
Setelah Raina membantu Amira untuk membersihkan diri, mandi makan dan memberi obat Amira langsung tertidur pulas. Raina terus menciumi kening Amira dan terus memeriksa apakah ada yang luka pada putrinya.
Wajarlah Raina sangat takut ada sesuatu pada putrinya, jadi terus memeriksa kembali, dan benar-benar meneliti.
Saat memandikan Amira. Amira terus mengoceh bercerita tentang apa yang di alaminya. Apa yang di perbuat Saras kepadanya. Sampai Amira lelah sendiri dan akhirnya tertidur pulas.
" Mama, tidak akan membiarkan ini terjadi lagi, percayalah sayang," ujar Raina mencium kening Amira yang ke sekian kalinya.
" Saras benar-benar keterlaluan. Dia telah menculik Raina hanya demi keinginannya, dasar wanita jahat," desis Kiara Raina yang menyimpan amarah yang besar ke pada Saras.
" Aku ingin sekali melihat wajahnya yang jahat itu," batinnya yang memang ingin menemui Saras dan mungkin memaki-maki Saras atau menjambaknya.
" Raka," lirih Raina.
Dia baru teringat dengan Raka. Raina menarik selimut sampai dada Amira dan ke luar dari kamar Amira. Dia belum sempat bicara dengan Raka. Karena masih melepas rindu dengan Amira. Sementara Raina sangat tau jika Raka terluka parah dan itu karena menolong Amira.
Raina ke luar dari kamar menuruni anak tangga membawa kotak obat. Raina langsung menuju kamar tamu yang dia tau Raka ada di sana. Raka memang tidur sendiri. Sony dan Alex tidur berdua.
Tok-tok-tok-tok Raina mengetuk pintu itu dan tidak berapa lama langsung di buka.
" Raina!" lirih Raka. Raina langsung fokus pada tangan Raka yang terluka.
" Aku akan mengobatimu," ujar Raina yang panik.
" Tidak usah, kamu istirahat saja, temani Amira," ujar Raka menolak. Raina mendorong masuk dan tidak mendengarkan apa kata Raka.
" Ayo cepat kemari!" suruh Raina yang sudah duduk di pinggir ranjang.
" Raina!"
" Raka cepatlah, tanganmu bisa infeksian," tegas Raina.
Raka pun mengalah dan duduk di samping Raina. Raina langsung dengan cepat membuka perban asal-asalan itu dan melihat dalamnya luka Raka sampai dia sendiri saja merasa ngeri.
" Shhhhhh," Raka berdesis ketika Raina menumpahkan cairan ke dalam tangannya yang begitu perih.
" Apa sangat sakit?" tanya Raina mengobati pelan-pelan.
__ADS_1
" Tidak," jawab Raka.
" Bagaimana tidak sakit separah ini," sahut Raina kesal melihat ke arah Raka. Raka tersenyum melihat Raina yang mencemaskannya.
" Terimakasih," ujar Raina, " Kak Raihan mengatakan, kamu terluka seperti ini, karena menyelamatkan Amira, kenapa bodoh sekali, apa kamu pikir tangan kamu sudah hebat sampai menahan pisau," ujar Raina mengomeli Raka. Raka tersenyum mendapat Omelan dari Raina.
" Itu sudah tanggung jawabku," jawab Raka.
" Tapi tetap saja kamu terluka parah, lain kali hati-hati, aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa," ujar Raina.
" Iya pasti, aku akan hati-hati, terima kasih mencemaskanku, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi," sahut Raka. Raina mengangguk dan kembali mengobati luka Raka sambil meniup-niup lembut.
Raka terus melihat wajah Raina yang tulus mengobatinya. Tetapi Raka justru merasa bersalah dengan Raina mengingat apa yang di lakukannya ke pada Saras.
Walau tidak sempat melakukan hal yang lebih jauh. Tetapi tetap saja dia merasa bersalah karena berciuman dengan Saras dan bahkan melakukan hal lain. Raka memegang pipi Raina. Sehingga Raina melihat ke arah Raka.
" Maafkan aku," lirih Raka mengusap-usap pipi Raina.
" Kenapa," tanya Raina membalut perban pada luka Raka.
" Aku berciuman dengan Saras dan bahkan lebih dari itu," jawab Raka jujur, membuat Raina menghentikan pekerjaannya seketika dan melihat ke arah Raka.
