
Flashback.
Sampai 9 bulan kandungan Jihan tetap baik dan sehat. Walau tinggal berjauhan dengan Zira. Tetapi Zira terus saja mengawasi Jihan Berulang kali Zira berjanji kepada Jihan. Bayi itu akan menjadi milik Jihan.
Mendengar Jihan akan melahirkan. Zira pun terbang ke Australia Sendiri tanpa di temani Addrian. Untuk menemani Jihan melahirkan. Zira harus ada di samping Jihan saat melahirkan.
Sementara Pada saat detik-detik Jihan akan melahirkan David sedang berada di Amerika sedang melakukan perjalanan bisnis. David memang tidak bisa meninggalkannya pekerjaannya. Karena David sudah terlanjur terbang.
Keluarga Wilson tetap santai dengan kelahiran puttri yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga itu. Justru kebahagian yang dirasakan nyonya Wilson atas kehadiran cucu pertamanya.
Mereka juga tidak memikirkan hal-hal yang buruk-buruk kepada Jihan. Karena setau nyonya Wilson Jihan tidak mengetahui rencananya. Tidak ada pengawasan yang di lakukannya.
Diruang persalinan. Jihan berjuang melahirkan Puttrinya. Tidak ada suami yang menemaninya. Hanya Zira yang ada di sampingnya saat itu.
Setelah bersusah payah. Akhirnya Suara bayi mungil itu terdengar. Tangisan bayi perempuan itu bersamaan dengan jatuhnya air mata Jihan. Dalam ke adaan lemas Jihan melihat bayinya yang masih polos di gendong oleh Zira sahabatnya.
Suara indah bayi itu terus terdengar di dalam ruangan. Zira tersenyum dan memberikan bayi itu kepada Jihan. Masih dalam ke adaan lemas. Zira meletakkan bayi mungil itu di atas dada Jihan.
Sehari 2 hari semuanya masih baik-baik saja. Karena merasa sangat tenang dan tidak ada pengawasan. Zira berencana ingin membawa Jihan, Carey dan Bayi yang baru lahir itu pulang ke Indonesia.
Zira juga sudah menyampaikan niatnya kepada Jihan. Awalnya Jihan mengiyakan dan percaya kepada Zira. Tetapi saat malam hari Jihan di datangi mertuanya di saat Zira tidak berada di sampingnya.
Dengan jujur mertuanya mengatakan akan mengambil bayi itu dan David akan menceraikannya. Banyak hal yang di katakan nyonya Wilson membuat Jihan tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi kondisinya belum sehat pulih.
Jihan yang putus asa. Di tambah Zira tidak ada saat itu. Muncul di pikirannya melenyapkan dirinya. Karena tidak mungkin dia hidup sementara anak yang di lahirkannya tidak bisa di milikinya.
jihan yang pikirannya sudah di penuhi setan. Melakukan tindakan bodoh meminum racun. Tanpa memikirkan bagaimana nanti Carey hidup. Dia benar-benar sangat putus.
Awalnya Jihan ingin melenyapkan dirinya sendiri. Tetapi mengingat bayi itu. Itu sama saja. Memberi kebahagian untuk keluarga yang mempermainkannya.
Jihan meminta suster untuk membawa bayinya kepadanya dengan alasan ingin memberi ASI. Setelah bayi itu sudah bersamanya. Jihan meminum racun dan menyusukannya kepada Nara nama yang keluar sendiri dari mulutnya.
Beruntung Zira datang tepat waktu. Zira melihat mulut Jihan yang sudah penuh busa. Sementara bayi di samping Jihan menangis dengan wajah pucat. Zira berteriak histeris dan melarikan bayi itu ke ruang UGD.
Zira di penuhi kepanikan. Saat Dokter berusaha menyelamatkan bayi itu. Dia tidak menyangka jika Jihan nekat melakukan hal itu. Nyawa bayi itu terselamatkan sementara Jihan masih kritis.
Zira pun membuat rencana dan bekerja sama dengan Dokter yang memang di kenalnya di rumah sakit itu. Karena keluarga Wilson yang tidak ada satupun saat itu.
Zira membuat kematian palsu. Kebetulan ada ada bayi yang meninggal saat itu. Rencananya berjalan dengan mulus. Keluarga Wilson di landa duka yang di buat olehnya.
__ADS_1
Tidak ingin mengambil resiko untuk yang ke-2 kalinya. Zira pun membawa bayi itu pergi. Di saat Jihan masih kritis. Saat Jihan sadar Zira juga tidak memberi tahu tentang anak yang hampir di bunuh sahabatnya itu.
Hubungan Jihan dan Zira juga kurang baik saat itu. Karena Zira yang kecewa dengan perbuatan Jihan yang sudah membunuh bayinya sendiri. Walau sebenarnya bayi itu masih hidup.
Tetap saja Zira sangat kecewa. Zira mengikuti perkembangan Jihan mengenai perceraiannya dan kembalinya dia dan Carey ke New York.
