
Malam sudah tiba. Nayra sudah tertidur lelap di dalam pesawat. Kepalanya di senderkannya di jendela pesawat.
Raihan hanya melihat terus ke arah Nayra yang tertidur lelap. Terukir senyum di wajah Raihan. Raihan membuka jasnya dan menutupkannya pada Nayra. Yang bisa di lihatnya Nayra sangat ke dinginan.
Raihan juga membawa Nayra kedalam pelukannya. Tanpa Nayra sadari dia sudah di pelukan Raihan. Raihan mencium pucuk kepala Nayra yang sudah berada di bawah dagunya.
" Aku tidak akan pernah melepaskanmu Nara," ujarnya dengan yakin. Raihan semakin mempererat pelukannya dan memejamkan matanya.
**********
Raina harus kekantor hari ini. Karena kakanya yang sibuk mengejar cinta sejati. Raina berjalan dengan wibawanya. Beberapa karyawan Adverb yang berpapasan dengan nya menundukkan kepala memberi sapaan.
Raina yang memang memiliki sifat ramah tidak akan pelit untuk mengeluarkan senyum. Nayra akan membalas sapaan para karyawannya. Siapa pun itu tanpa melihat statusnya.
" Astaga aku sampai lupa, laporan kemarin masih ada sama Raka, sebaiknya aku minta ke Raka dulu," gumamnya mengingat sesuatu. Raina langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Raka.
Saat tiba di depan ruangan Raka. Pintu ruangan itu terbuka. Raina pun memilih masuk dan melihat Raka berdiri membelakinginya sambil menelpon.
Raina yang tidak ingin mengganggu Raka menelpon. Hanya masuk saja tanpa mengeluarkan suara dan menunggu Raka selesa menelpon.
Raina yang berdiri di samping meja Raka. Tidak sengaja matanya melihat beberapa foto di atas meja Raka. Raina menatap heran pada foto-foto yang di kenalnya itu.
Raina pun semakin mendekatkan dirinya pada meja itu. Agar bisa melihat foto-foto itu. Raina terkejut melihat foto-foto yang ternyata kebanyakan foto Nayra ada juga beberapa foto Nayra dan Raihan. Bahkan foto Raihan yang bersama Nayra di Turki.
Raina mengambil 1 foto Nayra yang memakai seragam SMP dan mengambil satu lagi saat Nayra memakai seragam SD. Raina membandingkan foto itu.
Raina heran mengapa semua itu ada pada Raka. Raina pun melihat data yang tidak sengaja terbuka. Pendaftaran sekolah dasar yang atas nama Nayra Ariani Putri.
Raina membaca sampai ke bawah dan betapa terkejutnya Raina. Sangking terkejutnya Raina sampai menutup mulutnya dengan 1 tangannya.
Saat melihat orang yang menjadi wakil Nayra adalah Zira Aqella mamanya sendiri. Bahkan semua biaya juga atas nama mamanya.
" Baik Bu Zira saya akan memberi tau jika ada kabar lagi tentang Bu Nayra. Saya akan mengirim beberapa informasi yang saya dapatkan kemarin," ujar Raka mengakhiri sambungan telponnya.
__ADS_1
Raina mendengar mama mamanya di sebutkan semakin terkejut. Orang yang di hubungi Tomy adalah mamanya yang memberi informasi pada Zira.
Raka yang selesai menelpon membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Raka melihat Nayra yang berdiri dan menatapnya tajam.
" Bu Raina," ujar Raka melirik foto-foto yang berserakan di mejanya. Raka yang panik langsung mendekati mejanya dan dengan buru-buru menyusun foto-foto itu.
" Saya sudah melihatnya," ujar Raina dengan dingin. Raka hanya melirik kebelakang sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Sejak kapan kamu menjadi mata-mata mama?" tanya Raina sinis langsung menghadap Raka. Yang sekarang Raka juga menghadapnya. Tetapi Raka menunduk.
" Maaf Bu, tetapi semua itu privasi yang harus saya jaga," jawab Raka.
" Jadi benar dugaanku. Sebelum Raihan kenal dengan Nayra. Mama sudah lebih tau duluan dan bahkan mengawasi Nayra," ujar Raina. Raka hanya diam tanpa menjawab.
" Kenapa mama menyuruh kamu terus mengawasi Nayra, apa yang kamu ketahui tentang Nayra," tanya Raina dengan wajah geramnya. Raihan hanya diam seakan tidak punya kewajiban untuk memberi jawaban.
" Sebenarnya kamu bekerja di Adverb atau menjadi detektif," ujar Raina lagi yang tidak juga mendapat jawab apa-apa dari Raka.
" Raka saya sedang bicara dengan kamu," bentak Raina. Dia hilang kesabaran melihat Raka yang mengabaikannya.
" Tugas, tugas apa, tugas dari mama, tugas dari saya, tugas dari kak Raihan. Yang mana yang kamu yang kerjakan. Oh atau gini, setiap apa yang di katakan Raihan yang di perintahkan Raihan ke kamu. Kamu akan lapor pada mama. Seakan-akan kak Raihan menganggap kamu kepercayaannya. Tapi ternyata kamu hanya bekerja pada mama. Atau jangan-jangan kamu juga melakukan itu kepada saya," ujar Nayra dengan nada marah-marah.
