
Setelah melepas kerinduannya, ziyan baru tersadar. Kenapa dia disini? seharusnya ia berada di perbatasan. Kapan ia kembali?
Ziyan menyipitkan matanya menatap Sima rui.
" Pangeran, Kenapa kau disini? kapan kau kembali? "
Jika sima rui baru saja kembali, bukankah seharusnya ia berada di istana melaporkan kepulangannya kepada Yang mulia, tapi ia justru berada di sini bersama dengannya.
" Aku ingin secepatnya bertemu denganmu. Jadi ketika tiba, aku langsung kesini. "
"Jadi kau sama sekali belum ke istana melapor pada Yang mulia? "
Sima rui hanya tersenyum lembut, ia menyibakkan sedikit rambut ziyan ke belakang telinganya.
" Aku ingin mengabulkan permohonan seseorang. "
Ziyan masih terdiam tak mengerti.
Mengetahui gadis di depannya tersebut masih tak mengerti. Sima rui membungkuk mengambil sesuatu di samping kakinya.
" Bukankah itu... "
Lampion yang kemarin ia terbangkan, kenapa berada di tangan Sima rui?
"Saat dalam perjalanan, tanpa sengaja aku melihat lampion ini terbang dan kemudian terjatuh. Dan ketika aku membaca isi permohonannya. Aku tahu ini milikmu. Karena itulah aku memutuskan untuk kembali terlebih dulu. " (Sima rui)
" Dan sekarang aku sudah kembali dengan selamat. " Dengan sorot mata penuh kerinduan, Sima rui kembali memandang ziyan. " Aku sangat merindukanmu. "
Ziyan tak bisa berkata-kata. Ia masih tidak percaya. Bahkan para dewa juga sepertinya membantunya menyampaikan perasaanya pada Sima rui.
"Selamat datang kembali..." Ziyan menyambut kedatangan Sima rui meski itu sudah terlambat.
Ia memiliki banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Sima rui. Banyak hal yang harus ia tahu. Ziyan tak ingin ia mengetahui apa yang terjadi dari mulut orang lain. Tapi sayangnya, tanpa ziyan sadari. Bahwa sesungguhnya Sima rui sudah mengetahui segalanya. Meski dirinya jauh dari ziyan, tapi mata dan telinganya tak pernah meninggalkannya. Para pengawal bayangan yang selalu melindungi ziyan, senantiasa melaporkannya pada Sima rui.
" Aku tahu kau memiliki banyak hal yang ingin diceritakan. Kita bisa berbicara pelan-pelan. "
Ziyan mengangguk. Pria ini terlalu mengerti dirinya.
Snowy menatap keduanya. Ia menyadari bahwa gadis yang selama ini bersamanya dan selalu berwajah datar itu sekarang lebih ekspresif. Bahkan sekarang ia bisa mengungkapkan perasaannya. Dan itu semua karena pria ini, Sima rui.
Setelah panjang kali lebar ziyan bercerita,
" Jadi maksudmu, semua rumor itu berasal dari yuefeng? " Sima rui kembali mengulang kesimpulan dari apa yang baru saja ziyan sampaikan.
"Iya. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan dia dan Hong dawei. Karena itulah aku memanfaatkan hubungannya dengan sujin dan mengadu domba mereka. "
Sima rui tahu bahwa tunangannya tersebut cerdas. Tanpa perlu susah payah melawan, ia mampu menyingkirkan salah satu musuhnya menggunakan tangan musuhnya yang lain. Namun sepertinya ada sesuatu yang janggal. Itulah yang Sima rui pikirkan.
" Apakah kau yakin semua yang yuefeng lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan kediaman Hong? Maksudku tidak mungkin seorang yuefeng mampu memikirkan semuanya sendiri. Aku takut yuefeng hanya sebagai perisai dari pelaku sebenarnya. "
Dugaan sima rui tersebut membuat ziyan tersadar bahwa kemungkinan itu bisa saja terjadi. Seperti sebelumnya, yuefeng juga dengan mudah di gunakan oleh xun ai.
" Apakah hal ini ada hubungannya dengan Hong dawei? Pria itu sengaja mendekati yuefeng untuk memanfaatkannya. "
" Pintar. Kau langsung tahu apa yang aku pikirkan. " Sima rui membelai lembut puncak kepala ziyan.
Kelihatannya, setelah ini ziyan harus menghubungi heilong untuk menemukan informasi mengenai Hong dawei. Jika benar itu semua adalah rencana Hong dawei, mungkinkah ia juga ada hubungannya dengan kematian Yaner.
