
Angga mengusap pipi Della lembut dan menarik Della kedalam pelukannya. Memeluknya dengan erat.
" Kamu sungguh masih meragukanku Della. Aku tidak tau bagaimana cara meyakinkan kamu. Jika aku memang benarkan mencintai kamu," batin Angga sebenarnya sangat kecewa dengan keputusan Della.
" Angga aku tidak ingin kamu menanggung beban atas diriku. Aku wanita lumpuh yang tidak mungkin bisa hidup selamanya dengan kamu. Aku tidak tau. Kapan aku sembuh dan aku juga tidak tau apakah aku akan sembuh atau tidak. Tetapi aku ingin bersama mu, merasakan kebahagian bersamamu," batin Della kembali meneteskan air mata memeluk erat Angga.
Angga melepas pelukannya dari Della dan mencium kening Della dengan lembut.
" Istirahatlah! ujar Angga.
" Kamu mau kemana?" tanya Della.
" Aku akan mengurus kepergian kita," jawab Angga membelai lembut pipi Della.
" Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kamu suka. Karena aku cuma ingin bersamamu dan menghabiskan waktu bersamamu," jelas Angga meyakinkan Della.
" Hmmmm, aku percaya itu tidak akan terjadi," ucap Della dengan yakin.
" Ya sudah aku pergi dulu," ujar Angga pamit. Della mengangguk. Sebelum Angga pergi. Angga membantu Della merebahkan dirinya menarik selimut sampai kedadanya.
" Tidurlah!" ujar Angga Della mengangguk.
***********
" Sial," teriak Ramah menyapu seluruh benda yang ada di atas meja dengan wajahnya yang memerah. Rahang kokoh yang mengeras, ke-2 bola mata yang hampir keluar.
" Dia melarikan diri. Dia pikir dia siapa, beraninya dia melarikan diri dari ku," teriak Ramah benar-benar murka dengan kaburnya Della dari rumahnya.
Yang membuat Ramah semakin emosi. CCTV tidak menangkap Della keluar dari rumah itu. Jadi Ramah tidak tau Della pergi sendiri. Atau ada yang membantunya.
" Kamu pikir dengan keadaan kamu seperti itu, kamu bisa pergi dariku. Tidak akan ada laki-laki yang akan menerima wanita cacat seperti kamu selain aku," Ramah menekan suaranya sangat yakin baginya jika Della pasti akan kembali kepadanya secepatnya.
" Della, kamu hanya milik Ramah bukan Pria lain. Aku pastikan kamu akan datang kepadaku, kamu akan kembali dalam genggamanku," Ramah mengepal tangannya kuat.
Sangat yakin dengan omongannya. Jika Della akan masuk kedalam genggamannya.
__ADS_1
" Aku tidak akan melepas kan mu. Kau hanya akan menjadi milik Ramah seorang," tegas Ramah.
Ramah memang sering berprilaku suka-suka kepada Della. Ramah akan minta maaf jika dia sudah menyadari perbuatannya.
Minta maaf juga salah satu triknya agar Della tidak mengakhiri hubungan mereka. Dan dengan kebodohan Della, selalu saja luluh dan akhirnya memaafkan.
Padahal ramah tidak pernah berubah dan selalu melakukan hal itu lagi hal itu lagi dan Della pun selalu memaafkan Dan kali ini tidak karena Angga sudah kembali ke sisinya.
*********
Zira, Raina, Farah, dan Andini sudah sedang memasak semua apa yang di inginkan Raihan. Zira memang tidak mengijinkan Nayra untuk ikut kedapur karena Nayra hamil.
Begitulah jika punya ibu mertua yang terlalu sensitif. Jadi Nayra harus maklum yang selalu mendapat ocehan.
Jika dia teledor sedikit. Nayra juga sangat di manjakan seluruh keluarganya. Jadi memang dia sangat beruntung.
Nayra dan Raihan masih duduk di ruang tamu bersama Raka, dan Amira. Raihan sedari tadi memakan buah kecapi yang di bawakan sang mama.
Sementara Nayra sama sekali tidak selera melihatnya. Bahkan jijik melihat suaminya yang makan dengan lahap. Amira sedari tadi menghapus lembut perut ramping Nayra.
