
New Zealand
New Zealand sekarang sedang hujan rintik-rintik di pagi hari. Cuacanya begitu dingin. Yang enaknya tiduran di kamar.
Angga memasuki kamar melihat Della yang berada di teras kamar dengan duduk di atas kursi roda. Della yang menatap turunnya hujan dengan wajahnya yang murung.
Wajah Della memang selalu seperti itu dan memang tidak akan pernah berubah. Karena tidak ada alasan kenapa dia harus tersenyum. Jika tersenyum dan merasa bahagia. Dia akan kembali di sadarkan dengan keadaannya yang sangat menyedihkan.
Angga lama berdiri di depan pintu teras kamar. Menatap punggung wanita yang di cintainya.
Dia ingin menyampaikan apa yang baru di dengarnya dari orang yang di suruh Alex.
Masalah yang di sampaikan itu sangat besar dan memang harus membuat Della kembali ke Indonesia. Dimana mamanya sangat khawatir dengan Della. Belum lagi Angga juga mendengar masalah adik Della dan Della memang harus di bawa pulang secepatnya.
Angga terlihat menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan lalu menyakinkan dirinya menghampiri Della. Angga berdiri di belakang Della dan mengusap pundak Della membuat Della tersadar dari lamunannya dan menoleh kebelakang yang ternyata sudah melihat Angga.
" Kenapa diluar. Di sini sangat dingin?" tanya Angga.
" Aku hanya merasa nyaman jika melihat hujan," jawab Della. Memegang tangan Angga yang ada di bahunya.
Angga berpindah posisi menghadap Della dan berjongkok di depan Della. Mengusap pipi Della dengan lembut. Membuat Della tersenyum.
" Ayo masuk, aku ingin bicara," ucap Angga.
" Jika ingin bicara. Maka bicara di sini saja. Aku masih ingin di sini," sahut Della yang sudah nyaman berada di teras dengan pemandangan yang membuatnya sedikit tenang.
" Tetapi di sini sangat dingin dan sebaiknya kita masuk," ujar Angga. Della menggelengkan kepalanya. Angga tersenyum melihat penolakan Della.
" Angga aku ingin bertanya kepadamu?" ujar Della yang mengalihkan pada hal lain.
" Katakan apa," sahut Angga.
" Kenapa kamu bertahan?" tanya Della.
" Apa maksud kamu?" tanya Angga tidak mengerti dengan kata-kata Della.
" Kita sudah berbulan-bulan di sini. Melakukan pengobatan sana-sini dan tidak ada hasilnya dan kamu masih bertahan di sini bersama ku. Apa yang kamu harapkan Angga dan sampai kapan kamu akan bertahan," ujar Della.
Meski Angga sering mengatakan cinta padanya dan bahkan terus meyakinkan ketulusannya. Della masih saja tetap ragu dan merasa Angga sangat bodoh yang mau bersamanya dalam kondisinya yang lumpuh dan pasti tidak bisa melakukan apa-apa.
" Della. Kenapa kamu membicarakan. Itu dan itu lagi. Apa lagi yang harus aku lakukan, yang harus aku katakan. Agar kamu percaya pada ku. Aku sudah mengatakan tidak ada batasan waktu untuk bertahan. Karena sampai kapanpun aku akan tetap bersamamu," ujar Angga dengan tukus. Dia sangat kecewa dengan keraguan Della.
__ADS_1
" Apa kamu mau bersamaku. Hanya karena merasa bersalah kepadaku. Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu bersama ku. Hanya karena merasa bersalah Angga. Iya kan," ujar Della membuat Angga tidak mengerti kenapa pikiran Della terus aneh-aneh.
" Della!" lirih Angga.
" Apa yang kamu katakan Della. Kenapa kamu masih saja ragu denganku. Aku bahkan memintamu untuk kita menikah. Tapi kau menolaknya dan malah ke mari dan kau masih bisa mengatakan jika aku bersamamu karena merasa bersalah. Della apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kamu," sahut Angga kesal dengan Della.
Dia sangat kecewa dengan wanita itu. Padahal dia sangat tulus kepada Della. Bahkan menghabiskan waktunya bersama Della selama berbulan-bulan.
Berbohong dan meninggalkan keluarganya hanya demi Della. Tetapi Della menanggapinya dengan seperti itu bagaimana dia tidak kecewa.
" Kau ingin menikahiku. Karena aku sudah seperti ini. Tetapi dulu. Kau mengabaikan perasaanku. Kau datang di saat aku sudah ingin menikah. Aku tidak akan seperti ini. Jika kau tidak merusak hubunganku dengan Ramah. Aku tidak akan lumpuh Angga jika kau tidak masuk kembali dalam hidupku dengan sesukamu," ujar Della yang malah menyalahkan Angga dengan kondisinya.
Hal itu Membuat Angga kaget dengan perkataan Della yang bisa-bisa menyalahkannya tanpa memikirkan perasaannya.
" Della," lirih Angga masih tidak percaya dengan perkataan wanita di hadapannya.
" Dan kamu bersamaku saat ini. Karena simpatik. Karena kasiham. Karena aku seperti ini gara-gara kamu yang masuk kedalam kehidupanku kembali, kamu mengacaukan semuanya," ujar Della menegaskan bahwa dia seperti itu karena Angga.
Della menatap Angga. Melihat wajah Angga benar-benar terkejut dengan perkataan itu sampai dia berdiri.
" Kamu menyalahkanku?" tanya Angga.
" Aku seperti ini karena kesalahanmu," tegas Della.
