Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 361


__ADS_3

Vira terdiam mendengar kata-kata Dion. Dion begitu serius berbicara. Sampai Vira tidak bisa menanggapi apa lagi yang di katakan Dion.


" Pergilah, jangan di sini. Aku tidak ingin Carey salah paham!" ujar Dion yang mengusir Vira. Membuat Vira benar-benar schok.


" Kamu mengusirku Dion?" tanya Vira.


" Aku hanya ingin menjaga perasaan Carey. Jadi maaf kalau apa yang aku katakan terkesan mengusir. Karena memang itu sesungguhnya itu yang terbaik," ujar Dion menegaskan. Vira pun berdiri dari tempat duduknya.


" Baiklah! aku akan pergi. Mungkin nasibku yang tidak bisa memiliki siapa-siapa. Selama ini hanya kamu harapanku. Tetapi sekarang kamu juga sudah tidak peduli denganku. Aku tidak ada niat untuk merusak rumah tanggamu. Tetapi memang itu yang terbaik untukmu. Baiklah aku tidak akan mengganggumu," ujar Vira yang akan pasrah dengan dirinya.


Sementara Dion tidak bicara apa-apa lagi. Bahkan dia tidak melihat ke arah Vira yang berbicara dengan kesedihan hatinya. Air mata Vira yang sudah jatuh langsung di hapusnya.


" Makasih untuk semuanya," ujar Vira dan membalikkan badannya, lalu pergi dengan langkahnya yang pelan. Saat Vira ingin melewati Carey.


Vira langsung menyandarkan tubuhnya di dinding lebih rapat agar tidak ketahuan oleh Vira yang melewati dirinya.


Carey yang bersandar di dingding melihat kepergian Vira. Air mata Carey juga ternyata sudah menetes dan langsung menyekanya. Carey menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.


Setelah benar-benar Vira telah pergi jauh. Carey langsung menghampiri Dion dan Dion pasti kaget mendengar ke hadiran Carey yang menurutnya sangat cepat.


" Sudah selesai?" tanya Dion.


" Hmmm, belum. Tas aku ketinggalan di dalam. Jadi aku mau ambil dulu," ujar Carey yang sedikit gugup.


" Ya sudah aku ambil sebentar," ujar Carey. Dion mengangguk. Carey pun langsung pergi ke ruangan Dokter.


Tidak lama, Carey kembali keluar dan melihat Dion. Mungkin perasaan Carey sedang bergejolak, jadi dia agak dengan Dion. Apa mungkin karena dia mendengar kalau Dion mencintainya.


" Ada apa lagi?" tanya Dion yang heran melihat Carey diam mematung dan melihatnya terus menerus.


" Tidak. Tidak apa-apa," jawab Carey gugup. " Ya sudah aku pergi dulu," ujar Carey pamitan. Dion menganggu dan Carey pun langsung pergi.


*************


Carey dan Dion sudah menyelesaikan semuanya urusan mereka. Dari rumah sakit dan sebagainya. Sekarang Carey dan Dion sudah berada di dalam mobil dengan Carey yang pasti mengemudi. Sementara Dion yang di sampingnya menyandarkan dirinya agar lebih tenang. Carey menoleh ke arah Dion sebentar.


" Kamu mau makan sesuatu?" tanya Carey. Dion yang mendapat tawaran melihat ke arah Carey.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan lembut dan pasti tidak judes membuat hati Dion seakan tenang dan mungkin panas di tubuhnya sudah berkurang.


" Dion!" tegur Carey saat melihat Dion yang diam tanpa kata.


" Tidak usah, nanti di rumah saja," ujar Dion yang mungkin tidak ingin merepotkan istrinya.


" Ya sudah kalau begitu," sahut Carey yang kembali menyetir.


Akhirnya tidak berapa lama. Carey dan Dion sampai Kerumah. Carey buru-buru keluar dari mobil menuju tempat Dion dan langsung membuka pintu mobil Dion. Membantu Dion keluar dari mobil dengan memapahnya.


Membawa suaminya masuk kedalam rumah dengan pelan. Sifat dingin Carey seakan mulai berkurang. Mungkin karena tadi hatinya cukup senang dengan Dion yang benar-benar menjauh dari Vira dan juga memperingati Vira.


Jadi sifatnya perlahan benar-benar hangat kembali. Carey dan Dion memasuki kamar dan dengan perlahan. Carey merebahkan suaminya di atas tempat tidur.


Saat Dion sudah berbaring. Carey yang membantunya tiba-tiba tidak seimbang sehingga tubuhnya jatuh di atas Dion dengan Dion memegang ke-2 lengan Carey dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


Carey dan Dion saling beradu pandang dengan debaran jantung ke-2nya yang tidak saling menentu. Mata Dion berkeliling melihat wajah Carey yang sangat teduh. Sementara Carey yang berada dekat dengan suaminya begitu dek-dekan dan memang tidak seperti biasanya jantungnya tidak aman seperti itu.