Saat ziyan sedang serius memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan ia ambil. Tiba-tiba suara kembang api mengejutkannya. Langit malam yang sebelumnya gelap dan sunyi, berubah penuh warna dan begitu hidup.
Tanpa sadar, masih dengan ekspresi terpukau ziyan bergumam. " Indahnya... "
Ziyan begitu terpukau memandang keindahan bunga api tersebut. Sudah lama ia tak melihatnya. Setelah perang terjadi, hampir tidak ada waktu baginya untuk menikmati kehidupannya. Setiap hari ia harus hidup dalam suasana mencekam. Mengingat kehidupan keluarganya yang tak jauh dari lingkungan militer. Karena pekerjaan kedua orang tuanya tersebut bahkan terkadang ia harus berada jauh dari mereka selama beberapa minggu. Itulah kenapa ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan snowy.
Teringat kembali akan kenangan bersama kedua orang tuanya, membuat hati ziyan kembali pilu. Matanya yang terasa panas tak mampu lagi untuk tidak meneteskan air matanya.
__ADS_1
Sima rui yang melihat itu panik. "Ada apa? "
Ia memegang kedua pipi ziyan dan menatap gadis itu dengan khawatir.
Ziyan menggeleng. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya. 'Tidak. Belum saatnya Sima rui tahu. '
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa bahagia karena kau sudah kembali dan bisa melihat keindahan malam ini bersama. " Ziyan terpaksa berbohong dan tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
Meski ziyan tersenyum, tapi Sima rui tahu bahwa itu adalah senyum yang dipaksakan. Dan air mata yang ia katakan sebagai ungkapan rasa bahagia, itu semua bohong. Karena ada kesedihan yang terpancar dari matanya.
'Yaner. Jika kau belum bisa menceritakan kesedihanmu itu padaku maka aku akan tetap menunggu sampai kau benar-benar percaya padaku. ' Sima rui menyimpan kata-kata tersebut dalam hati.
" Ada apa? apakah ada sesuatu di wajahku? kenapa kau terus menatapku."
"Tidak ada apa-apa. Yaner.... aku harap kau tahu, bahwa aku akan selalu di sampingmu. Ingatlah, kau bisa menggunakan ku kapan pun itu. Aku ingin menjadi pedangmu juga perisai mu. Karena itu, jangan sungkan untuk meminta bantuan ku. Kau mengerti? "
" Iya. Terima kasih. "
***************
Ziyan dan yaoyao telah kembali ke kediamannya. Hari yang penuh kejutan bagi ziyan. Ia tidak menyangka bahwa sima rui akan tiba-tiba muncul di depannya.
Tunggu! kenapa ia bisa tahu aku ada disana? sepertinya ada yang tidak beres disini. Ziyan menatap yaoyao yang masih sibuk mempersiapkan tempat tidurnya.
"Yaoyao... katakan. Apakah pangeran yang menyuruhmu untuk membawaku keluar? "
Seperti pencuri yang ketahuan, yaoyao tak ada pilihan lain selain mengaku.
" Maaf nona. Tadi sore dian-diam junyi menemui ku. Dan mengatakan bahwa pangeran memiliki sesuatu untukmu. Jadi aku harus mengajakmu keluar. "
"Sesuatu?! "
Ziyan tak menerima apapun darinya hari ini. Apa yang sima rui berikan? tunggu, Jangan-jangan....
"Itu benar nona. Kembang api hari ini khusus dipersiapkan untuk mu. Pangeran sudah meminta penyelenggara festival untuk melepaskan 999 kembang api malam ini. "
Apa?! Barusan dia bilang apa? 999...
" Junyi juga bilang, semua dipersiapkan oleh pangeran sendiri segera setelah ia kembali ke ibukota. Ia bahkan belum menemui Yang mulia kaisar dan langsung menemuimu nona... Bukankah pangeran terlalu.... "
"Terlalu apa? " (ziyan)
"Terlalu tampan, terlalu baik, terlalu perhatian, dan juga terlalu kaya.. "
Ziyan hanya bisa menepuk jidat dan menggelengkan kepalanya. ' ia juga terlalu boros... '
Ziyan merasa pujian yaoyao terlalu berlebihan. Meski tetap saja itu semua adalah kebenaran. Sima rui memang tampan, ia juga baik dan perhatian. Kaya... mungkin juga. Ia ingat sima rui pernah memberikan bank note senilai 100 tael emas begitu saja padanya.
Menyalakan kembang api sebanyak 999 demi seorang wanita. Oh Sima rui, Sima rui... Kenapa kau membakar uang. Bukankah lebih baik kau berikan saja uangnya untukku.
**********************
Istana, Ruang baca kaisar.
