Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 74


__ADS_3

" Jika itu akan sia-sia, maka biarlah, aku tidak akan peduli aku tidak akan berhenti, sampai kau mau memaafkanku. Aku ingin kita memperbaikinya. Aku ingin seperti dulu lagi Nara," ujar Raihan.


Nayra memejamkan matanya. Matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Raihan yang Nayra bisa merasakan kata-kata itu memang tulus.


Tetapi mengingat apa yang di lakukan Raihan kepadanya terlalu sakit jika harus menerima Raihan kembali.


" Cukup Raihan, aku tidak ingin sakit untuk ke sekian kalinya. Mungkin bagimu biasa. Tapi kau tidak bagaimana perasaanku," ujar Nayra menahan tangisnya.


" Katakan Nara, apa yang harus aku lakukan. Apa yang harus aku lakukan, agar kau memaafkanku. Aku tau kesalahanku tidak bisa di maafkan begitu saja. Tetapi aku hanya ingin bersamamu. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin selalu menjagamu. Aku ingin selalu ada di sisimu," ujar Raihan dengan tulus terus membujuk Nayra.


Air mata Nayra yang adanya semakin deras mengalir mendengar Raihan yang terus mengungkapkan penyesalannya.


" Beberapa bulan yang lalu kau juga mengatakan itu. Tetapi kau mengatakan jika semua itu hanya pura-pura. Kau jelas mengatakan semua yang terjadi hanya permainan, apa kau lupa itu. Dan sekarang kau mengatakan lagi. Berapa lama waktunya dari ucapanmu. Apa besok, Minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau kapan kau mau. Kau akan mengatakan jika itu pura-pura lagi," ujar Nayra dengan air matanya yang terus jatuh.


Raihan menelan salavinanya. Pasti tidak mudah mengembalikan kepercayaan Nayra.


" Aku tau perbuatanku, memang sangat menyakitimu. Tapi apa tidak ada kesempatan untukku Nara?" tanya Raihan berharap banyak.


" Bukan kau yang meminta kesempatan Raihan. Tapi aku. Kasih aku kesempatan untuk hidup tenang tanpa dirimu," ujar Nayra dengan bibir bawahnya yang bergetar.


Meski mengatakan dengan enteng. Tetapi hatinya menyuruh untuk tidak mengatakan itu.


" Aku tidak bisa untuk hal itu Nara," sahut Raihan.


" Kau egois Raihan. Apa aku tidak boleh bahagia?" tanya Nayra.


" Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak peduli apapun yang kau katakan. Aku tidak peduli, usahaku sia-sia atau tidak. Yang jelas aku mencintaimu. Dan itu akan terus sampai kapanpun," ujar Raihan dengan yakin.


" Raihan apa kau tidak bisa menghentikan semuanya," batin Nayra.


" Aku mencintaimu Nara," ujar Raihan bergeser ke atas sedikit. Mencium pucuk kepala Nayra.


Nayra tidak menjawab dia juga tidak tau harus melakukan apa lagi. Raihan sepertinya memang tidak akan mengalah begitu saja.


Nayra bisa merasakan pelukan Raihan yang begitu erat. Adalah pelukan yang tidak ingin melepaskannya. Nayra kembali memejamkan matanya perlahan dan tertidur kembali.


" Aku tidak akan menyerah Nayra. Aku akan melakukan apapun agar kau kembali bersamaku," ujar Raihan di dalam hatinya dengan yakin.


***********


Nayra sudah kembali ke hotel. Kondisinya memang sudah membaik dia hanya butuh istirahat. Nayra menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan kaki di luruskan kedepan.


Dia sedang menikmati bubur yang sudah di belikan Raihan. Sementara Raihan duduk di lantai di bawah tempat tidur Nayra.


Dia menyandarkan punggungnya di pinggir ranjang itu. Fokus pada laptop yang di letakkan di pahanya.


Raihan mengerjakan beberapa pekerjaan Nayra. Yang mengingat Nayra nanti malam akan ada pertemuan penting dengan klien.

__ADS_1


Raihan sudah berniat untuk membatalkannya. Karena lebih memilih kondisi Nayra yang kurang sehat. Tetapi Nayra tetap kekeh tetap ingin melanjutkan meeting itu. Dia tidak ingin di gantikan atau apapun.


Raihan pun mengalah dengan permintaan Nayra. Tetapi dia yang mengambil alih pekerjaan itu. Dia mengerjakan beberapa data penting yang di perlukan Nayra yang memang belum di selesaikan Nayra.


Agar Nayra bisa istirahat untuk mengumpulkan tenaganya. Menemui klien penting tersebut. Nayra terus makan tanpa berbicara pada Raihan. Beberapa kali dia melirik Raihan yang sangat sibuk dengan pekerjaan itu.


Nayra yang sedang makan, sebenarnya merasa kurang nyaman dengan adanya keberadaan Raihan. Nayra melihat ke atas nakas yang di sampingnya. Dia melihat boucket bunga liliy.


Lalu Nayra melihat kembali ke arah Raihan yang masih duduk di tempat semula. Nayra mengambil bunga tersebut, menghirupnya. Karena dia memang tidak tahan jika tidak mencium wangi bunga tersebut.


Nayra mengambil surat yang terdapat di dalam bunga tersebut. Pandangannya kembali melihat Raihan sebentar. Lalu membuka kartu ucapan dari bunga tersebut.


..." I' m Sorry, I Love you,"...


Nayra tersenyum tipis melihat manisnya tulisan itu. Tetapi eksperesinya kembali datar, mungkin dia masih ragu pada Raihan. Dan masih tetap menutup pintu hatinya.