" Benar sayang, perut Tante nanti lama kelamaan akan besar seperti mama. Tetapi mama nanti perutnya akan kembali ramping," jawab Nayra mengusap pucuk kepala Amira.
" Tapi apa kalau perut Tante nanti semakin besar. Tante juga akan marah-marahin Amira?" tanya Amira dengan wajah polosnya.
" Memarahi. Kenapa harus Tante marah-marah sama Amira?" tanya Nayra.
" Mama semenjak perutnya besar suka ngomel-ngomel sama amira Amira," jawab Amira polos.
Kata-kata Amira terdengar ketelinga Raina. Bahkan orang-orang yang ada di sana juga dapat mendengar suara itu. Mereka langsung melihat ke arah Raina.
Sebenarnya yang lainnya bisa menebak jika Amira cemburu dengan adik yang di kandung sang mama. Sangat terlihat dari wajah sendu Amira.
" Tante jangan kayak gitu ya. Tante harus tetap sayang Amira walau perut Tante nanti sudah besar," ucap Amira yang takut kehilangan kasih sayang.
Raihan melihat hal itu langsung menghentikan makannya dan mendekat ke arah Amira duduk di dekat Amira mengusap lembut pucuk kepala kesayangan keponakannya itu.
__ADS_1
" Amira, Amira bicara apa. Kalau mama marah-marah sama Amira. Pasti karena Amira salah. Dan Tante Nara. Tidak akan marah sama Amira kalau Amira tidak salah," ujar Raihan menjelaskan dengan lembut.
" Benar sayang, Tante mana mungkin marah kalau Amira tidak salah dan Amira akan Tante marahin kalau salah," sambung Amira lagi.
" Jadi Amira jangan mikir yang aneh-aneh karena Tante dan om itu sayang sama Amira. Sama seperti mama dan papa," jelas Nayra lagi.
" Iya Tante," jawab Amira memeluk pinggang Nayra. Nayra tersenyum mendengarnya.
Raka hanya melihat ke arah istrinya yang terlihat sedih mendengar pengakuan anaknya. Raka tau itu akan membuat istrinya sedih dan seakan gagal menjadi seorang ibu.
" Raina, anak seperti Amira itu memang sering seperti itu, kamu jangan terlalu keras kepadanya. Dia lama-lama akan takut sama kamu," ujar Zira memberi saran.
" Iya ma," sahut Raina tetap melanjutkan pekerjaannya.
Setelah memasak dengan waktu yang panjang akhirnya semua makanan selesai di masak. Dan sudah di hidang semua di atas meja. Belut goreng permintaan Raihan.
Es pisang ijo permintaan Raihan, gurita hitam yang bakar permintaan Raihan. 3 makanan utama itu memang semua keinginan Raihan. Selain itu mereka juga menyiapkan tambahan beberapa lauk lain karena tidak mungkin semua orang mau dengan makanan Raihan.
Semuanya juga sudah bergabung di meja makan. Mata Raihan berbinar dengan semua hidangan yang menurutnya surga yang nyata. Raihan pun langsung memakan terlebih dahulu.
" Pelan-pelan Raihan," ujar Farah.
" Iya eyang," sahut Raihan sudah menyantap belut goreng. Sementara yang lain mulai mengambil nasi dan mengisi dengan lauk yang lain.
" Nayra kenapa belum mengambil nasi?" tanya Zira heran melihat Nayra yang malah tidak berselara.
" Nayra tidak nafsu dengan semua makanan ini," sahut Nayra jujur.
" Sayang coba ini, ini enak," sahut Raihan menunjukkan belut itu. Dengan reflek Nayra menepis tangan Raihan.
" Jauhin tidak mau," Nayra menutup mulut dan hidungnya tidak suka dengan apa yang di makan suaminya.
Sementara yang lain geleng-geleng melihat hal itu. Memang hamil Nayra sangat aneh. Raihan yang mengidam. Tetapi Nayra yang tidak selera dengan apapun. Bagaiman Zira tidak pusing.
Bersambung......
__ADS_1