Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 356.


__ADS_3

" Bu, Nayra, bayinya kita bersihkan dulu ya," ujar Dokter dengan lembut.


" Iya Dok," jawab Nayra dengan suara seraknya. Dokter pun mengambil bayi itu dari dada Nayra dengan lembut dan memberikan pada suster.


" Pak Raihan, bapak tunggu di luar sebentar. Istri bapak akan bersih kan dan akan periksa lebih lanjut. Setelah sudah di pindahkan ke rumah ruang perawatan. Bapak dan keluarga boleh melihat lagi," ujar Dokter lagi.


" Iya Dok, baiklah, kalau begitu," sahut Raihan. Dokter mengangguk tersenyum.


" Sayang, aku keluar sebentar ya," ujar Raihan lembut sembari mengusap-usap rambut Nayra. Nayra mengangguk-anggukkan.


" Apa kamu masih merasa sakit?" tanya Raihan yang masih mengkhawatirkan istrinya.


" Sudah tidak, aku jauh lebih baik," jawab Nayra.


" Ya sudah kalau begitu, aku keluar sebentar," ujar Raihan pamit. Dengan mencium kening Nayra. Nayra memejamkan matanya. Raihan juga mencium lembut pipi Nayra.


" I love you," bisik Raihan.


" I love you to," jawab Nayra. Lalu Raihan pun langsung pergi.


Walau istrinya baik-baik saja setelah melahirkan. Tetapi dia sangat berat hati meninggalkan Nayra walau sebentar saja. Raihan pun keluar dari ruang persalinan dan keluarganya yang cemas langsung menghampirinya.


" Bagaimana Nayra Raihan?" tanya Jihan.


" Nara baik-baik saja. Bayi juga lahir dengan selamat dan Nayra sehat," jawab Raihan dengan meneteskan air mata.


" Alhamdulillah," sahut mereka dengan serentak mengusap wajah mereka dengan ke-2 tangan mereka.


Zira langsung mendekati putranya dan memeluk putranya.


" Selamat ya sayang kamu telah menjadi seorang ayah," ujar Zira menepuk-nepuk punggung Raihan.


" Makasih ma, makasih, selama mama sudah jaga Nara selama Raihan tidak tau bagaimana cara berterima kasih untuk mama dan semuanya yang sudah menjaga Nara dengan baik. Menjaga calon anak kami. Semua karena kalian yang terus ada di sampingnya. Terima kasih ma," ujar Raihan memeluk erat mamanya.


Dia benar-benar merasa beruntung memiliki keluarga yang mencintai istrinya melebihi dirinya. Karena di saat dirinya tidak ada semua orang menggantikan posisinya dan berusaha membuat istrinya tidak kenapa-kenapa. Zira melepas pelukan itu dan mengusap air mata Raihan.


" Tidak ada yang perlu berterima kasih. Karena itu sudah kewajiban kami," ujar Zira.

__ADS_1


" Iya Raihan, itu semua tanggung jawab kami," sahut Jihan.


" Sudahlah, kita jangan nangis-nangissan, ada bayi di dalam sana, bukannya kita harus bahagia, dengan kehadiran keluarga baru," sahut Addrian yang sedari tadi menahan diri agar tidak mewek seperti yang lainnya.


" Oh, iya kak Raihan, bayinya laki-laki apa perempuan," tanya Andini yang penasaran dengan jenis kelamin bayi dari kakak sepupunya itu.


" Perempuan," jawab Raihan. Membuat mereka saling melihat dengan tersenyum.


" Horeeee aku ada temannya," sahut Amira yang kesenangan sampai mengangkat tangannya.


" Memang adik Alan bukan teman kamu?" tanya Raina pada anak perempuannya itu.


" Adik Alan kan, laki-laki, kalau bayinya Tante Nayra perempuan. Jadi teman Amira yang perempuan. Tapi kalau sayangnya sama kok, Amira sayang adik Alan dan juga Dede Tante Nayra," jawab Amira dengan polosnya membuat Raka mengusap-usap pucuk kepala anak sambungnya itu dan semua orang tersenyum lebar mendengar ucapan Amira.


" Iya kamu harus tetap sayang, kepada ke-2nya. Karena kamu sudah menjadi Kakak. Jadi haru memberikan contoh yang baik," sahut Raka mengingatkan Amira.


" Iya papa," sahut Amira. Yang lainnya tersenyum geleng-geleng.


