
Kekaisaran Nan.
Kekacauan tengah terjadi di Kerajaan itu. Setelah penyamaran Jingu dan kejahatannya terungkap. Tak hanya Kerajaan Jin, kerajaan Shu juga menghentikan seluruh kerjasama mereka dengan Kerajaan Nan. Tentu saja apa yang Kerajaan Shu lakukan atas campur tangan Arthur. Dan itu berhasil membuat Kekaisaran Nan ketar ketir.
" Bagaimana bisa kerajaan Shu juga memutuskan kerja sama dengan kita? cepat jelaskan pada ku! " Teriak kaisar Nan, kemarahannya menggelegar di seluruh aula pengadilan. Seluruh Pejabat mendadak berubah bisu.
Seorang Menteri pemberani maju mengabaikan kedua kakinya yang gemetar.
" Jawab Yang mulia, kabarnya kaisar Shu memiliki hubungan baik dengan salah satu bangsawan terkaya di sana. Tidak hanya itu, ia juga selalu mendengarkan sarannya. Secara kebetulan bangsawan itu memiliki hubungan baik dengan Kaisar dan ratu Jin. "
" Lalu apa hubungannya? kenapa itu menjadi alasan kerajaan Shu ikut menghentikan seluruh kerjasama dengan kerajaan kita? "
Menteri itu semakin gemetar, keringat dingin mulai merembes di punggungnya. Berharap apa yang akan diucapkannya tidak di anggap sebagai omong kosong oleh orang nomor satu di Kekaisaran Nan tersebut.
" Kabar yang saya dengar karena hubungan yang dekat tersebut, bangsawan itu menganggap putra putri ratu Jin sebagai anak-anaknya. Karena itu, ia melakukan semua ini untuk membalas kematian putra mahkota Jin, Yang mulia. "
" OMONG KOSONG! " Teriakan Kaisar Nan membuat menteri tadi melonjak kaget.
Dan benar saja, kaisar Nan benar-benar menganggapnya sebagai sebuah omong kosong.
" Meski hubungan mereka baik, menganggap anak orang lain sebagai anak sendiri bukankah berlebihan. Sungguh lelucon. Apa bangsawan itu impoten hingga tak mampu memiliki anak sendiri dan malah mengakui anak orang lain. "
Dasarnya kaisar Nan orang yang buruk, tidak heran jika mulutnya pun kotor. Andai Arthur tahu dirinya dianggap impoten, mungkin saat ini ia akan muntah darah karena emosi.
Putra mahkota Nan melihat ayahnya yang mulai berkata vulgar itu segera maju.
" Ayah, harap tenang. Saya akan membujuk kaisar Shu untuk memikirkan kembali keputusannya. "
Berbeda dengan ayahnya yang haus akan kekuasaan, putra mahkota jauh lebih bijaksana. Pria yang seumuran dengan Sima Rui itu masih setia dengan posisinya sebagai putra mahkota setelah puluhan tahun. Kaisar Nan yang sudah tua enggan turun tahta dan masih mempertahankan kekuasaan dan bertindak sewena-wena.
" Apa yang akan kau lakukan? apa menurut mu kata-kata bodoh mu berguna untuk meyakinkan mereka? " Ejeknya pada sang putra mahkota. Kaisar Nan juga tersenyum sinis padanya.
Seolah terbiasa, Putra mahkota hanya menganggap kata-kata kasar ayahnya sebagai angin lewat.
Ia berkata lagi, " Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya ayah. Lagi pula tidak ada cara lain selain membujuk mereka. Jika kita melawan mereka dengan kondisi kita saat ini sudah pasti hanya kekalahan yang akan kita dapatkan. "
Kaisar Nan berdecak tak suka saat kembali di ingatkan dengan lemahnya kekuatan militer mereka saat ini.
" Ck.. terserah kau. Lakukan sesuai keinginan mu. Pastikan cara ini berhasil. Setidaknya itu membuktikan kau layak menjadi putra mahkota. Jika kau gagal maka mundur saja dari posisi mu. Aku masih memiliki banyak anak yang bisa menggantikan mu. " Kata kaisar Nan tak peduli bila ucapannya menyinggung sang putra mahkota.
" Pertemuan hari ini selesai. " Segera kaisar Nan bangkit dan pergi dari aula.
