Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 125


__ADS_3

Cecil, Luci, Dara, Andini dan Della sedang mengobrol do salah satu Cafe apalagi yang mereka obrolkan jika tidak mendengar kabar mengenai pernikahan Raihan dan Carey.


" Jadi memang benar mereka di jodohkan dari kecil," ucap Dara yang masih tidak percaya setelah Andini bercerita.


" Katanya sih gitu," sahut Andini meneguk minumannya.


" Raihan dan Carey akan menikah," batin Della yang masih schok dengan berita itu.


" Mereka kan memang cocok dari kecil," sahut Luci.


" Bukannya kak Raihan punya pacar?" tanya Cecil.


" Ya salah pacarnya dong. Sudah tau kak Carey dari kecil sudah dijodohkan dengan kak Raihan


Masih aja ngejar-ngejar kak Raihan. Sekarang batikan tau rasa," Sahut Luci satu-satunya yang paling bahagia dengan kabar itu.


" He Luci, Nayra tidak pernah mengejar kak Raihan," sahut Andini membela Nayra.


" Dia kan teman kamu wajarlah kamu membelanya," sahut Luci.


" Aku tidak membelanya. Tapi yang aku katakan benar. Kamu tidak mengenal Nayra jadi jangan sok tau tentang dia," ujar Andini kesal.


" Apaan, sih, kamu liat sendiri. Mau dia pacaran bertahun-tahun. Mau dia balikan. Atau kak Raihan mencintainya. Dan dia juga. Toh pada akhirnya kak Raihan dan kak Carey yang akan menikah," ujar Luci merasa puas.


" Belum tentu semua itu terjadi," sahut Andini yang tidak setuju.


" Hehhhh, sudah kenapa kalian jadi yang ribut sih," ujar Cecil mencegah keributan.


" Dia duluan tuh," Tuduh Luci.


" Lo yang duluan. Malas banget bicara sama orang yang nggak pernah ngerti kayak kamu. Aku itu heran sama kamu. Kenapa sih kamu itu nggak suka sama Nayra. Nayra itu baik, nggak kayak lo jahat," tegas Andini tanpa merem mulutnya.


" Hati-hati kalau bicara. Kamu lebih belain Nayra yang kamu kenal beberapa tahun. Dari pada aku yang sudah kenal kamu selama ini," sahut Luci yang ikut terpancing emosi.


" Iya karena aku tau mana yang benar-benar baik dan mana yang hatinya tidak baik," jawab Andini.


" Maksudnya apa," sahut Luci berdiri tidak terima dengan ucapan Andini.


" Sudah apa-apaan sih, orang yang menikah kalian yang ribut," Sahut Dara menurunkan tangan Luci yang menunjuk-nunjuk Andini.


" Malas bicara sama orang yang hatinya sudah tertutup," kecam Andini berdiri langsung pergi.


" Andini," panggil Cecil. Andini sama sekali tidak merespon dan tetap melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


" Ihhh, malah sewot, hanya gara-gara temannya doang," desis Luci kesal.


" Kamu juga apapan si Luci, kamu nggak bisa bersikap kayak tadi," sahut Della.


" Kok jadi aku yang di salahin sih, dia yang duluan," sahut Luci tidak terima.


" Sudahlah, sudah oke," sahut Dara yang pusing teman-temanya pada keras kepala mendadak. Luci kembali duduk dengan wajahnya yang cemberut. Dia sangat kesal karena di salahkan.


*************


Zira berada di dalam kamarnya. Beberapa hari ini Zira sangat murung. Bahkan tidak pernah ke luar kamar semenjak bertengkar dengan Raihan.


Belum lagi dia juga masih diam-diaman dengan suaminya. Zira sangat merindukan Raihan yang sama sekali tidak menghubunginya.


Zira juga memang tidak menghubungi Raihan ibu dan anak itu masih di penuhi rasa gengsi. Zira duduk di pinggir ranjang. Memegang 1 lembar foto. Foto Nayra dengan yang masih berusia 1 tahun.


" Besok kamu akan 22 tahun. Tidak terasa kamu benar-benar tumbuh dari kecil sampai dewasa dalam pengawasanku. Maafkan Tante jika kali ini Tante yang menyulitkan mu. Andai kamu tau Nayra Tante sangat menyayangimu. Tante sangat sakit hati ketika kamu menolak permintaan Tante. Seandainya dulu kamu tidak bertemu dengan Raihan. Mungkin sekarang ini tidak akan terjadi," ujar Zira mengusap foto Nayra dengan air matanya yang menetes.


" Tidak menyangka. Jika apa yang ingin kubur selama ini. Muncul secara bergantian. Tanpa kamu sadari Nayra kamu bertemu dengan ayah dan ibu kandung kamu. Orang tua kamu sesungguhnya," ucap Zira terus meneteskan air mata.


Flassback.


Zira menemani suaminya ke Australia dalam perjalanan bisnis. Karena mengingat Zira memiliki teman di Australia Zira pun mengunjungi Jihan sahabatnya. Sekalian bertemu dengan Carey.


