
Addrian, Ilham, Tomy dan Roni sedang bersiap-siap untuk menyusul Raihan dan yang lainnya yang kemungkinan menurut Dara lokasi itu masih saja ada.
Mereka juga tadi sudah mendengarkan pengakuan dari Della. Kenapa bisa dia sampai seperti itu. Della juga menjelaskan jika dia yang memaksa Angga untuk pergi bersamanya. Agar Angga tidak di salahkan karena menutupi hal sebesar itu.
Penjelasan Della dengan tindakan Della memang membuat mereka kecewa. Tapi mereka pun mengerti dan akhirnya menganggap masalah itu benar-benar selesai.
Mereka juga kembali membahas masalah penyelamatan para tahanan. Setelah berdiskusi kembali. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul dan juga akhirnya melapor pada polisi. Tanpa peduli ancaman Sisil.
" Kalau begitu kami pergi dulu kalian tetap waspada di sini," ujar Ilham yang berpamitan.
" Iya mas, kamu hati-hati, bawa yang lainnya pulang," sahut Kayla. Ilham mengangguk memang tujuannya untuk pergi untuk membawa para tahanan kembali.
" Nayra ikut," sahut Nayra tiba-tiba yang ingin ikut menyusul suaminya. Mendengar hal itu membuat semuanya kaget.
" Nayra dengarkan papa. Kamu tidak boleh ikut. Jika kamu ikut kami akan kesulitan membawa suami kamu untuk kembali. Kamu di sini bersama yang lainnya," ujar Addrian dengan penuh penegasan dan penekanan memperingatkan menantunya.
" Tapi pa, Nayra ingin melihat Raihan,"sahut Nayra yang pasti akan membantah apa yang di katakan kepadanya.
" Sayang sudah ya. Jangan membantah. papa kamu hanya pergi sebentar. Lagi pula ini bukan hal spele. Kamu tetap di sini ya," ujar Zira mengusap pundak Nayra yang sedari tadi menangis. Dia tau apa yang di rasakan Nayra. Tetapi dengan membiarkan Nayra pergi. Itu sama saja. Malah situasi akan semakin rumit.
" Iya Nayra. Kita tunggu di rumah saja. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah," sabung Jihan.
" Lagi pula. Polisi juga sudah menuju lokasi. Jadi kamu jangan khawatir. Raihan dan yang lainnya akan kembali. Nayra Tante juga khawatir seperti kamu. Anak Tante juga ada di sana. Tetapi Tante hanya bisa berdoa dan mempercayakan semuanya kepada sang kuasa," sahut Saski berbicara dengan bijak.
" Tinggal ya sayang," ujar Zira membujuk menantunya itu. Nayra dengan berat hati mengangguk. Dia pun akhirnya setuju untuk tinggal walau rasanya sangat berat. Tetapi dia harus mempercayai mertuanya. Lagian polisi juga sudah membantu.
" Baiklah kalau begitu. Kalian baik-baik di sini. Kami pergi dulu," ujar Addrian berpamitan.
Addrian memeluk Zira sebelum pergi. Mencium kening Zira.
" Bawa anak kita kembali," ujar Zira. Addrian mengangguk.
" Kamu juga jaga anak, menantu kita, dan juga cucu-cucu kita," ujar Addrian. Zira mengangguk. Tomy juga berpamitan pada istrinya dan juga pada Della.
" Papa hati-hati, bawa Luci dan Celine pulang," ujar Della yang sangat khawatir dengan ke-2 adiknya.
" Iya sayang, kamu jaga mama di sini ya," sahut Tomy. Della mengangguk.
Rony dan Ilham juga berpamitan pada istri masing-masing. Memeluk istri masing-masing dan istri mereka juga memberi pesan untuk hati-hati.
__ADS_1
" Aku ikut," ujar Angga tiba-tiba yang juga ingin ikut. Mendengar Angga ingin ikut membuat Della kaget dan bahkan panik.
" Tidak usah, kamu jaga mama kamu saja," sahut Ilham yang langsung tidak setuju.
" Tidak Pa, aku harus ikut, aku tidak mungkin membiarkan papa pergi sendiri," sahut Angga yang kekeh untuk ikut.
" Angga, kita di sini saja. Kamu juga baru pulang, jadi jangan ikut-ikutan," sahut Kayla yang bisa steres jika Angga juga harus ikut.
" Tidak ma, Angga harus membantu papa. Mama jangan khawatir Angga bisa jaga diri," ujar Angga sahut Angga yang tetap kekeh untuk ikut.
" Ya sudah ayo. Jika mau ikut jangan membuang waktu," sahut Roni yang setuju. Angga mengangguk dan memeluk mamanya.
" Angga pergi dulu!" ujar Angga pamit pada mamanya. Kayla hanya mengangguk dengan berat hati. Mata Angga juga mengarah pada Della.