__ADS_1
Beberapa menteri pendukung putra mahkota satu persatu menghiburnya. Mereka sebenarnya tidak suka dengan cara kaisar Nan memerintah dan berharap pria tua itu segera turun tahta. Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka terlalu takut untuk menyinggung kaisar, pengecut memang. Bagaimana pun juga kekuasaan mutlak di tangan kaisar. Mereka masih menyayangi nyawa diri sendiri dan keluarga mereka.
" Terima kasih atas dukungan kalian. Aku harap kaisar Shu mau mempertimbangkan kembali kerjasama dengan kita. " Harap Putra Mahkota pada para menteri di sampingnya.
Bukan tanpa sebab putra mahkota Nan berkata demikian. Tak ada satupun yang mengira bahwa di kepalanya sudah terangkai rencana yang akan membuat kerjasama itu kembali tapi juga sekaligus membuat sang ayah turun dari tahtanya. Jika kaisar Nan seorang tiran, maka putra mahkota adalah serigala berbulu domba.
******
" Putri, apa dada mu masih terasa sakit? " Tanya seorang tabib baru saja memeriksa A Fei.
Begitu bangun pagi, A Fei merasakan sesak di dadanya. Ia tidak kesulitan bernapas, hanya saja dadanya terasa nyeri.h
A Fei mengangguk menjawab pertanyaan tabib. Lalu berkata, " Disini. " Tunjuknya pada area dimana ia merasa sakit. Posisinya sama persis dimana ia menikam Jingu.
" Terasa nyeri. Kemarin aku sama sekali tak merasakan apapun, namun pagi ini tiba-tiba saja terasa sakit. " Lanjutnya memberitahu.
Tabib itu mendengar penjelasan A Fei lalu mengangguk sesekali sembari memegang jenggotnya yang panjang.
Segera tabib itu memeriksa denyut nadi A Fei. Ekspresi rumit karena bingung tak ada yang salah dengan itu. Kemudian, ia bertanya tentang keseharian A Fei kemarin, apa yang dilakukannya dan juga apa yang di makannya. Tapi lagi-lagi tak ditemukan sesuatu yang janggal.
Otak tua tabib itu berpikir keras. Jujur, ia sendiri tak tahu penyebab rasa sakit A Fei. Tapi sebagai kepala tabib istana, tak mungkin ia berkata tidak tahu.
" Sepertinya putri hanya terlalu lelah dan terkena angin malam, karena itulah peredaran darah di sekitar jantung menjadi tidak lancar. Itu juga kenapa putri merasa nyeri. " Jelas tabib asal namun sangat meyakinkan.
Tabib berdeham, memutar lagi otaknya untuk berpikir. " Lelah tak harus secara fisik, putri. Lelah pikiran juga bisa. Mungkinkah akhir-akhir ini putri terlalu banyak pikiran? jika itu benar, tolong anda lupakan sejenak masalah itu agar tubuh anda tidak stres. "
Masuk akal. A Fei merasa penjelasan ini lebih meyakinkan sesuai dengan masalahnya saat ini. Beban pikiran, mungkin itulah yang menjadi alasan rasa nyerinya.
Sebelum pergi, tabib meresepkan tonik untuk meningkatkan stamina A Fei. Xiao Er segera menyiapkan tonik tersebut. Ia sendiri yang merebusnya. Bukan karena kurang kerjaan, ia hanya tidak percaya jika orang lain yang melakukannya. Belajar dari kejadian Jingu, Xiao Er menjadi lebih hati-hati.
" Aku merasa seperti wanita jompo ketika harus minum tonik ini. " Gerutunya begitu selesai menghabiskan tonik di tangannya.
" Tidak hanya wanita jompo yang minum ini, putri. Kebanyakan wanita yang sudah menikah juga terkadang minum ini untuk meningkatkan stamina mereka dalam melayani suami di ranjang. "
Kedua alis A Fei mengerut sangat dalam seolah itu mampu membuat seekor nyamuk mati terjepit. Wajahnya juga semakin cemberut.
" Aku seorang janda. Menurut mu siapa yang harus ku layani. " A Fei berkata ketus. " Kau ini.. tidak bisakah kau berkata lebih menyakitkan lagi. "
Jika itu pelayan lain, mungkin akan ketakutan karena mengira A Fei marah. Tapi tidak dengan Xiao Er. Ia bisa membedakan mana yang benar-benar marah dengan yang hanya sebuah candaan.
