
Mendengar kata Vira hamil membuat mereka benar-benar kaget dan pasti tidak percaya dengan hal itu.
Hamil," pekik Carey.
" Iya Hamil," sahut Dara membenarkan.
Carey langsung menoleh ke arah suaminya dan menatapnya curiga. Dion yang langsung melihat tatapan horor itu langsung Takut dengan mata istrinya yang sepertinya mencurigainya.
" Kenapa kamu melihatku seperti itu. Apa Kamu pikir aku itu perbuatan ku," sahut Dion yang tau jika istrinya sedang mencurigainya.
Carey menggeleng cepat. Padahal memang iya dia seakan sudah punya firasat jika suaminya berhubungan dengan hal itu.
" Jangan mikir yang aneh-aneh aku sama sekali tidak seperti itu," ujar Toby.
" Kamu tau dari mana kalau Vira hamil?" tanya Nayra yang masih schok.
" Aku yang menemaninya Ke Dokter. Jadi tidak sengaja aku ketemu dia sudah pingsan dan di kerumuni para warga. Aku membawanya kerumah sakit dan Dokter bilang dia hamil. Dia sangat terharu sekali. Sampai nangis," jelas Dara yang benar-benar apa adanya.
" Vira Hami. Apa itu berati Vira mengandung anakku," batin Sony yang mengakui tanpa di minta pertanggung jawaban. Karena memang dialah yang mengambil kehormatan Vira dan jika Vira hamil itu pasti anaknya.
" Kok bisa Vira hamil," ujar Nayra dengan polosnya. Sebenarnya pertanyaannya tidak salah. Ya sangat aneh Vira hamil tanpa suami.
" Kamu aneh banget sih Nay. Ya kalau Vira hamil. Ya kan dia sudah menikah," sahut Dara. Yang masih terlihat santai.
" Masalahnya dia tidak punya suami," sahut Raihan dengan cepat.
" Serius?" tanya Dara kaget.
" Iya dia memang belum menikah," sambung Dion yang memang jelas tau.
" Apa dia nangis. Karena itu ya. Jadi dia belum menikah dan hamil tanpa suami," batin Dara.
" Aku duluan!" sahut Sony langsung berdiri, " Aku ada urusan penting. Jadi aku duluan," sahut Sony yang langsung buru-buru pergi.
" Mau kemana dia?" tanya Carey bingung.
" Entahlah. Sekarang kita nggak usah bahas Vira dulu yang hamil atau bagaimana. Sekarang yang terpenting bagaimana kita mengetahui wanita yang bernama Sisil ini. Dion apa yang kamu ketahui tentang mamanya Carey?" tanya Raihan langsung pada intinya. Karena memang Dion lebih tau tentang Vira.
" Aku hanya tau Tante Sisil orang tua Vira satu-satunya. Dia dan Ramah dan Tante Sisil hidup bersama," jawab Dion.
" Ramah, yang ini?" tanya Dara yang juga melihat Foto Ramah berdampingan dengan Vira dan Sisil.
" Hmmmm.. Kamu mengenalnya?" tanya Nayra.
" Ini kan mantannya Della. Ramah yang seharusnya menikah dengan Della," ujar Dara yang juga sudah sempat mengenal calon suaminya Della.
" Ramah mantannya kak Della?" tanya Nayra yang benar-benar tidak percaya. Bukan hanya Nayra. Yang lainnya juga kaget. Karena memang sebelumnya tidak ada yang tau bagaimana suami Della.
Nayra, Raihan, Carey memang belum sempat mengenal calon suaminya temannya itu. Jadi sangat wajar jika mereka kaget dan pikiran mereka semakin bercabang-cabang.
" Aneh sekali. Kenapa semuanya sangat kebetulan," gumam Raka tiba-tiba.
__ADS_1
" Bukan kebetulan. Tetapi di sengaja," sahut Raihan yang langsung menyimpulkan.