Meski malam sudah agak larut, namun kasim liu masih setia menemani kaisar yang masih sibuk dengan pekerjaan. Tapi sudah tugasnya untuk mengingatkan tuannya agar beristirahat tepat waktu.
" Yang mulia, malam sudah sangat larut. Apakah anda tidak ingin beristirahat? "
"Sebentar lagi. "
Sima shao belum beranjak dari kursinya bukan karena ia senang bekerja. Tapi ia sedang menunggu sima rui, putranya datang. Para prajurit sudah tiba dari tadi sore. Tapi kenapa putranya belum menghadap padanya untuk melapor.
Seorang kasim lain yang berada di luar datang. Sima shao segera mengangkat kepala dan bertanya. " Ada apa? "
Kasim kecil itu terkejut, karena belum juga ia memberikan hormatnya, sang kaisar sudah bertanya padanya.
__ADS_1
" Yang mulia, Pangeran pertama meminta izin menghadap. "
Akhirnya, bocah itu datang juga.
" Persilahkan dia masuk. " (sima shao)
Kasim kecil itu pergi menyampaikan izin kaisar, dan tak lama sima rui masuk untuk menghadap ayahnya.
" Hormat ayahanda. Semoga ayahanda sehat selau dan panjang umur. " (Sima rui)
" Bangunlah. " (Sima shao)
Sima shao bangkit dari kursinya, dan beralih duduk di meja teh.
" Duduklah. Meski sudah malam, tapi itu bukan halangan untuk seorang ayah berbincang dengan putranya bukan? "
Kasim liu meminta para pelayan untuk menyajikan teh dan kudapan, lalu menyuruh mereka semua pergi begitu tugas mereka selesai.
Sima rui mulai memberikan laporan mengenai bagaimana situasi perbatasan dan pergerakan suku bar-bar terbaru.
"Jadi maksudmu, kemungkinan ada mata-mata di pihak kita? "
"Itu baru dugaan saja ayahanda. Karena meski itu hanya peperangan singkat, namun aku bisa tahu bahwa mereka mampu membaca pergerakan kita. "
Sima rui tak menyangka bahwa suku bar-bar yang biasanya begitu mudah ia kalahkan, akan membuatnya sangat kerepotan kemarin. Bahkan tentaranya hampir mengalami kekalahan besar jika ia tak segera mengambil langkah pencegahan. Semua rencananya dapat dengan mudah di baca oleh musuh. Itulah yang membuat dirinya berpikir bahwa ada mata-mata di sisinya.
" Aku memberimu wewenang penuh untuk menyelidikinya. "
" Terima kasih ayahanda. "
" Besok temui lah ibumu. Ia sangat khawatir selama kepergian mu. "
" Baik. "
Setelah menyelesaikan urusannya Sima rui segera kembali ke istananya, meninggalkan ayahnya dan kasim liu.
" Anak itu sudah berubah. " Sima shao tersenyum, sadar bahwa ada sedikit perubahan dalam diri putranya.
" Melihat anda tersenyum, pasti itu perubahan yang bagus, bukankah begitu yang mulia? "
"Kau sangat mengerti aku kasim liu. Itu memang benar. Rui er yang sekarang jauh lebih hangat dari dulu. Meski wajah diamnya masih terlihat dingin namun sorot matanya jauh lebih terlihat hidup. "
"Mungkin ini semua berkat nona muda mo, Yang mulia. "
" Kau benar. "
Sima shao bukan tidak tahu kalau putra sulungnya itu sudah menemui tunangannya tersebut sebelum ia kesini. Ia justru senang bahwa putranya itu akhirnya menemukan gadis yang dicintainya.
Tinggal menyelesaikan sedikit masalah di pengadilan besok. Ia yakin Sima rui akan mampu membungkam semua mulut para pejabat yang menentang pertunangannya. Membayangkan wajah para orang-orang bodoh itu di kalahkan oleh putranya, membuatnya begitu bersemangat.
" Ayo kasim liu. Ke istana xinyue. "
" Maaf Yang mulia, hari ini jadwal anda ke istana permaisuri. Jadwal Huang Guifei besok. "
Ucapan kasim liu membuat langkah Sima shao tiba-tiba berhenti.
" Kau benar. Aku lupa.. "
Sima shao menatap tajam kasim liu. ' Dasar kasim liu. Kenapa kau mengingatkanku. Harusnya kau biarkan saja aku lupa. '
" Sudah tugas hamba mengingatkan anda yang mulia.. "
Sima shao tercengang, 'kasim liu.. apakah ia bisa membaca pikiranku. '
************************
__ADS_1