Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 160


__ADS_3

Mentari pagi kembali. Seperti biasa Nayra menyiapkan sarapan untuk suaminya. Nayra sibuk di dapur sementara Raihan masih di kamar mempersiapkan dirinya.


Nayra tidak bersemangat hari ini. Pasti kejadian tadi malam membuat pikirannya tidak tenang. Dia selalu merasa terus menerus mengecewakan suaminya.


Nayra mengambil ponselnya dan membuka Google. Kali ini Nayra tidak mencari cara untuk menghilangkan trauma ketika bersentuhan.


Karena dia sudah melakukan semua cara. Tetapi tidak berhasil, Nayra mencari Dokter yang bisa di ajak konsultasi.


" Aku harus mencobanya lagi. Raihan harus mendapatkan haknya aku tidak ingin Raihan terus-terusan menungguku. Dia laki-laki normal. Aku yakin pasti dia menginginkan itu. Aku tidak boleh memberinya harapan palsu Terus," batin Nayra yang terus memikirkan hal itu.


" Pagi," sapa Raihan yang sudah rapi. Suara Raihan membuat Nayra tersentak kaget.


" Pagi," jawab Nayra dengan senyum tipis.


" Kamu kenapa?" tanya Raihan yang sudah berada di depan Nayra.


" Tidak apa?" jawab Nayra lesu.


Raihan memegang ke -2 pipinya dan menundukkan kepalanya melihat dekat wajah istrinya yang tampak murung.


" Jangan bohong, ada apa?" tanya Raihan. Nayra tersenyum melihat ke arah Raihan.


" Aku tidak apa-apa, benar-benar tidak apa-apa, sungguh tidak apa-apa," sahut Nayra menegaskan.


" Baiklah jika seperti itu. Kalau begitu ayo kita sarapan, kita harus kekantor," ujar Raihan.


" Raihan aku hari ini tidak ikut kekantor," ujar Nayra.


" Kenapa?" tanya Raihan bingung dan pasti Raihan cemas. Jika istrinya di tinggalkan sendiri.


" Aku ingin mengobrol bersama Andini. Kamu antar aku ketempat saja," sahut Nayra yang tidak ingin membuat Raihan cemas.


" Kamu yakin?" tanya Raihan yang justru dia yang ragu. Nayra menganggukkan kepalanya yakin.


" Ya sudah jika memang seperti itu. Jika ada apa-apa, langsung telpon aku. Ingat langsung di telpon," tegas Raihan mengingatkan istrinya. Maklum Raihan sangat posesif.


" Iya pasti," jawab Nayra tersenyum lebar.


" Ya sudah kita sarapan," ajak Raihan.


Nayra dan Raihan sarapan bersama. Setelah menikmati sarapan buatan sang istri. Raihan pun mengantarkan Nayra kerumah eyangnya yang memang Andini tinggal di sana bersama eyangnya.


Nayra membuka seat beltnya begitu juga dengan Raihan.


" Ya sudah aku masuk dulu. Kamu hati-hati ya," ujar Nayra berpamitan.


" Iya," jawab Raihan. Nayra mencium punggung tangan suaminya. Lalu Raihan mencium kening istrinya.


" Di sini juga," ujar Nayra yang ingin di cium pipinya. Raihan mendengus tersenyum. Lalu menuruti Nayra, mencium pipi kiri dan kanan Nayra.


" Sudah! ujar Raihan.

__ADS_1


Nayra mengangguk.


" Ya sudah aku masuk, bye," ujar Nayra pamit ke luar dari mobil.


Nayra berdiri di samping mobil menunggu suaminya pergi sambil melambaikan tangannya. Sampai mobil suaminya itu sudah tidak terlihat lagi.


***********


Andini menemani Nayra kerumah sakit. Tetapi awalnya Nayra mengatakan kepada Andini untuk tidak memberitahu Raihan.


Karena jika Raihan tau dirinya berkonsultasi dengan Dokter. Pasti Raihan tidak akan mengijinkannya..


Andini menunggu di luar. Sementara Raina sudah ada di dalam berkonsultasi dengan Dokter yang dulu pernah menjadi Dokter psikiaternya.


" Bu Nayra, sebelumnya saya sudah mengatakan itu kepada Pak Raihan. Tetapi Pak Raihan sepertinya tersinggung dan marah," ujar Dokter yang sudah berhadapan dengan Nayra.


" Tapi Dok, apa tidak ada cara lain selain cara itu. Saya mengenal suami saya. Dia tidak mungkin melakukan itu," sahut Nayra dengan sendu.


" Ibu harus lebih bersabar. Bukannya suami ibu tidak menuntut apa-apa," ujar Dokter.


" Dokter benar. Tetapi saya merasa bersalah. Itu sama saja. Saya telah menyiksa dia," sahut Nayra.


" Selain itu. Apa lagi Dok. Mungkin suami saya bisa melakukan semuanya tanpa saya mengingat hal buruk itu?" tanya Nayra yang tetap ingin berusaha.


" Iya pasti ada," sahut Dokter memberi peluang.


" Apa Dok?" tanya Nayra dengan semangat.


***********


" Kasian banget ya. Istrinya lumpuh. Sampai suaminya tidak bisa melayaninya. Padahal suaminya sudah berkorban banyak untuknya," selintingan pembicaraan ibu-ibu yang duduk mengobrol terdengar di telinganya membuatnya tersinggung.


