
" Sudah Bu," jawab bibi gugup. Menurutnya bukan bangun lagi. Tetapi pasangan suami istri itu sudah heboh sejak subuh.
" Ya sudah ayo kita masuk," ujar Andini menggandeng tangan Amira masuk terlebih dahulu.
Suara ricuh di dalam rumah langsung membuat tamu yang datang pagi-pagi itu langsung berjalan ke arah suara tersebut.
Saat sampai di dapur. Zira, Raina, Raka, Andini, Farah, dan Amira kaget melihat suasana dapur seperti kapal pecah bahkan melebihi kapal pecah.
Mata mereka melebar sempurna shock dengan mulut yang menganga lebar melihat pertunjukan sirkus yang di lakukan pasangan suami istri itu.
Seperti anak kecil yang menjerit-jerit. Yang menangkap kodok di pinggir sawah. Seketika gelar suami istri harus di cabut dari pasangan itu dan di ganti anak SD yang pulang sekolah dengan pakaian kotor karena bermain di panas hari.
Amira melihat hal itu langsung berlari menghampiri om dan tantenya yang kelakuannya sebaya dengannya. Amira berjongkok dan malah ikut-ikutan menangkap belut itu dengan wajah polosnya.
" Ya. itu Amira, cepat tangkap," kata itu dengan entengnya keluar dari mulut Raihan yang melihat keponakannya.
Bukannya bertanya dulu kenapa Amira bisa ada di sana malah menyuruhnya membantunya. Amira yang adanya melakukan itu tertawa seakan itu permainan yang memang asik di kerjakannya.
" Apa yang mereka lakukan? tanya Zira pelan geleng-geleng benar-benar schok dengan pemandangan itu.
" Entahlah mah," sahut Raina yang juga tidak bisa berkata-kata saat menonton kakak dan adik iparnya.
Sementara Farah memegang kepalanya dengan kerandoman pasangan itu.
Sementara Raka yang melihatnya tertawa kecil. Sedari tadi memang dia hanya menahan tawa Belum pernah dia melihat kelakuan kakak iparnya itu.
" Astaga," lirih Andini geleng-geleng.
Mata Zira melotot saat melihat Nayra melompat-lompat karena kegelian dengan belut yang mengenai kakinya.
" Nayra," teriak Zira.
Sontak teriakan Zira menghentikan permainan itu. Ke-3 pasang mata itu langsung melihat ke arah suara itu Raihan dan Nayra kaget melihat banyaknya penonton.
Membuat Raihan dan Nayra saling melihat dengan wajah kaget. Seperti anak yang ketangkap membuat kesalahan. Dengan cepat Raihan langsung berdiri.
" Mama," lirih Raihan menelan salavinanya. Zira langsung menghampiri pasangan suami istri itu.
" Nayra kamu sedang hamil, kenapa melompat- lompat dan apa semua ini kenapa melakukan hal ini. Dapur berantakan seperti ada gempa bumi. Dan kamu Raihan sudah tau istri kamu hamil malah melakukan hal yang membahayakan kandungannya," oceh Zira tanpa jeda seperti kereta api yang benar-benar marah dengan kelakukan menantu dan anaknya itu.
" Kenapa seperti ini?" tanya Zira geram melihat Nayra dan Raihan yang menunduk seperti anak kecil yang di marahi.
__ADS_1
" Om dapat," teriak Amira dengan polosnya menunjukkan hasil tangkapannya dengan wajahnya yang bahagia.
Membuat suasana tegang menjadi kacau. Andini harus menahan tawanya untuk drama yang benar-benar seru.
" Amira turunkan," tekan Raina membulatkan matanya. Amira malah bengong dan memasukkan hasil tangkapannya kedalam ember.
Akhirnya pasangan suami istri itu di sidak di ruang tamu. Raina, Raka, Zira, Farah dan Andini duduk berjejer di sofa di hadapan Raihan dan Nayra yang berdiri di depan mereka.
Dengan tangan mereka saling menggengam. Sementara Amira bermain di lantai. Itu bukan urusannya dia juga punya urusan sendiri.
" Kenapa bisa seperti itu?" tanya Zira masih ngos-ngosan sedari tadi mengoceh pada anak dan menantunya itu.
" Kalian apa tidak punya kerjaan," sambung Farah.
" Lagi cuti eyang," sahut Andini.
" Apapun itu kenapa sampai seperti ini?" tanya Zira lagi.