" Mungkin aku adalah laki-laki yang tidak tau cara bersyukur, yang sudah menyia-nyiakan wanita sepertimu," batin Dion yang menyadari kebodohannya selama ini yang sudah membuat Carey sakit hati.


" Aku tidak tau apa yang aku dengar. Tetapi seakan apa yang kamu katakan membuatku tenang. Seakan itu yang ku harapkan selama ini Dion. Aku berharap kamu memang benar pada ucapanmu Dion. Kamu benar-benar menghargaiku sebagai istrimu," batin Carey. Mungkin apa yang di dengarnya dari Dion tadi. Belum membuat hatinya sepenuhnya sembuh.


Dan secepat kilat juga Carey langsung bangkit dari hadapan Dion dengan merasa canggung.


" Maaf," ujar Carey yang langsung berdiri.


" Kenapa harus meminta maaf," ujar Dion yang merasa istrinya tidak perlu minta maaf.


" Aku akan ambil makanan dulu," ujar Carey yang langsung pergi.


" Aku tidak akan menyerah Carey. Aku tidak ingin rumah tangga kita seperti ini terus," batin Dion yang bertambah semangat.


***************


Raihan sedang siap-siap di dalam kamar mungkin yang ingin bekerja. Raihan sudah lama sekali meninggalkan pekerjaannya. Pekerjaannya selama ini di tangani oleh Raka.


Dan mungkin Raihan akan turun kembali. Kondisinya juga sudah pulih dan benar-benar bisa kembali berpikir untuk bekerja. Istrinya juga sudah melahirkan dan Nayra juga sudah sembuh.

__ADS_1


Di rumahnya juga banyak orang yang membantu Nayra. Jadi tidak ada yang di permasalahkan Raihan.


Nayra memasuki kamar dan melihat suaminya yang sudah rapi di depan cermin. Nayra tersenyum mendekati Raihan dan langsung memeluk Raihan dari belakang. Membuat Raihan tersentak kaget.


" Kamu mau kekantor?" tanya Nayra yang memeluk erat suaminya dengan wajahnya yang menempel pada pundak punggung suaminya.


" Benar sayang," jawab Raihan menengok kebelakang.


" Di mana anak kita?" tanya Raihan yang tidak melihat bayinya yang tadi Setaunya setelah istrinya mandi membawa anak mereka berjemur di luar dan sekarang istrinya pulang dengan tangan kosong.


" Dia lagi sama mama, mama menemaninya berjemur," jawab Nayra.


" Begitu rupanya," sahut Raihan.


" Sayang. Kamu benar akan kekantor hari ini?" tanya Nayra yang sepertinya punya maksud terselubung yang membuat Raihan heran dengan mengkerutkan dahinya.


" Hmmm, iya aku akan kekantor. Memang kenapa?" tanya Raihan membalikkan tubuhnya melihat istrinya yang cantik itu.


Meski sudah berbalik badan, Nayra masih saja memeluknya.


" Memang harus sekarang?" tanya Nayra mengangkat kepalanya, melihat suaminya. Wajahnya yang cantik itu sekarang menggemaskan seperti anak kecil yang tidak ingin di tinggal sendirian.


Raihan memeluk pinggang Nayra agar lebih dekat dengannya dan tersenyum manis dengan tangannya yang mengusap-usap rambut Nayra.


" Memang aku tidak harus kekantor?" tanya Raihan.


" Terserah kamu sih," tangan Nayra meraba-raba dada Raihan. Raihan mendengus melihat kelakukan istrinya. Raihan memegang dagu Nayra sehingga wajah Nayra sejajar dengannya. Dan mengecup bibir Nayra dengan lembut.


" Kamu tidak ingin aku kekantor?" tanya Raihan. Nayra mengangguk lalu berjinjit.


" Aku ingin berduaan denganmu," bisik Nayra di telinga suaminya. Raihan mendengarnya mendengus dengan tersenyum mendengar bisikan istrinya.


" Kamu ingin berduaan denganmu?" tanya Raihan memastikan. Nayra mengangguk.


" Bagaimana jika bayi kita marah. Dia sangat cemburuan. Jika aku mengambil mamanya dia akan rewel," ujar Raihan.


" Mama sedang menjaganya, jadi aman," ujar Nayra pelan dengan mengedipkan matanya.

__ADS_1


" Kamu sengaja melakukannya?" tanya Raihan. Nayra mengangguk. Sepertinya dia memang membuat strategi untuk bayinya di pegang mamanya. Agar dia dan suaminya bisa berduaan memadu kasih.


Bersambung....


__ADS_2