Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 363 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Liu Ru membuka matanya. Samar, ia menatap sekeliling dan menemukan dirinya berada di tempat asing.


' Dimana ini? ' Itulah yang ada di pikiran Liu Ru saat ini.


Ia merasa lemah, seluruh badannya juga sakit. Liu Ru teringat mengenai peristiwa terakhir yang di alaminya. Serangan perampok lalu kudanya tiba-tiba menggila dan berlari kencang hingga akhirnya terperosok.


Liu Ru menduga seseorang pasti sudah menolongnya.


Ketika sibuk mencerna situasi, terdengar suara pintu terbuka.


Liu Ru menoleh dan melihat seorang wanita tua berdiri dengan sebuah mangkuk di tangannya.


Ia tersenyum, " Kau akhirnya sadar juga. "


Wanita itu tampak ramah. Ia berjalan mendekat lalu meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja yang ada di samping ranjang Liu Ru.


Liu Ru masih diam sembari memperhatikan wanita tua itu.


Sementara wanita tua itu terus berbicara seolah-olah mereka berdua sudah saling mengenal lama. " Aku membuatkan mu tonik. Ini berguna untuk mengembalikan tenaga mu dan juga menstabilkan janin yang ada dalam kandungan mu. "


' Anak ku. ' Liu Ru baru ingat bahwa ia sedang hamil. Refleks ia menyentuh perutnya yang masih rata lalu mengelusnya. Sedangkan telinganya masih terus mendengarkan wanita tua itu bicara.


" Mungkin akan sedikit pahit, tapi percayalah ini sangat berguna dan bagus untuk kesehatan mu dan juga anak mu. Saat ini janin di kandungan mu sangat lemah meski begitu ia cukup kuat karena masih bisa bertahan meski kau terluka separah ini. Aku menduga ayahnya pasti seorang yang sangat kuat juga. "


' Benar. Ayahnya tak hanya kuat. Tapi hebat dalam segala hal. ' Batinnya. Liu Ru masih saja memuji Sima Feng meski pria itu sudah berkali-kali menorehkan kekecewaan di hatinya.


" Jika kau tak tahan dengan rasa pahitnya. Makanlah permen gula ini. Itu akan mengurangi rasa pahit di lidah mu. " Nenek Wu mengambil sebuah kantong kecil dari saku bajunya dan meletakkannya di samping mangkuk obat Liu Ru.


" Apa kau masih merasa sakit? " Tanyanya melihat Liu Ru yang masih sedikit pucat.


Liu Ru menggeleng. " Terima kasih sudah menolong ku. Aku berhutang pada mu nek. " Ia berkata dengan suara lirih. Tenggorokannya terasa kering dan sakit karena lebih dari sehari belum ada setetes air yang masuk ke tenggorokannya.


" Bukan aku yang menolong mu. Itu Jingu yang membawa mu ke sini. Aku hanya mengobati mu. "


' Jingu? baiklah setelah ini aku harus mengucapkan terima kasih padanya. ' Gumam Liu Ru dalam hati.


" Tetap saja. Aku tetap harus mengucapkan terima kasih. "


Nenek tua itu tersenyum puas. Dari percakapan singkat ini ia sudah bisa menebak jika Liu Ru adalah wanita yang baik.


' Seandainya ia tidak hamil. Aku akan memaksanya untuk bersama dengan Jingu. Wanita ini tak hanya cantik tapi juga baik. Sungguh sangat pas untuk bersanding dengan bajingan kecil itu. ' Batin nenek Wu.


" Baiklah jika kau memaksa. Kau bisa membayar ku saat kesehatan mu sudah lebih baik. "


Liu Ru terkekeh. Ia tahu nenek Wu hanya bercanda, tapi ia tetap akan membayarnya sebagai balas budi. " Baik. Sesuai keinginan mu nenek... "

__ADS_1


" Nenek Wu. Kau bisa memanggil ku nenek Wu. " Ucapnya pada Liu Ru seolah ia bisa membaca pikirannya yang bingung harus memanggilnya apa.


Sekali lagi, Liu Ru mengangguk lemah. " Nenek Wu.