Nayra kembali melihat ke arah Raihan yang hanya melibatkan punggungnya saja. Sebenarnya Nayra Ada rasa Nayra ingin bertanya.


Apa Raihan juga sudah makan, atau bertanya apa sudah selesai, atau mengatakan biar aku saja yang mengerjakannya. Tetapi seperti Vita suaranya rusak untuk mengeluarkan kata-kata itu.


" Makanlah dengan benar, jangan makan dengan berpikir," sahut Raihan tiba-tiba. Seakan tau jika Nayra sedang memikirkannya.


Nayra mendengarnya gugup. Hampir saja di kesedak makanan. Gara-gara Raihan mengetahui apa yang di pikirkannya.


" Aku tidak memikirkan apa-apa. Sebaiknya tinggalkan saja pekerjaan itu. Biar aku yang melanjutkannya," sahut Nayra.


" Kau melanjutkannya di Indonesia, siapkan barang-barangmu. Kita akan pulang malam ini," ujar Raihan. Nayra langsung kesal dengan Raihan yang kembali mengancamnya.


" Ya sudah lanjutkan saja, aku sudah selesai makan, aku mau istirahat, lanjutkan saja," ujar Nayra, yang bergegas dengan buru-buru. Lalu iya membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.


Raihan tersenyum miring. Memang hanya cara itu yang bisa membuat Nayra diam dan istirahat. Raihan kembali duduk dan kembali melanjutkan pekerjaan itu.


************


Malam hari tiba. Nayra berdiri di depan cermin. Memberi makeup sedikit di wajahnya. Dia sudah terlihat rapi untuk pertemuan dengan klien malam ini.


Nayra terlihat cantik dan berkelas. Dengan jaket kotak bergaris merah maron sampai lututnya. Nayra menggerai rambutnya. Setelah merasa cukup berhias. Nayra mengambil tas dan laptopnya lalu keluar dari kamar.


Didepan pintu kamarnya. Sudah berdiri 2 Pria tampan yang menunggunya dengan gaya kesombongan masing-masing. Raihan tersenyum melihat wanitanya yang sangat cantik.


" Apa kau baik-baik saja?" tanya Raihan.


" Iya," jawab Nayra pelan.


" Oke kalau begitu kita segera pergi," ujar Alex.


Alex berjalan terlebih dahulu. Raihan dan Nayra mengikut di belakang Alex. Mereka berjalan dengan langkah yang sama. Raihan menggenggam tangan Nayra menggantung. Sangat sayang jika tangan itu dia anggurin.

__ADS_1


Tetapi sayang. Nayra yang menyadarinya langsung melepas paksa. Walau Raihan tetap memaksa dan memiliki tenaga lebih kuat. Tetapi Nayra berhasil melepaskan tangannya dari Raihan.


Nayra menatap Raihan dengan kesal. Lalu berjalan lebih cepat mensejajarkan langkahnya dengan Alex. Raihan yang melihat tingkah Nayra tersenyum miring. Dia yakin Nayra pasti akan kembali kepadanya.


*******


Raihan menemui klien penting di Restauran mewah. Hanya 15 menit saja dari hotel mereka ber-3 sudah sampai. Pak David Pria yang berusia 48 tahunan itu datang bersama. Wanita yang mungkin adalah sekretarisnya.


Selain seorang wanita. David juga di awasi 2 bodyguard dan Satu Pria yang sekita berusia 30 tahunan lebih.


" Selamat malam Pak Raihan, Pak Alex," ujar David dengan ramah langsung menyambut Raihan, Nayra, dan Alex, begitu mereka tiba.


" Selamat malam Pak," jawab Raihan ramah menyambut uluran tangan itu dan memeluk David hal yang sama juga di lakukan Alex.


" Maaf sudah merepotkan kalian, harus ke Turki untuk pertemuan kita," ujar David yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Pak, kita juga ada sekalian pertemuan dengan klien di sini," sahut Alex.


" Oh baiklah, rasa bersalah saya lumayan berkurang," ujar David dengan candaannya.


" Bapak bisa saja, kami sangat memaklumi kesibukan Bapak," ujar Alex. Mereka tertawa kecil dengan candaan sedikit itu.


" Siapa wanita ini?" tanya David melihat Nayra.


" Dia sekretaris saya," jawab Raihan.


" Saya Nayra," ujar Nayra mengulurkan tangannya.


" David," sahut David, " Waoo matanya sangat indah, mengingatkan saya pada Putri saya," ujar David yang belum melepas tangannya dari Nayra.


" Ahhhh, bapak bisa saja, apa dia tidak ikut?" tanya Nayra.


" Ahhhhh, dia sudah bahagia di surga," jawab David yang malah menjadi sedih.


" Maaf Pak, saya tidak bermaksud," Nayra merasa tidak enak dengan Pak David.


" Tidak apa-apa santai saja, dia meninggal saat masih bayi. Mungkin jika masih hidup pasti sudah sebesar kamu," ujar David menjadi sedih yang mengingat putrinya.


" Ahhhhh sudahlah, kenapa saya jadi curhat di sini. Oh iya kenalkan ini Agnes, sekretaris saya. Ini Samuel keponakan saya," ujar David memperkarakan orang yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Raihan, Alex dan Nayra pun saling berkenalan. Saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.


Raihan melihat Samuel berjabat tangan dengan Nayra sangat lama. Raihan langsung menurunkan tangan Nayra dari Samuel. Sepertinya Raihan tidak ingin jika wanita nya di sentuh lama-lama.


" Mari duduk," ujar Raihan dengan sinis menatap Samuel dengan tidak suka.


...🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung......🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2