
"AAAAHHHH.... "
Luyi dan yaoyao yang sedang menunggu diluar begitu terkejut saat mendengar teriakan dari arah dalam. Teriakan kesakitan itu membuat yaoyao berpikir sesuatu telah terjadi dengan nona mudanya, begitu pula dengan luyi. Keduanya bergegas membuka pintu, dan melihat justru sosok lain yang sedang kesakitan. Tubuh wanita yang gemetar itu jatuh ke lantai dengan kedua tangan yang masih terikat. Pandangan Luyi dan yaoyao penuh tanya, seakan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ziyan yang tahu dirinya sedang diperhatikan oleh kedua orang yang memaksa masuk itu, hanya menatap keduanya sekilas, lalu menyuruh keduanya untuk keluar.
Ekspresi yang begitu dingin. Luyi merasa seperti sedang melihat orang lain. Perasaan yang begitu asing.
Jelas saja ia merasakan perasaan asing tersebut. Karena ia tidak tahu mengenai Gaia yang menjadi ziyan. Dalam keluarga mo hanya pasangan mo, yaoyao dan xiaoqi yang mengetahui rahasia tersebut. Jadi tak heran, bila sekarang luyi merasa ia sedang melihat orang lain bukan nona yanernya.
ll
Sementara Yaoyao yang melihatnya, merasa menemukan sisi lain darinya nonanya tersebut. Dan itu membuatnya kekagumannya terhadap ziyan bertambah.
Setelah keduanya keluar, Ziyan memulai kembali introgasinya. "Aku akan bertanya sekali lagi, jika jawabannya masih sama aku akan memukulmu lagi. Apakah kau berpikir, aku masih nona pertama yang baik hati? Jika demikian, akan ku buktikan bahwa pemikiranmu itu salah besar. "
Ziyan diam menatap dingin wanita itu. Lalu berjongkok tepat di depannya. "Jadi apakah kau masih ingin bungkam? " Sorot mata ziyan begitu menusuk, membuat gadis itu yang semula diam menangis ketakutan.
"Akan ku katakan nona, tolong jangan siksa aku. " Yimin menangis ketakutan, ia tak menyangka bahwa nona yaner yang sebelumnya lemah lembut bisa berbuat kejam seperti ini. Awalnya ia berpikir bahwa ancamannya hanyalah sekedar omong kosong. Namun sekarang terbukti dengan kedua kakinya yang patah.
"Nona kedua, nona kedua memintaku untuk mengoleskan obat itu di bantal nona pertama. Untuk alasannya, aku benar-benar tidak tahu. Sebagai imbalannya, nona kedua berjanji akan memberikan surat kontrakku dan beberapa tael perak. "
"Hanya itu? apakah kau pikir aku bodoh? katakan hal yang lain. "
__ADS_1
"Hal lain, hal lain.... " Dengan panik yimin mencoba mengingat hal lain yang ia ketahui. "Ah.. iya. Nona kedua menanam beberapa mata-matanya disini. aku akan mengatakan siapa saja itu. "
Ziyan tersenyum puas, meski ia tak menunjukan di wajahnya. Ini lah tujuannya dari awal. Ia ingin mengetahui semua mata yang ditanam yuefeng. Dari pada mengawasi sendiri dan mencari tahu dari semua banyaknya pelayan. Bukankah lebih efisien jika bertanya pada musuh. Ia bisa memberikan informasi palsu pada mereka. Dan hal yang dilaporkan pada yuefeng tentu saja bukan hal yang sebenarnya. Jadi memudahkan ziyan untuk bergerak.
Yimin memberitahu ziyan daftar nama mata-mata yuefeng. Ziyan langsung mengingat semua nama-nama yang disebutkan yimin. Meski ingatannya tak sebagus ingatan fotografis, tapi kemampuan mengingatnya termasuk diatas rata-rata.
" Aku sudah mengatakan semua yang aku tahu nona. Tolong lepaskan aku... " Yimin mengangkat kedua tangannya yang terikat, memohon dengan deraian air mata agar melepaskannya.