Tetapi setelah Jihan mengalami depresi hubungan mereka kembali membaik. Zira hanya berusaha semampunya membantu penyembuhan Jihan tanpa memberi tahu tentang Nara.
Tidak ada yang tau tentang Nara. Semua orang tau termasuk Jihan jika Nara sudah tiada karena keracunan ASI. Zira juga merahasiakan semua itu dari suaminya.
Flass on
Tetes butir air mata mengalir di pipi Zira ketika mengingat kembali masa lalu. Di mana dia berusaha menyelematkan Nayra.
Zira berdiri di pinggir kolam renang. Melihat foto bayi itu.
" Selamat ulang tahun Nayra," ujar Zira pelan mengelus foto itu.
" Sampai kapan aku akan menyembunyikan semua ini. Sudah 22 tahun semuanya sangat rapi. Tetapi tidak mungkin semuanya tetap seperti ini," batin Zira yang sedang di landa kebingungan.
Di dalam hatinya yang paling dalam. Dia ingin memberi tahu kebenaran yang selama ini tersimpan rapi. Tapi di sisi lain Zira tidak sanggup melihat Nayra yang akan mendapat kabar ini.
Jangan tanya bagaimana sayangnya Zira kepada Nayra. Zira memang sangat peduli dengan Nayra.
" Ma," tegur Raina yang sedari tadi berdiri di belakang Zira. Zira tersentak kaget sampai foto yang di pegangnya jatuh ke tanah.
Raina menundukkan kepalanya dan melihat foto yang terbuka itu. Zira panik dengan keberadaan Raina. Dengan buru-buru Zira mengambil foto itu dari lantai.
" Kamu bikin kaget mama saja," ujar Zira gugup menghapus air matanya.
Dengan meremas foto itu agar tidak di lihat Raina. Padahal Raina sebelumnya juga sudah melihatnya.
" Mama sedang apa?" tanya Raina dengan santai.
" Tidak ada apa-apa," jawab Zira gugup.
" Kenapa mama nangis?" tanya Raina.
" Bagaimana mama tidak menangis. Jika Raihan tidak ada di sini. Raihan bahkan tidak mempedulikan mama," jawab Zira.
__ADS_1
" Bukannya mama juga tau. Jika Raihan hanya mencintai Nayra. Lalu kenapa harus memaksakan pernikahan yang tidak di inginkan Raihan. Ma sudahlah hentikan semuanya. Biarkan Raihan bersama Nayra. Jika mama sama seperti Eyang mendukung Nayra dan Raihan. Aku yakin. Oma, Opa dan Carey akan mengerti," ujar Raina mencoba membuka pikiran mamanya.
" Raina kamu tidak mengerti. Makanya kamu bisa bicara," sahut Jihan.
" Terserah mama. Tapi mama harus tau. Jika Eyang sudah bicara. Mama atau siapapun tidak
bisa membantah apa yang di katakannya," jelas Raina. Zira terdiam mendengar apa yang di katakan Raina.
" Ngomong-ngomong siapa bayi yang ada di foto itu?" tanya Raina pura-pura tidak tau. Mendengar pertanyaan itu membuat Zira Schok langsung menatap Raina dengan mata yang melebar.
" H-h- dia bukan siapa-siapa," jawab Zira gugup dengan wajahnya yang pucat.
" Sudahlah mama mau kedalam dulu," ujar Zira mengalihkan.
Tidak ingin terus menerus ditanyai oleh Raina dia lebih memilih pergi dengan buru.
" Apa itu Nayra?" tanya Raina membuat langkah kaki Zira berhenti.
Napas Zira naik turun. Mendengar kata itu keluar dari mulut Raina. Mungkin Zira hanya salah dengan. Itu yang ada di pikirannya. Tidak mungkin Raina mengetahui hal itu.
" Jadi benar itu Nayra. Maksudnya Nara," ujar Raina lagi. Membuat Zira membalikkan tubuhnya.
" Apa maksud kamu?" tanya Zira dengan wajah pucatnya.
" Aku hanya bertanya. Tidak maksud apa-apa. Memang namanya Nayra kan. Dan Nara panggilan dari Raihan," sahut Raina terlihat santai. Tetapi Zira justru panik.
" Mama kenapa, kok serius gitu wajahnya. Aku hanya bertanya," ujar Raina
" Tidak mama hanya capek. Bayi ini anak teman mama yang baru melahirkan beberapa hari yang lalu. Mama meminta dia mengirimkan fotonya. Agar mama bisa memberikan hadiah untuk bayinya," jawab Zira dengan penuh alasan.
Raina hanya mengangguk-angguk pelan. Seakan percaya dengan apa yang di katakan mamanya.
" Apa aku perlu juga membelikan hadiah untuk kelahiran anak teman mama?" tanya Nayra dengan santainya mempermainkan mamanya.
" Tidak perlu," sahut Zira langsung pergi.
Kepergian Zira membuat Raina tersenyum. Padahal dia juga tau siapa bayi yang ada di foto itu. Sudah hampir ketahuan. Tetapi mamanya masih saja banyak alasan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1