" Della. Aku tidak percaya jika pikiranmu seperti itu," ujar Angga.
" Tapi itu ke kenyataannya," sahut Della.
" Apa yang kamu inginkan Della?" tanya Angga dengan suara berat yang tidak mampu berucap lagi. Bahkan dadanya sangat sesak sekarang.
" Aku ingin kembali ke Indonesia," jawab Della.
Memang itu yang awalanya yang Angga ingin sampaikan. Dia ingin membujuk Della untuk kembali ke Indonesia. Tetapi tidak menyangka tanpa di bujuk Della sudah meminta itu.
Tetapi bukannya bahagia malah Angga seakan sakit dengan kata-kata Della di awal yang menyalahkannya dengan apa yang terjadi pada Della.
" Baiklah! kita akan pulang," sahut Angga menyetujui saja. Karena memang Della harus kembali.
" Tetapi setelah aku kembali ke Indonesia. Setalah kau mengantarku pada orang tuaku. Jangan pernah menemuiku. Aku tidak bisa bersama Pria yang menyebabkanku seperti ini," ujar Della yang memberikan syarat.
Permintaan Della itu membuat Angga terkejut. Bagaimana mungkin dia tidak menemui Della. Dan bahkan alasan yang di berikan Della sangat menyakitinya.
__ADS_1
" Della apa yang kamu katakan?" tanya Angga.
" Aku sudah jelas dengan apa yang aku katakan. Aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak bisa melihat orang yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Ramah dan bahkan membuat aku seperti ini," sahut Della dengan menekan suaranya. Angga mendengus tersenyum.
" Berani sekali kamu menyebut namanya di depanku dan kamu bahkan menyalahkanku. Apa kamu tidak sadar jika dia yang membuatmu seperti ini. Aku jadi tau sekarang. Kenapa kamu melarangku untuk membunuhnya. Karena memang kamu sendiri melindunginya dan masih mencintainya," sahut Angga berbicara dengan tersenyum.
" Iya," jawab Della dengan cepat, " Kamu benar. Aku memang masih mencintainya bahkan aku tidak pernah tidak mencintainya. Dan aku baru menyadari itu. Jika perasaanku kepadanya tidak pernah berubah. Karena hanya dia yang bisa menerima ku apa adanya," jawab Della menegaskan. Membuat Angga mengepal tangannya dan menatap Della tajam.
" Della, kau..." desis Angga yang bisa-bisa terpancing emosi dengan Della.
" Aku rasa semuanya sudah jelas Angga. Kamu juga tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak harus kamu lakukan. Aku dulu memang menyukaimu. Tetapi bertemu Ramah membuatku sadar jika aku tidak pernah mencintaimu,"
" Dan kau masuk kedalam hubungan kami, menguji hubunganku dan dia. Yang aku merasa aku mendapat karma. Karena telah menghiyanatinya,"
" Aku berpikir jika berada di Luar Negri aku akan bisa sembuh pelan-pelan dan kembali padanya. Tetapi ternyata tidak dan aku capek dan lebih baik kembali pulang dan aku ingin bersamanya," ucap Della panjang lebar.
Dengan kata-kata yang membuat Angga terluka. Angga harus mengukir senyum terpaksa di wajahnya ketika mendengar wanita itu berbicara.
" Begitu rupanya. Aku tidak percaya. Jika sahabatku memang sangat bodoh, dulu dia mengejar-ngejar ku dan bertemu laki-laki yang bermain kasar padanya dan dia menerimanya dengan enteng. Ya kau memang sangat bodoh Della," sahut Angga sinis pada Della.
Della menelan salavinanya dengan kata-kata Angga. Della lebih terlihat berusaha untuk tenang dan air mata yang di tahan.
" Asal kau tau apa yang dilakukannya kepada keluargamu," sahut Angga menguatkan volume suaranya.
" Cukup Angga. Jangan bicara lagi. Aku tidak mendengarkan kata-kata mu lagi," sahut Della mengangkat tangannya menyuruh stop.
" Kau benar-benar Della. Aku tidak menyangka jika kau seperti ini," sahut Angga geleng-geleng dengan Della.
" Terserah kamu menganggap apa. Tapi memang perasaanku seperti itu dan memang aku seperti itu," sahut Della dengan santai.
" Baiklah jika itu maumu. Aku akan mengembalikan mu ke asalmu. Jika perlu pada Pria itu. Hiduplah bersamanya," tegas Angga menekan suaranya. Lalu pergi meninggalkan Della.
Kepergian Angga membuat Della membuang napasnya kedepan dan akhirnya air matanya jatuh. Della bahkan menarik tangisannya dengan mengusap dadanya.
" Maafkan aku Angga. Jika aku menyakiti perasaanmu. Kau berhak bersama orang lain. Aku tidak mungkin bersamamu. Aku tidak bisa apa-apa. Bencilah lah Angga dan tinggalkan aku. Kamu tidak bisa mengorbankan hidupmu hanya untukku. Ini adalah cara yang tepat agar kamu benar-benar tidak peduli kepadaku," ucap Della menangis terisak-isak.
Kata-katanya kepada Angga di sadari nya sangat kejam dan pasti siapa yang tidak kecewa dengan kata-kata itu.
Tetapi Della tidak punya pilihan. Dia yang benar-benar putus asa dengan dirinya dan tidak ingin membuat Angga terbebani. Makanya dia harus mengatakan perkataan itu. Agar Angga marah padanya dan perlahan meninggalkannya.
Bersambung.....
__ADS_1