
Jari-jari Ziyan berhenti setelah petikan terakhir. Ia membuka tangannya dan meletakkannya di atas senar sebagai langkah akhir. Alunan musik berhenti.
Ziyan mengangkat kepalanya dan melihat semua orang masih tenggelam dalam keheningan mereka. Ia melihat beberapa orang bahkan masih terisak dan menghapus air matanya. Ziyan merasakan sesuatu di pipinya. Sepertinya, tanpa ia sadari air matanya juga ikut menetes saat dirinya terlalu menghayati permainan dan mengingat kembali kenangan bersama keluarganya. Membuat Ziyan tak mampu mengendalikan emosinya.
Snowy yang berada di tempat duduk ziyan dengan pandangan sendu memperhatikan gadis itu seakan mampu membaca kesedihan yang tadi dirasakannya.
" Kau sepertinya menyadari kesedihan yang dirasakan majikan mu. Apa kau tahu apa yang membuatnya begitu sedih? " Sima rui seakan menyadari ekspresi sedih kucing itu ketika secara tidak sengaja meliriknya.
Snowy tidak menjawab hanya memandang pria itu penuh tanya. Apakah ia menyadari kesedihan Gaia?
" Aku pasti sudah gila berbicara dengan seekor kucing. "
Sima rui membuang mukanya dan kembali memperhatikan Ziyan, Ia berpikir percuma bertanya pada seekor kucing karena hewan tak mungkin bisa bicara.
Ck... Dia meremehkan ku. Batin Snowy kesal.
Tidak ada suara tepuk tangan, Ziyan pikir permainannya mungkin buruk karena ada beberapa not yang lewat. Namun tiba-tiba beberapa tamu mulai berbicara.
"Permainan yang sangat mengagumkan. Aku sampai terbawa suasana. "
" Benar. Permainan nona Mo membawa kembali pada kenangan lama. "
" Ku pikir itu sebuah lagu perpisahan. Begitu menyayat hati. "
Satu persatu orang-orang mulai berkomentar. Dan suasana pun menjadi ramai.
"Permainan bagus Yaner. Apa judul Instrumen tadi. Terdengar begitu sedih namun sangat indah. Bukankah begitu Permaisuri? "
Sima shao sengaja bertanya pada permaisuri untuk menunjukan bahwa ia berada di pihak calon menantunya. Jadi jangan coba-coba untuk mempersulitnya.
"Benar Yang mulia. Sungguh pantas menjadi pilihan Yang mulia untuk bersanding dengan Pangeran rui. "
__ADS_1
Permaisuri sepertinya tak mau kalah. Ia mengatakan seakan karena Yang mulia Kaisar yang memilihnya, ia bisa bersanding dengan Sima rui. Selain itu, sebenarnya permaisuri juga mengatakan status Ziyan yang bersanding dengan Sima rui agar putranya sadar bahwa tidak ada harapan baginya mencintai gadis itu.
" Terima kasih atas pujian Yang mulia kaisar dan permaisuri. Tapi permainan hamba masih jauh dari kata sempurna. "
" Sifatmu yang rendah hati ini mirip dengan ayahmu. Pantaslah kau menjadi putrinya. Karena itu aku berikan sebuah Giok putih dan tusuk rambut Mudan sebagai hadiah. "
" Terima kasih Yang mulia atas kemurahan hatinya. "
Sima shao sangat puas dengan Ziyan. Hari ini ia sudah lihat sendiri bagaimana gadis ini bertindak. Dari sini ia mengetahui kenapa putranya yang seperti es itu menyukainya. Sima shao melirik Huang guifei. ' Gadis itu seperti Fu xin ketika masih muda. '
Setelah menerima hadiah, Ziyan kembali duduk di kursinya. Sima rui tersenyum lembut menyambut gadis itu.
" Permainan yang sangat indah. Aku harap ini terakhir kali kau bermain untuk orang lain. "
" Hah?! kenapa? " Ziyan tak mengerti. Bukankah ia baru saja memujinya, kenapa sekarang melarangnya bermain. Apakah sejelek itu sampai ia tak ingin orang lain mendengarnya.
