Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 419 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

" Putra.. mahkota.. " Lirih Jingu.


Putra mahkota Nan adalah pangeran ketiga Kekaisaran Nan.


Jingu dan putra mahkota merupakan kakak adik yang terlahir dari ibu berbeda. Usia mereka hanya terpaut lima tahun. Meski terlahir dari rahim berbeda, hubungan mereka sangat dekat.


Putra mahkota terlahir dari permaisuri Nan, sementara ibu Jingu adalah seorang selir yang dulunya merupakan pelayan permaisuri. Kaisar Nan yang merupakan bajingan sejati bahkan tidak melewatkan pelayan istrinya. Hingga akhirnya wanita itu hamil dan di angkat selir atas desakan permaisuri.


Beruntung permaisuri adalah wanita yang baik, setelah ibu Jingu meninggal karena melahirkan. Ia sendiri merawat Jingu bersama dengan putra mahkota.


" Tidak perlu memberikan hormat. Kau masih terluka parah. " Putra mahkota Nan buru-buru menghentikan Jingu yang hendak bangun untuk memberikan hormat.


" Bagaimana kondisi mu? " Tanyanya kemudian, ia duduk di samping Jingu setelah sebelumnya mengusir nenek Wu dan pengawal Jingu keluar.


Kini hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut.


Jingu tersenyum tipis, bibirnya masih putih pucat. " Sudah lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya Yang mulia. "


" Berhenti memanggilku Yang mulia. Di sini tidak ada orang lain. Panggil aku seperti biasa saat kita hanya berdua. " Jingu mengangguk pelan.


Putra mahkota memperhatikan kondisi Jingu. Tubuhnya tampak lebih kurus dari terakhir keduanya bertemu. Sedikit banyak ia sudah mendengar penyebab dan alasan di balik lukanya tersebut. Miris memang, mencintai seseorang namun terbentang dendam di antara keduanya.


Huft.. sebagai seorang kakak jelas ia prihatin dengan kondisi adiknya tersebut. Tak hanya terluka fisik, tapi hatinya juga.


" Aku sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Shu. Karena itu aku bisa mengunjungi mu di sini. Aku pikir jika kau tak sadarkan diri hari ini. Aku akan pergi tanpa melihat mu. Beruntung, kau akhirnya sadar. "


Jingu masih menyimak. Mendengarkan setiap kalimat putra mahkota Nan.


" Terima kasih kau sudah banyak berkorban. Ketika semua ini selesai, kita bisa hidup tenang. Aku harap setelah ayah turun tahta, Kekaisaran Nan akan menjadi lebih baik. Meski aku tahu itu semua akan sangat sulit di wujudkan. ”


Jingu menggeleng tidak setuju. " Aku yakin semua akan baik jika kakak yang memimpin. " Jingu tahu bagaimana bijaksananya sang kakak. Karena itu ia yakin sekali negaranya akan makmur di bawah kepemimpinannya kelak. Menurutnya itu bukanlah hal yang sulit untuk di wujudkan olehnya.


" Benarkah? Tapi tidak jika para pendukung ayah masih menduduki pemerintahan. Mereka tak akan membiarkan kita menurunkan ayah dari singgasana. Mereka tahu ketika ayah tidak lagi memerintah. Maka mereka akan kehilangan sumber kekayaan mereka. "


Keduanya terdiam, seolah larut dalam pikiran masing-masing. Membenarkan apa yang di ucapkan oleh putra mahkota.


Putra mahkota Nan kembali melanjutkan. " Aku mungkin bukan putra mahkota yang baik karena menginginkan peperangan pada negaranya. Tapi tidak ada cara lain untuk memaksa ayah turun kecuali ini. Sudah terlalu lama rakyat menderita dan para tikus bangsawan hidup bergelimang harta. Sedikit pengorbanan akan menyelamatkan banyak nyawa. "

__ADS_1


Sambungnya, " Karena itu, aku harap secepatnya Kekaisaran Jin segera menyerang kekaisaran Nan. Aku bahkan sengaja menyebarkan rumor bahwa kekuatan militer kita sedang dalam situasi buruk agar mereka menyerang kita. Tidak tahu Sima Feng akan menangkapnya atau tidak. "


Entah Jingu harus tertawa atau prihatin dengan nasib negaranya saat mendengar ucapan putra mahkota.


" Sima Feng adalah orang yang begitu hati-hati. Ia tidak akan begitu saja menelan rumor itu. Mungkin saat ini dia sedang memastikan berita tersebut. "


Putra mahkota Nan mengangguk setuju. " Kau benar. Aku yang terlalu tidak sabar. Bukan tanpa alasan ia mendapatkan julukan mesin pembunuh di medan perang. Semua yang dilakukannya selalu terencana. "


Jingu ingat ketika tinggal di istana dan memang benar semua yang di lakukan oleh Sima Feng selalu terencana dengan matang. Tiba-tiba Jingu khawatir dengan nasib sang kakak. Seandainya ayahnya tahu bahwa salah satu putranya berkhianat, apa yang akan dilakukannya?


" Apa kau masih dengan keputusan mu? aku masih berharap kau bisa mendampingi aku saat memimpin Kekaisaran Nan. " Pertanyaan putra mahkota Nan berhasil membuyarkan lamunan Jingu.


Raut wajah Jingu berubah, menunjukkan ekspresi kesepian. " Maafkan aku kak. Tapi keputusan ku masih tetap sama seperti dulu. Aku hanya ingin lepas dari istana, ingin hidup bebas dan menjadi diri sendiri."


