
Langkah kaki lebar Jinfu menarik perhatian Nyonya Jiang yang hendak menemui sang putra di kamarnya.
"Mau kemana kau begitu terburu-buru Jinfu? " Nyonya Jiang melihat putranya dari atas ke bawah, terlihat rapi.
Jinfu berhenti dan berbalik. " Aku akan menemui A Fei sebentar. " Tanpa mendengar balasan sang ibu Jinfu kembali berjalan.
" Untuk apa kau menemui wanita itu lagi. Kau sudah mempunyai calon istri Jinfu? apa kau tidak menghargai perasaan Fulan? "
Kaki Jinfu berhenti melangkah begitu mendengar ucapan ibunya. " Aku tidak pernah menyetujui perjodohan ini. Jadi kenapa aku tidak boleh menemui A Fei. Sedangkan untuk perasaan Bai Fulan, aku tidak peduli bu. Dia tidak ada hubungannya dengan ku. "
Lelah berdebat mengenai hal yang sama dengan ibunya. Jinfu terus melangkah pergi mengabaikan panggilan Nyonya Jiang.
Pria itu tiba di istana A Fei. Namun wanita yang di cari ternyata sedang berada di luar.
Ia bergegas menuju ke sebuah kuil yang terletak di tepi danau. Kata pelayan, A Fei sedang berada di Kuil ini. Kuil yang selalu di datangi semua orang untuk mendoakan keselamatan.
" Putri apa yang kau minta pada dewa? kenapa kau berdoa begitu lama? " Xiao Er melihat A Fei memejamkan matanya lama bahkan ketika dirinya sudah selesai berdoa, sang majikan masih memejamkan matanya.
A Fei sudah selesai berdoa, tapi telapak tangannya masih saling menempel sama seperti ketika ia berdoa. Ia hanya menoleh untuk menempelkan telunjuknya di bibir meminta Xiao Er untuk diam. Lalu memejamkan matanya lagi.
Kemudian kedua keluar setelah selesai, tak lupa Sebelum itu mereka memberikan sumbangan untuk kuil.
" Tuan Muda Jiang. " Panggilan Xiao Er membuat A Fei yang tengah menulis buku sumbangan menoleh dan menemukan Jinfu sedang melihatnya.
" Kak Jinfu? kau kesini untuk berdoa juga? " Pertanyaan macam apa itu, tentu saja orang datang ke kuil untuk berdoa kan.
" Tidak. Aku sengaja kesini untuk mencari mu, putri. "
Bingung A Fei. " Mencari ku? "
Dan di sinilah akhirnya mereka. Di taman tepi danau yang ada di samping kuil. Tidak hanya ada mereka berdua, tapi banyak orang juga di sana yang sibuk menikmati pemandangan dan juga menaiki perahu.
" Jadi, apa yang ingin kau bicarakan kak? " A Fei memulai pembicaraan.
__ADS_1
" Apa benar kau akan pergi ke perbatasan untuk ikut berperang dengan negara Nan? maksud ku itu tempat yang sangat berbahaya. Aku mohon urungkan niat mu itu, putri. Tetaplah tinggal di sini."
" Cepat sekali kabar itu menyebar? " Gerutu A Fei pelan.
Ayahnya belum lama memberikan ijinnya setelah ia membuat drama begitu panjang, dan itu tidak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga orang lain. Sepertinya ia harus kembali menyaring orang-orang di istana dan menekan mereka agar tidak sembarangan membuka mulutnya ketika berada di luar.
" Benar, aku memang akan pergi ke sana? apa itu masalah untuk mu, kak Jinfu? " Ada nada tidak suka ketika A Fei berbicara dan Jinfu menyadari itu.
Sebenarnya A Fei tidak suka ketika ada orang lain mempertanyakan apa yang akan ia lakukan. Terlebih ketika orang itu tidak memiliki hubungan dengannya.
" Maaf, bukan maksud ku untuk ikut campur. Aku.. aku hanya khawatir mengingat tempat yang akan kau kunjungi berbahaya. " Ucap Jinfu tak enak hati.
