
Jiali akhirnya mengerti. Ziyan sedang mempermainkannya. Ia secara tidak langsung menyuruhnya untuk segera pergi. Jiali sangat kesal dengan sikap ziyan. Meskipun mereka bertunangan, bukankan itu karena perjodohan. Bukan karena pangeran pertama menyukainya. Lalu kenapa ia bersikap begitu arogan. Meski ia menikah dengan pangeran pertama, Jiali yakin pria tampan dan hebat sepertinya tak mungkin hanya menikahi seorang wanita saja. Ia pasti akan menikahi selir, dan jiali yakin dengan penampilannya ini, ia akan mampu membuat pangeran pertama memandangnya.
Namun kenyataannya Jiali cukup kesulitan untuk mendekati pria itu. Hari pertama saat Jiali mempersiapkan sarapan untuknya. Sima rui terus terang menolaknya dengan alasan ia akan makan bersama dengan nona mo. Mereka pergi ke kota dan kembali saat sore hari, dan ada begitu banyak barang yang dibawa para pengawal mereka. Terlihat jelas bahwa pangeran pertama tidak membatasi nona mo dalam hal berbelanja. Hal itu membuat Jiali merasa iri. Lalu saat makan malam. Sima rui juga menolak bertemu dengannya dan hanya mengunci dirinya di kamar. Ia bahkan tak keluar kamar sampai sore hari berikutnya.
Karena itu, Jiali sengaja menyiapkan sarapan kali ini dan menunggu pangeran pertama kembali dari ruang belajar ayahnya. Tapi siapa yang menyangka bahwa gadis ini juga akan menunggu di depan kamarnya. Bahkan pengawal pribadi pangeran juga tak melarangnya saat ia menerobos masuk kamar pangeran.
" Bukankah kau bilang sebagai tuan rumah wajar untuk menjamu tamunya. Kalau begitu silahkan kau letakan saja makanannya disini. Saat pangeran datang. Aku akan menyampaikan niat baikmu. Aku sebagai calon istrinya secara khusus mewakilinya mengucapkan terima kasih. "
"Nona mo kau terlalu sungkan. Hal ini sudah seharusnya aku lakukan. Kau tidak perlu berterima kasih. "
"Benarkah? Nona Jiali sungguh baik sekali. Kalau begitu mulai besok kau tidak keberatan jika mengantar makanan untukku juga. Meski statusku tak setinggi pangeran. Tapi aku masih bangsawan Houjue, dan juga calon 'wangfei' pangeran pertama."
Jiali mencoba menjaga senyumnya. Namun ziyan bisa melihat dengan jelas nadi yang menonjol di dahinya. Hal itu terlihat lucu, hampir saja membuat ziyan melepas tawanya.
"Tentu saja dengan senang hati nona mo. Baiklah karena aku sudah mengantar makanannya. Aku harus segera kembali. Ada hal yang harus aku kerjakan. "
Ziyan mempersilahkan jiali untuk pergi. Ia terkekeh melihat reaksi jiali. Gadis itu ternyata mampu menahan emosinya. Ia sanggup tersenyum meski sedang kesal.
Junyi sejak tadi memperhatikan percakapan kedua wanita itu, sekilas tampak seperti percakapan biasa. Namun sebenarnya pertempuran dua wanita yang satu mencoba mempertahankan daerah kekuasaannya dan yang lain mencoba menjajah daerah tersebut. Dan tentu saja pertarungan tersebut di menangkan oleh calon nyonya yang berhasil mempertahankan daerah kekuasaannya.
"Nona kau hebat sekali. Berhasil membuat kesal Nona He. "
Ziyan tidak menjawab. Ia hanya menatap junyi lalu tersenyum penuh arti.
" Apakah pangeran sering mendapatkan perhatian seperti itu? "
Junyi ragu, keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Junyi tak ingin salah bicara dan membuatnya menerima hukuman.
__ADS_1
"Hmm... itu.. " Junyi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika kau ingin tahu, kenapa tidak langsung bertanya padaku. "
Suara tiba-tiba sima rui membuat kedua orang itu langsung mengalihkan perhatiannya padanya. Sebuah senyum tipis tersimpul di wajah tampannya yang selalu terlihat dingin itu. Ada sedikit kehangatan yang terpancar di matanya.
