
Angga pun keluar dari kamar hotel dengan langkah yang buru-buru sambil merapikan pakaiannya dan mengkancing pakaiannya yang berantakan akibat ulah Karen dan sementara Della berada di depan hotel tepat berada di dekat mobil Angga parkir dan pelayan yang tadi bersamanya juga ada di sana yang setia menemaninya.
" Apa suami mbak akan datang?" tanya pelayan itu yang masih mengikuti permainan Della.
" Dia pasti datang," sahut Della yakin yang matanya terus melihat ke arah hotel sangat berharap Angga ada langsung datang dan wajah panik, cemas penuh ke khawatiran itu pun berubah menjadi ukiran senyum yang indah ketika melihat Angga yang berlari keluar dari hotel.
" Itu dia," ujar Della. Pelayan itu pun melihatnya dan ikut tersenyum dan Angga pun yang melihat Della langsung menghampiri Della dan langsung jongkok di depan Della.
" Kami tidak apa-apa?" tanya Angga panik memegang pipi Della dengan matanya yang tidak bisa bohong mencemaskan Della. Sampai melihat-lihat apakah ada yang lecet atau tidak.
" Tidak. Aku tidak apa-apa. Untung saja ada mbak yang menolongku," ujar Della.
" Iya, saya melihat ada beberapa orang yang menggangu istri bapak dan makanya saya membantu istri bapak dan membawanya ke depan hotel kami," jelas pelayan itu yang sepertinya sudah menghapal skenario yang tadi di katakan Della.
Mendengar kata istri membuat Angga sedikit merasa aneh.
" Jadi bapak harus lebih bersamanya. Jangan biarkan istri bapak ini sendirian, dan apa lagi harus bersama pelakor dan tidak mempedulikan istri bapak," ujar pelayan itu menegaskan membuat Angga kebingungan dan Della tersenyum tipis mendengar omongan pelayan itu.
" Baiklah terima kasih atas pesannya. Saya akan mengingatnya. Terima kasih sudah ada bersama Della," sahut Angga. Pelayan itu mengangguk.
Ternyata Karen tidak bisa tinggal diam. Dengan cepat dia mengganti pakaiannya dan menyusul Angga untuk keluar dari hotel dan Karen langsung emosian ketika melihat Angga yang meninggalkannya.
Dan memang benar hanya untuk menemui Della yang ada di sana. Dan Della juga melihat Karen yang dengan wajah Karen yang penuh kemarahan yang berlari ke arah mereka.
" Tenang Della. Kamu harus tenang, tidak akan ada masalah," batin Della yabg berusaha untuk tenang.
" Angga!" ujar Karen yang sudah ada di depan Angga dan Della dan Angga berdiri ketika melihat Karen.
" Kamu ngapain sih dengan dia?" tanya Karen kesal menarik Angga kesisinya.
" Mbak, jaga dong tangannya," sahut pelayan yang tampak memiliki dendam dengan Karen yang di nyatakannya sebagai pelakor.
" Siapa kamu. Jangan ikut campur," sahut Karen kesal.
__ADS_1
" Issss, dia malah nyolot sudah tau pelakor. Memang pelakor pada banyak yang yang tidak tau diri," gerutu pelayan itu.
" Apa yang kamu katakan," sahut Karen langsung menyambar dan ingin menjambak wanita itu. Tetapi Angga langsung mencegahnya.
" Sudahlah Karen. Kamu apa-apaan sih," sahut Angga.
" Mbak makasih sudah membantu saya. Mbak sebaiknya kembali bekerja," sahut Della yang tidak ingin pelayan itu menjadi sasaran Karen.
" Ya sudah mbak. Hati-hati ya. Kalau perlu di rantai suaminya. Agar tidak di rebut pelakor," ujar pelayan itu dengan pelan dan membuat Karen semakin kesal dan bahkan ingin menelan pelayan itu.
" Iya. Pasti," sahut Della tersenyum tipis.
" Saya permisi dulu!" ujar pelayan itu pamit.
Angga mengangguk dan pelayan itu pun pergi dengan menatap Karen sinis. Bahkan seperti jijik dengan Karen membuat Karen semakin kesal dan Karen melihat ke arah Della yang tersenyum.