Sima rui menjawab terus terang dan dengan nada santai. " Karena aku hanya ingin kau bermain untukku. "
Ziyan tercengang. Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Ucapan yang sebenarnya terdengar lebih pada sikap posesif itu justru terdengar cukup imut bagi Ziyan. Pria ini benar-benar tong asam. Tapi itulah yang membuat Ziyan semakin menyukainya.
" Baiklah. Aku hanya akan bermain di depanmu. "
Tanpa terasa waktu berburu telah berakhir. Sebuah kembang api dilepas sebagai sinyal bahwa waktu perburuan telah habis. Dalam waktu singkat para peserta mulai berkumpul di tengah lapangan.
Ziyan melihat Jiang wu dan Yelu di antara para peserta. Pantas mereka tak terlihat di perjamuan. Ternyata mengikuti perlombaan ini. Ziyan kembali teringat dengan kemampuan beladiri keduanya saat melawan para bandit dulu. Ziyan tersenyum menyeringai, Ia ragu apakah mereka berhasil mendapatkan buruan mengingat bagaimana buruknya kemampuan mereka.
tidak jauh dari mereka Ziyan melihat Sima Dan. Ia membawa sebuah burung dengan pita hitam di kakinya.
'Bukankah itu bernilai 100 poin. Pantas sebagai petugas penyidik. Sangat efisien dalam semua hal. '
Penghitungan poin di mulai. Setelah menunjukan hasilnya pada kaisar dan disetujuinya. Saatnya kasim Liu mengumumkan nama pemenangnya.
__ADS_1
" Pemenang hasil perburuan kali ini adalah.... " Kasim Liu memberikan jeda pada kalimatnya. Membuat semua orang menunggu dengan penasaran. " selamat pada Tuan Muda ye, Yelu atas kemenangannya. Silakan datang ke depan untuk menerima hadiahnya. "
Ziyan menyemburkan teh yang sedang di minumnya. Bagaimana mungkin! Ia pikir Sima Dan yang memenangkan perburuan ini.
Sima rui tidak terkejut dengan hasilnya. Ia justru terkejut dengan tindakan yang baru saja ziyan lakukan. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan membantu ziyan mengelap noda teh yang ada di bajunya.
" Apa yang kau kejutkan? "
" Aku pikir, pangeran ketiga yang akan jadi juara. "
" Ia memang mendapatkan burung berpita hitam, namun ia hanya seorang diri. Tentu saja ia kalah. "
"Maksudnya? " Ziyan sepertinya belum mengerti seluruh peraturan dari perburuan ini.
" Yelu dan Jiang wu. Mereka bekerja sama. Dengan menggabungkan hasil buruan mereka, tentu saja hasilnya akan lebih besar. "
Ziyan tidak bisa berkata-kata. Ia tak ingin mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Jika begitu bukankah itu curang.
" Perburuan ini selain melatih ketangkasan dan ketrampilan peserta tapi juga melatih pola pikir mengenai kerja sama. "
Penjelasan singkat Sima rui membuka mata Ziyan. Bukankah itu berarti Jiang wu sama saja dengan membantu Yelu menang.
" Lalu apa yang Jiang wu dapatkan. Bukankah yang mendapatkan hadiah Yelu? "
" Tidak juga. Itu terkandung kesepakan mereka berdua. Disini kita tak bisa sembarang bekerja sama. Jika kita mengajak orang yang tidak kita percaya bekerja sama. Itu justru akan menjadi masalah. Hal itu sama seperti medan perang. Jika kita salah percaya, maka justru kematian yang akan kita dapatkan. "
" Pengeran ketiga memilih berjuang sendiri karena tak ingin mengambil resiko, berbeda dengan Yelu dan Jiang wu yang memilih bekerja sama. Mereka menyampingkan resiko demi mendapatkan keuntungan. "
Ziyan merenungkan semua ucapan Sima rui. Dari sini Ziyan mendapatkan satu kesimpulan. Percaya adalah pilihan. Jika kita memilih untuk percaya, maka apapun hasilnya meski hal itu buruk sekalipun, kita tak seharusnya menyalahkan orang lain.
Deg! Apa itu?!
__ADS_1
Tiba-tiba ziyan merasakan sebuah tatapan tajam. Ia merasa seseorang baru saja menatapnya dengan tatapan membunuh. Ziyan menoleh mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun tak ada seorangpun yang mencurigakan. Apakah itu hanya perasaannya saja?