Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Gedung paimai 2


__ADS_3

π™ΈπšœπšπšŠπš—πšŠ πš‡πš’πš—πš’πšžπšŽ.


Sima Rui menyesap tehnya, begitu pula dengan wanita yang ada di depannya. Sudah lama sejak terakhir Sima Rui berkunjung ke istana ibunya.


"Apakah ayahmu sudah mengatakan akan mengumumkan pertunanganmu pada saat perjamuan ulang tahunku. "


" Sudah. "


Ekspresi tenang Sima Rui masih seperti biasanya. Tapi entah kenapa Fuxin merasa ada sedikit yang berbeda dengan sorot matanya. Sepertinya ada hal menarik yang terjadi dengan putranya tersebut. Fuxin penasaran, tapi tak mungkin putranya itu akan menjawabnya, meskipun ia bertanya padanya.


"Apakah ada hal yang menarik akhir-akhir ini? "


Sima Rui menatap ibunya, Ia tahu tak bisa menyembunyikan apapun padanya. Sikap ibunya memang di kenal dingin, tapi justru penuh perhatian di dalamnya. Sima Rui tersenyum, " Hanya hal-hal kecil bu."


Sangat jarang melihat putranya tersenyum. Dan sekarang, Fuxin melihatnya sedang tersenyum. Jika memang putranya belum ingin berbagi hal kecil itu, maka ia juga tak ingin memaksanya. Cepat atau lambat dirinya juga akan mengetahuinya.


"Pangeran... " Junyi membungkuk memberikan salam pada Huang Guifei, lalu menatap Sima Rui.


Sima Rui bangkit, lalu membungkuk sedikit meminta ijin pergi. "Ibu masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku akan kembali berkunjung lagi. "


"Pergilah." Fuxin tahu bahwa ada sesuatu yang harus dilaporkan junyi. Jadi ia tak ingin membuang waktu putranya itu.


Sima Rui berjalan cukup cepat, setelah berada di sebuah lorong sepi. Junyi mulai memberikan laporannya.


" Kami sudah menemukan barangnya. "

__ADS_1


"Dimana? " Respon yang begitu cepat dari Sima Rui. Akhirnya ia mendengar kabar yang sudah lama ditunggunya. Sudah lama dirinya mencari barang itu, ia sangat ingin mengembalikan benda milik keluarga ibunya tersebut sebagai hadiah ulang tahunnya.


"Gedung Paimai. " Jawab junyi.


Sima Rui bergegas menuju gedung paimai bersama junyi. Ia memacu kudanya cukup cepat namun masih dalam taraf aman untuk di pacu dalam jalan ibu kota.


Begitu tiba di gedung paimai. Seperti biasa, seorang pelayan menghampirinya. Sima Rui tanpa memberikan si pelayan itu kesempatan untuk mengucapkan pertanyaannya, langsung menunjukan token miliknya, "Pembeli."


Pelayan yang melihat token Sima Rui terkejut, mengetahui bahwa pemilik token itu ternyata pangeran pertama. Ia segera memberikan nomor lelang untuk Sima Rui dan mengantarnya ke sebuah ruang yang ada di lantai tiga.


"Apakah barang ini sudah di tawarkan. " Junyi memperlihatkan sebuah gambar pada pelayan tersebut.


Pelayan tersebut melihat dengan cermat dan akhirnya mengingat barang tersebut. "Belum tuan."


"Silakan anda memanggil kami jika membutuhkan sesuatu. "


Junyi hanya mengangguk, lalu melambaikan tangannya menyuruh si pelayan untuk segera pergi.


Sejak tadi Sima Rui hanya memperhatikan panggung tempat barang lain sedang di lelang. Ia sendiri sebenarnya jarang ke tempat ini, namun ia tahu jelas bagaimana peraturan tempat ini.


Semua barang yang di lelang di tempat ini, bukanlah barang yang di hargai dengan perak melainkan emas. Semuanya adalah barang dengan kualitas bagus.


Ia mengedarkan pandangannya dan ketika melihat sebuah ruangan di lantai dua, betapa terkejutnya dia melihat sosok yang ada di dalamnya. Calon istrinya ada disana. Sima Rui menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa apa yang dilihat matanya itu tidak salah.


Junyi memperhatikan arah pandangan Sima Rui. Ia penasaran, apa yang membuat tuannya tertarik hingga membuatnya begitu fokus. Junyi sama-sama menyipitkan matanya. Dan tanpa sadar junyi bergumam cukup keras.

__ADS_1


" Nona Mo ! Kenapa dia di sini. "


Mendengar apa yang baru saja di gumamkan junyi, secara tak langsung memberikan jawaban pada Sima Rui bahwa apa yang dilihat matanya itu benar.


Raut wajah Sima Rui kembali dingin seperti biasa. Tak terlibat jejak ekspresi penasaran yang baru saja terlihat di wajahnya.


Junyi merasa canggung. Entah kenapa sepertinya ia baru saja menangkap basah tuannya tersebut yang diam-diam sedang memperhatikan seorang gadis, meskipun itu calon istrinya sendiri.


"Tuan, sepertinya nona mo juga ingin membeli barang untuk ulang tahun Huang Guifei. " Junyi berusaha sangat keras agar kecanggungan yang ia rasakan cepat mencair.


Sima Rui tidak memberikan respon apapun. Dia sendiri memang berpikir seperti itu. Sebuah senyum mengambang di bibir Sima Rui. Ia tersadar bahwa mereka berdua memliki tujuan yang sama. Hanya saja ia juga berharap semoga barang yang mereka inginkan tidak sama.


Tapi sayangnya, hal itu tidak akan terjadi. Karena setelah gelang giok naga di keluarkan. Ziyan juga ikut memberikan penawarannya.


Sima Rui sebenarnya merasa tak enak harus berebut barang dengan calon istrinya itu. Tapi ia juga tak bisa menyerahkan barang penting ibunya yang sudah lama ia cari itu. Ia berpikir, ziyan akan menyerah jika ia terus menaikan harganya. Jadi ia meminta junyi untuk terus menambah nilai penawaran mereka. Tapi ternyata ia salah, ziyan tetap memberikan harga dan justru menambah hingga angka 500.


Gadis ini apakah tidak tahu, bahwa disini menggunakan emas sebagai standar harga mereka. Tapi mengingat calon istrinya itu gadis yang cerdas. Tidak mungkin peraturan sederhana paimai tersebut tidak ia ketahui. Karena terus menerus berebut barang dengan calon istrinya. Sima Rui akhirnya memutuskan untuk Pass Pada penawaran selanjutnya.


Pria yang sejak tadi memandu penawaran mulai menghitung mundur. Dan akhirnya gelang giok naga jatuh ke tangan ziyan. Sima Rui berharap barang itu benar-benar untuk ulang tahun ibunya. Jadi pencariannya selama ini tidak akan sia-sia.


Namun tiba-tiba Sima Rui tertawa. Sebuah tawa yang cukup keras. Ia melihat gadis itu menyemburkan tehnya, dan sekarang, ia melihat ekspresi histeris calon istrinya itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis pintar sepertinya tidak tahu bahwa harga di paimai menggunakan emas. Sekali lagi ia melihat sisi lain darinya dan itu cukup menyenangkan.


Sementara junyi. Wajahnya pucat, Ia merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.


'Ya tuhan, apakah ajalnya semakin dekat. Ia baru saja melihat tuannya tertawa.'

__ADS_1


__ADS_2