" Lalu Raihan. Nayra, apa sudah bisa di lihat?" tanya Carey yang juga tidak sabaran untuk melihat adik dan keponakannya.


" Setelah Dokter memindahkannya keruang perawatan, Nara sudah bisa di besuk," jawab Raihan.


" Makasih pah," sahut Raihan.


" Selamat ya Raihan," ujar Dion yang tidak kalah memberi selamat juga dengan memeluknya


" Thanks ya Dion," sahut Raihan


" Nayra sudah menjadi seorang ibu. Dia memang pasti sangat bahagia. Dia memang sangat beruntung yang memiliki suami yang sangat mencintainya," batin Carey yang pasti menginginkan seperti Nayra adiknya yang mendapat perhatian suami. Tetapi suaminya malah memperhatikan wanita lain.


" Kamu juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah Dion," sahut Jihan. Membuat Dion tersenyum tipis yang melihat Carey yang sama sekali tidak melihatnya. Bahkan tidak menanggapi mamanya.


" Iya ma," sahut Dion datar. Hubungannya dengan yang semakin hari semakin panas membuatnya memang tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa.


************


Nayra sudah di pindahkan keruang perawatan. Nayra yang duduk di atas tempat tidur, tangannya masih di beri infus dan sekarang Nayra sedang menggendong bayinya dan Raihan berdiri di sampingnya dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya dan melihat bayi kecil mereka.

__ADS_1


" Hidungnya mirip kamu," ujar Nayra melihat suaminya. Raihan mengangguk tersenyum.


" Matanya mirip kamu, sangat cantik, persis seperti kamu," ujar Raihan yang memuji istrinya melihat sang istri dengan penuh cinta dan mencium kembali kening istrinya.


" Lalu cantikan mana, aku apa anak kita ?" tanya Nayra, Raihan mendengus tersenyum mendengar pertanyaan sang istri.


" Kamu, kamu tetap yang paling cantik, karena kamu sekarang bukan hanya sebagai istri. Tetapi juga sebagai ibu. Jadi kecantikan kamu. Tidak akan ada yang menandinginya," ujar Raihan memuji istrinya.


" Kamu bisa aja," sahut Nayra.


" Bukannya aku sekarang sudah gendut, berat badan ku naik," sahut Nayra.


" Apapun itu kamu tetap yang paling cantik," jawab Raihan.


" Kamu bisa aja," sahut Nayra tersenyum lebar.


" Itu memang kenyataan. Terima kasih sayang, kamu sudah melahirkan buah hati yang sempurna untukku, terima kasih untuk semuanya," ujar Raihan menatap Nayra dengan dalam.


" Sama-sama," jawab Nayra. Raihan mencium lembut pipi Nayra. Dan mengusap-usap pipi bayi nya dengan jarinya.


" Sayang, nanti kalau kamu besar, kamu jangan nyusahin mama kamu. Dia itu mempertahankan nyawanya untuk memberikan kamu kehidupan. Jadi jangan buat mama kamu nangis ya. Jangan seperti papa yang beberapa kali membuat air mata mama kamu keluar," ujar Raihan berbicara lembut pada bayinya.


Nayra mendengarnya tersenyum. Dan mencium pipi suaminya yang tepat di depannya.


" Kamu jangan mengatakan itu kepadanya. Dia akan salah paham. Kenapa papanya membuat mamanya menangis. Aku tidak mau anak kita akan salah paham pada papanya," ujar Nayra.


" Iya sayang, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi," ujar Raihan.


" Oh, iya anak kita di beri nama apa?" tanya Nayra yang memang belum mempersiapkan nama untuk buah hati mereka.


" Apa ya, aku belum tau, kita akan cari nama yang indah untuknya," ujar Raihan yang juga memang belum kepikiran masalah nama.


" Baiklah, kalau begitu," sahut Nayra. Raihan dan Nayra terus melihat bayi cantik itu dengan Raihan yang juga beberapa kali mencium kening istrinya.


Cintanya semakin besar kepada sang istri ketika melihat istrinya yang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka. Dia telah menjadi saksi di mana istrinya yang kesakitan dengan cucuran air mata dan tubuh yang bergetar yang mungkin tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Apapun yang diberikannya pada istrinya tidak akan bisa membayar apa yang tadi barusan terjadi di depan matanya. Perjuangan istrinya yang sangat besar dan jelas membuatnya semakin mencintai Nayra.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2