
Raihan mengusap air mata Nayra dan kembali memegang tengkuknya dan meraih bibir itu kembali. Nayra memejamkan matanya kembali. Saat Raihan menyerangnya kembali.
Tubuhnya memang menginginkan Raihan. Dia tidak ingin Raihan jauh-jauh dari hidupnya. Raihan terus memperdalam ciumannya bersamaan dengan hujan yang semakin deras.
Nayra memegang kulit lengan Raihan. Merasakan dinginnya tubuh Raihan. Ke-2nya sama-sama dipenuhi gairah. Tangan Raihan bahkan mengusap-usapnya punggung Nayra.
Tanpa melepas ciumannya dari Nayra. Raihan membaringkan Nayra dengan lembut. Gila Raihan benar-benar bisa gila karena kecanduan Nayra.
Raihan melepas ciuman itu, membiarkan Nayra kembali mengambil napas, Nayra kembali membuka matanya dan melihat jika Raihan sudah berada di atas tubuhnya.
Raihan mencium kening Nayra, mencium kelopak mata Nayra. Nayra dengan napasnya yang naik turun hanya bisa memejamkan matanya tanpa menolak apa yang di lakukan Raihan.
Raihan menatap Nayra dengan penuh gairah, dan menginginkan hal yang lain. Dia ingin menuntaskan kerinduannya. Malam yang dingin seakan menjadi panas untuknya. Tubuhnya sangat kepanasan saat semakin dekat dengan Nayra.
Nayra bisa melihat mata Raihan yang sayu, mata yang di penuhi hasrat. Raihan memiringkan kepalanya dan menjatuhkan ciuman itu pada leher Nayra.
Nayra mengepal tangannya kuat. Karena sentuhan Raihan yang di terimanya. Nayra sungguh gila mendapatkan semua itu. Dengan perlahan tangan Raihan memegang kancing kemeja Nayra. Dan membuka kancing bagian atas itu, satu dan dua kancing sudah terlepas.
Raihan menghentikan ciuman itu, ketika tangannya saat melanjutkan membuka kancing kemeja berikutnya telah di tahan. Raihan mengangkat kepalanya dan melihat tangan itu adalah tangan Nayra. Raihan melihat ke arah Nayra seakan bertanya.
" Aku tidak ingin melakukannya," ujar Nayra tiba-tiba.
Dia memang menginginkan hal yang jauh. Sama seperti Raihan yang tidak bisa mengontrol dirinya. Tetapi dia tidak mungkin melanjutkannya tanpa ikatan pernikahan.
Meski anak dari keluarga yang hancur. Dia tetap menjaga kehormatannya. Walau tergila-gila dengan semua sentuhan yang di lakukan Raihan.
Tetapi dia harus menjaga kesuciannya, yang juga akan di miliki Raihan. Nayra hanya menunggu waktu kapan Raihan benar-benar akan menjadikannya adalah miliknya yang pasti dalam ikatan pernikahan.
Mendengar hal itu Raihan tersadar, otaknya yang sudah liar kembali mencoba menenagkan dirinya. Dia menyadari jika apa yang di lakukannya memang melebihi batas.
Tidak seharusnya dia menyamakan Nayra dengan wanita lain. Raihan tersenyum dan mencium kening Nayra.
" Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol diriku," ujar Raihan merasa bersalah. Nayra tersenyum
Raihan beranjak dari tubuh Nayra. Jujur dia sangat kecewa karena tidak bisa melampiaskan semuanya kepada Nayra.
Tetapi dia bukan laki-laki pemaksa yang harus memaksakan hubungan itu kepada Nayra. Dia juga menyadari jika Nayra tidak seutuhnya percaya kepadanya.
Nayra bernapas lega. Saat memberanikan diri menolak Raihan. Dia pun ikut bangkit dan kembali duduk. Raihan menghadap kepadanya tersenyum lebar. Raihan kembali mengkancingnya kemeja Nayra yang sempat terlepas itu.
Dia mencoba menetralkan dirinya. Agar jauh dari godaan setan yang sepertinya berada di sekitar mereka. Raihan mengusap rambut Nayra pelan dan meraihnya kedalam pelukannya.
" Aku tidak akan melakukannya," ujar Raihan.
Nayra hanya tersenyum saat berada di pelukan Raihan. Dia juga berusaha menengakannya dirinya.
********
Raihan dan Nayra masih berada di dalam gubuk tersebut. Sekarang Raihan sudah berada di belakang Nayra dan memeluknya dengan erat, agar mengurangi dingin di tubuh Nayra yang bisa menghangatkan tubuhnya juga.
__ADS_1
Maklum saja dia gagal membuat cuaca dingin menjadi panas. Nayra begitu nyaman berada di pelukan Raihan. Pelukan yang memang di rindukannya.
" Nara apa kamu masih marah kepadaku?" tanya Raihan tiba-tiba.
Nayra langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Raihan.
" Kenapa aku harus marah?" tanya Raihan.
" Karena aku menyuruhmu bekerja, kembali ke rawan bencana," jawab Raihan. Nayra tersenyum.
" Bukannya kamu memang atasanku. Dan aku tidak bisa marah jika di suruh bekerja apapun," jawab Nayra.
" Apa tadi kamu sudah makan?" tanya Raihan.