" Kamu ngapain telpon pacar orang," sahut Karen yang menatap sinis Della. Della diam dan tidak menjawab seakan tidak mendengar apa yang di katakan Karen.
" Kamu tuli atau bagaimana. Kamu tau. Kamu sudah mengganggu kesenangan ku dengan Angga," geram Karen.
" Kamu kenapa coba. Harus pergi hanya karena dia," sahut Karen kesal.
" Sudahlah, kamu jangan memancing keributan," ujar Angga pusing mendengarkan suara Karen.
" Kalau begitu ayo kita pergi," ujar Karen langsung menarik tangan Angga yang tidak ingin Angga berlama-lama dengan Della.
" Angga!" panggil Della membuat Angga menahan langkahnya dan Karen langsung kesal mendengar Della memanggil pacarnya.
" Tolong antar aku pulang. Aku tidak tau harus pulang dengan siapa," ujar Della. Membuat Karen mendengus kasar.
" Kamu pikir kamu siapa. Berani-beraninya mengajak pacar orang untuk pulang," sahut Karen yang langsung berdiri tegap di depan Della.
" Aku hanya mengajak pacar orang untuk pulang bukan suami orang," sahut Della yang membuat Karen schock.
__ADS_1
" Kau," geram Karen.
" Karen sudah cukup, apa yang kau lakukan," sahut Angga langsung mencegah Karen.
" Kamu tidak dengar dia bilang apa. Dia sangat lantam," sahut Karen Marah-marah.
" Sudahlah Karen. Kamu sebaiknya pulang. Ini sudah malam. Aku akan memberhentikan untukmu dan aku harus mengantar Della pulang," sahut Angga yang ternyata lebih memilih Della ketimbang Karen dan pasti hal itu membuat Karen emosian.
" Angga, jadi kamu lebih mengantar dia ketimbang aku pacar kamu," sahut Karen yang tampak tidak terima.
" Angga ayo cepat aku capek," sahut Della yang bahkan mengulurkan tangannya agar Angga menggendongnya kedalam mobil dan Karen melihat hal itu benar-benar ingin membunuh Della saat itu juga.
" Aku akan mengantar Della," sahut Angga menegaskan dan langsung mengangkat Della dari kursi roda dan Della mengalungkan tangannya. Sementara Karen hanya melihat dengan matanya yang melotot hampir keluar di saat Angga menggendong Della kedalam mobilnya dan bahkan memasangkan Della sabuk pengaman yang membuatnya kepanasan.
Angga menutup pintu mobil dan melipat kursi roda Della dan memasukkan kedalam mobil dan menghampiri Karen yang sedang penuh amarah.
" Ayo aku bantu cari Taxi," ujar Angga memegang lengan Karen dan Karen langsung menepisnya.
" Kamu jangan mengantarnya. Aku pacar kamu bukan dia," ujar Karen dengan tegas.
" Karen sudahlah. Ini sudah malam. Kita tidak ada gunanya ribut. Aku tidak mungkin meninggalkan Della dan rumah kamu dan Della berlainan arah. Jika kita mengantarkan Della. Baru kamu aku bisa pulang jam berapa. Sementara mama sudah menelpon. Kamu mau mama marah-marah karena setaunya aku pergi bersamamu," ujar Angga menjelaskan.
" Jadi kamu benar-benar akan mengantar dia?" tanya Karen memastikan.
" Sudahlah Karen. Ayo naik Taxi," sahut Angga yang malas ribut.
" Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," sahut Karen dengan suara menekan.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Angga yang tampaknya tidak peduli.
" Aku pulang dulu," ujar Angga pamit dan benar-benar tidak peduli dengan Karen dan memasuki mobil langsung dan Della tersenyum tipis saat Angga benar-benar lebih memilihnya dari pada Karen yang status pacar Angga dan lihatlah wajah Karen yang begitu merah dengan ke-2 tangannya yang mengepal.
" Benar-benar biadap. Wanita sialan. Beraninya dia kepadaku," geram Karen yang penuh dendam pada Della yang secara terang-terangan ingin menantang Karen.
__ADS_1
" Wanita cacat. Kau salah sudah berhadapan denganku," ujarnya yang penuh kebencian.
Bersambung