Jika hubungannya baik mungkin Angga akan berpamitan pada Della. Tetapi tidak dan Angga pun harus pergi tanpa bicara sepatah katapun dengan Della.
" Angga, kenapa kamu harus pergi. Aku takut Angga terjadi sesuatu pada kamu. Apa kamu tidak bisa di sini saja," batin Della dengan matanya yang bergenang melihat punggung Angga yang semakin lama semakin jauh.
" Semoga saja Dion dan yang lainnya cepat di temukan," batin Carey yang terus mencemaskan suaminya.
" Raihan kamu harus menepati janji kamu. Aku benar-benar akan membencimu. Jika kamu tidak kembali. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Aku tidak mau Raihan jika kamu tidak kembali. Aku dan anak kita tidak akan bisa menjalani semua itu," batin Nayra yang terus mempunya Firasat buruk pada suaminya.
" Aku berharap semuanya benar-benar baik-baik saja. Dendam Sisil akan berakhir," batin Zira yang juga merasa tidak tenang.
**********
Raihan, Raka, Dion, Sony, Alex, Andini, Luci, Celine terus berlari melewati lorong-lorong yang jalannya di tuntun Vira. Sementara Ramah berada paling belakang untuk mengawasi orang-orang yang akan di bawanya pergi.
Lorong-lorong itu sangat gelap dan bahkan banyak air-air yang juga mereka lewati. Tempatnya sangat menyeramkan dan lebih cocok untuk syuting film horor.
" Kemana kita selanjutnya?" tanya Dion yang tidak tau kemana tujuan Vira membawa mereka.
" Sebentar lagi kita akan sampai. Ada pintu keluar yang langsung menuju hutan. Itu jalan keluar satu-satunya," jawab Vira yang berjalan sambil berlari. Sementara Sony terus melihati Vira.
" Apa benar Vira hamil," batin Sony yang memang belum mendapatkan jawaban itu dari Vira dan dia sangat ingin tau kebenaran itu.
" Apa masih lama?" tanya Andini yang merasa pengap dan bahkan sudah lelah sedari tadi berlari tetapi tidak menemukan jalan keluar.
" Benar, aku sangat haus," sahut Luci sudah mulai mengeluh.
__ADS_1
" Tidak sebentar lagi, kalian sabar saja," sahut Vira.
" Ayo kita lewat sana," tunjuk Vira yang menuruni anak tangga. Vira juga menyenter sebelumnya dan tempatnya aman.
" Turunlah! terlebih dahulu aku akan menyeter dari sini," ujar Vira.
" Ayo cepat Andini," ujar Raihan yang turun pertama dan memegang tangan Andini.
" Hati-hati tangganya agak licin," ujar Vira memperingati.
Dengan hati-hati mereka pun turun dan tiba-tiba banyak asap diruangan itu membuat kepala mereka berkeliling kebingungan dengan asap yang datang tiba-tiba.
" Dari mana asap ini," ujar Celine yang sudah mengipas-ngipas wajahnya. Karena bau asap di ruangan itu.
" Apa gedung ini sudah terbakar," sahut Ramah yang menebak-nebak. Tebakan Ramah membuat mereka kaget dan bertambah panik.
" Gawat. Jika itu sampai terjadi," sahut Raka yang kepanikan.
" Kita bisa benar-benar akan terpanggang di sini," sambung Alex lagi.
" Bagaimana ini. Apa kita benar-benar akan mati di sini," sahut Andini yabg sudah di bawah bersama Raihan yang mulai panik.
" Vira apa jalan keluarnya masih jauh? tanya Raihan.
" Tidak sebentar lagi. Setelah turun kita akan langsung menemukannya. Maka kita harus cepat. Sebelum gedung ini benar-benar akan terbakar," jawab Vira yang juga ikutan panik.
" Ya sudah, jadi kalian ngapain masih berunding di sana, cepat turun," sahut Raihan.
Dengan memburu merekapun menuruni tangannya yang kecil. Walau buru-buru tetapi tetap hati-hati karena tangganya yang licin.
Celine, Luci, Raka Raihan, Andini dan Alex sudah ada di bawah. Dan sekarang Vira yang bergilir untuk turun. Karena buru-buru Vira hampir tergelincir dan untungnya Sony menahan tangannya dan membuat ke-2 nya saling menatap.
" Buruan!" gertak Ramah dari atas. Vira langsung melepas tangannya dan langsung turun yang juga di susul yang lainnya sehingga mereka sudah turun semu. Asap semakin banyak dan mereka kembali berlari dengan mengipas-ngipas wajah mereka.
" Itu pintunya," ujar Vira yang menunjuk dengan senternya yang sudah melihat pintu itu. Andini, Luci, dan Celine saling melihat dengan tersenyum. Berarti ada harapan mereka akan selamat.
" Ayo cepat!" ujar Vira. yang lainnya mengangguk dan mengikuti Vira sampai akhirnya mereka sudah berada di depan pintu tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1