" Sekarang kau minumlah. Aku tahu sekarang kau pasti sangat haus. Setelah itu, kau harus habiskan obat mu ini, agar tubuhmu bisa segera pulih. Pelan-pelan... " Nenek Wu membantu Liu Ru mengangkat sedikit kepalanya untuk memudahkannya minum.


Karena terlalu lama pingsan, Liu Ru memang merasa haus.Tanpa merasa sungkan, ia menerima bantuan nenek Wu dan meminum obat yang sebenarnya pahit namun di abaikan oleh Liu Ru.


Setelah meminum habis obatnya, ia kembali berbaring. Tak lama kemudian ia merasa mengantuk dan dengan cepat memejamkan matanya.


Jingu masuk setelah beberapa saat. Ia memperhatikan Liu Ru yang masih memejamkan matanya.


" Nenek Wu. Ku pikir kau dukun terbaik tapi ternyata perkiraan mu bisa meleset juga. Kau bilang dia akan bangun di waktu-waktu sekarang. Tapi lihatlah, ia masih belum membuka matanya juga. "


" Bajingan kecil. Sepertinya kau mulai memandang remeh diriku. Jika ku katakan dia akan bangun, dia pasti akan bangun. Perkiraan ku tidak salah, dia memang baru saja bangun. Lihatlah mangkuk itu, ia baru saja meminumnya. " Tunjuk nenek Wu pada mangkuk kosong bekas obat Liu Ru tadi.


" Maksudmu nenek Wu, dia sudah siuman tadi? "


" Itu benar. " Jawab acuh tak acuh nenek Wu.


" Kenapa kau tidak memanggilku nek jika wanita ini sudah bangun. " Bibir Jingu mencebik kesal.


" Kenapa? apa kau akan memaksanya untuk membayar mu? " Tanya nenek Wu sedikit keras.


Jingu tersenyum konyol. " Kau memang paling mengerti aku. Tentu saja aku akan meminta dia untuk membayar ku. Itu bisa di anggap sebagai balas jasa atas punggung ku yang sudah menggendongnya kemari. "


" Kau bahkan tak mengenalnya. Bagaimana kau bisa tahu wanita ini baik. " Jingu masih skeptis dengan penilaian nenek Wu.


" Tentu saja karena intuisi ku. Bukankah kau juga setuju jika intuisi selalu tepat. "


Jingu terdiam. Ia tidak membantahnya.


Ada alasan lain kenapa ia mendapat panggilan dukun alih-alih tabib. Itu karena semua orang percaya bahwa ia memiliki mata batin yang membuat intuisi atau tebakannya selalu tepat.


*****


Dua anjing pelacak ras German Shepherd berdiri dengan patuh di depan Sima Feng mengabaikan A Fei yang sibuk mengelus mereka seolah keduanya adalah patung anjing berbulu.


Mereka adalah anjing terbaik yang di latih Ziyan untuk membantu Heilong dalam melacak dan mencari informasi. Jadi tidak heran jika keduanya terlihat cerdas dan terlatih. Bahkan anggota Heilong yang lain menganggap mereka bukan anjing melainkan rekan mereka.


" Paman, terima kasih sudah membawa mereka kemari. " Masih dengan wajah datar, Sima Feng berkata pada Bingjie.


Dialah yang membawa kedua anjing pengendus itu.


" Ini sudah tugas saya, Yang mulai. " Bingjie sedikit membungkuk sebagai gestur bahwa ia menerima ucapan terima kasih sima Feng.

__ADS_1


" Paman Bingjie, kau masih terlihat gagah dan tampan. Tidak heran ibu pernah mengagumi mu. "


Mulut A Fei yang terbiasa berbicara seolah tak memiliki penyaring itu berhasil membuat bingjie pucat.


" Hahaha aku hanya bercanda paman. " Lagi-lagi A Fei tertawa puas melihat reaksi Bingjie.


' Putri, candaan mu sangat menakutkan. ' Gumamnya meski hanya dalam hati.


