
Tin-nong, Tingnong, Tingnong.
Suara bel rumah berbunyi, Nayra yang ingin kedapur lalu mendengar bel itu.
" Biar saya aja yang buka," ujar Nayra mencegah asisten rumah tangganya yang ingin membuka pintu.
" Baik Bu," jawab Asisten rumah tangga langsung pergi.
Nayra pun membuka pintu, wajah Nayra langsung berubah sentimental ketika melihat orang yang memencet bel rumahnya yang ternyata adalah Vira.
" Vira," ujar Nayra dengan suara dingin.
Vira tersenyum lebar dengan boucket yang di bawanya dan beberapa paper Bag yang menggantung di tangannya.
" Pagi Nayra," sapanya dengan senyumnya, membuat Nayra kesal.
" Ngapain kamu kemari?" tanya Nayra kesal.
" Kamu tidak menyuruh saudaramu masuk dulu, heels ku terlalu tinggi, jadi sangat pegal jika berdiri lama-lama," ujar Vira.
Nayra membuang napasnya perlahan dan bergeser dari depan pintu membuka jalan untuk Vira.
Tanpa di suruh masuk Vira masuk dengan langkah yang di buat-buat, Nayra hanya geleng-geleng melihat kelakuan anak angkat dari papanya itu.
Nayra yang tidak ambil pusing menutup pintu. Vira juga langsung duduk di ruang tamu tanpa di suruh.
" Apa di rumahmu, tamu yang datang tidak di tawarkan minum," ujar Vira dengan tersenyum menjijikkan yang banyak maunya.
" Katakan ada apa kamu kemari, jangan banyak tingkah?" tanya Nayra semakin kesal berdiri di depan Vira dengan ke-2 tangannya di dadanya.
" Raihan mana?" tanya Vira membuat Nayra mendengus. Benar-benar geram dengan Vira. bisa-bisanya Vira malah menanyakan suaminya.
" Apa cara bertamu mu seperti itu, selalu menanyakan keberadaan suami orang," sahut Nayra sinis.
" Kau selalu salah paham kepadaku. Apa salahnya menanyakan saudara ipar. Lagian Aku datang kemari hanya untuk membawakan apa yang di suruh papa," ujar Vira.
" Apa maksud kamu?" tanya Nayra.
__ADS_1
" Ini papa memberiku bunga untuk Raihan, dia bilang untuk terima kasih, karena sudah menjenguknya," ujar Vira meletakkan bunga yang sedari tadi di pegangnya di atas meja. Nayra hanya geram dan tidak percaya dengan Vira yang membawa nama papanya untuk menemui suaminya.
" Tolong berikan pada Raihan, jangan di buang sama saja papa akan tersinggung," ujarnya mengingatkan.
" Juga ini beberapa makanan yang di kirim papa untuk mu dan Raihan," lanjut Vira mengeluarkan beberapa kotak makanan dari paper bag.
Nayra masih tetap berdiri menonton tingkah Vira yang semakin membuatnya emosi.
" Oh iya Nayra ini bagus untuk kamu," ujar Vira menunjukkan 1 kotak makanan sambil melihat Nayra penuh senyuman palsu.
" Ini makanan rekomendasi dari Dokter. Dokter bilang ini akan menyuburkan wanita dan bisa membuat wanita cepat hamil. Cocok kan untuk kamu," lanjut Vira penuh sindiran.
Kata-kata pedas Vira membuat napas Nayra sesak. Sangat berani Vira mengatakan hal itu yang benar-benar membuat Nayra kesal dengan Vira yang bicara menyakiti hatinya.
" Jika sudah selesai pergilah, tugasku bukan cuma menerima tamu saja," ujar Nayra geram.
dengan Vira. Vira tersenyum dan langsung berdiri.
" Baiklah aku memang hanya sebentar saja," sahut Vira yang sudah berdiri di depan.
" Kamu benar, tugas seorang istri bukan hanya menerima tamu. Tetapi juga memberi suami kebahagian. Dan kebahagian suami cuma 1 bisa mendapat anak dari istrinya," ujar Vira berbicara pelan penuh sindiran membuat dada Nayra semakin sesak, seakan tidak bisa bernapas.
