Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 400 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Wajah Jingu tegang, saat ia menemukan tiga dari empat penjaga bayangan A Fei terluka parah, ia tahu bahwa ayahnya yang licik pasti sudah menyiapkan kelompok lain untuk membunuh A Fei. Sedangkan kelompok pertama hanya sebagai pengalihan.


" Dimana putri? " Tanyanya khawatir saat melihat penjaga bayangan terakhir yang masih tergelak di tanah dengan beberapa luka serius bersama puluhan pria berbaju hitam yang juga tak sadarkan diri.


" Ke arah barat. Cepat kejar putri. Aku lihat beberapa orang mengejarnya. " Penjaga bayangan itu berusaha keras memberitahu Jingu hingga akhirnya kembali pingsan.


Tanpa membuang waktu, Jingu segera berlari ke arah yang ditunjuk. Segala pikiran buruk silih berganti muncul di kepala. Bersama dengan itu, rasa bersalah dan penyesalan juga menyelimutinya.


' A Fei, jika sampai terjadi sesuatu dengan mu. Aku berjanji akan membayarnya dengan hidup ku. ' Batinnya cemas.


Lucu memang, ia yang seharusnya menjerat wanita itu tapi justru dirinya yang kini terjerat olehnya. Jingu akui ia terperangkap dalam permainannya sendiri. Nyatanya pesona Sima Fei tak mampu ia tepis. Wanita itu mampu mengambil alih seluruh hatinya. Membuatnya berada di persimpangan dilema yang amat sulit untuk di pilih.


Jingu melihat sisa kelompok yang mencari A Fei.


" Berhenti kalian. Jangan kejar wanita itu lagi. "


Lima pria berpakaian hitam menoleh untuk menemukan pangeran ke lima kerajaan Nan menantang mereka.


Tanpa memberikan hormat, mereka berkata. " Maaf pangeran, tapi kami terpaksa harus menolak perintah anda. Yang mulia kaisar sudah memerintahkan untuk apapun yang terjadi kami harus berhasil membunuh putri Kekaisaran Jin itu. Termasuk jika anda muncul dan menghalangi kami. Dengan terpaksa kami harus melawan anda, pangeran. "


Alis Jingu terangkat seolah mengejek dirinya yang sama sekali tak dianggap oleh para pembunuh suruhan ayahnya tersebut. Ayahnya benar-benar menempatkannya sebagai bidak.


" Jadi ayahku bahkan tak segan-segan untuk membunuh ku jika aku menghalangi kalian? ck.. sungguh menggelikan. " Ia terkekeh menertawakan nasibnya yang begitu tak berharganya di mata sang ayah. Seekor singa bahkan tidak akan memakan anaknya sendiri. Namun lihatlah ayahnya, sangat kejam melebihi binatang buas sekalipun.


" Karena itu perintah ayah, baiklah. Aku tak akan menghalangi kalian. "


Berpikir Jingu melepaskan mereka. Para pembunuh itu berbalik untuk pergi, namun belum juga mereka melangkah, salah satu pembunuh itu sudah tumbang ke tanah secara tiba-tiba.


Mereka sontak terkejut dan menoleh untuk menemukan Jingu baru saja menebaskan pedangnya pada salah satu anggota mereka.

__ADS_1


" Pangeran, kau! " Geram salah satu pembunuh.


" Majulah. Aku tidak akan menghalangi kalian jika kalian mampu membunuh ku. "


Dan pertarungan pun tak terelakan. Berbeda dengan para pembunuh sebelumnya. Kelompok ini jauh lebih kuat. Tampaknya sang ayah sengaja mengirim yang terkuat untuk melawan para penjaga bayangan.


Ck, ayahnya benar-benar licik. Tak heran pepatah berkata semakin tua jahe semakin pedas. Pak tua itu sama sekali tak bisa dianggap remeh.


Butuh usaha keras Jingu untuk menjatuhkan mereka semua. Kali ini ia harus membunuh mereka. Jika sampai salah satu dari mereka hidup dan melapor pada sang ayah maka masalah lebih besar sudah pasti menantinya.


Setelah membereskan kelima pembunuh suruhan ayahnya. Jingu kembali mencari A Fei, ia melihat sebuah gua dan ada jejak kaki di sekitar tanah yang saat ini sedang sedikit basah.