" Tapi masih mending seperti itu. Ada anak teman saya. Mereka sudah menikah berbulan-bulan. Tetapi istrinya bahkan tidak melayaninya sampai sekarang," sahut wanita yang satunya lagi.


" Kenapa seperti itu, apa istrinya sakit?" tanya wanita yang satunya.


" Aku juga tidak tau,"


" Aduh kasian sekali Pria seperti itu. Jika istri tidak bisa melayani suaminya. Ahhhh sebaiknya di tinggal saja. Laki-laki sekarang yang belum menikah saja suka jajan perempuan. Apalagi sudah menikah dan tidak mendapatkan pelayanan istri. Dari pada tersiksa lebih baik dia tinggalkan saja istrinya," sahut wanita itu membuat darah Nayra seperti mengalir deras.


Apa yang dibicarakan ibu-ibu tersebut. Seperti dirinya. Dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah menikah.


Tetapi tidak bisa menyerahkan dirinya ke pada Raihan. Air mata Nayra menetes mengingat betapa buruknya dirinya yang tidak sempurna.


" Maafkan aku Raihan, aku memang tidak berguna untukmu." batin Nayra.


" Nara," ditengah tangisnya terdengar suara wanita yang memanggilnya dari belakang. Nayra berbalik badan dan melihat yang ternyata adalah Jihan.


" Tante Jihan," lirih Nayra mengusap cepat air matanya.


Reflex Jihan mendekati Nayra dan memeluknya erat. Nayra merasa aneh dengan tiba-tiba mendapat pelukan dari Jihan.

__ADS_1


Jihan tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak memeluk putrinya itu. Terakhir kali Jihan melihat Nayra. Sewaktu di rumah sakit.


Saat Raihan menikahinya. Setelah itu Jihan tidak pernah tau bagaimana perkembangan kesehatan Nayra.


" Kenapa Tante Jihan seperti ini," batin Nayra bingung.


Namun pelukan yang di berikan Jihan sangat aneh di tubuhnya. Nayra merasa hangatnya pelukan Jihan sama seperti pelukan Zira kepadanya.


Maklumlah ibu tiri Nayra yang di anggapnya ibu kandung tidak pernah memeluknya. Jadi Nayra tidak bisa merasakan apa-apa.


" Tante ada apa?" tanya Nayra melepas pelukannya heran dengan sikaf spontan Jihan.


" Kamu sudah sembuh?" tanya Jihan meneteskan air mata melihat tubuh Nayra seakan memeriksa apa benar Nayra sudah sembuh atau tidak.


Nayra mengangguk- angguk heran. Dia jelas merasa aneh dengan Jihan.


" Tante senang bisa bertemu kamu lagi, Tante sangat bahagia, maafkan Tante sayang," ujar Jihan memegang pipi Nayra.


Air matanya terus menetes. Membuat Nayra heran dengan sikaf Jihan. Tetapi Nayra hanya berfikir mungkin Jihan seperti itu. Karena hanya bersalah karena anaknya yang menyakiti Nayra.


" Iya Tante," jawab Nayra bingung dan hanya berusaha santai.


" Kamu ngapain ke rumah sakit?" tanya Jihan.


" Hmmmm, ada keperluan, kalau Tante," tanya Nayra kembali.


" Iya Tante sedang menjenguk teman di sini," jawab Jihan yang merasa bahagia bisa memeluk Nayra.


" Maafkan mama Nayra, mama sudah pernah ingin membunuh kamu. Tapi mama tidak menyangka. Kami tumbuh menjadi wanita yang cantik. Bahkan kamu sudah menikah. Seandainya dulu semuanya tidak terjadi. Pasti mama bisa bersamamu," batin Jihan yang terus menyesali perbuatannya.


" Kenapa Tante menangis?" tanya Nayra heran.


" Oh tidak, Tante hanya merasa haru saja. Tadi bertemu teman. Jadi sampai sekarang terbawa-bawa," jawab Jihan mengalihkan dia memang tidak menyadari jika dia menangis berlebihan.


" Nayra," panggil Andini yang melihat Nayra bicara dengan Jihan. Andini langsung menghampiri Nayra dan memegang tangan Nayra seakan menjauhkan Nayra dari Jihan.


" Sudah selesaikan, ayo kita pulang," ajak Andini yang tidak ingin Nayra dekat-dekat dengan Jihan.


Bukan karena Andini tau kalau Jihan adalah ibu kandung Nayra. Karena memang rahasia itu belum menyebar sama sekali.


Tetapi Andini takut Nayra trauma bertemu Jihan. Karena Jihan adalah mamanya Carey. Dia juga tidak mau mendapat Omelan dari Raihan.


" Sudah ayo kita pulang," desak Andini lagi saat Nayra masih diam.


" Iya Andini. Tante Nayra balik dulu, salam buat temannya," ujar Nayra dengan lembut.


" Iya sayang, kamu hati-hati ya, maafkan Ma....,maksudnya maafkan Tante," Jihan hampir keceplosan.


" Iya Tante mari," ujar Nayra berpamitan. Andini membawa paksa Nayra pergi.


" Aku memang tidak pantas untuk menjadi ibumu. Maafkan mama sayang. Mama akan menebus kesalahan mama kepadamu," batin Jihan.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2