
Raihan, Nayra, Raina dan Andini sampai ke Jakarta. Di depan rumah Zira dan Addrian sudah menunggu. Raina yang ke luar dari mobil langsung melangkah memeluk mamanya.
" Raina," lirih Zira memeluk Raina dengan erat. Sementara Raihan menggandeng tangan istrinya.
" Ma Amira ma, Amira, Amira, Amira belum ketemu sampai sekarang," ujar Raina menangis Sengugukan.
" Iya mama tau, kamu tenang kita akan cari. Amira akan ketemu secepatnya. Percaya sama mama, ya sayang, jangan menangis ya," Zira berusaha menenangkan Raina. Mengusap-usap pundak Raina.
" Kasian kak, Raina aku tau kehilangan seorang anak memang pasti tidak mudah, bagaimana ke adaan Amira sekarang, pasti dia kebingungan, anak sekecil itu tidak tau apa-apa
Kenapa tidak ada petunjuk sedikitpun untuknya," batin Nayra yang meneteskan air matanya.
Nayra bisa mengingat bagaimana dia sewaktu di culik, bagaimana takutnya dan bingungnya, ingin pergi tetapi tidak bisa. Jadi jelas dia begitu khawatir dengan Amira.
Raihan mengusap pundak istrinya. Raihan juga menyadari hal ini mengingatkan Nayra pada kejadian buruk itu.
" Kasian kak, Raina harus kehilangan Amira. Nayra juga pasti sedang menahan bayang-bayangan kejadian itu, terlihat dari wajahnya yang terus gelisah," batin Andini yang mengetahui sesuatu.
" Raina kamu sebaiknya istirahat, biar papa dan Raihan yang membantu polisi mencari Amira," ujar Addrian.
" Iya kakak dan papa akan mencari keberadaan Amira," sahut Raihan.
Tiba-tiba mobil Sony berhenti di depan rumah Zira. Sony langsung keluar dengan buru-buru ketika melihat semuanya masih ada di luar. Raina juga melepas pelukannya dari mamanya.
" Di mana Raka?" tanya Raina yang melihat Sony datang sendirian. Sony memanggil Raihan menjauh sedikit.
Hal itu membuat semua orang heran. Sony berbicara begitu serius pada Raihan. Tetapi mereka penasaran karena tidak bisa mendengarkan apa yang Sony dan Raihan bicarakan.
" Kenapa perasaanku, tidak enak," batin Nayra yang melihat Sony seperti menyampaikan sesuatu penting kepada suaminya.
Raina yang juga penasaran dengan pembicaraan Sony dan Raihan. Apalagi melihat Raihan tampak kaget. Langsung menghampirinya.
" Ada apa?" tanya Raina semakin panik dan menghapus air matanya, " Kenapa kalian berbisik, di mana Raka?" tanya Raina dengan suara tinggi.
" Kenapa diam, apa yang terjadi?" tanya Raina merasa ada yang tidak beres. Nayra pun yang melihat cekcok mendekati suaminya.
" Raihan ada apa?" tanya Nayra yang juga ikut panik memegang lengan suaminya.
Raihan melihat sendu wajah istrinya dan berpindah minat wajah Raina yang begitu penasaran dengan apa yang di bicarakannya dengan Sony barusan.
" Katakan lah kak ada apa?" desak Raina lagi yang semakin panik.
" Amira," lirih Raihan.
" Kenapa Amira?" tanya Raina semakin panik.
" Raihan, ada apa dengan Amira, apa Amira sudah ketemu," tanya Zira.
" Amira, Amira, bersama Saras," jawab Raihan dengan cepat.
__ADS_1
Hal itu membuat Mata Raina membulat sempurna ketika mendengar putrinya bersama dengan wanita berhati jahat.
" Saras," lirih Raina menahan sesak. Napasnya seakan naik turun mendengar anaknya bersama wanita yang di kenalnya.
" Siapa Saras?" tanya Andini yang benar-benar tidak tau.
" Saras, siapa lagi Saras," batin Nayra yang memang tidak tau siapa orang yang di sebutkan Raihan.
" Saras, siapa itu?" tanya Zira.
" Tante Saras itu sepupu Raka, yang menyukai Raka, dia menculik Amira," jelas Sony setelah mendapat semua cerita dari Raka mengenai Saras.
" Wanita ular," teriak Raina yang benar-benar ingin mencabik-cabik Saras.
" Tenang Raina," ujar Raihan.
" Bagaimana aku bisa tenang, wanita itu beraninya memanfaatkan anakku, demi keinginannya, wanita ular," Raina benar-benar kehilangan kesabarannya. " Aku akan memenjarakannya," tegas Raina yang langsung mengambil ponselnya dan ingin menelpon polisi. Namun langsung di cegah Raihan dan menarik ponsel Raina.
" Kek," pekik Raina.
" Tidak ada gunanya, nyawa Amira sedang dalam bahaya, jika kamu menelpon polisi, kamu tidak akan menemui anakmu lagi," ujar Raihan mengatakan resikonya. Membuat darah Raina berdesis ketika mendengar ucapan Raihan.
