
Nayra benar-benar bingung melihat keberadaan Raihan di Apertemennya. Pria itu duduk dengan santainya, matanya yang lelah menatap Nayra.
" Apa yang kamu lakukan, bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Nayra sekali lagi.
" Selagi Apertemen ini, milik keluarga Wijaya, itu sangat mudah untukku masuk, tanpa harus permisi," ujar Raihan dengan santai, lalu beranjak dari duduknya.
" Keluar kamu dari sini, kamu tidak bisa masuk seenaknya kedalam rumah orang lain," usir Nayra. Raihan malah tersenyum miring.
" Ini bukan rumah orang lain. Ini adalah Apertemen keluargaku. Jadi wajar saja aku pergi berada di sini," ujar Raihan melangkah mendekati Nayra.
" Mau apa kamu?" tanya Nayra yang melihat Raihan semakin mendekatinya,
" Keluar kamu, jangan kurang ajar kamu berbuat sesuakamu di dalam rumah ku, keluar," Teriak Nayra menunjuk arah pintu.
"Jangan terlalu galak kepada atasanmu," sahut Raihan dengan santai.
" Kau bukan atasanku," sahut Nayra membantah.
" Aku bisa memberimu hukuman, jika kau berani kepadaku," ancam Raihan.
" Ini bukan kantor, jadi kita tidak ada urusan apa-apa. Aku bisa melakukan apapun di dalam rumahku. jadi ku minta pergi sekarang juga sebelum..."
" Sebelum apa?" sahut Raihan memotong pembicaraan Nayra. Nayra dan Raihan sudah semakin dekat.
Nayra bisa mencium bau tidak enak. Jika Raihan sedang mabuk. Nayra mengendus sedikit mencium bau alkohol yang sangat menyengat.
" Kau menjadi galak, ketika sudah bersenang-senang dengannya," ujar Raihan membuat Nayra bingung.
" Pergi dari sini," Nayra menarik baju Raihan untuk mengusirnya dari rumahnya.
" Santai, kau tidak bisa mengusirku, ini Apertemen milik keluarga ku, jadi kau tidak bisa mengusirku," ujar Raihan dengan tegas.
Nayra menutup hidungnya dengan jarinya. Karena bau alkohol semakin menyengat. Raihan benar-benar mabuk berat, berjalan pun Raihan sudah sempoyongan. Mata indah itu juga terlihat kosong.
" Pergi lah, kau sedang mabuk," ujar Nayra.
" Tidak, itu hanya perasaan mu saja, aku tidak mabuk," elak Raihan padahal benar dia sedang mabuk berat.
" Aku peringatkan sekali lagi, Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku menelpon mamamu. Dan Tante Zira akan menyeretmu keluar dari rumahku," ancam Nayra dengan tegas.
__ADS_1
Nayra sudah habis kesabaran. Mungkin cara untuk mengusir Raihan yang masuk sembarangan hanya dengan Zira.
Raihan menyunggingkan senyumnya mendengar ancaman Nayra yang begitu serius. Tetapi terlihat sangat menggemaskan.
" Oh iya kau ingin mengadu kepadanya, sepertinya kau sangat dekat dengannya. Sehingga membuatmu mengandalkannya, telpon saja aku tidak takut," tantang Raihan tersenyum miring.
Nayra yang semakin kesal dengan Raihan langsung mengambil ponselnya, dan tidak main-main dia langsung memencet nomor Zira.
Raihan membuang napasnya kasar melihat Nayra yang benar-benar melakukannya, dengan cepat Raihan mengambil ponsel Naira.
" Kembalikan," pinta Nayra dengan menatap horor.
" Tidak akan," sahut Raihan.
" Kembalikan aku bilang!" ujar Nayra lagi mencoba mengambil dari Raihan, tetapi Raihan menyembunyikan di punggungnya.
Nayra terus berusaha mengambil ponselnya yang di pegang Raihan. Tangan Raihan terus berada di belakangnya memegang ponsel Nayra agar Nayra tidak menelpon mamanya.
Nayra tidak sadar jika dia sangat dekat dengan Raihan, bahkan Nayra seperti memeluk Raihan, merekapun akhirnya saling beradu pandang. Bola mata itu seakan saling berbicara.
Nayra mengalihkan pandangannya dan beralih ke belakang Raihan untuk mendapatkan ponselnya. Meski mabok Raihan dengan sigap mengelak. Terus berusaha menjauhkan ponsel itu dari Nayra.
" Kembalikan, apa maumu sebenarnya?" tanya Nayra menekan suaranya dia benar-benar kehilangan kesabaran terhadap kelakuan Raihan. Raihan benar-benar mempermainkannya.
" Kau sungguh keterlaluan, kembalikan," Nayra. berjinjit meraih ponselnya yang masih di pegang Raihan. Raihan tidak mau mengalah dan membuat ponsel itu semakin jauh keatas.
