Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 192


__ADS_3

" Ya sudah sana kamu tidur!" suruh Raka.


" Ishhhh, setelah menciumku sekarang malah menyuruhku tidur dasar," desis Raina kesal. Membuat Raka tersenyum lebar.


" Lalu aku harus apa lagi, apa aku harus menciummu lagi," goda Raka.


" Nggak usah," ujar Raina kesal.


" Ya sudah kamu juga tidur," ujar Raina dan langsung berdiri dan pergi meninggalkan Raka.


" Selamat malam," ujar Raka, Raina hanya menengok ke belakang tanpa menjawab pertanyaan Raka.


Raka geleng-geleng melihatnya. Lalu iya pun langsung merebahkan dirinya di sofa. Mulai tidur dengan selimut yang di berikan calon istrinya.


***********


Nayra sedang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan menyusul suaminya yang menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Nayra memasuki selimut.


Raihan melentangkan tangannya agar istrinya menjadikan lengannya sebagai bantal. Nayra tersenyum dan memeluk Raihan.


" Sayang," tegur Nayra.


" Iya kenapa?" tanya Raka.


" Tadi Luci, menghampiriku dan meminta maaf padaku," jawab Nayra sambil memutar-mutar jarinya di dada Raihan.


" Baguslah, lalu kamu bagaimana?" tanya Raihan.


" Aku merasa dia tidak pernah salah apa-apa, karena dia meminta maaf ya jadi aku harus memaafkannya," jawab Nayra.


" Memang harus itu yang harus di lakukan Istriku," ujar Raihan mencium pucuk kepala Nayra.


" Aku juga mengucapkan terima kasih kepadanya, karena sudah menyelamatkanku," ujar Nayra lagi.


" Syukurlah kalau begitu, pelan-pelan kamu juga semakin bisa berbaur dengan semua teman-teman ku," ujar Raihan. Nayra tersenyum.


" Iya aku akan memulai berbaur dengan mereka, karena teman kamu, juga adalah temanku," ujar Nayra.


" Kamu juga harus maklumi, terkadang mereka itu ada sedikit sesuatu yang aneh," sahut Raihan.


" Tapi yang paling aneh itu kamu," celetuk Nayra.


" Aneh-aneh kamu sukakan," goda Raihan.


" Nggak ada pilihan," jawab Nayra.


" Kamu ini," desis Raihan kesal. Nayra tertawa.

__ADS_1


" Nara," tegur Raihan.


" Hmmmm," jawab Nayra.


" Kamu belum selesai?" tanya Raihan. Membuat Nayra bingung, mengangkat kepalanya melihat ke arah Raihan.


" Selesai dalam hal apa?" tanya Nayra bingung. Membuat Raihan memejamkan matanya dan membuka kembali.


" Ya itu, tamu yang jadi penghalang untukku," jawab Raihan.


" Ohhh itu," sahut Nayra, Raihan mengangguk.


" Belum baru juga 3 hari," jawab Nayra dengan santai membuat Raihan lesu.


" Nara, 3 hari itu bagaikan 3 ribu tahun untukku," ujar Raihan dengan kesal. Membuat Nayra tersenyum lebar.


" Alay," celutuk Nayra.


" Aku serius, malah di bilang alay, padahal momennya tepat banget, cuaca seperti ini sangat mendukung untuk melakukan itu, sampai besok pagi pun belum puas," ujar Raihan dengan fantasi liarnya membuat Nayra geram.


" Itu maunya kamu, sudah lah jangan memikirkan hal-hal yang tidak-tidak, tidak baik jika harus membahas masalah itu," ujar Nayra malas jika membahas hal itu.


" Hey, kita itu suami istri masala ranjang seperti itu bagus untuk di bahas, apa lagi kita baru melakukannya sekali. Kita juga belum bulan madu," ujar Raihan yang malah mengingatkan masalah bulan madu.


" Aku nggak mau dengar," sahut Nayra menutup telinga.


" Kapan aku seperti itu?" ujar Nayra dengan kesal.


" Pakai lupa ingatan lagi," sahut Raihan tertawa kecil, " kamu lupa, kalau kamu yang terus menggodaku dan kamu juga yang menganggangguku tidur, ayo lupa?" ujar Raihan yang mengingatkan Nayra hal itu jelas membuat Nayra semakin kesal.