Pintu kamar Jihan terbuka sedikit. Sebelum memasuki kamar itu. Zira melihat Jihan yang ingin meminum jus nanas.


" Jihan," teriak Zira langsung masuk dan mengambil gelas dari tangan Jihan.


" Apa yang kamu lakukan. Bukannya kamu hamil?" tanya Zira dengan suara meninggi.


" Zira, ngapain kamu di sini?" tanya Jihan panik.


Mata Zira menoleh ke atas meja dan berserakan obat-obat. Zira mengambil 1 obat itu yang ternyata obat penggugur kandungan. Zira sangat terkejut dan melihat tajam ke arah Jihan.


" Apa ini Jihan?" tanya Zira menekan suaranya. Dengan kasar Jihan merebutnya dari tangan Zira.


" Kamu jangan ikut campur," tegas Jihan.


" Apa yang kamu lakukan, kamu ingin mengugurkan kandungan kamu. Apa kamu gila hah! teriak Zira.


" Iya aku memang gila aku ingin membunuh bayi ini. Dia tidak akan aku biarkan hidup, aku membencinya," teriak Jihan memukul-mukul kandungannya.


" Hentikan Jihan kamu jangan bodoh," Zira berusaha untuk menghentikan Jihan yang memukul-mukul perutnya.

__ADS_1


" Aku benci bayi ini, aku benci," teriak Jihan.


Plakkk


1 Tamparan di terima Jihan membuat Jihan terjatuh ke ranjang.


" Apa yang kamu pikirkan. Bisa-bisanya kamu membunuh dara daging kamu sendiri," bentak Zira. Sementara Jihan sudah lemas duduk di di atas ranjang.


" Percuma bayi ini hidup. Dia tidak akan bersamaku. Bayi ini akan di ambil keluarga Wilson. Aku dan Carey akan di campakkan. Jadi untuk apa aku membiarkan bayi ini hidup. Mereka bisa mencari perempuan lain yang memberikan mereka keturunan. Yang bisa menjadi pewaris," ujar Jihan dengan suaranya yang sudah serak.


" Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," sahut Zira bingung.


" David menikahiku. Agar aku bisa melahirkan keturunan untuk pewaris mereka. Dan setelah itu dia akan menceraikanku," teriak Jihan.


Zira langsung schok mendengarnya. Zira menutup mulutnya dengan satu tangannya. Matanya melebar.


" Apa gunanya semua ini Zira. Dia tidak akan melepaskanku sebelum anak ini mati. Aku tidak tahan hidup bersamanya. Aku ingin berpisah," teriak Jihan yang menangis Sengugukan.


Zira langsung duduk dan memeluk Jihan.


" Tenanglah Jihan. Apapun itu kamu tidak boleh membunuh darah daging kamu sendiri. Bayi ini tidak salah. Tidak sama sekali," ujar Zira menenagkan Jihan.


" Lalu apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin melahirkan anak ini. Jika itu terjadi anak ini akan di serahkan kepada mereka. Aku tidak ingin itu terjadi," ujar Jihan yang akan pasrah akan hidupnya.


Zira melepas pelukannya dan memegang ke-2 pipi Jihan dengan ke-2 tangannya.


" Aku akan mencari cara. Agar kamu tetap bersama anak kamu. Aku janji kamu dan anak ini tidak akan berpisah. Tapi berjanjilah kepadaku. Jangan pernah kamu melakukan ini lagi. Aku mohon Jihan. Jauhkan pikiran kamu untuk membunuh bayi ini. Dia tidak salah, di tidak tau apa-apa," ujar Zira meyakinkan sahabatnya.


" Kamu maukan berjanji kepadaku. Aku akan sangat marah. Tidak akan bertemu denganmu lagi. Ketika kamu mengulangi niatmu untuk membunuhnya. Aku akan sangat marah Jihan," ujar Zira penuh penegasan dengan air matanya yang mengalir deras.


" Bisakan kamu melakukannya, demi aku?" tanya Zira. Jihan akhirnya mengangguk. Zira pun memeluk sahabatnya dengan erat.


Flassaon.


Air mata Zira memenuhi foto Nayra. Dia kembali mengingat bagaimana dia memperjuangkan Nayra saat masih berada di dalam kandungan.


" Dari kamu masih di dalam kandungan. Tante berusaha memberikan kamu kehidupan. Tante memberimu nama. Segalanya telah Tante berikan. Tapi semua kehidupan yang Tante berikan kepada kamu. Justru membuat kamu sangat menderita. Tante sangat menyayangi kamu. Tetapi untuk hubungan kamu dan Raihan. Tante tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Zira dengan suaranya serak.


Tiba-tiba Zira mendengar suara mobil.


" Bukannya itu mobil Raihan. Raihan pulang," ujarnya mengusap air matanya. Zira menyimpan foto Nayra di bawah bantal. Zira langsung buru-buru keluar dari kamar menemui Raihan.


🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2