Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 259.


__ADS_3

Carey sudah memasuki kamar Dion yang sudah menjadi suaminya. Carey menyusun pakaian ke dalam lemari yang sudah sengaja di kosongkan untuk pakaiannya yang di bawa dari rumahnya.


Sebelumnya pasti ada drama lemari dulu antara mamanya dan Dion. Erina memang tau jika pernikahan putranya itu belum di terimanya putranya dengan lapang dada.


Dia juga sudah bisa membaca bagaiman rumah tangga anaknya di awal-awal dan pasti Dion akan berusaha membuat Carey menyerah dengan pernikahannya. Ya Erina sudah bisa membaca situasi itu.


Dion pasti akan memulai dari kamar pasti tidak ingin berbagi ranjang tidak ingin berbagi lemari dan lain sebaginya. Apa yang di pikirkan Erina memang sudah ada di kepala Dion.


Jadi sebelum pernikahan itu terjadi. Erina sudah bertengkar terlebih dahulu dengan Dion untuk mewanti-wanti semuanya.


Jadi ketika menantunya datang ke rumah itu. Sudah tidak ada keributan yang di timbulkan Dion terutama masalah kamar.


Erina memang sangat paham situasi itu. Karena dia sering menonton sinetron. Jadi wajar dia mengetahui semuanya. Semua memang di lakukannya demi kenyamanan Carey menantunya.


" Akhirnya selesai juga," ucap Carey menutup lemarinya.


Carey memang hanya membawa 1 koper dari rumahnya. Karena pernikahannya yang bisa di katakan mendadak dan Carey juga 80% turun tangan sendiri dalam mengurus pernikahannya.


Jadi Carey tidak sempat mengemasi barang-barangnya yang lain dan hanya membawa pakaian tidak seberapa. Mungkin jika ada kesempatan nanti. Carey akan menjemput barang-barang nya yang lain.


Setelah selesai merapikan pakaian itu. Carey melihat di sekelilingnya mencari tempat untuk meletakkan kopernya.


" Di taruh di mana ya," gumam Carey terus melihat di sekelilingnya. Matanya melihat ke atas lemari dan melihat koper yang tersusun di sana.


" Iya di sana," ucap Carey menemukan tempatnya. Karena tempatnya tinggi dan tidak sampainya mengangkat koper ke atas lemari.


Carey menggeser kursi meja rias tepat di depan arah dia meletakkan koper tersebut. Carey naik keatas kursi dan sekuat tenaga menaikkan koper yang berat ke atas lemari tersebut.


Meski sudah menggunakan kursi tetapi Carey tetap kesulitan sampai dia harus jinjit agar bisa merapatkan koper kedingding agar tidak jatuh-jatuh. Seperti awalnya koper di sebelahnya yang pasti milik Dion. Yang tersusun rapi.


" Sedikit lagi," gumamnya yang mendorong dengan jarinya. Dengan kakinya di bawah sana yang jinjit.


" Ceklek," suara pintu kamar membuat Carey menoleh. Yang ternyata Dion yang memasuki kamar. Dion heran dengan apa yang di lakukan Carey.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Dion ketus.

__ADS_1


" Menaikkan ini," jawab Carey terus melakukan pekerjaannya dengan terus merapatkan koper kedingding.


Tiba-tiba kaki Carey tidak seimbang dan dia ingin jatuh. Dion yang melihat hal itu langsung lari.


" Aa, au, au," pekik Cherry melotot saat ingin jatuh.


Tetapi untung Dion datang tepat waktu dan menahan tubuh Carey. Dion yang juga tidak seimbang. Akhirnya membawa tubuh Carey jatuh keatas tubuhnya.


" Auhhhhh," lirih Dion merasa sakit di punggungnya karena terhempas. Sementara Carey yang berada di atas tubuh Dion bersusah payah untuk bangkit dengan menekan telapak tangannya di dada Dion.


" Auuu," pekik Dion kesakitan saat Felly menekan dadanya tanpa ampunan.


Carey langsung mengangkat kepalanya dan melihat Dion merintih kesakitan.


" Astaga maafkan aku," ujar Carey panik melihat Dion menahan sakit sampai matanya memejam


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Carey memegang ke-2 pipi Dion. Bukannya bangkit dari tubuh Dion malah terus menindih Dion membuat Dion semakin sakit.


Dion membuka matanya dan tersentak kaget dengan wajah Carey yang sangat dekat dengannya. Bahkan tidak ada jarak. Sampai hembusan napas Carey saat berbicara menerpa di wajahnya.


