
Raihan yang dapat mendengar perkataan Raina menjadi bingung.
" Maksudnya?" tanya Raihan mengkerutkan keningnya.
" Aku tidak bisa mengingatnya, apa ada manusia lahir langsung besar," ujar Nayra lagi. Raihan semakin bingung dengan apa yang di katakan Nayra.
Raihan bisa merasakan jika Nayra sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya tangan Raihan ikut memeluk erat Nayra. Dia membalas pelukan itu dengan senyumnya.
Nayra merasa memang sangat tenang berada di pelukan Raihan. Bahkan matanya mulai bergenang. Itu juga dia tidak tau kenapa bisa terjadi.
" Nara apa kau sadar melakukan ini?" tanya Raihan memastikan. Nayra tidak menjawab. Dia hanya butuh pelukan itu. Dia sangat membutuhkannya.
" Kamu tau Nara, beberapa orang sedang melihat kita. Dan mereka menatap dengan sinis. Kamu yakin tidak mau pindah tempat,"
ujar Raihan memberi saran dengan senyum di wajahnya. Nayra masih diam tanpa menjawab. Mungkin saja dia juga tidak mendengarkan perkataan Raihan.
" Ada apa dengannya, kenapa dia tiba-tiba seperti ini," batin Raihan bingung.
Raihan tidak peduli. Dia pun memeluk lebih erat. Dia merasa Nayra memang sudah kembali kepadanya. Karena Nayra sudah seperti dulu.
Nayra yang sangat manja kepadanya. Yang apa-apa akan mengadu kepadanya. Mungkin kepercayaan itu kembali di dapatkannya.
" Apa yang aku lakukan," ujar Nayra tiba-tiba dan melepas pelukannya dari Raihan, malah mendorong Raihan seakan dirinya kembali sadar.
" Ada apa?" tanya Raihan bingung melihat exsperesi Nayra yang langsung berubah.
" Kenapa memelukku di tempat umum. Aisss... mereka pasti sudah menceritaiku, kamu itu kebiasaan," Ocehnya mulai panik.
Raihan mengkerutkan dahinya melihat Nayra yang malah menyalahkannya. Padahal dia tidak melakukan apa-apa.
" Hey, Nara yang memeluk itu kau. Bukan aku," sahut Raihan tidak terima mendapat tuduhan.
" Ahhhh, mana mungkin, sejak kapan dunia secepat itu berbalik," sahut Nayra dengan cepat membantah. Raihan geleng-geleng dengan kelakuan Nayra.
" Ahhhhh sudahlah, semua sudah terlanjur," ujar Nayra yang malah kebingungan dan memiilih pergi.
Raiahan yang merasa Nayra memikirkan sesuatu menarik tangan Nayra dan kembali memeluk Nayra. Seperti tidak ingin melepasnya. Nayra pun kembali melingkarkan tangannya memejamkan matanya di pelukan itu. Sepertinya yang tadi masih kurang.
" Katakan ada apa?" tanya Raihan yang bisa menebak Nayra sedang dalam masalah.
" Memang aku kenapa?" tanya Nayra berada di dalam pelukan itu tanpa memberontak.
" Kau mengatakan masa kecil, apa yang membuat pikiranmu terganggu?" tanya Raihan.
" Entahlah, aku juga tidak tau, tiba-tiba saja hal itu memasuki otakku," ujar Nayra dengan suara pelannya.
" Kenapa bisa?" tanya Raihan.
Nayra pun melepas kembali pelukan itu. Dan melihat menatap Raihan.
" Aku juga tidak tau," jawab Nayra bingung, " sudahlah aku mau masuk dulu," ujar Nayra pamit.
" Baiklah, masuklah," sahut Raihan mengangguk dan tersenyum pada Nayra, Raihan mengusap kepala Nayra.
Nayra tersenyum lalu pergi. Paling tidak dia merasa lega. Mendapat ketenangan dari Raihan. Walaupun apa yang di lakukannya kembali membuat beberapa orang pasti sudah memulai membuka topik gosip tentang dirinya.
Sangat cepat menjalar gosip itu padahal baru beberapa menit terjadi. Baru saja duduk di tempat kerjanya. Telinganya sudah panas mendengar selintingan tentang dirinya.
__ADS_1
" Mereka pasti sudah balikan,"
" Masa iya sih,"
" Kayaknya Pak Raihan cinta banget sama dia,"
" Dia lumayan beruntung sih,"
" Tapi aku tidak percaya sih,"
" Aku jelas melihat mereka berpelukan di bawah tadi, pelukannya sangat erat. Sangat romantis,"
" Bukannya kemarin mereka juga kembali ribut ya,"
" Ya mungkin saja dia kembali merayu Pak Raihan,"
Jesika juga ada di antara gosip itu. Telinganya sangat panas mendengar Nayra yang di gosipkan berbaikan dengan Raihan.
" Sialan, dia memang sangat pintar menggoda," batin Jesika melirik dengan sinis ke arah Nayra.
" Apa yang barusan aku lakukan. Kenapa aku malah memeluk Raihan. Lihatlah hasil dari yang kulakukan tadi," batin Nayra menyadari dengan apa yang di lakukannya tadi. Dia hanya berpura-pura linglung di depan Raihan. Untuk mengurangi rasa malunya di depan Raihan.