Ziyan memang tak berniat membunuhnya. Ia hanya ingin menyiksanya. Langsung membunuhnya tidak akan menjadi hukuman baginya. "Kau tahu, jika aku melepaskanmu. Menurutmu apakah yuefeng akan memaafkanmu? " ziyan membiarkannya berpikir sejenak. " Tidak akan. Dia akan menyuruh seseorang untuk membunuhmu. Karena hanya orang mati yang akan menutup mulutnya rapat-rapat."
Mata yimin bergetar, seakan ia tersadar bahwa jalan yang ada didepannya tak ada yang bisa menyelamatkannya. Kini ia terduduk lemas, memikirkan kematiannya yang semakin dekat.
Ziyan tersenyum melihat reaksi yimin. Benar seperti itulah reaksi yang diinginkan ziyan. Reaksi putus asa. Dan kini saatnya ziyan hadir sebagai penyelamatan. "Jadi aku akan membiarkanmu memilih. Melepaskanmu dan dibunuh oleh yuefeng. atau kau pergi dari negara jin dan menganggap dirimu sudah mati. "
"Aku akan memberikanmu uang. Kau bisa menggunakannya untuk berobat. Bagaimana? "
Yimin mengangguk, "Terima kasih banyak nona. Terima kasih. "
Ziyan memang akan memberinya uang dan membiarkannya mengobati kakinya. Tapi karena dia sudah secara sengaja merusak beberapa tendon kakinya. Meski sembuh dan bisa berjalan, tapi tak akan sempurna. Dengan kata lain ia akan menjadi cacat.
"Aku akan mengurus semuanya. Kau tunggu dulu disini." Ziyan melangkah pergi. Beberapa langkah kemudian ia berhenti. " Setelah kau mendapatkan hidup baru. Jadilah manusia yang lebih baik. Kau punya pilihan, jadi pilihlah jalan yang tak menyalahi hati nuranimu. "
Mendengar ucapan ziyan membuat yimin merasa bersalah karena sebelumnya dia berniat menyakitinya. Namun pada akhirnya justru dirinya lah yang mendapatkan pertolongan darinya.
__ADS_1
Ziyan segera memberikan arahan pada luyi. Meski luyi tak mengerti dengan tujuan ziyan. Namun ia tetap mematuhi dan melaksanakannya. Karena sebelumnya ia diperintahkan oleh tuannya untuk mematuhi segala perintah ziyan. Setelah kepergian luyi, tersisa ziyan dan yaoyao yang berjaga di depan pintu.
"Nona apa kau benar-benar akan membebaskan dia? Bagaimana kalau dia berbalik menyerangmu."
Ziyan tersenyum menatap pelayannya tersebut. Lalu memberikan sentilan ringan pada keningnya.
" Dia tidak akan. "
"Kenapa nona bisa tahu? "
Karena dirinya sudah mencuci otaknya. Ia memberikan pemahaman bahwa dirinya lah yang menjadi penyelamatnya. Dari korban menjadi penyelamat, bukankah itu luar biasa. Dalam hatinya mungkin ia merasa bersalah sekaligus bersyukur karena kesempatan kedua yang ku berikan. Ia tak tahu bahwa hukuman darinya baru saja dimulai.
Tentu saja Ziyan tidak menjelaskan hal tersebut pada yaoyao. "Kenapa aku tahu? Itu karena aku pintar. "
Mendengar jawaban tak serius ziyan, yaoyao mengurungkan niatnya untuk bertanya lembih jauh.
Setelah menunggu setengah jam, luyi akhirnya kembali membawa barang yang dia pesan. Lalu menyuruhnya untuk membawa barang tersebut ke dalam gudang.
"Luyi.. kau bawa yimin keluar. Bawalah dia ketempat aman. "
Luyi mengangguk, ia memperhatikan yimin dan menyadari ada yang salah dengan kakinya. Apakah teriakan tadi karena kakinya? mungkin saja. Karena tidak ada pilihan lain, luyi segera berjongkok dan memanggul yimin seperti karung beras.
Setelah keduanya menghilang, ziyan segera membuka kain penutup benda tersebut. Ia, mengeluarkan belati kecil yang terselip di pahanya. Lalu mulai menggoresnya belati tersebut pada benda di depannya.
__ADS_1