Sampai mata Nayra bergenang. Nayra bahkan mengepal tangannya. Kata-kata Vira benar-benar menyakitkan untuknya. Pertama kali ada yang menyadarkannya dalam hal itu. Menyadarkannya jika dia bukan wanita sempurna.
" Ya sudah aku pergi dulu, salam ya buat Raihan, dan jangan terlalu mengurungnya, kasian dia, pria seperti Raihan butuh hiburan, aku pergi ya semangat terus," ujar Vira pamit menepuk bahu Vira dengan senyum kemenangan.
Kepergian Vira membuat Nayra terduduk lemas. Nayra baru bisa bernapas walau napasnya masih naik turun, seperti habis melakukan sesuatu yang sangat lelah.
Nayra mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan air matanya akhirnya jatuh melihat semua pemberian Vira yang berada di atas meja.
" Keterlaluan kamu Vira," lirihnya yang kesulitan berbicara dengan.
***********
Dion berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan Florist Carey. Sedari tadi jarinya mengetuk-ngetuk stir mobil matanya terus memandang ke arah depan.
" Masa iya aku membawanya kerumah," batin Dion yang melihat Carey melayani pembeli dengan sopan.
__ADS_1
" Bagaimana jika mama justru menyalahkanku, dalam hal itu. Dia kan sangat pintar berbicara," Dion terus bergerutu kebingungan.
Dion pun akhirnya keluar dari mobilnya, setelah lama berpikir, dengan percaya diri dan keyakinan penuh Dion memasuki florist tersebut. Dan Carey yang berbicara pada pelanggan melihat kedatangan Dion.
" Apa dia akan marah-marah lagi," batin Carey melihat kedatangan Dion. Carey pun langsung menghampiri Dion setelah berpamitan pada pelanggannya.
" Maaf tuan, apa tuan akan membahas hal itu lagi?" tanya Carey yang sudah berdiri di depan Dion.
" Iya aku akan tetap minta pertanggung jawaban kalian," tegas Dion dengan sikap Arrogant nya.
" Baik tuan, tetapi kami mohon kasih kami kemudahan agar masalah ini cepat selesai," sahut Carey dengan sopan.
" Ikut denganku," Dion langsung menarik lengan Carey membuat Carey kaget dan spontan melepas tangannya dari Dion.
" Maaf tuan, jangan berprilaku seperti itu, saya seorang wanita, jadi tolong tangannya di jaga," ujar Carey dengan tegas. Hal itu membuat Dion mendengus.
" Ha, apa katamu," pekik Dion berkacak pinggang.
" Wanita ini benar-benar mempermalukan ku. Tidak ini bukan waktunya untuk hal itu, aku harus membawanya pada mama, agar masalahnya selesai," batin Dion
" Kau harus mempertanggung jawabkan kesalahan mu pada mamaku dan jika ingin minta maaf atau ingin mengatakan hal yang kau katakan kemarin dengan penuh sandiwaramu katakan di depan mamaku," jelas Dion.
" Apa itu harus?" tanya Carey menurutnya berlebihan.
" Kau tidak mau mempertanggung jawabkan kesalahanmu, atau kau ingin lari dari tanggung jawabmu," ujar Dion sinis.
" Bukan begitu maksud saya," sahut Carey.
" Iya sebaiknya aku ikut saja. Biar masalah ini cepat clear, lagi pula apapun itu dalam hal ini ibunya yang kecewa," batin Carey.
" Aku tidak punya waktu melihatmu diam di sini," ujar Dion dengan tegas
" Hmmm, baiklah saya akan ikut dengan Tuan," jawab Carey. Dion bernapas lega.
" Aku tunggu di mobilku," ujar Dion berbalik badan dan pergi terlebih dahulu ke mobilnya.
Carey mengambil tasnya, berpamitan pada karyawannya dan akhirnya menyusul Dion dengan penuh ketenangan padahal. Carey sangat takut.
__ADS_1
Bersambung.