' Itu jejak kaki A Fei. ' Pikirnya. Hanya melihat ukuran jejak kaki itu, Jingu sudah bisa mengetahui bahwa itu milik A Fei. Sungguh ironis, Jingu akhirnya sadar bahwa kini dirinya sudah jatuh terlalu dalam dengan perasaannya pada A Fei.


" Putri! " Teriak Jingu memanggil dari mulut gua.


" Di.. sini... " Lirihnya hampir tak terdengar.


" Putri! " Pekik Jingu saat melihat A Fei yang bersandar di sebuah batu besar. Wajahnya tampak pucat seperti kertas seolah tak ada aliran darah di kepala.


" Putri apa kau baik-baik saja? bagian mana kau terluka. " Desak Jingu memeriksa tubuh wanita itu.


" Tenang lah. Mereka tidak melukai ku hanya seekor ular yang menggigit ku. " Jawab A Fei lemah.


" Apa?! " Jingu terkejut. Ia segera memeriksa kaki dan menemukan dua titik luka yang sudah membiru.


" Ini parah. " Gumamnya begitu melihat bekas gigitan ular di kaki A Fei. " Tenang.. tenang.. disaat seperti aku tidak boleh panik. Baiklah, hal pertama adalah memberikan anti racun. "


Kemudian ia teringat bahwa A Fei selalu membawa racun dan anti racun yang ia simpan di sebuah kantong. " Putri dimana anti racun mu? "

__ADS_1


" Hilang. "


" Apa? Ck.. kenapa harus hilang di saat seperti ini. " Ia menggaruk kepala frustasi.


Tiba-tiba ia ingat benda yang ada di sakunya. Meraba saku dadanya, ia memasukkan tangan untuk mengambil sebuah kantong kecil.


" Makanlah putri. Meski ini tidak sebagus pil buatan mu. Tapi ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. " A Fei membuka mulutnya dan menelan pil yang di berikan oleh Jingu tersebut. Ia bahkan tak peduli pil apa yang baru saja di makannya itu.


Jingu membawa A Fei di punggungnya. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun yang berbicara. Keduanya seolah sibuk akan pikiran masing-masing.


" Maaf... " Ucap Jingu pelan.


A Fei berpikir 'maaf' Jingu karena ia terlambat datang hingga membuat kondisinya seperti sekarang namun yang tidak ia tahu 'maaf' itu untuk hal lain.


" Jangan meminta maaf. Aku tak apa. Aku saja yang tidak melihat ular itu dan tanpa sadar membuatnya terprovokasi. " Suara A Fei lemah.


Ia merasa punggung lebar Jingu hangat. Tanpa sadar itu membuatnya nyaman. Membaringkan kepala dan memejamkan mata, A Fei mencoba menikmati setiap kenyamanan tersebut.


Wanita itu kembali berbicara. " Kau tahu, sebelum kau datang aku takut sekali. Aku takut jika kau sedikit lebih lama lagi maka aku pasti akan mati. Aku tidak takut akan kematian itu. Aku hanya takut akan membuat keluarga ku sedih. Ketika kematian kak A Guang, aku bisa melihat betapa suramnya keluarga ku saat itu. Berpikir apa yang akan terjadi jika aku juga pergi? hati mereka pasti akan hancur. Jadi setiap detik, aku memohon pada langit agar secepatnya kau bisa menemukan ku dan tampaknya itu berhasil. Langit masih menyayangiku. "


" Kau memang diberkati putri. "


" Aku tahu. Tapi yang terpenting adalah karena aku percaya pada mu. Terima kasih karena sudah menolong ku. "


Jingu tersenyum getir. Sungguh ucapan terima kasih A Fei ibarat pisau yang menyayat hatinya.


' Tolong jangan percaya pada ku. ' Tentu saja itu hanya sanggup ia sampaikan dalam hati. Ingin rasanya ia berteriak dan mengatakannya. Tapi di sisi lain, ia juga begitu takut untuk dibenci. Ia belum siap jika harus menanggung kebencian wanita itu.


Ya dewa apa yang harus ku lakukan? aku sangat mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2