnya dengan lembut.
Ciuman hangat itu akhirnya membuat mata Andi terbuka dengan perlahan. Mata yang langsung menangkap wajah tampan suaminya yang tersenyum kepadanya.
" Morning!" sapa Alex.
" Morning," sahut Andini dengan suara seraknya khas bangun tidur. Kemudian Alex mengecup bibir wanita itu dengan lembut memberikan morning kiss.
" Bagaimana tidurmu?" tanya Alex.
" Hmmm, aku sangat nyenyak hari ini," jawab Andini, " kamu sendiri bagaimana?" tanya Andini.
" Hmmm, pasti aku jauh lebih nyenyak Malaka ini," jawab Alex. Andini tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah, aku mau mandi dulu," ucap Andini.
" Kamu ingin di temani?" tanya Alex menggoda. Andini langsung menggeleng malu-malu dengan godaan suaminya yang membuat wajahnya memerah.
" Itu tidak perlu. Aku tidak perlu di temani," jawab Andini.
" Aku hanya bercanda," sahut Alex yang kembali mencium kening Andini.
" Ya sudah aku mau mandi dulu, bukannya kita akan sarapan bersama keluarga," ujar Andini mengingatkan.
" Iya benar, kita akan sarapan bersama dengan keluarga," sahut Alex.
" Ya sudah, aku akan mandi lalu sarapan," ujar Andini. Alex pun hanya mengangguk saja dan Andini menarik selimut dan perlahan-lahan langsung turun dari tempat tidur dengan kesakitan di are tertentunya. Sehingga merasa sulitnya berjalan.
Dan Alex tersenyum melihat gerak-gerik Andini, tetapi dia juga kasihan melihat istrinya yang pasti itu karena ulahnya sendiri.
" Perlu di bantu," tanya Alex. Andini langsung menggeleng dan cepat-cepat berjalan kekamar mandi dan Alex mendengus merasa lucu dengan kelakuan istrinya itu.
Bercak merah, yang terdapat di tempat tidur membuat Alex tersenyum lebar dan merasa dia yang paling beruntung. Karena menjadi orang yang pertama menyentuh Andini.
**********
Raihan juga sudah siap-siap di dalam kantornya yang ingin berangkat bekerja. Walaupun lelah karena semalam dari pagi dan malam mengikuti acara pernikahan Andini dan Alex. Kekantor adalah tetap dan sekarang dia harus kekantor untuk melaksanakan tugasnya untuk mencari nafkah untuk anak dan istri tercintanya.
Nayra memasuki kamar dan melihat suami yang sudah rapi-rapi. Nayra langsung menghampiri suaminya yang memakai dasi. Langsung berdiri di depan suaminya dan mengambil alih pekerjaan suaminya.
Raihan langsung meletakkan tangannya di pinggang istrinya dan sedikit menarik istrinya ke dekatnya. Agar tidak ada jarak antara mereka. Raihan terlihat mengendus menghirup wanginya istrinya yang memang sudah mandi dan sekarang begitu harum.
__ADS_1
" Kamu cantik sekali?" puji Raihan dengan tersenyum lebar sambil mencium pipi istrinya dengan lembut.
" Kamu bisa aja," sahut Nayra yang terus memakaikan suaminya dasi. Hati Raihan tampaknya tergoyahkan dengan istrinya yang sangat cantik di pagi hari sampai harus membuatnya memeluk istrinya. Membuat Nayra kaget dengan mengkerutkan dahinya.
" Sayang, kok tumben banget," sahut Nayra dengan sesak merasa tercepit di tubuh suaminya itu.
" Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ujar Raihan yang memeluk gemes.
" Tiap hari ketemu kenapa bisa merindukan," ucap Nayra merasa suaminya ada-ada saja.
" Aku sangat mencintaimu Nara," ujar Raihan yang sekarang bicara masalah cinta. Nayra tersenyum lebar mendengarnya.
" Aku tau sayang. Aku tau kamu mencintaiku. Aku tau," jawab Nayra dengan membalas pelukannya suaminya. Raihan melepas pelukan itu.
" Aku hari ini ada rapat penting. Jika tidak aku mana mungkin melepasmu," ujar Raihan menyatukan keningnya pada kening istrinya.
" Jadi dapat lebih penting dari pada aku?" tanya Nayra memancing suaminya dengan mengalungkan tangannya ke leher Raihan.
" Kamu jauh lebih penting. Tapi rapat ini harus aku laksanakan. Agar kamu dan Kinara bahagia," ujar Raihan. Nayra tersenyum mendengarnya.
" Iya deh," sahut Nayra. Raihan melepas diri dari istrinya dan meraih tangan istrinya melangkah menuju tempat tidur bayi mereka.
Raihan membungkukkan tubuhnya dan mencium lembut bayinya.
" Sayang papa kerja dulu ya. Kamu jagain mama. Jangan biarin mama kenapa-kenapa," ujar Raihan berpamitan pada putrinya yang tertidur.
" Papa sayang banget sama Kinara. Baik-baik di rumah ya," ujar Raihan lagi.