" Sebenarnya ada apa sih. Kenapa semuanya sangat membingungkan. Kenapa kalian seakan memojokkan Vira. Memang apa yang di lakukan Vira kepada kali. Aku sangat mengenalnya dan dia wanita yang baik," ujar Dion yang benar-benar tidak mengerti dengan orang-orang yang di sekitarnya.
" Kenapa jadi membela Vira," gumam Carey pelan. Meski pelan tetapi dia bisa mendengar kata-kata istrinya yang terlihat tidak suka.
" Carey. Apa yang aku katakan benar. Vira selama ini aku kenal sangat baik dan tidak ada masalah," ujar Dion yang membenarkan. Carey mengangguk-angguk. Menanggapi biasa saja.
" Sayang. Kayak nya masalah ini akan terpecahkan. Kalau kita tanyakan sama Eyang Farah," sahut Nayra.
" Apa hubungannya?" tanya Raka.
" Amira sempat melihat ada foto wanita yang bernama Sisil itu di rumah Eyang Farah," jawab Nayra.
" Benar! Aku Nayra belum sempat menanyakan hal itu. Karena Eyang sedang berangkat umroh dan memang ini waktu yang tepat untuk menanyakannya dan memastikan semuanya. Karena eyang sudah ada di rumah," ujar Raihan menjelaskan.
" Semuanya memang lebih aneh. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan hal ini. Kita harus segera bergerak. Untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya," ujar Raka yang memiliki firasat buruk.
" Lalu Sony apa urusannya dengan Vira?" tanya Dara tiba-tiba, " soalnya aku baru melihat ada foto Vira di Instagram Sony," ujar Dara.
" Aku menyuruh Sony untuk mendekatinya dan aku tidak tau sejauh apa hubungan mereka," jawab Raihan.
" Oh begitu," sahut Dara menanggapi biasa.
" Ya sudah aku dan Nayra akan mencoba bertanya pada Eyang tentang Sisi dan Aku juga akan menghubungi Della untuk menanyakan masalah Ramah," ujar Raihan memutuskan kesimpulan.
" Memang kak. Della bisa di hubungi?" tanya Nayra.
" Ya sudah kalau begitu. Aku juga kembali dulu. Aku harus lanjut kekantor," ujar Raka langsung berdiri.
" Ya sudah. Kalau begitu. Makasih ya Raka" ujar Raihan.
" Santai aja kak," sahut Raka.
" Aku pergi!" ujar Raka berpamitan dan langsung pergi.
" Ada apa sebenarnya. Apa yang di lakukan Vira sampai mereka terus melakukan semua hal seperti itu," batin Dion yang seperti tidak mengetahui apa-apa.
" Ya sudah kita juga kayaknya harus pulang. Soalnya sudah siang juga," sahut Carey dengan wajah lesunya.
Mendengar Dion yang tampak membahas Vira membuatnya tidak bersemangat.
" Ya sudah, kami juga harus kembali," sahut Dion.
" Iya hati-hati," ujar Nayra.
Dion mengangguk dan langsung untuk pulang kerumah mereka.
**********
Zira berada di kamarnya duduk di pinggir ranjang dengan wajahnya yang murung. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Sampai-sampai dia semurung itu.
__ADS_1
" Kenapa dia bisa-bisa ada di sini," batin Zira yang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba Addrian menghampiri istrinya kekamar. Karena sang istri yang sama sekali tidak di lihatnya.
Saat memasuki kamar. Addrian melihat Zira yang duduk dengan lesu. Bahkan beberapa kali terlihat Zira yang sedang memijat kepalanya.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Addrian yang menghampiri istrinya dan memegang pundak istrinya.
" Sayang ada apa. Kenapa belum siap- siap. Bukannya kita akan pergi ketempat mama?" tanya Addrian yang memang sebelumnya mereka sudah berjanji untuk menemui orangtuanya.
" Kamu sakit?" tanya Addrian lagi. Karena istrinya kunjung tidak menjawab.
" Tidak. Aku hanya kepikiran sesuatu," jawab Zira.