" Raihan minta di buatin es pisang ijo. Di rumah tidak ada bahan. Jadi Nayra dan Raihan kepasar. Di pasar Raihan malah mau di masakin belut, di buatin gurita hitam Nayra kan tidak bisa mengelolah semua itu," jawab Nayra mengeluhkan keadaannya.
Zira langsung menatap sinis pada anaknya yang menjadi onar dari kekacauan itu.
" Ma, Raihan ingin makannya, apa salahnya menyuruh istri kan tugas istri," sahut Raihan melihat sang mama sebelum di tanya. Karena tatapan mamanya sudah sangat tajam ingin menerkamnya.
" Lalu yang meminta buah kecapi siapa?" tanya Zira.
" Nayra tidak minta," sahut Nayra heran.
" Aku," sahut Raihan mengangkat tangannya. Membuat semuanya kembali kaget melihat ternyata Raihan yang banyak maunya.
" Ya ampun kak Raihan, jadi kakak yang ngidam. Nayra yang hamil tapi kakak yang ngidam," sahut Raina yang sebenarnya dari tadi sudah peka dengan kakaknya.
" Bukan mengidam, aku hanya ingin makan," sahut Raihan membantah.
" Sama saja kak," sahut Raina membenarkan.
" Kamu ini ya rehan, menyusahkan istri kamu saja," sahut Zira semakin kesal.
" Sudahlah ma jangan banyak cerita. Mending mama masak deh. Raihan sudah lapar," sahut Raihan pusing dengan mamanya yang mengomel.
Mulutnya hanya ingin makan hari ini. Zira hanya geleng-geleng dengan anaknya yang membuat jantungnya hampir melayang.
__ADS_1
" Nayra kamu jangan kayak tadi lagi, lompat-lompat, kandungan kamu masih lemah, bagaimana jika terjadi sesuatu," ujar Zira sangat khawatir dengan menantunya.
" Iya ma, maaf, Nayra tidak akan melakukan itu lagi," sahut Nayra merasa bersalah.
" Kamu ya Raihan, jangan menyuruh Nayra yang aneh-aneh yang membuat kandungannya bermasalah," tegas Mamanya.
" Iya ma, maaf," Raihan tidak akan melakukan itu lagi," sahut meletakkan tangannya di bahu istrinya mendekatkan pada dirinya.
" Maaf ya sayang," ujar Raihan merapatkan kepalanya ke istrinya. Nayra mengangguk.
" Ya sudah itu kamu makan buah kamu, biar mama yang kerjain apa yang kamu mau," ujar Zira berdiri masih dengan kesal.
**********
Angga sekarang sedang memberi Della makan. Angga duduk di samping Della menyuapinya dengan tulus.
" Kamu belumm ingin menelpon orang tuamu?" tanya Angga di sela-sela menyuapi Della. Della menggeleng.
" Kenapa bukankah keluargamu. Harus mengetahui kondisimu?" ucap Angga.
" Benar. Tetapi aku tidak mau mereka khawatir, jangan beritahu mereka," ucap Della yang tidak ingin orang lain mengetahui selama ini dia mengalami kekerasan fisik.
" Apa itu berarti kamu juga akan diam tentang laki-laki psikopat itu," tebak Angga merasa curiga pada Della. Della meraih tangan Angga.
" Angga sudahlah, aku tidak ingin menambah masalah, biarkan saja," ujar Della membuat Angga kaget.
Dengan mudahnya Della mengatakan biarkan saja. Padahal Della tau laki-laki itu yang sudah membuat Della lumpuh.
" Kamu melindunginya," lirih Angga merasa sesak saat berbicara.
Dia sudah tidak tau apa yang ada di otak Della. Wajah Angga memerah dengan mengepal tangannya.
" Benar kamu melindunginya," Angga mendengus kasar. Padahal Della belum menjawab apa-apa.
" Aku akan membunuhnya," tekan Angga kehilangan kendali. Lalu berdiri. Della menahan tangan itu saat Angga ingin pergi.
" Angga aku mohon jangan pergi, jangan temui dia aku mohon," lirih Della benar-benar takut jika Angga menemui Ramah.
" Apa kamu gila Della!" bentak Angga dengan suara menggelegar, " Kamu lihat diri kamu seperti ini. Bahkan kamu lumpuh yang tidak tau kapan sembuh. Tetapi kamu dengan mudahnya melindunginya," Angga mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar habis kata-kata dengan tindakan Della yang tidak masuk akal
" Bukan begitu Angga," sahut Della berusaha menjelaskan.
__ADS_1
Bersambung.....