
" Yang Kaos hitam," jawab Raka dengan tenang.
" Hmmmm, aku akan cari," jawab Raina mencari dan sial Raina malam memegang ****** ***** Raka. Dan reflek Raina langsung menjatuhkannya kedalam koper.
" Kenapa juga harus memegangnya," batin Raina merapatkan giginya.
" Ada apa Raina, apa kamu bisa menemukannya?" tanya Raka.
" Untung saja Raka tidak melihatnya," batin Raina bernapas lega.
" Oh tidak apa-apa, ini aku sudah menemukannya kok," jawab Raina cepat.
Raina memegang baju itu dan langsung berdiri. Karena grogi jidat Raina terbentur kursi meja rias.
" Auhhhh," lirih Raina memegang jidatnya.
" Kamu tidak apa?" tanya Raka yang langsung panik mengusap jidat Raina.
Jarak yang dekat antara Raka dan Raina. Membuat Raina semakin gugup, Raina juga melihat tubuh Raka yang masih menetes air membuat Raina menelan salavinanya.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Raka yang masih panik.
" Aku tidak apa-apa," jawab Raina gugup.
" Lain kali hati-hati," ujar Raka meniup lembut Jidat Raina yang sedikit memerah. Hembusan napas itu hanya membuat Raina merinding.
" Raka apa yang kamu lakukan, aku bisa mati berdiri di sini, plus jangan membuatku menjadi seperti ini," batin Raina merasa kebas pada kakinya. Tetapi matanya terus melihat ke arah Raka. Sampai Raka juga melihat 2 bola mata indah Raina.
" Apa masih sakit?" tanya Raka.
Raina menggeleng pelan. Raka memegang pipi Raina dan mengusapnya lembut.
Lalu mencium jidat Raina yang tadi terbentur. Raina langsung memejamkan matanya saat mendapat kecupan jangan itu. Ke-2 nya kembali saling dengan tatapan dalam. Debaran jantung ke-2nya mulai tidak normal.
" Raina ini adalah malam pengantin mu, jadi tenanglah, kamu harus tenang di depan Raka. Jangan terlalu gugup Raina," batin Raina semakin gugup.
" Ini pakaianmu," ujar Raina memberi pada Raka. Raka tersenyum dan meletakkan di atas ranjang.
__ADS_1
" Itu tidak perlu," jawab Raka dengan suara lembutnya. Raina hanya mengangguk.
" Apa kamu mau makan?" tanya Raina pelan. Dia memang sangat gugup dan mungkin bisa mengalihkan ke hal lain. Agar sedikit lebih santai.
" Tidak, aku sudah kenyang, lagi pula ini sudah malam," jawab Raka.
" Lalu apa yang kamu butuhkan biar aku siapkan?" tanya Raina yang ingin memulai sebagai istri.
" Aku tidak butuh apa-apa, aku hanya membutuhkan kamu. Kamu tetap di sini bersamaku. Raina ini malam pengantin kita dan aku ingin menghabiskan malam bersama kamu," ujar Raka dengan lembut langsung pada intinya.
Raina semakin gemetaran mendengar perkataan Raka yang to the point. Apa Raka tidak memikirkan rasa groginya.
" Apa aku boleh melakukannya?" tanya Raka to the point sambil terus mengusap pipi Raina dengan matanya yang memang ingin memiliki Raina seutuhnya.
" Apa yang harus aku jawab, kalau iya aku sangat malau. Kalau tidak nanti Raka kecewa. Kenapa harus bertanya sih Raka," batin Raina menjadi canggung.
Raka semakin mendekatkan dirinya pada Raina. Raka memegang pinggang Raina dan langsung menggendong Raina ala bridal style.
Membuat Raina kaget yang sudah berada di gendongan Raka dan Raina refleks mengalungkan tangannya ke leher Raka.
Pandangan mata Raka tidak lepas memandang wajah Raina. Raka tersenyum dan mengangkat tubuh Raina ke atas tempat tidur, merebahkannya dengan pelan.
Raka yang berada di atas tubuh Raina dengan telanjang dada. Mencium kening Raina lembut. Raina memegang lengan kekar Raka yang dingin.
Raka memindahkan ciuman lembut itu pada pipi Raina, bergantian dengan kanannya, mencium kelopak mata Raina secara bergantian.