" Aku tahu, dan terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Mungkin aku harus mengingatkan mu jika yang pergi ke tempat itu tidak hanya aku tapi juga banyak prajurit Jin yang rela meninggalkan keluarganya demi melindungi negara. Dan aku, datang ke sana untuk membantu mereka. Setidaknya ketika mereka terluka, akan ada seseorang yang mengobati mereka. "
" Menumbuhkan harapan mereka bertemu keluarga agar semakin semangat ketika harus melawan musuh. Perang ini tidak hanya untuk mendapatkan keadilan atas kematian kak A Guang. Tapi juga memberikan kedamaian bagi rakyat Jin yang ada di perbatasan. Kau pasti merasakan sendiri bagaimana kehidupan rakyat yang ada di provinsi Wuyuan saat itu. "
" Warga paling miskin di ibukota bahkan lebih baik hidupnya dari kebanyakan masyarakat di sana. Bukankah itu sangat menyedihkan? "
Diingatkan posisinya yang sebatas orang luar membuat hati Jinfu seolah berlubang. Jujur, Jinfu merasa setelah insiden ibunya yang mempermalukan A Fei, hubungan keduanya terkesan merenggang. A Fei seolah menjaga jarak dengannya. Dan itu membuat perasaannya terluka.
A Fei memang sengaja menjaga jarak dari tuan muda Jiang tersebut. Tak ingin lagi dirinya disalahpahami menggoda pria itu. Dan yang terpenting, ia terlalu malas untuk berurusan dengan nyonya Jiang.
Lagipula siapa yang ingin menjadi menantu keluarga Jiang. Bahkan seandainya seumur hidup ia tidak menikah sekalipun, A Fei masih akan tetap kaya dan tidak akan hidup kelaparan.
Cukup sekali saja ia gagal dalam pernikahan. A Fei tak ingin mengulanginya lagi.
" Kak Jinfu, tuan putri, kalian berdua di sini juga? "
A Fei dan Jinfu menoleh ketika mendengar nama mereka di sebut. Seorang wanita tengah menatap keduanya dengan rasa penasaran. Sedangkan Jinfu melihat gadis itu dengan wajah datar.
A Fei memutar matanya lelah, benar-benar hari panjang hari ini, ' Kenapa setelah berdoa aku justru sial. Harus bertemu dengan wanita bermuka dua ini di sini. '
" Nona Bai, aku pikir kami berada di mana pun itu bukan urusan mu. " Ucap Jinfu acuh tak acuh.
__ADS_1
Bai Fulan masih mempertahan ekspresi wajahnya. Masih tersenyum dengan tatapan lembut. " Aku hanya ingin tahu kenapa calon suami ku berduaan bersama tuan putri di sini. Apa itu salah? "
" Jaga ucapan mu nona Bai. Siapa di sini calon suami mu? jika kau berpikir aku adalah calon suami mu maka kau salah besar. Aku tidak pernah setuju dengan perjodohan ini jadi jangan membuat berita palsu bahwa aku adalah calon suami mu. " Geram Jinfu.
Sudah sering ia katakan pada wanita itu tapi tampaknya Bai Fulan terlalu keras kepala dan semua ucapannya seolah hanya angin lalu di telinganya.
" Lebih baik selesaikan dulu masalah kalian berdua. Aku tidak akan menganggu. "
A Fei malas melihat perdebatan mereka. karena itu ia memutuskan untuk pergi. A Fei yang hendak pergi secara tidak sebagai berpapasan dengan Bai Fulan.
Byurr
Bai Fulan jatuh ke danau. A Fei bahkan tidak bereaksi karena terkejut dengan peristiwa yang terjadi begitu cepat itu.
" Tolong...to.. long.. " Mangap-mangap Fulan seperti ikan, berusaha keras agar dirinya tidak tenggelam.
Jinfu dengan sigap langsung menolongnya dan membawa Fulan ke tepian.
Pakaian keduanya basah kuyup. Bai Fulan terbatuk karena banyaknya air yang masuk ke tenggorokannya.
" Apa kau baik-baik saja. " Tanya A Fei khawatir.
Bukan menjawab, reaksi gadis itu justru terlihat aneh. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada baju Jinfu seolah ia ketakutan dengan kehadiran A Fei.
" Tolong jangan sentuh aku. Maaf.. maafkan aku putri. "
" Apa maksud mu.. " Tidak paham A Fei, kenapa Bai Fulan berkata demikian.
Pelayan Bai Fulan tiba-tiba bersujud menarik perhatian semua orang dan berkata sesuatu yang membuat kepala A Fei pusing.
" Putri tolong maafkan nona ku. Saya tahu anda pasti tidak sengaja mendorongnya ke danau. "
' Ya dewa.. apa lagi ini .. ' Benar-benar hari yang sungguh sial bagi A Fei. Lain kali mungkin ia akan melihat almanak terlebih dulu sebelum pergi keluar.
__ADS_1