Putra mahkota menghela napas, " aku harap di masa depan kau bisa mengubah keputusan mu. "


Hampir mustahil memang. Mengingat betapa kerasnya Jingu selama ini. Terlebih itu adalah impiannya selama ini. Melepas belenggu istana yang selalu merantai dan mengekangnya.


' Aku harap 'dia' bisa menjadi bantuan terbesar kakak di saat genting nanti. Sesuai dengan resiko besar ketika kau meminta ku untuk menyelamatkannya. ' Batin Jingu berharap.


*********


" Aku akan memilih menjadi tumpukan kertas itu andai aku tahu mereka lebih menarik perhatian istri ku. " Suara Sima Rui mengalihkan perhatian Ziyan. Wajah yang sebelumnya terlihat penuh konsentrasi kini tersenyum lebar, Ziyan bangkit dan menyambut kedatangan sang suami.


Merangkul pinggang Sima Rui, Ziyan mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu.


"Maaf mengabaikan mu. Kemarilah, aku membutuhkan saran mu. " Ziyan menarik suaminya dan mendorongnya untuk duduk di kursi kebesaran yang ada di ruang kerjanya lalu Ziyan sendiri duduk di pangkuan Sima Rui.


Sima Rui menyukai ketika istrinya bertindak liar dan menggoda seperti ini. Matanya menyapu atas meja yang penuh dengan laporan serikat dagang Zi.


" Istri ku, apa kau sudah memutuskan siapa yang akan menggantikan Wenran? " Tanya Sima Rui, melihat begitu banyaknya laporan yang harus di periksa Ziyan, ia tahu bagaimana sibuknya istrinya kini.


" Bagaimana menurut mu dengan Bingjie? mungkin dia tidak sedetail Wenran tapi dia mampu bekerja secara efisien. "


Sima Rui tampak berpikir. Ia melihat sang istri lalu mengangguk. " Dia tidak buruk. "


Ziyan terkekeh. " Hanya itu? penilaian macam apa itu. "

__ADS_1


" Karena kau juga setuju, maka aku akan meminta Bingjie menggantikan Wenran mulai besok. " Putus Ziyan.


Sima Rui memeluk pinggang mungil Ziyan. Wanita berusia kepala empat itu masih tampak seperti awal 30an. Bentuk tubuhnya bahkan tak kalah dengan para gadis. Sungguh, Sima Rui begitu mengagumi sosok istrinya ini.


Berawal dari kecupan kecil di tengkuk dan leher. Sima Rui mulai menjajah setiap inci tubuh sang istri. Sentuhan sederhana itu mampu membuat keduanya bergairah dan tenggelam dalam kabut hasrat.


Ruangnya itu seketika berubah panas. Meja yang sebelumnya penuh laporan itu kini berubah menjadi tempat mereka memadu kasih.


Di luar ruangan. Tubuh Sima Feng mendadak membeku. Ia yang awalnya hendak masuk untuk berbicara dengan sang ibu langsung mengurungkan niatnya.


Dia melirik penjaga dan pelayan yang berada di sekitarnya kini berwajah mereka. Malu karena harus mendengar suara peraduan kedua orang tuanya.


' Ayah, tidak bisakah kau melakukannya di kamar. Aku yang anak mu saja malu sekali apa lagi mereka.. ' Sungguh ayahnya ini tidak tahu tempat. Heran sekali dengan mereka. Masih begitu bergairah meski usia sudah tak lagi muda.


" Pangeran, anda tidak jadi menemui Yang mulia? " Tanya kasim sang asisten saat melihat Sima Feng hendak berbalik pergi.


" Menurutmu? apa mungkin ayah mau menemui ku disaat dirinya tengah sibuk seperti itu. " Sindir Sima Feng.


Kasim tersenyum kaku. Salah karena menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Ia tahu, kaisar akan mengamuk dan menghukum siapapun yang berani mengganggu kesenangannya.


Pria yang sedang bergairah akan sangat menakutkan ketika gagal mendapatkan pelepasan. Dan mereka tahu itu.


Sima Feng memutuskan untuk kembali ke istananya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan A Fei.


" Kau mau menemui ibu? " tebak Sima Feng. Tahu jika sang adik baru saja keluar dari penjara dan pasti berharap bisa mengeluh pada ibu mereka.


" Iya. Apa ada masalah? "


" Lebih baik kau kembali. Ibu sedang tidak bisa di ganggu. Ia sedang sangat sibuk sekarang. " Kata Sima Feng memberitahu. Jelas ada makna ambigu di sana tapi A Fei sama sekali tidak menyadarinya.


" Apa yang aneh? ibu memang selalu sibuk. " A Fei hendak melangkah pergi tapi Sima Feng mencekal tangan untuk menghentikannya.


"Apa lagi? " Ketus A Fei mulai kesal.


" Jangan ke sana. Aku benar-benar memberitahu mu atau kau akan sangat menyesal. Kau pasti tahu bukan bagaimana mengerikannya ayah bila kesenangannya terganggu. "


Mata A Fei menyipit. " Ayah ada di dalam? " dan Sima Feng mengangguk dengan ekspresi aneh.

__ADS_1


A Fei paham kali ini. Ia berdecak kesal. " Kenapa tidak katakan sejak tadi. Ah beruntung aku belum ke sana. Semoga saja mereka tak membuatkan adik untuk ku. "


Membayangkan memiliki adik yang usianya sama dengan keponakan benar-benar menggelikan.


__ADS_2