Naira terus berusaha berjinjit menurunkan tangan Raihan, dan bahkan menarik bajunya merebut miliknya kembali.
Pada akhirnya kaki Raihan tertabrak ujung sofa dan tidak bisa menjaga keseimbangan. Raihan menarik pinggang Nayra dan akhirnya mereka jatuh bersama di atas sofa.
" Ahhhhhh," teriak Nayra.
Brukkkk akhirnya Nayra jatuh ke atas tubuh Raihan. Sekarang tubuh Nayra sudah berada
di atas tubuh Raihan.
Raihan dan Nayra saling adu pandang, mata Nayra melihat mata Raihan yang juga menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. deru napas mereka saling bertautan. Debaran jantung ke-2 pasangan itu semakin tidak beraturan. Wajah mereka tidak ada jarak sama sekali.
" Kau," desis Nayra yang kesal dan ingin bangkit, Raihan menahan pingngangnya tidak membiarkannya pergi begitu saja, malah menguncinya di dalam dekapannya.
__ADS_1
" Lepaskan aku!" ujar Nayra berusaha melepaskan dirinya.
Satu tangan kokoh Raihan tetap memegang pinggang Nayra. Sementara yang satunya sudah membelai rambut Nayra yang menutupi wajahnya.
" Berapa banyak yang kau dapatkan uang darinya sehingga perawatan mu berhasil dan membuatmu secantik ini," ujar Raihan memuji Nayra. Tetapi kata-katanya sangat menyakitkan.
" Jangan sembarangan kalau bicara, aku tidak pernah menggunakan uang siapapun, untuk memenuhi hidup dan kebutuhanku," sahut Nayra kesal.
Raihan mengendus mendengarnya. Dia seperti mengejek perkataan Nayra.
" Benarkah, kau sangat pintar bersandiwara, aku mengira manusia semakin besar akan semakin baik. Tetapi ternyata tidak, kau semakin dewasa semakin pintar berbohong. Aku punya kenalan sutradra, apa kau ingin aku mengenalkannya denganmu. Menyuruhnya menjadikan mu artis, soalnya kamu punya bakat untuk berakting dari pada untuk menjadi sekretaris," ucap Raihan sinis dengan penuh sindiran.
dan sekarang tangannya mengusap lembut pipi Nayra. Seakan menikmati wajah Nayra dan aroma farfum rose yang tidak pernah berubah.
" Aku tidak butuh saran mu, gunakan saja teman mu itu, mencarikanmu Dokter, agar sarafmu di perbaiki. Agar tidak suka berbicara sembarangan," sahut Nayra dengan sinis.
" Nara, kenapa kamu menjadi galak sekarang," ujar Raihan.
" Jangan menyebutku dengan panggilan itu, aku sangat tidak menyukainya," sahut Nayra yang tidak ingin jika Raihan memanggilnya dengan nama itu. Nama di masa lalunya.
" Kenapa, apa dia sudah memiliki panggilan kesayangan untukmu?" tanya Raihan ingin dengan suara beratnya.
" Bukan urusanmu, menyinggirlah dari ku, " ujar Nayra berusaha melepaskan diri.
" Sekarang kamu sok, jual mahal, apa jual mahal ini, juga adalah caramu. Kamu memang sangat pintar bermain drama, aku akan menjadikan mu aktris terkenal, karena bakatmu yang penuh sandiwara," ujar Raihan lagi terus membelai pipi Nayra dengan jarinya.
" Jangan menyentuhku," desis Nayra menepis tangan Raihan. Raihan melihat penolakan itu hanya tersenyum.
" Ada apa denganmu Raihan," batin Nayra.
" Ayolah jadilah aktris, aku akan membuatmu menjadi terkenal. Tetapi bermalamlah denganku," ujar Raihan dengan senyum nakal, menatap wajah Nayra dengan tatapan menginginkan.
" Tutup mulutmu, kamu cari saja pelacur di luar sana, bukan aku," sahut Nayra kesal menekan suaranya
" Ada apa denganmu, kenapa kamu jadi marah," ujar Raihan.
" Kau sedang mabuk, jadi Menyinggirlah dari ku," ujar Nayra semakin merasa pusing karena alkohol yang sangat menyengat.
" Aku sadar Nara, aku tidak mabuk. Sebaiknya kamu jangan sok jual mahal, di luar sana banyak wanita yang memohon kepada ku. Menikmati semua yang aku berikan. Dan kamu sangat special, aku khusus menawarkan untukmu," ujar Raihan dengan suara beratnya menahan hasrat ditubuhnya. Nayra benar-benar membuatnya gila. Ditambah pengaruh alkohol yang sangat banyak masuk kemulutnya.
__ADS_1
" Tapi aku tidak butuh tawaranmu, menyinggir dari ku," Nayra memukul dada Raihan dan menekannya sedikit agar dia bisa lolos.
...Bersambung........