Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 105


__ADS_3

Setelah pulang dari Supermarket. Raihan mengajak Nayra ke tempat sesuatu. Nayra heran dengan tempat yang sama sekali belum pernah di kunjunginya.


" Ngapain kita kemari?" tanya Nayra bingung ketika berdiri di depan sebuah pintu yang yang terbuat dari kayu.


" Ayo masuk?" ajak Raihan.


" Masuk, buat apa, bukannya tadi kamu ingin mengajakku, membeli bunga Liliy, lalu kenapa jadi kesini?" tanya Nayra bingung.


" Sudah masuk saja," ujar Raihan menggenggam tangan Nayra. Lalu mengajaknya masuk.


Saat memasuki tempat itu Nayra heran dengan tempat yang berukuran tidak terlalu besar itu. Seperti green house yang masih kosong belum terdapat apa-apa.Green house yang memiliki dingding dan atap kaca.


" Apa ini tanya Nayra?" bingung dengan tempat itu. Raihan tidak menjawab dan melangkahkan kakinya mengambil plastik yang terletak di atas meja.


" Aku ingin memberi mu ini," ujar Raihan memberikan kantong itu kepada Nayra.


Nayra mengambilnya dengan wajahnya yang masih kebingungan. Nayra yang juga penasaran melihat isinya.


" Bibit," ujar Nayra ketika melihat butiran bibit berada di tangannya.


" Hmmmm, bibit," jawab Raihan mengangguk.


" Bibit apa?" tanya Nayra semakin bingung. Raihan tersenyum dan meraih butiran bibit itu dari tangannya.


" Ini bibit bunga Liliy," jawab Raihan.


" Bunga Liliy, serius?" tanya Nayra terkejut. Raihan mengangguk.


" Kamu, ingin menanam bunga Liliy di tempat ini?" tebak Nayra sambil kepalanya berputar melihat Green House tersebut.


" Iya kamu benar, agar kamu bisa mengambilnya setiap hari," jawab Raihan.


" Memang akan tumbuh?" tanya Nayra ragu.


" Kita akan mencobanya," jawab Raihan.


" Tapi aku tidak yakin akan tumbuh," sahut Nayra tetap ragu.


Raihan memegang ke-2 tangan Nayra dan tersenyum ke pada Nayra.


" Nara kita akan coba. Aku ingin tempat ini akan di penuhi bunga Liliy dengan banyak warna dan Kamu bisa menikmati keindahannya," ujar Raihan melihat ke atas.


" Lagi pula aku ingin berhemat. Kamu harus tau bunga Liliy itu mahal. Kalau setiap hari aku membelikanmu. Aku bisa bangkrut. Jadi sebaiknya kita tanam saja," lanjut Raihan dengan nada bercandaan.


" Ishhh, dasar belum juga sampai pacaran 1 bulan sudah perhitungan," sahut Nayra dengan wajah kesal menggemaskan. Raihan menyunggingkan senyumnya melihat wajah Nayra yang merengut.


" Aku harus memikirkan itu dari sekarang. Aku tidak mau bangkrut hanya karena pemborosan yang kamu lakukan," sahut Raihan.

__ADS_1


" Kapan aku boros," sahut Nayra dengan nada ngegas. Tidak terima di katakan boros. Raihan tersenyum dan memeluk Nayra.


" Aku hanya bercanda. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Bukankah hanya bunga itu yang membuatmu tersenyum. Aku ingin tempat ini. Menjadi tempat yang special untuk kita. Tempat yang akan sering kita kunjungi. Karena kita harus merawat bibit-bibit itu. Agar tumbuh dengan baik. Dan kamu bisa melihatnya," ujar Raihan dengan lembut. Nayra tersenyum mendengar ucapan Raihan.


" Apa aku sangat penting untukmu. Sampai kamu menyiapkan lahan Bunga untukku. Agar hanya aku bisa tersenyum?" tanya Nayra.


" Iya, kamu sangat penting untukku, aku akan melakukan apapun agar membuatmu bahagia. Jika senyummu hanya karena bunga maka aku akan melakukan apapun untuk itu," ujar Raihan dengan tulus.


" Kamu salah Raihan. Bukan itu yang membuatku tersenyum. Tapi kamu yang membuatku selalu merasa bahagia," ujar Nayra.


" Aku tau itu. Dan aku pasti melakukan apapun untuk kebahagianmu, Aku sangat mencintaimu," ujar Raihan.


Nayra hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Raihan. Dia merasa wanita paling beruntung yang di cintai oleh Raihan. Raihan melepas pelukan itu.


" Ya sudah kita mulai," ajak Raihan. Nayra mengangguk.


Raihan dan Nayra pun akhirnya mulai berkebun dengan penuh candaan. Senyum Ke-2 nya tidak pernah hilang. Tangan ke-2 nya sudah kotor.


Raihan dan Nayra berjongkok bersebelahan. Dengan memasukkan bibit ke dalam tanah.


" Wouuuu jika bunganya benar-benar tumbuh. Aku bisa jadi penjual bunga," sahut Nayra sambil fokus menanam bibit.


" Apa aku boleh menjualnya?" tanya Nayra menoleh ke arah Raihan dengan wajahnya yang serius. Raihan menggeleng.