" Apa dia menukar Amira dengan semua itu?" tebak Raina. Raka mengangguk.
" Lalu," sahut Raina melanjutkan melilit perban dan menunduk. Mana ada kekasih yang tidak marah dengan hal itu dan pikiran Raina lebih jauh.
Raka mendekatkan dirinya dan memegang ke-2 pipi Raina. Untung tangannya sudah selesai di perban.
" Aku tidak punya pilihan, aku harus melakukannya. Agar dia lemah, aku tidak sempat melakukan yang seperti yang kamu pikirkan, aku hanya.....! Raina meletakkan jarinya di bibir Raka membuat Raka berhenti berbicara.
" Aku percaya, kamu bukan orang bodoh, yang harus melakukan itu. Meski Amira adalah pilihannya, jadi jangan ceritakan lagi, aku tidak ingin mendengarnya," ujar Raina yang benar-benar tidak mau mendengar Raka berbicara lagi. Raka mengangguk dan meraih Raina kedalam pelukannya.
" Maaf Raina, aku tidak bermaksud untuk menghiyanati mu, maaf kan aku," ujar Raka.
" Itu bukan salah kamu Raka. Yang terpenting sekarang Amira dan kamu ada bersama ku, itu sudah cukup, masalah yang lainnya sudahlah, Saras juga sudah mendapat hukuman nya," ujar Raina.
" Apa Amira mengeluhkan sesuatu?" tanya Raka. Raina melihat Raka dan mengangguk.
__ADS_1
" Dia banyak bercerita tentang Sarah, Amira masih kecil, Amira sangat polos, apapun yang di katakan Saras dan apa yang di lihatnya akan di ingatnya," jelas Raina.
" Apa Amira trauma?" tanya mencemaskan Amira.
" Tidak Raka, aku rasa Amira tidak sampai trauma, dia anak yang kuat, aku yakin dia akan baik-baik saja, walau dia mengatakan...." tiba-tiba Raina tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
" Ada apa Raina?" tanya Raka penasaran. Sementara Raina sedang bengong.
" Mama kenapa aku melihat foto papa dan Tante jahat itu di hanphone Tante jahat itu?" tanya Amira.
" Foto papa?" tanya Raina bingung.
" Iya mama, Tante jahat itu bilang, kalau dia kenal sama papa. Dan Amira lihat Tante jahat itu dan papa di atas tempat tidur tanpa baju dan di tutup selimut. Tante jahat itu bahkan cium papa dan papa juga cium Tante jahat itu," jelas Amira mengingat apa yang di lihatnya.
" Kamu serius?" tanya Raina Shock.
" Iya, mama bisa tanya sama Tante itu?" ujar Amira.
" Raina!" tegur Raka yang masih melihat Raina Bengong.
" He, ada apa?" tanya Raka melihat mata Raina yang berkaca-kaca. Raka mengusap air mata yang akhirnya jatuh.
" Apa Saras mengatakan sesuatu pada Amira," tebak Raka. Raina mengangguk.
" Apa itu tentang perselingkuhan?" tebak Raka yang juga ada di saat Polisi memberitahu Raihan. Raka juga mendengarnya.
" Kamu tau masalah itu, apa itu juga benar?" tanya Raina yang masih ragu.
" Iya Saras menceritakan semua sama polisi, jika dia memiliki hubungan dengan...." Raka menghentikan kalimatnya dan menatap wajah Raina yang terlihat sedih.
Pasti Raina merasa di hiyanati, bukan hanya sekali perselingkuhan ternyata selama pernikahannya suaminya sudah menghiyanatinya.
" Raina, jangan memikirkan apapun, bukannya semuanya masa lalu," ujar Raka mengusap air mata Raina yang kembali jatuh. Raka memang benar mau marahpun tidak ada gunanya suaminya sudah meninggal.
" Aku hanya menyayangkan Raka, Amira harus mengetahui itu, aku tidak pernah berpikir. Jika Saras harus memberitahunya, Amira masih kecil harus mengetahui penghiyanatan papanya," ujar Raina yang merasa sakit hati gagal menjadi seorang ibu.
" Raina aku tau ini berat untuk kamu, aku tau ini tidak mudah. Aku akan memberikan kamu kebahagiaan. Kita akan menjaga Amira sama-sama, akan membesarkannya agar dia tidak pernah merasa di hiyanati," ucap Raka.
__ADS_1
Bersambung......