" Apa lagi si Mak lampir itu, lihatlah dia melihatku sangat sinis. Apa dia begitu menyukai Raihan," batinnya lagi melihat ke arah Jesika yang masih melihatnya dengan sinis.
Alex yang keluar dari ruangannya melihat beberapa karyawan bergosip. Dia juga mendengar selentingan nama Raihan dan Nayra di tema pembicaraan itu. Alex melihat ke arah Nayra yang tampak kurang nyaman.
" Apa pekerjaan kalian semua sudah selesai," ujar Alex suara sedikit berteriak.
Para karyawan kucar-kacir kembali ketempat duduk masing-masing dan berpura-pura sibuk. Karena tau Alex pasti akan mengomeli mereka. Karena tidak bejus bekerja.
" Saya tidak suka melihat karyawan yang hanya terlalu banyak bacot. Dari pada pekerjaan. Jika tidak niat bekerja. Silahkan mengundurkan diri," ujar Alex penuh penekanan dan penegasan.
" Awas ya jika sekali lagi, kantor ini kalian jadikan sebagai tempat gosip, saya tidak segan-segan memecat kalian," tegas Alex. Karyawan yang mendapat Omelan hanya terdiam sambil menunduk.
" Nayra, Jesika," panggil Alex. Jesika dan Nayra langsung berdiri.
" Iya Pak," sahut mereka serentak.
" Kalian ber-2 keruangan saya!" perintah Alex.
" Baik Pak," sahut mereka serentak. Jesika dengan gayanya yang sok melirik sinis ke arah Nayra dan langsung pergi menyusul Alex. Seperti sudah paling yang di butuhkan.
Nayra pun ikut menyusul keruangan Alex. Sekarang mereka ber-2 sudah berdiri di depan Alex yang duduk di bangku kerjanya.
" Pak David klien penting perusahaan ini akan tiba di Jakarta nanti sore. Saya meminta kalian berdua mempersiapkan segalanya," ujar Alex menyampaikan informasi.
" Baik Pak," sahut Nayra.
" Nayra kamu jemput pak David di Bandara nanti nanti sore!" ujar Alex.
" Baik Pak," jawab Nayra.
" Dan kamu Jesika, bantu Nayra mempersiapkan segalanya!" ujar Alex
" Iya Pak," sahut Jesika tidak ikhlas.
" Baiklah, kalian boleh keluar," ujar Alex. Nayra dan Jesika pun keluar.
__ADS_1
Mereka ber-2 sudah berada di luar ruangan Alex. Nayra berjalan dengan santai tanpa menegur Jesika. Jesika menghentikan tangannya.
" Ada apa?" tanya Nayra ketus.
" Kau bukan cuma menggoda Pak Raihan. Tetapi Pak Alex juga," ujar Jesika dengan sinis.
" Tutup mulutmu, kau pikir aku seperti dirimu," sahut Nayra dengan santai.
" Dasar ******," desis Jesika.
" Hey jaga ucapanmu, kau taukan jika Raihan mendengar mu berbicara seperti itu kepadaku. Aku tidak tau apa yang akan di lakukannya kepadamu," ujar Nayra dengan senyum miring. Dia sepertinya mempunyai pawang untuk membelanya. Jesika yang mendengarnya langsung kesal.
" Kau," desis Jesika.
Nayra melepaskan tangannya dari Jesika.
" Jangan berurusan denganku, oke," ujar Nayra dengan senyum kemenangan di wajahnya. Lalu pergi.
" Sialan, liat aja nanti," Jesika mengepal tangannya mendengar ucapan Nayra.
**********
Raina berada di ruangan Raihan. Duduk di sofa sambil membolak-balikan majalah yang ada di atas meja. Sementara Raihan juga bersantai di bangku kerjanya sambil bermain ponselnya.
tok tok tok tok tok tok
" Masuk!" sahut Raihan.
Alex yang mengetuk pintu pun akhirnya masuk dan langsung mengambil tempat duduk di samping Raina.
" Aku mengatur semua kedatangan klien kita," ujar Alex menyampaikan yang ingin di katakannya.
" Kapan dia sampai?" tanya Raihan.
" Sore ini, aku menyuruh Nayra menjemputnya di Bandara," jawab Alex.
" Klien ?" sahut Raina bingung dengan pembicaraan Alex dan Raihan.
" Iya kita kedatangan klien penting, aku ingin menjamunya di rumah, makan malam di rumah," jawab Alex.
" Oh iya kok aku baru tau," sahut Nayra yang baru mendapatkan informasinya.
" Ya sudahlah, tidak penting, sebaiknya pulang, menyiapkan jamuan makan malam dengan sebaik-baiknya," ujar Raihan.
" Memang siapa, kok kelihatan penting banget?" tanya Raina penasaran melihat ke arah Raka.
" Pengusaha terbesar di Australia," jawab Raka.
" Siapa, kok aku nggak pernah dengar," sahut Raina.
" Pak David Wilson," jawab Raihan yang terus melihat ponselnya
Raina mendengar nama itu, Langsung berhenti membolak balik majalah itu dan melihat kearah Raihan.
" David Wilson?" ujar Raina seperti tidak asing baginya.
" Iya klien yang kami temui di Turki. Dia menyetujui kerjasama dan memutuskan untuk berkunjung," jelas Alex. Raina masih sibuk dengan diamnya yang seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
" David Wilson, dari Australia. Kenapa aku merasa aneh ya. Apa hanya kebetulan saja," batin Raina.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹🌹