
" Kenapa sih dia," gumam Carey geleng-geleng
" Wanita itu benar-benar sialan," umpat Dion berdiri didepan cermin. Memukul wastafel.
" Apa dia tidak pernah sakit hati, apa susahnya dia menangis saat aku mengatakan kata-kata pedas itu. Wajahnya terlihat santai seakan-akan tidak peduli. Apa iya dia tidak tertarik denganku," Dion malah bergerutu di depan cermin.
Mungkin Dion berpikir Carey akan sedih dengan pernikahannya. Atau seperti istri yang ada di drama. Akan menangis di malam pengantin karena kata-kata suami yang pedas dan menyakitkan hati. Karena tidak menerima pernikahan itu.
Semua di luar dugaannya Carey tampak tenang dan bahkan terang-terangan mengatakan tidak menyukainya. Jadi Dion tambah kesal.
Dion menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya. Saat melihat kembali kedepan cermin. Bisa-bisanya Dion melihat Carey yang tersenyum dengan pakaian yang tadi di pakainya. Dengan cepat Dion membalikkan tubuhnya melihat apa ada orang di belakangnya atau tidak.
" Kenapa aku memikirkannya, apa aku sudah gila," ujarnya benar-benar gila dengan pernikahannya. Bukan Carey yang tersiksa. Tetapi Dion yang justru tersiksa baru malam pernikahan sudah tersiksa bagaimana selanjutnya.
" Sial," desisnya.
Setelah mandi membersihkan dirinya Dion keluar dari kamar mandi menggunakan kaos hitam dan celana training panjang. Dion melihat Carey tertidur miring yang ditutupi selimut sampai dadanya.
" Dengan mudahnya dia malah tertidur. Apa aku harus tertidur 1 ranjang dengannya," batin Dion melihat di sekitar kamar tidak menemukan sofa sama sekali.
" Tidak. Enak saja 1 ranjang dengan ku. Dia yang harus pergi," batin Dion.
" He bangun," tegur Dion tidak ada lembut-lembutnya. Carey mendengarnya tetapi dia tidak mau bangun.
" Kau tuli apa. He bangun," ujar Dion sekali lagi.
" Ada apa, aku punya nama panggil dengan benar," sahut Carey membuka matanya lalu duduk.
Saat Carey duduk otomatis selimutnya turun dan malah menunjukkan belahan dada Carey. Hal itu malah tertangkap Dion. Tetapi Dion langsung mengalihkan pandangannya dan berkacak pinggang.
" Sana keluar cari kamar lain. Aku tidak Sudi tidur sekamar denganmu," ujar Dion mengusir Felly.
" Kamu yang tidak ingin sekamar denganku. Jadi kenapa aku yang harus pergi. Kamu lah yang pergi," jawab Carey ketus.
Dia sangat lelah seharian dengan proses pernikahan di tambah Dion yang sengaja cari masalah dengannya.
__ADS_1
" Kau pikir kau siapa menyuruhku," sahut Dion kesal.
" Aku tidak bisa pergi apa lagi dengan pakaian seperti ini. Jika ingin pergi. Kamu saja yang pergi. Lagi pula orang-orang akan membicarakanmu kalau kamu memesan kamar lain. Dan Tante Erina juga akan tau hal itu," ujar Carey memperingati.
" Berani sekali dia memperingatiku," batin Dion tambah kesal.
" Kau dengar baik-baik, meski aku tidur di sampingmu, jangan berharap banyak. Aku tidak akan menyentuhmu," ujar Dion memperingati. Seperti biasa Carey hanya menganggapi dengan anggukan.
Carey kembali merebahkan dirinya, menarik selimut untuk kembali dan memejamkan matanya. Sementara Dion masih berdiri di hadapannya.
Dion berdecak kesal. Lalu pergi dari hadapan Carey. Sebelum itu Dion mencari saklar lampu untuk menyalakan lampu. Tidur hanya di temani lilin membuatnya hanya semakin emosi.
" Di mana lagi saklar nya," desis Dion kesal tidak menemukannya. Carey mendengar umpatan itu mengutip ke belakangnya dan melihat Dion sibuk mencari di sekitar dingding.
" Untuk apa mencari saklar. Kalau lampunya sendiri tidak ada," sahut Carey.
Mendengar ucapan Carey Dion mengelilingi kepalanya melihat keatas dan kata Carey memang tidak ada lampu di kamar itu.
" Kenapa kamar ini miskin sekali. Apa mau tidur pakai lilin. Kebakar baru tau rasa," decak Dion yang malah menyumpahi.
Carey sebenarnya tidak perlu kaget untuk hal itu. Karena pertemuan pertama mereka juga sudah seperti itu. Dion yang ditemuinya pertama kali marah-marah dengan Dion yang sekarang ini sama saja. Tinggal hanya dia yang harus sabar menghadapinya kedepannya.
Carey sudah merasakan Dion tidur di belakanganya. Dion Berbaring di atas ranjang dengan dengan ke-2 tangannya di letakkan di bawah kepalanya.
Dion melirik ke arah Carey. Meski tubuh itu di tutupi selimut Dion bisa melihat lekuk yang nyata di tubuh itu.
Carey benar-benar menggoda imannya. Dion langsung mengalihkan pandangannya dia benar-benar bisa tidak mengendalikan dirinya. Jika terus disuguhkan pemandangan itu.
Carey dari kecil tinggal di luar Negeri. Dia juga menjadi wanita modern dulu. Memiliki tubuh tinggi rambut coklat persis seperti bule.
Dia juga sangat seksi jadi wajar kalau Dion harus terpukau dengan Carey. Beruntung Carey jadi istrinya jadi bisa melihat keindahan yang selama ini tertutup rapat.
*********
Pagi hari yang cerah kembali tiba. Raihan dan Nayra yang juga menginap di salah satu kamar. Juga masih berada di dalam kamar. Nayra berbaring tertidur.
__ADS_1
Raihan berbaring miring dengan sikunya di atas bantal dengan telapak tangannya yang menopang pipinya memandang istrinya yang tertidur dengan lelap.
Raihan yang tidak memakai pakaian hanya celana saja memandang wajah itu istrinya yang cantik yang tertidur mengunakan kemeja putih milik Raihan.
Apa lagi jika mereka tadi malam mereka tidak tempur. Siapa yang pengantin baru siapa yang malam pertama. Pasangan itu memang tidak pernah mau kalah. Selalu ingin menjadi pengantin baru.
Raihan memang selalu punya cara untuk menggoda istrinya. Ya Nayra juga semenjak hamil ingin terus bermesraan dengan suaminya hasil bermesraan itu akan berakhir di atas ranjang. Jadi jelas semua menjadi keuntungan untuk Raihan.
" Sayang bangun," ujar Raihan mengusap lembut pipi Nayra dengan jarinya. Nayra mengkerutkan dahinya seakan mendengar suara suaminya. Dia memang cepat terbangun jika sudah mendengar suara itu.
" Sayang ayo bangun, yang lain sudah menunggu untuk sarapan," ujar Raihan lagi.
" Jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk," jawab Nayra tanpa membuka matanya yang benar-benar mengantuk.
" Nanti kamu tidur lagi. Kalau kita sudah selesai sarapan. Kamu mandi dulu sana," ujar Raihan.
" Tidak mau. Aku masih mau tidur. Aku baru tidur sebentar, semua gara-gara kamu," Nayra yang masih memejamkan matanya menyalahkan suaminya yang tidak ingin berhenti tadi malam.
Mendengar hal itu Raihan tersenyum. Wajah istrinya sangat menggemaskan saat saat merengut.
" Aku minta maaf, sekarang bangun!" ujar Raihan lembut. Nayra masih menggeleng. Raihan mengecup lembut bibir Nayra. Morning kiss untuk Nayra.
Nayra pun membuka matanya yang sangat berat melihat wajah suaminya yang sangat dekat dengannya. Nayra memiringkan tubuhnya dan memeluk Raihan dengan erat.
" Apa aku tidak boleh tidur sebentar," ujar Nayra yang memang sangat mengantuk. Raihan tersenyum kembali dan memeluk lebih erat.
" Kamu boleh tidur. Tapi nanti di rumah. Kita harus sarapan dulu," ujar Raihan.
" Ya sudah! sahut Nayra dengan terpaksa. Nayra kembali meluruskan tubuhnya menatap wajah suaminya yang tampan. Matanya sudah terbuka sempurna dan memandang jelas.
" Kamu mandi ya," ujar Raihan. Nayra mengangguk pelan.
" Tapi di temani," ujar Nayra yang benar-benar sangat manja. Raihan mengangguk. Nayra menjulurkan ke-2 tangannya meminta untuk di gendong. Raihan pun yang tau maksud istrinya langsung menggendong sang istri memasuki kamar mandi.
Bersambung....
__ADS_1