Sima rui senang gadis ini datang mengunjunginya. Sebuah tindakan sederhana darinya tapi anehnya cukup membuat sima rui bahagia. Ada apa dengannya dirinya? Padahal tadi malam ia masih memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada gadis ini. Tapi begitu melihatnya, sima rui seakan melupakan semuanya. Ia mungkin akan menunggu gadis ini mengungkapnya sendiri. Ia takut jika memaksanya akan membuatnya tidak bahagia.
Sima rui terkejut dengan dirinya sekarang. Sejak kapan ia begitu memikirkan perasaan orang lain. Bukan orang lain, tapi hanya perasaan gadis ini.
"Ada apa? "
Ziyan melihat perubahan pada ekspresi sima rui.
"Tidak ada. Kau kesini mengantarkan makanan untukku? "
"Bukan. Tapi nona He. "
Jawaban ziyan membuat Sima rui seperti terjatuh ke dalam jurang yang dalam.
Ziyan kembali melihat perubahan ekspresi Sima rui. Saat dirinya mengira ziyanlah yang membawa makanan ini, terlihat sedikit kebahagiaan di matanya. Namun begitu ia memberitahu yang sebenarnya. Matanya berubah suram dan ekspresinya asam. Ziyan ingin sekali tertawa melihat pria yang selalu berwajah dingin itu kini begitu ekspresif.
"Kalau begitu buang saja. Aku sedang tak ingin makan. "
"Tak baik membuang makanan. Kau tahu banyak orang-orang yang tak bisa makan dan harus bekerja seharian hanya untuk mendapatkan makanan. " Ziyan mengambilkan sumpit dan meletakannya di mangkuk Sima rui. "Makanlah. Aku akan menemanimu. "
Melihat kehangatan dari kedua pasangan itu. Junyi tak ingin menjadi ngengat. Karena itu ia segera pergi meninggalkan keduanya. Ia tahu sesunguhnya tuannya juga sejak tadi menginginkan ke pergiannya.
__ADS_1
Sima rui dengan patuh duduk di samping ziyan. "Kau makan juga. "
"Aku sudah makan. " Ziyan mengambil beberapa lauk untuk Sima rui dan meletakkan di atas nasi.
Kecepatan pria dan wanita saat makan tentu saja berbeda. Sima rui mengosongkan mangkuknya dengan begitu cepat. Apakah memang ia yang selalu makan cepat atau karena sedang lapar? Wajah ziyan masih tampak tenang, ia menyembunyikan keterkejutannya dengan sangat baik.
Setelah selesai menyantap makan paginya. Sima rui segera bertanya tujuannya datang menemuinya. Ziyan tak langsung menjawab. Ia tampak berpikir kata apa yang harus di ucapkan.
"Aku hanya ingin bertanya, bagaimana semalam? "
Sima rui menatap ziyan. Lalu menarik nafasnya.
"Cukup lancar namun ada sedikit pertarungan. " Pertarungan yang ia maksud mengacu pada saat dirinya menolong xiaoqi menyelamatkan anak-anak.
Ziyan mengangguk beberapa kali sebagai tanggapan. " Lalu apa rencanamu selanjutnya? "
Apakah ia akan terus berpura-pura tidak tahu apa-apa? Tidakkah ia jujur dengannya. Bukankah ia sepakat untuk selalu berbicara saling terbuka. Mungkinkah ia masih belum percaya sepenuhnya dengannya. Sima rui bergulat dengan berbagai pertanyaan yang ada di hatinya. Ia ingin bertanya tapi juga tak ingin memaksanya.
" Mereka secara tak langsung hampir membunuhmu dengan racun. Aku ingin menghancurkan mereka. Karena itu bisakah kau percaya padaku."
Percaya? Apakah ia berpikir ia tidak percaya dengannya.
"Aku percaya denganmu. " Jawaban singkat ziyan tentu saja melukai hati Sima rui. Ia mengatakan percaya tapi menyembunyikan apa yang dilakukannya semalam. Apakah ia tak tahu betapa khawatirnya dia jika sesuatu hal buruk terjadi padanya.
"Apakah kau benar-benar percaya denganku? Tidak adakah hal yang kau sembunyikan dariku. "
Deg!
__ADS_1
Jantung ziyan Berdegup. Apakah Sima rui sudah mengetahui apa yang di lakukannya semalam. Kalau begitu haruskah ia mengatakan semuanya.