Pandangan Raka turun pada bibir Raina. Raka mengecup pelan bibir itu. Mata Raka yang sudah di penuhi gariah langsung mencium kembali bibir Raina dan kali ini lebih dalam.
Raina pun memejamkan matanya saat mendapatkan sensasi yang berbeda sampai tangannya mengalung di leher Raka. Raina pasti menginginkan hal yang lebih jauh lagi.
tok-tok-tok-tok. Suara ketukan pintu terdengar sesaat gairah ke-2nya semakin memuncak. Dan harus menahan diri karena ketukan pintu itu. Nayra dan Raka sama-sama kembali membuka mata dengan napas yang naik turun.
Raka menengok ke belakang melihat ke arah pintu. Lalu Raka melihat ke arah Raina yang masih ngos-ngosan. Seakan Raka bertanya. Raina langsung menggeleng.
" Biar aku lihat dulu," ujar Raka dengan suara serak. Raina mengangguk dan melepas tangannya dari leher Raka.
Sebelum berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu Raka terlebih dahulu memakai kaosnya. Lalu Raka membuka pintu yang ternyata Amira yang berdiri dan membawa bonekanya. Raina juga langsung duduk dan menengok ke arah pintu. Siapa yang mengganggu mereka.
__ADS_1
" Amira," ujar Raka. Amira langsung masuk ke dalam.
" Sayang ada apa?" tanya Raina yang merapikan dirinya.
" Amira tidak mau bobo sama Tante Andini dan Tante Luci. Amira mau bobo sama mama dan papa," ucap Amira dengan wajah mengantuknya.
Raka dan Raina saling melihat ketika mendengar permintaan Amira yang ingin tidur dengan mereka.
" Memang kenapa sayang?" tanya Raina yang masih berharap Amira mengubah keputusannya.
" Amira pengen aja bobo sama mama dan papa. Lagi pula papa kan sudah bilang kalau mama dan papa sudah menikah. Amira boleh bobo sama-sama, jadi Amira mau bobo sama papa dan mama," jelas Amira dengan polosnya.
" Bolehkan papa?" tanya Amira memastikan.
" Hmmmm, iya boleh," jawab Raka. Jawaban Raka seperti tidak iklhas.
Amira yang senang pun akhirnya menaiki tempat tidur dan tidur. Raina hanya tersenyum tipis melihat ke arah Raka yang sekarang menggaruk rambutnya dan menutup pintu.
" Ayo sayang sini," ujar Raina menepuk bantal.
" Papa belum bobo?" tanya Amira yang melihat Raka masih berdiri mematung dengan wajah kesal. Mungkin karena malam pertamanya yang gagal.
" Iya, papa ganti baju dulu," sahut Raka mengambil celananya dan pergi kekamar mandi. Seharusnya dia tidak melakukannya dan menghabiskan malam bersama Raina. Tetapi Amira tau saja datang di saat yang tidak tepat jadi rencana Raka dan Raina berantakan.
" Raka pasti Betek," batin Raina tersenyum lebar. Mengusap-usap rambut Amira, seraya menidurkan sang buah hati.
Tidak berapa lama Raka keluar dari kamar mandi. Menggunakan kaos yang tadi di berikan Raina dan celana training berwarna abu-abu.
" Papa ayo bobo sini sama Amira," ajak Amira yang melihat Raka berdiri saja. Raka mengangguk. Lalu tidur di samping Amira. Raka dan Raina sama-sama memiringkan tubuh mereka menghadap Amira.
Sementara Amira yang terlentang di tengah merasa bahagia bisa tidur bersama Raka dan mamanya.
" Ya sudah ayo pejamkan matanya," ujar Raina. Amira mengangguk, meraih tangan mama dan papanya menumpuknya di atas tubuhnya. Amira mencium pipi Raka dan bergantian dengan Raina.
" Selamat malam papa, selamat malam mama," ujar Amira.
" Selamat malam sayang," jawab Raka dan Raina serentak. Amira pun memejamkan matanya. Raina dan Raka saling melihat. Dan menggedikkan bahu bersamaan. Raka menggenggam erat tangan Raina yang ada di perut Amira.
__ADS_1
Ya walaupun malam pertama mereka berantakan. Tetapi mereka bahagia. Bisa tidur bersamaan.
Bersambung........