" Papa tenang aja, Kinara akan jagain mama. Papa yang benar kerjanya," sahut Nayra ala-ala anaknya yang bicara. Raihan tersenyum mendengarnya dan langsung menghadap istrinya.
" Ya sudah sayang. Aku pergi dulu. Aku titip Kinara. Kamu jangan terlalu lelah. Kalau kamu cepek menjaga Kinara kamu suruh bibi ya," ujar Raihan memberi pesan pada istrinya.
" Iya sayang, kamu tenang saja. Kinara dan aku akan baik-baik saja," sahut Nayra.
" Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Raihan pamitan lagi. Nayra mengangguk. Raihan mengecup lembut kening istrinya.
" I love you," ujar Raihan.
" I love you to," sahut Nayra. Nayra mencium punggung tangan suaminya dan mencium pipi suaminya seperti rutinitas biasa.
" Kamu hati-hati," ujar Nayra.
" Iya sayang," sahut Raihan mengusap bahu istrinya dan langsung berangkat kekantor untuk menyapa pekerjaannya yang sangat banyak dan pasti benar-benar sudah menumpuk.
********
Di sisi lain Dara sudah bangun sejak pagi tetapi sangat malas untuk ke luar kamar. Dara menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan ke-2 kakinya di tekuknya kedepan dengan di peluknya.
__ADS_1
Wajah Dara jelas menunjukkan bahwa dia sedang banyak pikiran dan apa lagi jika bukan karena Sony tadi malam yang membuatnya gelisah, kepikiran, tidak tenang, bahkan sampai tidak tertidur hanya karena memikirkan Sony.
Pastilah Dara memikirkan hal itu. Dia sudah semampunya untuk berdamai dengan masa lalu dan bahkan berteman baik dengan Sony meski dulu Pria itu menyakitinya. Tetapi Dara tidak ingin persahabatannya hancur dan memilih untuk mengalah.
Dan bahkan Dara sudah melakukan banyak usaha untuk menyatukan Vira dan juga Sony. Demi janin yang tidak bersalah itu. Tetapi saat semua usahanya membuahkan hasil. Sony malah bertingkah dan bahkan bisa-bisanya mengatakan cinta kepadanya dan ingin kembali bersama yang jelas itu tidak masuk akal untuk Dara.
Dara membuang napasnya panjang kedepan dengan menyisir rambutnya kebelakang dengan 5 jarinya.
Tok-tok-tok-tok. Mata Dara langsung melihat ke arah pintu ketika mendengar pintu di ketik.
" Masuk!" perintah Dara. Terlihat Vira yang membawa nampan memasuki kamarnya.
" Aku membawakanmu sarapan. Aku melihat kamu tidak keluar kamar. Yang mungkin kamu sedang sakit," ujar Vira sambil berjalan menghampiri Dara yang masih setia di atas ranjang.
" Tidak! aku tidak apa-apa," sahut Dara, " Maaf merepotkan mu. Tetapi memang aku tidak apa-apa," sahut Dara dengan meluruskan kakinya dan Vira sudah duduk di sampingnya.
" Kalau begitu sarapan lah!" ujar Vira yang menyodorkan sarapan untuk Dara.
" Makasih Vira. Tetapi aku memang tidak selera makan," jawab Dara yang menolak. Karena nafsu makannya benar-benar tidak ada.
" Kamu kenapa? apa ada masalah?" tanya Vira penasaran.
" Tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Dara bohong. Vira menganguk-angguk dan Dara melihat Vira seperti ada yang ingin di tanyakannya.
" Vira!" tegur Dara.
" Iya kenapa?" tanya Vira melihat kearah Vira.
" Apa kamu mencintai Sony?" tanya Dara to the point. Mungkin dia ingin menanyakan hal itu untuk memastikan apa yang di lakukannya sebenarnya tepat atau tidak. Atau justru memaksa untuk Vira dan Sony.
" Kenapa bertanya seperti itu tiba-tiba?" tanya Vira heran. Dara memegang tangan Vira seraya menggenggamnya.
" Kamu jawab saja. Apa kamu mencinta Sony?" tanya Dara lagi. Vira terdiam.
" Ada apa Dara. Apa cinta itu penting?" sahut Vira yang malah bertanya lain.
" Apa pernikahan kamu yang kamu akan jalani dengan Sony akan membuat kamu tidak tenang?" tanya Dara.
" Aku tidak mengatakan apapun. Lagian kamu sudah meminta restu pada Tante Saski. Cinta atau tidak aku rasa itu tidak penting. Karena aku tidak bisa mengatakan apa-apa," jawab Vira yang sama sekali tidak sesuai dengan pertanyaan Saski.
" Kamu istirahat lah. Jangan memikirkan apapun. Pernikahan aku dan Sony adalah sesuatu yang kamu inginkan dan aku akan menjalankannya," ujar Vira. Dara terdiam mendengarnya.
" Aku kembali kekamar, kamu sarapan lah!" ujar Vira yang berdiri dan tersenyum tipis. Lalu langsung pergi.
" Vira. Aku tidak tau bagaimana perasaan kamu kepada Sony. Aku juga tidak tau apa kamu suka atau tidak untuk pernikahan ini," batin Dara yang mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Bersambung
__ADS_1