
Guna menyambut kedatangan utusan Kerajaan wei, kaisar mengadakan jamuan meriah di istana. Baik pejabat dan keluarga turut di undang untuk memeriahkan jamuan tersebut.
" Nona, kereta kuda pangeran pertama sudah datang. " Ucap yaoyao memberitahu ziyan.
Ziyan yang berada di aula depan bersama keluarga Mo tak menyangka bahwa Sima rui akan datang dan mengajaknya berangkat bersama. Ziyan pikir setelah menjemput rombongan itu ia akan langsung ke istana.
' Apakah ia tidak lelah? ' pikir ziyan.
" Ayo kita pergi sekarang. " Ziyan keluar dengan terburu-buru.
Setibanya di depan, Ia melihat sebuah kereta kuda megah terparkir di depan kediaman Mo. Sima rui langsung turun untuk menyambut calon istrinya tersebut.
" Putriku, ayo kita berangkat. " Ucap Sima rui sambil mengulurkan tangannya. Ziyan tersenyum malu. Bagaimana bisa pria dingin sepertinya bisa bersikap penuh perhatian seperti ini.
" Terima kasih pangeran. " Ziyan menyambut tangan Sima rui dengan senyum.
Saat hendak naik ke atas kereta, ziyan menyadari kehadiran junyi. " Kau sudah sembuh? " Tanya ziyan.
" Sudah nona. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Jika tidak, mungkin aku sudah bertemu dengan raja neraka sekarang. " Jawab junyi dengan tawa. Namun detik berikutnya tawanya langsung terhenti ketika merasakan tatapan belati Sima rui dan keringat dingin mengalir di kening junyi.
' Sial! aku lupa jika pangeran orang berdarah dingin yang mudah cemburu. ' Batin junyi merutuki kebodohannya karena melupakan fakta tersebut.
******
Kedatangan Sima rui dan ziyan menarik perhatian semua orang. Bagaimana tidak, kabar pernikahan mereka yang di percepat telah menyebar. Ziyan merasa tidak nyaman dengan puluhan pasang mata yang menatapnya.
" Pangeran, aku tahu kau selalu menarik perhatian. Tapi tetap saja aku tidak terbiasa dengan itu. Sepertinya aku harus belajar banyak dari mu bagaimana bersikap acuh. " Bisik ziyan.
" Aku akan dengan senang hati mengajarimu, tidak hanya bersikap acuh tapi juga mengajari hal lain setelah kita menikah. " Jawab Sima rui tepat di telinga ziyan. Hal itu tentu saja membuat sengatan geli di tubuh ziyan.
' Pria ini, kenapa sekarang semakin barani. ' Pikir ziyan sedangkan sang pria hanya tersenyum sembari menggerakkan kedua alisnya.
Utusan negara wei mulai memasuki ruang. Seorang pria muda masuk dengan senyum lebar menyambut hormat para tamu. Ziyan penasaran, kenapa pria muda itu begitu di hormati.
" Siapa dia? kenapa semua orang hormat padanya? " Tanya ziyan setengah berbisik.
" Dia perdana menteri kerajaan wei. " Ucap Sima rui acuh.
__ADS_1
" Perdana menteri? berapa usianya? kenapa masih begitu muda ia sudah menjadi perdana menteri. Sungguh pria yang hebat. " Pujian spontan ziyan membuat Sima rui menatap tidak setuju gadis di sebelahnya.
" Meski dia hebat, tapi bisa ku pastikan aku lebih hebat darinya. " Ucap Sima rui percaya diri.
Ziyan menatap tak percaya akan mendengar sesuatu yang membuatnya terkejut.
" Jangan melihatku seperti itu. Apa yang aku katakan adalah kenyataan. " Ucap Sima rui dan setelahnya ia kembali diam menatap pria yang sedari tadi menjadi subyek perdebatan pasangan tersebut.
ziyan sebenarnya masih ingin menggodanya, namun ia urungkan mengingat tempat dimana mereka berada. Ia sungguh tak menyangka orang dingin dan serius seperti Sima rui akan ada saatnya dimana ia memiliki sifat narsisme.
Entah kebetulan atau tidak, pandangan perdana menteri Guan bertemu dengan ziyan. Melihat posisi duduk ziyan bersama sima rui, ia bisa menebak identitas wanita itu. Ia mengedipkan satu matanya pada ziyan berharap gadis itu tergoda.
Ziyan terbatuk, tak menyangka akan mendapatkan perlakukan yang membuat tubuhnya merinding. Sementara Sima rui mencengkram kuat gelasnya hingga retak.