" Saya pikir meskipun anda janda, masih banyak pria yang mengantri untuk menikahi anda, putri. Jadi kenapa jika anda seorang wanita yang sudah bercerai? "
__ADS_1
A Fei berdecak. " Menikah? aku tidak ingin menikah dengan pria sampah lain. Mereka hanya melihat status ku bukan mencintai ku. Mengejar hidup makmur tanpa harus repot. Apa kau tidak ingat dengan obrolan para gadis malam itu. Mereka menganggap ku sebagai sepatu usang yang tak layak pakai. Jadi mana mungkin ada pria yang benar-benar ingin menikahi ku tanpa melihat status ku sebagai putri. "
Tiba-tiba ia teringat dengan Jingu, dan itu membuat dadanya kembali nyeri. Meski tak lama rasa sakit itu perlahan hilang lagi.
" Kau tahu, sebenarnya ada untungnya juga status janda ini. Karena status ini, membuat para pria yang dulu ingin meminang ku berkurang setengah. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot untuk menyortir mereka yang berbaris ingin melamar ku. Para pria yang sama sekali tak memiliki hati tulus. "
Sebenarnya A Fei mengatakan kalimat ini sebagai ejekan untuk dirinya sendiri. Seolah menunjukkan bahwa tak ada pria yang tulus padanya. Tidak terkecuali Jingu, A Fei percaya pria itu juga mencintainya namun terselip maksud terselubung.
A Fei kembali ke mode curhat. Dimana Xiao Er harus setia mendengarkan.
Dulu sebelum menikah dengan Li Chenlan, banyak putra bangsawan dan pejabat yang berniat melamar A Fei, bahkan meskipun sudah memiliki perjanjian pernikahan dengan kerajaan Wei. Tidak membuat para pria itu putus asa. Mereka berpikir hanya karena kerajaan Wei adalah kerajaan kecil, perjanjian itu bisa di putus kapan saja.
" Tapi anda tidak bisa seperti ini terus putri. Kaisar dan Ratu pasti sangat mengkhawatirkan anda. Mereka juga berharap putri bisa menikah dan berkeluarga seperti putra mahkota. "
Xiao Er teringat sesuatu, kemudian ia mendekat dan berbisik. " Saya baru mendengar ini dan Saya pikir setidaknya anda harus tahu putri. "
" Apa? "
" Ada desas desus yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada anda karena karma Yang mulia Kaisar yang dulu selalu menolak wanita dan tak segan menyakiti mereka yang nekat berbuat jauh. Konon katanya bahkan ada satu wanita yang harus mengalami hal memalukan dan terpaksa diasingkan oleh keluarganya setelah kejadian itu. "
" Rumor konyol apa lagi itu? " Meski marah karena ayahnya di anggap sebagai sumber kemalangannya, A Fei masih saja penasaran dan memaksa Xiao Er untuk kembali bercerita.
Dengan volume suara sangat pelan, Xiao Er berbicara lagi. "Jadi... putri apa anda baik-baik saja? " Xiao Er panik saat tiba-tiba A Fei mengerang sembari memegang dadanya.
A Fei kembali merasakan nyeri. Kali ini benar-benar terasa sakit.
Di saat yang sama namun tempat berbeda.
Jingu yang masih tak sadarkan diri tiba-tiba mengalami kejang.
" Nenek Wu apa yang terjadi dengan pangeran? " Tanya pengawal Jingu panik.
" Berhenti bertanya. Sebaiknya kau diam karena itu mengganggu konsentrasi ku. "
Luka Jingu ternyata meradang dan itu membuat suhu tubuhnya meningkat. Karena suhu yang terlalu tinggi membuatnya kejang. Setelah memberikan obat pereda nyeri dan penurun panas. Suhu tubuh Jingu berangsur turun.
" Sudah lebih baik. Suhu tubuh pangeran juga sudah turun. "
" Kenapa luka pangeran bisa meradang? apakah obat yang kau berikan tidak bekerja, nenek Wu? lalu apa pangeran akan kembali kejang? "
Nenek Wu memutar bola matanya, kali ini ia memiliki keinginan untuk menjahit mulut cerewet bawahan Jingu tersebut.
__ADS_1
" Tidak ada yang menganggap mu bisu meski kau tidak berbicara. Jadi berhenti bertanya karena itu membuat telinga ku berdenging. "
Seolah memiliki kontak batin, nyeri di dada A Fei juga perlahan hilang.