" Pelit, Kamu takut aku menjadi kaya. Karena berdagang bunga," sahut Nayra.


" Sombong sekali," lirih Nayra pelan dengan bibir yang sudah kerucut. Raihan hanya tersenyum.


" Raihan turun hujan pasti akan terlihat," ujar Nayra melihat ke atap transparan yang bisa melihat indahnya awan.


" Iya kamu benar, selain menikmati indahnya bunga Liliy kamu juga bisa melihat hujan turun," ujar Raihan.


" Kalau begitu aku tidak akan merombak tempat ini menjadi tempat yang indah. Aku juga akan membuat beberapa foto kita di sana," tunjuk Nayra melihat dingding kayu.


" Terserah kamu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tetapi hanya tidak bisa kamu lakukan," ujar Raihan.


" Apa itu?" tanya Nayra.


" Kamu tidak boleh membawa orang lain kemari, siapapun tidak boleh, ini hanya tempat untuk kita ber-2," ujar Raihan dengan serius.


" Kamu juga tidak boleh kalau begitu," sahut Nayra.


" Iya aku tidak akan membawa orang lain kemari sama seperti kamu," ujar Raihan.


Nayra tersenyum dan mengangguk. Nayra kembali menanam bibit dengan wajahnya yang terus tersenyum.


Raihan juga tersenyum melihat wajah manis Nayra. Raihan terus menatap Nayra. Sementara Nayra sibuk menanam bibit. Raihan mendekatkan kepalanya, memegang dagu Nayra.

__ADS_1


Nayra kaget dan melihat ke arah Raihan. Yang ternyata wajah Raihan sudah sangat dekat dengannya. Nayra menjadi gugup saat Raihan menatapnya intens.


Mata Nayra turun pada bibir Raihan yang bergetar. Deru napas Nayra semakin tidak beraturan. Dia sangat sesak karena Raihan semakin dekat dengannya dan sepertinya Raihan ingin menciumnya.


Raihan memiringkan kepalanya agar meraih bibir Nayra. Belum sempat Raihan melakukannya. Dengan jahil Nayra mencoret wajah Raihan dengan tangannya yang penuh tanah. Sampai wajah tampan itu kotor.


" Nara," desis Raihan merapatkan giginya. Kesal dengan Nayra yang sekarang tertawa terbahak-bahak.


" Kamu," Raihan dengan kesal langsung ingin membalas Nayra. Tetapi Nayra mengelak. Saat tangan Raihan berusaha mengotori wajahnya.


" Raihan iya aku minta maaf, stop," ujar Nayra berusaha melindungi wajahnya. Tetapi Raihan sepertinya tidak akan puas jika tidak membalas Nayra.


Nayra pun mendorong Raihan. Sampai Raihan terduduk di tanah. Raina mengambil kesempatan untuk berdiri dan langsung berlari.


" Nara," teriak Raihan kesal.


" Aku sudah minta maaf," sahut Nayra.


" Awas kamu. Kamu pikir bisa lolos," ujar Raihan dengan geram dan langsung berdiri mengejar Nayra. Raihan terus mengejar Nayra yang terus. Mengelak darinya sampai akhirnya Raihan mendapatkan Nayra.


Nayra terus menghindar saat saat Raihan memeluk pinggangnya dari belakang. Dan berusaha mengotori wajah Nayra dengan tanah. Terakhirnya mereka seperti anak kecil saling balas membalas.


Setelah cukup bermain dengan tanah, saling kejar-kejaran, saling melempar. Akhirnya Nayra dan Raihan mencuci tangan mereka dan wajah mereka di keran air yang terdapat di dalam green House tersebut.


" Kamu lihat akibat ulah kamu, bajuku jadi kotor," ujar Raihan masih kesal. Terus mencuci tangan Nayra dan menggosoknya agar tanah yang menempel di tangan Nayra hilang.


" Aku sudah meminta maaf dari tadi. Tetapi kamu tidak memaafkanku. Malah membalasku jadi bukan salahku," sahut Nayra tidak ingin di salahkan.


Nayra menunduk dan membasuh wajahnya yang kotor. Raihan juga melakukan hal yang sama setelah tangannya sudah bersih kembali.


Raihan mengambil tisu dan melap tangan Nayra. Wajah dan tangan mereka sudah bersih tetapi pakaian mereka masih kotor.


Nayra juga mengambil tisu dan sekarang melap wajah Raihan.


" Hanya karena tanah mengotori wajahmu. Ketampananmu tidak akan hilang. Jadi jangan khawatir," ujar Nayra sambil terus melap wajah Raihan. Raihan mendengus.


" Jadi kamu mengakui, jika aku tampan?" tanya Raihan.


" Aku harus mengakuinya. Oke jadi jangan marah lagi kepadaku," ujar Nayra tersenyum. Berjinjit dan mencium pipi Raihan.


" Kita pulang," ujar Nayra dengan senyumnya langsung pergi.


" Dasar nakal," desis Raihan geleng-geleng masih tetap berdiri melihat Nayra berjalan.


" Ayo pulang," panggil Nayra ketika melihat pacarnya masih berdiri sambil tersenyum.


Raihan pun akhirnya menyusul Nayra dan pulang bersama.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน Bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2