' Beraninya dia menggoda wanitaku di depan mata ku. ' umpat Sima rui dalam hati.
' Sangat di sayangkan, pria berbakat tapi tak lama lagi akan menderita karena Sima rui. ' Ziyan merasakan empati dalam hatinya. Ia yakin pria di sampingnya tidak akan tinggal diam.
Kemudian suasana kembali riuh, saat seorang wanita memasuki aula. wanita berparas cantik yang sanggup membuat para pria terpana karena kecantikannya.
Tubuh ziyan menegang saat melihat sosok wanita itu. Ia menatap intens bagai harimau memantau mangsanya.
" Ada apa? " tanya Sima rui menyadari perubahan sikap ziyan.
Bukannya menjawab ziyan justru bertanya balik. " Siapa dia? "
" Putri kerajaan wei. Kenapa? Apa kau mengenalnya? " Tanya Sima rui lagi.
Ziyan menghela napasnya mencoba menemukan ketenangannya kembali. " Aku akan menceritakannya setelah ini. Aku tidak bisa berbicara di sini. " Jelas ziyan.
" Baiklah. Kita akan ke istana rixi. " Ziyan mengangguk.
Ziyan masih menatap gadis yang baru ia ketahui adalah putri kerajaan wei.
Permaisuri menyambut hangat kedatangan putri yang masih terhitung kerabatnya tersebut.
" Selamat datang di kerajaan jin putri. Semoga kau suka tinggal di sini. "
__ADS_1
" Terima kasih permaisuri atas sambutannya. Kerajaan jin sangat indah. Saya berharap bisa tinggal di sini lebih lama. "
Permaisuri dan kaisar terkekeh mendengar jawaban putri negara wei tersebut.
" Shuwang, kau duduklah bersama putra mahkota. Aku harap kalian bisa saling mendekatkan diri. " Ucap permaisuri sambil menatap putranya yang wajahnya tentu saja tidak terlihat senang.
Shuwang berjalan ke arah sima yan. Setelah pelayan menyiapkan bantalan untuknya duduk. Ia segera duduk di sampingnya.
" Aku harap kita bisa menjadi teman, Yang mulia putra mahkota. " Ucap shuwang lembut.
Sima yan hanya melirik sekilas shuwang lalu berdehem sebagai jawaban.
Urat kepala shuwang berkedut menahan emosi. Ia tak menyangka akan mendapatkan sikap dingin dari Sima yan.
' Ada apa dengannya? bukankah putra mahkota jin terkenal sebagai penggoda wanita? apakah ia sama sekali tidak tergoda dengan kecantikan ku? ' monolog shuwang.
Diam-diam shuwang terus memperhatikan sima yan. Tangan shuwang mengepal begitu mengetahui arah pandangan Sima yan. Jelas sekali tatapan lembut Sima yan yang menyiratkan bagaimana isi hatinya.
' Siapa gadis itu? apa hubungannya dengan pangeran pertama? ' batin shuwang menatap tajam ziyan.
Merasa seseorang sedang menatapnya. Ziyan mengangkat kepalanya dan mencari sosok tersebut. Namun ia hanya menemukan shuwang yang kini melihatnya dengan senyum di bibirnya.
" Ada apa? " tanya Sima rui.
Ziyan menggeleng. " Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa seseorang sedang menatapku. Tapi sepertinya aku yang terlalu sensitif. "
" Jangan terlalu dipikirkan. Selama ada aku di sisi mu, tidak akan ada yang berani melukaimu. "
" Aku tahu itu. Tapi tetap saja lebih baik waspada dari pada terlambat. "
Sima rui tahu Ziyan bukanlah wanita yang lemah ataupun sembrono. Ia akan selalu waspada saat dirinya merasa terancam.
" Sekarang aku tahu, hewan apa yang cocok denganmu. " Ucap Sima rui tiba-tiba dengan setengah berbisik.
Ziyan menoleh dan mengangkat satu alisnya sebagai reaksi bahwa ia sedang menunggu jawaban.
" Kau ibarat landak. Cantik namun berduri. " Ziyan mengerutkan alisnya bingung. Dari segi mana landak terlihat cantik?
__ADS_1
" Maaf tapi menurutku landak tak seindah mawar. " Bisik ziyan membalas ucapan Sima rui.
Sepertinya masih butuh waktu lama bagi Sima rui untuk membuat rayuan yang sesuai dengan kepribadiannya.