" Apa maksud kakak?" tanya Raina menekan suaranya.
" Raina, Raka sedang menemui Saras dan berusaha membawa Amira pulang, kamu harus tenang, jangan gegabah. Saras sedang tidak waras. Aku takut jika kita salah sedikit saja akan benar-benar kehilangan Amira," jelas Sony lagi.
" Siapa wanita itu kenapa beraninya menculik cucuku, dan apa tujuannya?" tanya Zira yang tidak habis pikir dan mulai emosi.
" Lalu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin menunggu Raka membawa Amira pulang. Dia pasti melukai Amira, dia pasti ketakutan bersama wanita ular itu?" tanya Raina yang benar-benar frustasi mendengar Saras menculik anaknya.
" Benar kata kak Raina, kita tidak bisa hanya duduk manis menunggu Raka," sahut Nayra yang menyetujui perkataan Raina.
Di tengah perdebatan mereka. Mobil Alex berhenti di depan rumah Zira, melihat ke ramaian, Alex langsung turun.
" Ngapain Alex di sini?" batin Andini yang medik kesal dengan Alex.
" Alex," ucap semuanya.
" Raihan, Sony," Alex langsung mengucapkan nama Raihan dan Sony.
" Ada apa?" tanya Sony.
" Raka barusan menelpon dan dia mengatakan, kita harus menyusulnya," jelas Alex menyampaikan maksud dan tujuannya.
" Maksydnya?" tanya Raihan bingung.
" Bukannya Saras mengatakan tidak ada yang boleh ikut. Jika ada Amira akan menjadi korbannya," sahut Sony.
" Sudahlah, kita tidak punya waktu, nanti aku akan menjelaskan di mobil. Yang jelas kita harus bantuin Raka. Raka hanya menjebak Saras, agar Saras lengah dan dia bisa membawa Amira," jelas Raka dengan singkat.
__ADS_1
" Benar, kita harus segera bertindak," sahut Raihan setuju.
" Ya sudah kalau begitu, aku ikut," sahut Raina.
" Tidak Raina, ini berbahaya, jangan ada yang ikut, biar kami yang menyelamatkan Amira, kalian tunggu di rumah saja," ujar Alex memberi saran.
" Bagaimana mungkin aku diam, sementara nyawa anakku dalam bahaya," ujar Raina menekan suaranya.
Raihan memberi kode istrinya untuk menenagkan Raina. Nayra mengangguk dan mendekati Raina.
" Kak, benar apa kata Alex, biar mereka yang mengurus semuanya. Kita harus percaya pada mereka," ujar Nayra membujuk Raina.
" Tapi Nayra..."
" Raina sudahlah, jika kamu mau anak kamu selamat, kamu dengarkan apa kata mereka," tegas Addrian.
" Pa...." rengek Raina yang tetap minta ikut.
" Sayang kamu harus tenang jangan keras kepala, pikirkan Amira, nyawanya lebih penting dari pada apapun, percayalah, kakak kamu akan membawa Amira dengan selamat," bujuk Zira mengusap-usap bahu Raina.
Akhirnya Raina pun mengangguk dan mempercayakan kesalamatan putrinya kepada kakak dan temannya.
" Ya sudah ayo kita pergi, naik mobil gue aja," ajak Alex ingin memasuki mobil. Sebelumnya Alex melihat ke arah Andini.
Andini langsung mengalihkan pandangannya. Dia benar-benar masih marah terhadap Alex. Tetapi mungkin bukan waktu yang tepat untuk Alex membahas masalah itu, dan nanti dia akan mencari moment yang tepat. Alex pun memilih masuk kedalam mobil terlebih dahulu.
Nayra tampak panik melihat kepergian suaminya. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada suaminya. Raihan yang mengerti langsung menghampiri Nayra.
" Sayang, aku pergi dulu, kamu di sini ya, jagain semuanya," ujar Raihan berpamitan.
" Kamu hati-hati ya, bawa Amira dengan selamat," ujar Nayra.
" Pasti," jawab Raihan mencium kening Nayra. Raihan langsung menyusul Alex dan Sony memasuki mobil.
" Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar," batin Nayra yang merasa khawatir melihat mobil itu berjalan dan semakin lama semakin jauh dan tidak terlihat lagi
Bersambung.......
Jangan lupa, Follow, like, komen, vote yang banyak, supaya aku semakin semangat untuk Up yang banyak setiap harinya.
Jangan lupa juga mampir ke novel-novel aku yang lainnya ya.
1 Sahabatku Menghancurkan Hidupku Dalam 1 Malam.
2. Istri Buta Sang Pengacara.
3. Raihan Si Pria Arrogant.
4. Detak Love Story' School.
__ADS_1
5. Ketika Cinta Menghancurkan Perbedaan.
Di tunggu Like, Koment, Vote, kalian di sana ya. Terimakasih.