" Aku ingatkan ya, sewaktu di rumah kaca, siapa yang membelai-belaiku pakai bunga liliy sampai aku terbangun, hah!" lanjut Raihan terus merocos mengingat kejadian malam pertama mereka.


" Ihhh, kamu sih," sahut Nayra kesal dan langsung membalikkan badannya memunggungi Raihan. Raihan tersenyum mendengar ocehan Nayra kesal.


Raihan langsung memeluknya dari belakang dengan erat. Tetapi Nayra langsung Menyinggirkan tangan Raihan terlanjur kesal dengan Raihan. Tetapi Raihan tidak akan mengalah dan memeluk Nayra lebih erat lagi.


" Kamu marah?" tanya Raihan. Nayra diam saja dan terus menghindar untuk tidak di peluk.


" Sayang maaf," ujar Raihan dengan lembut menempelkan pipinya di pipi Nayra.


" Kamu jahat, aku sudah mengatakan jangan mengingat hal itu," ujar Nayra dengan suara kesal.


" Iya sayang maaf," ujar Raihan, " aku tidak mungkin melupakan hal yang pertama kita lakukan, itu adalah kenangan yang paling indah dan tidak mungkin aku lupakan," ujar Raihan lagi.


" Tapi tidak perlu mengejekku," ujar Nayra.


" Tidak ada yang mengejek, kamu hanya salah paham, aku tidak bermaksud saayang," ujar Raihan menjelaskan.

__ADS_1


" Tadi apa," sahut Nayra.


" Bercanda," ujar Raihan.


" Sama aja, kamu selalu seperti itu," ujar Nayra kesal.


" Ya sudah aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi," ujar Raihan merasa bersalah.


" Maaf kan aku ya," ujar Raihan yang mencium pipi Nayra. Raihan yang tidak mendapat respon membalikkan tubuh istrinya dan meraihnya ke dalam pelukannya.


" Aku tidak ingin kamu tidur tidak memelukku," ujar Raihan mempererat pelukannya.


" Kamu sih, menyebalkan," sahut Nayra yang masih kesal.


" Iya aku tau, makanya maaf, aku di maafkan?" tanya Raihan menunggu jawaban sangat lama Nayra baru mengangguk.


" Terima kasih sayang," sahut Raihan semakin mempererat pelukannya.


Akhirnya merekapun perlahan memejamkan mata. Walau jauh dari khayalan Raihan untuk memadu kasih bersama istrinya. Karena maklum istrinya masih datang bulan.


Malam semakin larut. Tetapi hujan tak kunjung berhenti. Sony dan Raka harus tertidur di sofa karena kamar yang sudah tidak ada lagi.


Villa keluarga Della hanya memiliki 3 kamar. 1 kamar pasti untuk Nayra dan Raihan yang tertidur saling berpelukan mesra membuat keduanya saling menghangatkan.


Sementara untuk kamar selanjutnya. Untuk Amira, Raina dan Andini, dan kamar berikutnya. Untuk Celine, Luci, Dara dan Della.


Cuaca memang sangat mendukung untuk tidur nyenyak. Belum lagi petir saling bertautan.


Raina membuka matanya perlahan, kaget karena mendengar suara Sambaran petir yang mungkin sedang menyambar pohon.


Saat membuka matanya, Raina melihat di sebelahnya hanya ada Andini dan tidak melihat Amira.


" Amira kemana?" batinnya memijat kepalanya yang tidak melihat keberadaan putrinya.


Raina pun duduk dan melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup. Raina langsung menuju kamar mandi mengecek putrinya, apakah Amira ada di sana atau tidak.


" Amira," panggil Raina yang membuka pintu kamar mandi dan tidak melihat Amira.


" Di mana dia, apa dia sama Raka," gumamnya yang masih mengantuk. Tiba-tiba Raina mendengar suara mesin mobil Dengan buru-buru Raina melihat ke jendela dan melihat mobil tidak di kenal yang ingin melaju.


" Mobil siapa itu?" tanyanya mulai panik,


" Amira, Amira, Amira," teriak Raina yang langsung cemas dan keluar dari kamar dengan buru-buru.


Suara teriakan Raina membangunkan Andini dan heran melihat Andini yang tiba-tiba keluar dari kamar.


" Kak Raina kenapa?" tanya bingung dan langsung menyusul.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2