" Katakan Raka, sejak kapan kamu mengawasi Nayra?" tanya Raina menekan suaranya.
" Maaf Bu saya tidak menjawab pertanyaan Ibu" jawab Raka yang menunduk.
" Wouuuuu, hebat sekali kamu. Sangat taat kamu pada mama ya, kamu bekerja di Adverb hanya sebagai sampingan saja iya," ujar Raina dengan sinis.
" Ok baiklah, lakukan sesuka kamu. Lakukan semua yang mama suruh ke kamu. Kamu dengar ya Raka jika kak Raihan tau. Kamu terus mengawasi Nayra, saya rasa kamu sudah tau akibatnya," ujar Raina dengan nada mengancam.
" Bukan begitu Bu Raina," sahut Raka yang juga merasa tidak enak.
" Stop, saya sangat kecewa sama kamu. Seharusnya kamu juga bisa menjaga privasi Raihan dan Nayra," ujar Raina dengan kesal.
__ADS_1
" Kamu dengar ya Raka. Jika kamu tidak memberi tau saya tentang semuanya. Saya yang akan mencari tau sendiri semua yang kamu kerjakan," lanjut Raina lagi. Raka hanya menelan salavinanya.
Raina yang terbalut kemarahan menghembuskan napasnya kedepan.
" Mana laporan yang saya suruh kamu selesaikan!" ujar Raina mengadahkan tangannya. Raka langsung bergerak dan memberinya pada Raina. Raina mengambilnya dengan kasar dari tangan Raka.
" Ini terakhir kalinya kamu mendapat perintah dari saya. Kamu jalankan saja perintah mama saya. Saya pecat kamu," ujar Raina dengan berat hati. Raka langsung melihat ke arah Raina.
" Tetapi pecatan saya tidak berarti bukan. Karena mama yang menentukan. Lanjutkan saja semua pekerjaan kamu menjadi detektif untuk mama, bukan untuk saya. Saya tidak suka memperkerjakan orang yang tidak bisa menjaga privasi atasannya," ujar Raina sinis dan keluar dari ruangan itu.
" Perintah terakhir saya!" sahut Raina menghentikan langkahnya, " Serahkan semua pekerjaan yang kamu pegang pada Anita. Biar kamu bisa fokus pada tugas dari mama," ujar Raina. Raka hanya bisa diam tanpa bicara apa-apa.
" Itu berarti kamu tidak perlu melakukan setiap hari rutinitas kamu belakangan ini. Termasuk menjemput Amira. Karena Amira anak saya. Awas ya kamu. Kalau sampai kamu menjemput Amira meski itu perintah mama. Kamu tau sendiri akibatnya," ujar Raina lagi penuh penekanan dan penegasan.
Raina melanjutkan langkahnya ke luar dari ruangan Raka. Dia sangat kecewa pada Raka yang selama ini di percayainya ternyata menjadi mata-mata untuk mamanya.
Belum tentu juga Raka tidak melapor apa-apa yang di kerjakannya.
Kepergian Raina membuat Raka menghela napas panjang. Raka mengusap wajahnya dan memijat kepalanya. Dia bisa melihat kemarahan Raina kepadanya.
Dia sangat sedih dengan tindakan Raina yang tidak melibatkannya dalam urusan Raina. Apa lagi soal Amira. Entah mengapa Raka merasa sangat sedih mendengar Raina melarangnya menjemput Amira.
Belakangan ini dia memang sangat dekat dengan anak dari atasannya itu. Dan dia sangat nyaman dengannya. Walau Amira anak yang sangat modian.
************
Raina duduk di ruang kerja Raihan. Memijat kepalanya. Dia sebenarnya menyesal dengan apa yang di katakannya barusan kepada Raka. Memang masalah itu tidak seharusnya salah Raka. Raka memang bekerja untuk keluarganya dari dulu.
" Seharusnya dia bisa menjaga privasi Raihan, bukan main lapor sana sini," oceh Raina yang kecewa dengan Raka.
" Aku yakin pasti ini ada yang tidak beres. Mama mengenal Nayra sebelum Raihan. Bahkan mama mengawasi Nayra. Mama juga terlibat dalam perwakilan sekolah Nayra. apa mama sedekat itu dengan orang tua Nayra. Mama selalu mengawasinya dari dia kecil sampai detik ini. Jika mama peduli dengan Nayra. Karena dulu Raihan memiliki hubungan dengan Nayra. Tetapi mengapa mama malah membuat mereka putus. Bukankah itu sama saja mama tidak menyukai hubungan mereka. Jika mama tidak menyukainya, kenapa? mama malah seakan membuat Nayra dekat Raihan," Raina terus bergerutu bingung dengan teka-teki mamanya.
" Mama bahkan yang membiayai sekolah Nayra, dari dia kecil bahkan S2 nya mama yang menentukannya. Ada apa sebenarnya ini. Mengapa mama begitu peduli dengan Nayra. Tetapi seperti tidak ingin hubungan Raihan dan Nayra dekat, aku harus mencari tau sendiri," ujarnya meyakini bergerak dari tempat duduknya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