" Kamu menyuruhku pergi di sore hari, itu berati aku belum makan malam," jawab Nayra jujur.
" Maafkan aku, apa kamu lapar?" tanya Raihan lagi.
" Memang jika aku lapar, apa akan ada makanan?" tanya Nayra kembali. Raihan terdiam sejenak mendengar apa yang di katakan Nayra. Memang dia tidak mungkin mendapatkan makanan untuk Nayra.
" Aku tidak lapar, jadi jangan di pikirkan," sahut Nayra.
" Maaf jika membuatmu kelaparan," ujar Raihan merasa bersalah.
" Aku tidak kelaparan, hujan sudah selesai apa kita tidak bisa kembali ke pengungsian?" tanya Nayra. Raihan melihat jam tangannya yang sudah pukul 2 pagi. Raihan semakin mempererat pelukannya.
" Tetaplah di sini sampai besok pagi," ujar Raihan Nayra mengangguk.
**************
Raihan berdiri di depan pintu gubuk tersebut. Masih dengan telanjang dada. Sementara Nayra masih di dalam mengganti pakaiannya. Tidak mungkin dia kembali pengungsian dengan memakai kemeja Raihan.
Tidak berapa lama Nayra selesai mengganti kemejanya dan keluar dari gubuk tersebut. Raihan menoleh kearahnya.
" Ini," ujar Nayra memberikan kemejanya pada Raihan. Raihan mengambilnya dan langsung memakainya di depan Nayra. Nayra meski sudah melihat tubuh itu semalaman.
Dia masih malu saat melihat tubuh kekar itu. Raihan hanya mendengus saat melihat Nayra yang memalingkan wajahnya. Raihan terus melihat Nayra sambil mengkancing satu-per satu kemeja itu.
" Ayo kita kembali," ujar Raihan meraih tangan Nayra dan menggenggamnya.
Nayra mengangguk dan mengikuti langkah Raihan. Mereka berjalan berdampingan. Tangan itu terus saling menggenggam.
" Terima kasih, sudah meminjamkannya untukku," ujar Nayra menoleh ke arah Raihan.
" Sama-sama," sahut Raihan juga menoleh.
**************
Pengungsian.
__ADS_1
Angga melihat perkumpulan Karyawan Adverb yang berdiri dan penuh kegelisahan. Angga pun menghampiri para Karyawan itu.
" Apa Nayra sudah kembali?" tanya Angga pada Anita.
" Pak Angga, tidak pak, Nayra belum kembali," jawab Anita yang cemas.
" Jadi semalaman dia belom kembali?" tanya Angga memastikan.
" Benar Pak," jawab Anita.
" Dan kalian tidak mencarinya sama sekali?" Angga tidak habis pikir dengan teman-teman Nayra yang tidak peduli kepada Nayra.
" Pak Raihan sudah mencarinya," sahut Ria.
" Raihan juga belum kembali?" tanya Angga memastikan.
" Iya Pak," jawab Ria.
" Sial," desis Angga.
" Kenapa sih mereka pada heboh. Jika Nayra dan Raihan belum kembali. Ya itu urusan mereka kenapa nih orang sibuk banget," batin Alex yang risih dengan Angga. Justru dia memang tenang. Karena menurutnya Raihan pasti dengan Nayra terus apa masalahnya.
" Seharusnya kalian mencarinya," ujar Angga yang kesal.
" Nayra karyawan Adverb. Dan pimpinan Adverb langsung mencarinya. Apa yang harus di pikirkan," sahut Alex tidak bisa jika tidak mengontrol kata-katanya.
" Tetap saja," sahut Angga.
" Itu Nayra dan pak Raihan," tunjuk Ria yang melihat Nayra berjalan ke arah mereka.
Nayra dan Angga berjalan dengan perlahan ke arah perkumpulan itu.
" Nay," panggil Anita melihat Nayra yang sudah berdiri di depan mereka.
" Nayra," ujar Angga yang lega, namun melihat tangan Nayra yang di genggam Raihan.
Nayra langsung melepas tangannya dari Raihan. Karena tidak enak dengan orang kantor. Saat tangan itu terlepas, Raihan kembali meraihnya dan menggenggamnya dengan erat.
Nayra yang kaget langsung menoleh kearah Raihan. Raihan menganggukkan matanya dan tersenyum pada Nayra.
Beberapa karyawan kantor melihat hal itu dan pasti bertanya-tanya, berbeda dengan Angga yang sepertinya panas akan hal itu.
" Nayra kamu tidak apa-apa?" tanya Angga mendekati Nayra. Raihan dengan sigap menarik tangan Nayra dan membuat Nayra mundur satu langkah.
Angga langsung melihat ke arah Raihan. Raihan hanya tersenyum miring. Sementara Nayra malah menjadi gugup dengan perlakuan Angga yang begitu terus terang dan pasti membuat banyak pertanyaan di kepala karyawan kantor.
Della juga ada di tempat itu dan melihat gerak-gerik Raihan kepada Nayra. Della justru tersenyum melihat hal itu.
" Kembalilah kedalam, ganti pakaianmu dan makanlah!" perintah Raihan.
__ADS_1
Nayra mengangguk dan langsung menuruti Raihan. Dan memang itu cara satu-satunya agar orang-orang semakin tidak berpikir hal yang aneh-aneh kepadanya.
...Bersambung..........