" Sungguh kau tidak apa-apa," Carey terus berbicara membuat Dion merasakan hal aneh. Dion malah tidak menjawab pertanyaan itu dan Fokus menatap Carey dengan dalam-dalam.


Ada sedikit debaran jantung di antara ke-2 nya yang berdetak tidak menentu. Tetapi masih hanya sedikit belum banyak. Mungkin karena masih awal-awal. Jadi sedikit dulu debaran jantung itu.


" Kenapa jantungku berdetak seperti ini," batin Carey merasakan hal aneh.


Tatapan Dion justru membuat Carey semakin gugup. Dion memang harus mengakui jika lebih dekat di lihat istrinya itu sangat cantik. Ya kecantikan Carey menggoyahkan hatinya yang tetap tidak menginginkan pernikahan itu.


" Apa kau masih akan tetap di situ?" tanya Dion dengan suara seraknya. Suara yang menahan sesuatu dari tadi. Mendengar ucapan Dion membuat Carey tersentak kaget.


" Oh, iya," sahut Carey gugup mencoba bangkit. Saat ingin duduk. Carey kembali kehilangan keseimbangan dan akhirnya tubuhnya jatuh kembali pada Dion dan kali ini wajah mereka lebih berdekatan sampai hidung mereka bersentuhan.


Dion menelan salavinanya saat bibir Carey yang bergetar hampir menyentuh bibirnya. Bibir ranum itu jelas sangat ini di sentuhnya. Dia laki-laki normal dan tidak mungkin tidak menginginkan hal itu.


Ditengah keduanya sibuk kembali saling memandang. Tiba-tiba Erina memasuki kamar itu.

__ADS_1


" Carey mama," tegur Erina schok dengan pemandangan itu dan langsung membalikkan badannya.


Dion dan Carey pun yang tertangkap kaget dan langsung buru-buru bangkit.


" Mama tidak bisa masuk mengetuk pintu dulu," kesal Dion berusaha duduk dan membantu Carey bangkit dari tubuhnya.


Sementara Felly sangat malu dengan kejadian itu yang harus di tangkap mertuanya.


" Pintunya tidak di tutup," sahut Erina menahan tawa.


Pemandangan itu memang sangat indah untuknya dan dia justru menyesal datang tiba-tiba. Karena mengganggu anaknya yang sedang bermesraan.


" Semua tidak seperti yang mama pikirkan," ujar Dion mengatakan terlebih dahulu. Karena dia tau mamanya pasti memikirkan hal yang aneh-aneh. Carey langsung berdiri dan merapikan pakaiannya.


" Sudahlah, mama minta maaf sudah mengganggu kalian. Itu memang wajar. Pasti semenjak di hotel kalian belum sempat melakukannya. Pasti sekarang sudah tidak sabaran ya," ujar Erina senyum-senyum menggoda anak dan menantunya itu. Yang pasti membuat Dion kesal.


" Ma," geram Dion. Dia sangat dongkol mendapat ejekan itu.


" Mama perlu sesuatu?" tanya Carey yang juga sangat gugup dan masih malu. Tetapi berusaha mengalihkan pembicaraan. Apa lagi mertuanya itu terus menggodanya dan Dion membuatnya semakin malu.


" Mama hanya mengajak kamu menemani mama menyiapkan makan siang. Tetapi kalau kamu mau melanjutkan. Tidak apa-apa. Biar mama yang memasaknya," sahut Erina.


" Tidak kok ma, Carey akan bantu," sahut Carey dengan cepat.


" Ya sudah kalau membantu. Memang lebih santai kalau melakukannya di malam hari. Suasananya lebih dapat," sahut Erina sedari tadi tersenyum. Sementara Dion semakin geram.


" Mama tunggu di bawah! ujar Erina pergi Dion menghela napas pelan. Tetapi sang mama kembali lagi.


" Dion, lain kali tutup pintunya," ujar Erina mengedipkan 1 matanya menggoda Dion dan langsung pergi.


" Ishhhhh," desis Dion geram dengan mamanya yang benar-benar puas mengerjainya.


Dion melihat kearah Carey yang berdiri di tempat dengan terus mengatur napasnya. Carey yang menangkap tatapan itu semakin gugup.


" Aku menyusul mama dulu," ujar Carey salah tingkah langsung pergi keluar dari kamar itu.

__ADS_1


" Apa dia sengaja melakukannya," batin Dion kesal.


Bersambung.....


__ADS_2