" Ada apa. Apa yang membuat kamu kepikiran. Sampai seperti ini?" tanya Addrian.
" Sayang. Aku bertemu Sisil," jawab Zira yang ternyata menjadi bahan pikirannya mendengar bertemu Sisil membuat Addrian kaget.
" Sisil," pekik Addrian. Zira mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Aku bertemu dengan dia di supermarket dan dia melihatku. Kami saling menatap. Aku melihat tatapannya sangat membenciku," jelas Zira menceritakan kepada suaminya tentang apa yang mengganjal di dalam hatinya.
" Bukannya dia ada di Kalimantan?" ujar Raihan yang tidak percaya dengan kehadiran istrinya.
" Aku tidak tau sayang. Ini sudah puluhan tahun dan dia kembali. Dia juga melihatku. Seperti sangat tidak menyukai. Aku yakin. Dia sangat membenciku. Aku punya firasat yang tidak enak. Aku takut sesuatu terjadi pada keluarga kita," ujar Zira yang memang memiliki perasaan buruk.
Sangat wajar seorang ibu harus berpikiran seperti itu. Karena feeling seorang ibu sangat kuat. Pertemuannya dengan Sisil membuat perasaannya benar-benar bergejolak.
" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zira pada suaminya.
" Apa maksud kamu. Memang kita harus melakukan apa?" tanya Addrian yang tidak mengerti maksud istrinya.
..." Zira kau akan mendapatkan balasannya. Hidupmu dan teman-temanmu. Tidak akan bahagia. Jika aku tidak menghancurkan kalian. Maka keturunan kalian akan saling menghancurkan,"...
Lintasan ingatan yang menakutkan muncul di pikiran Zira. Bertemu Sisil harus membuat ingatannya kembali muncul. Ingatan yang menakutkan. Ancaman dari Sisil. Seakan menggbarkan kata untuk balas dendam.
" Sayang apa yang kamu pikirkan. Mau Sisil ada dan tidak ada. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Dia tidak akan melakukan apa-apa kepada keluarga kita," jelas Addrian yang meyakinkan istrinya.
" Tetapi firasatku tidak enak. Aku memikirkan sesuatu yang ganjal. Aku takut terjadi sesuatu. Bukan aku atau kamu. Tapi anak kita. Aku takut sayang," ujar Zira yang benar-benar tidak tenang.
" Kita meminjamkannya. Dan keluarga kamu. 1 pun tidak ada mempedulikannya. Apa kamu pikir dia akan menerima semuanya. Sayang sedangkan keluarga kamu memberi dia kehidupan mewah selama di Luar Negri. Dia merasa terbuang. Apa lagi ini. Dia di penjara dan bahkan tidak tau apa yang terjadi dengannya," jelas Zira.
" Aku mengerti perasaan kamu. Tapi kamu tidak boleh berpikir terlalu jauh. Kita harus berfikir positif. Sayang sudah ya. Kalau kamu memikirkan ini terus kamu bisa sakit. Jangan memikirkan hal lain ya," ucap Addrian mencoba menenangkan istrinya.
" Ya sudah, sekarang kamu siap-siap. Kita ketempat mama. Bukannya kamu.sudah janji sama mama untuk datang," ujar Raihan mengingatkan istrinya.
" Iya. Ya sudah aku siap-siap dulu," ujar Zira walau tidak tenang. Tetapi dia mencoba berpikir yang positif dan semoga tidak terjadi apa-apa seperti kata suaminya.
Walau feeling nya sangat kuat. Apa lagi Sisil yang menatapnya dengan tatapan yang ingin menerkam siapa yang tidak takut. Sisil memang sengaja ingin menakut-nakuti. Makanya Zira sampai ketakutan.
Tetapi apapun itu dia hanya mencoba lebih hati-hati. Dia hanya takut anak-anak, menantunya dan cucunya yang kenapa-napa. Karena ulah Sisil.
__ADS_1
Bersambung....