Bagaimana tidak, Sima Rui yang sangat mencintai istrinya tersebut pasti akan menebas kepalanya jika mendengar ucapan A Fei yang mengatakan bahwa Ziyan pernah mengaguminya. Meskipun itu hanya sebuah candaan gadis itu, tapi tidak bagi Bingjie, di sini nyawanya yang di pertaruhkan.


" Berhenti mengatakan omong kosong A Fei. sekarang lebih baik kau kembali ke dalam dan temani Xiao Yi. " Usir Sima Feng.


Masih terkekeh, A Fei masuk ke dalam penginapan setelah memberi jawaban pada saudaranya dengan menyatukan telunjuk dan ibu jarinya.


Pencarian mereka akhirnya di mulai. Sima Feng dan Bingjie di pandu dua anjing German Shepherd itu mulai menelusuri hutan mencari jejak Liu Ru. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah desa kecil yang terletak cukup dalam dan berada di tengah hutan. Sima Feng yakin sekali jika ini adalah desa tersembunyi.


" Sepertinya Wangfei ada di sini Yang mulia. " Bingjie mengutarakan dugaannya setelah melihat kedua anjing mereka yang terus bergerak ke arah desa tersebut.


" Kalau begitu mari kita masuk. " Sima Feng tanpa pikir panjang langsung memutuskan untuk masuk ke sana.


Setelah menyerahkan kedua anjing pada bawahannya yang lain. Tanpa membuang waktu, Bingjie dan Sima Feng bergegas masuk ke desa itu.


Kedatangan mereka berdua tampaknya tak di sambut baik oleh penduduk desa. Mereka menatap keduanya penuh curiga begitu Bingjie dan Sima Feng memasuki perkampungan tersebut.


Baik Bingjie dan Sima Feng pun menyadarinya.


" Siapa kalian? " Jingu menghadang dengan kedua tangannya berkacak pinggang.


" Ini bukan tempat yang bisa kalian masuki dengan sesuka hati. " Tambahnya. Tatapan Jingu menunjukkan bahwa ia tidak menyukai kedatangan keduanya.


" Aku mencari seseorang. " Sima Feng menunjukan aura arogansinya. Ia tak ingin repot-repot memberikan penjelasan panjang lebar pada orang tak di kenalnya. Baginya cukup memberitahu tujuan kedatangan mereka secara singkat.


Kedua alis Jingu terangkat. " Ini bukan biro penyidik. Jika kau kehilangan orang dan ingin mencarinya maka datanglah ke sana dan bukan malah berkeliaran di sini. Aku yakin para petugas bodoh itu akan membantu mu mencarinya. " Sarkas Jingu.


" Orang yang ku cari ada di sini dan aku tak membutuhkan ijin mu untuk mencarinya di sini. "


" Dasar sombong. Kau tidak tahu ada dimana dan sedang berhadapan dengan siapa, hah? selain itu, dari mana kau tahu orang yang kau cari ada di sini? apa kau seorang cenayang? " Ejek Jingu dengan sinis.


" Aku leluhur mu. "


Ucapan provokasi Sima Feng berhasil membuat Jingu marah. Ia memanggil kelompoknya yang dalam waktu singkat sudah mengepung Sima Feng dan Bingjie.


' Pemuda ini justru memanggil teman-temannya hanya untuk dipukuli oleh Sima Feng. ' Bukannya takut, Bingjie justru menertawakan kebodohan Jingu.


" Sekarang pergilah dari sini. Sebelum aku meminta mereka untuk memukuli mu. " Jingu berkata sombong.

__ADS_1


Sima Feng menatap satu persatu sekelompok pria di depannya. Mudah baginya mengalahkan mereka. Karena itu dengan tenang ia justru tersenyum sinis dan meminta mereka untuk maju menyerangnya. Sementara Bingjie, sudah sejak tadi menyingkir, memberikan panggung untuk Sima Feng memukuli mereka.


Sima Feng yakin sekali Liu Ru berada di desa ini. Itulah kenapa ia tidak peduli meski sekelompok pria itu memaksanya pergi. Saat ini yang terpenting adalah segera menemukan istrinya dan meminta maaf padanya.


__ADS_2