Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
pencuri hati yelu


__ADS_3

Ziyan tersenyum mendengar pertanyaan dari luyi. Ayahnya pasti belum memberitahunya, atau bisa jadi ayahnya tak ingin mengatakannya. Membiarkan dirinya yang menjelaskan. Sungguh merepotkan.


"Sebelum aku menjawabnya, aku ingin bertanya padamu mengenai pria yang aku minta untuk kau ikuti. Apakah ia bertemu dengan pembunuh? "


Luyi teringat kembali pada pria yang tadi malam diikutinya. Setelah pria itu keluar dari halaman selatan, yang merupakan tempat tinggal yuefeng. Luyi segera mengikutinya. Tak lama setelah ia berjalan lumayan jauh, ia melihat pria berpakaian hitam yang menghadang pria tersebut. Sesuai pesan ziyan, Jika yang datang pembunuh biasa seperti bandit, luyi boleh ikut campur untuk membantu pria tersebut. Sehingga ia bisa mendapatkan beberapa informasi. Namun jika pembunuh profesional, jangan turun tangan. Meski ilmu pedang luyi termasuk yang terbaik dari semua pengawal mo yincheng. Namun itu tidak menjamin dirinya sanggup mengalahkan pembunuh itu. Jika gagal, sama saja memberikan peringatan kepada musuh. Bahwa dirinya menyadari pergerakan mereka. Jadi bukankah lebih aman jika hanya menonton, dan menjadi pemain dalam permainan.


Dalam hitungan detik, pria yang tadi di ikuti luyi sudah tumbang bersimbah darah. Ia memeriksa denyut nadinya dan ternyata sudah tewas. Luyi pun segera meninggalkan mayat tersebut.


" Jadi yang datang pembunuh profesional? Apakah kau tahu dari kelompok mana? " Ziyan sangat penasaran dengan identitas pembunuh itu. Sepertinya tidak mungkin yuefeng mengenal dan mampu menggerakan orang-orang seperti itu. Jika demikian, maka sudah pasti orang yang berada di belakangnyalah yang menyuruh pembunuh itu. Tapi siapa?


"Tidak nona. Namun saat melihat gerakan pria itu saat menggunakan pedangnya, terasa tidak asing untukku. Tapi aku tidak ingat pernah melihatnya dimana. "


Sepertinya kunci tentang siapa yang mengendalikan yuefeng bisa di ketahui dari pembunuh itu. Ia harus memikirkan cara untuk menangkapnya.


"Jadi... Jika aku tidak menyiram minyak ke gudangku sendiri, dan membiarkan suruhan yuefeng yang membakarnya begitu saja. Apakah hasilnya akan seperti sekarang? kemungkinan mereka akan mengetahui bahwa mayat itu bukan mayat yimin. Meski aku sudah merusak wajahnya. Namun tetap akan ketahuan kalau itu mayat orang lain. Mereka akan menyadari bahwa aku sudah mengetahui semua mata yang mereka tanam disini. "


Kenyataannya memang Ziyanlah yang menyiram minyak pada gudangnya, namun yang menyulut api tetap orang suruhan yuefeng. Meski menyadari ada yang aneh dengan gudang yang dibakarnya. Pria itu tidak akan mengatakan hal itu pada yuefeng. Apalagi saat melihat uang, Ia pasti memilih untuk diam.


Luyi berpikir sejenak. Semua yang dikatakan nona pertamanya tepat.


********************


π™ΏπšŠπšŸπš’πš•πš’πšžπš— πšƒπš’πšŠπš—πšπšŠπš—πš,


Dua orang pria sedang bermain Weiqi*. Keduanya tampak serius hanyut dalam ritme permainan. Keduanya sama-sama kuat. Secara bergantian saling memakan bidak lawan. Namun sepertinya permainan tersebut akan segera berakhir. Bidak hitam berhasil menguasai daerah lawan, membuat pria yang menjalankan bidak putih ragu akan meletakan bidak ditangannya di mana. Ia pun mengembalikan kembali bidak ditangannya ke tempatnya.

__ADS_1


"Aku kalah. Yang mulia, kau menang. "


Pria yang di panggil Yang mulia itu ternyata Sima yan. Dan pria yang bermain weiqi dengannya adalah Gu yelu. Putra bangsawan bojue, pemilik paviliun tiantang.


"Bukan aku yang menang. Tapi kau yang tak bermain dengan serius. Apa yang kau pikirkan. Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini. " Sima yan mencoba mengintrogasi temannya tersebut. Seorang yelu yang selalu berpikiran tenang, namun akhir-akhir seperti kehilangan jiwanya.


"A, apa yang kau pikirkan. Kau jangan asal bicara. " Wajah yelu memerah dan tingkahnya aneh seperti pencuri yang kepergok mencuri.


Melihat reaksi temannya itu, membuat Sima yan semakin yakin bahwa sesuatu terjadi pada temannya tersebut.


"Cepat beritahu aku, Apa yang sebenarnya terjadi. "


"Tidak ada apa-apa. "


Yelu tetap tak bersedia membuka suaranya. Saat Sima yan akan memaksanya lagi. Seorang pria lain masuk ke ruangan mereka.


"Kau mau menceritakannya? Aku justru ragu kau mengetahui topik apa yang sedang ku bicarakan. " Alis mata Sima yan yang terangkat seakan menantang Jiangwu.


Jiangwu merasa tertantang. Tentu saja ia mengambil umpan yang di lempar Sima yan. Jika ia tidak bisa membuat yelu bicara, maka berbeda dengan Jiangwu. Mulut embernya bisa dengan mudah dipancing.


" Kau pasti ingin tahu kan kenapa yelu bersikap aneh akhir-akhir ini. Itu karena ia bertemu dengan seorang gadis yang mencuri hatinya."


Jawaban Jiangwu terdengar seperti omong kosong bagi Sima yan. Bagaimana mungkin seorang yelu yang selalu fokus dengan belajar dan bekerja bisa dengan mudah jatuh cinta. Namun saat ia menoleh dan melihat wajahnya yang semakin memerah. Barulah ia tahu, bahwa semua yang di ungkapkan Jiangwu benar.


Demi Tuhan, apakah seorang petapa akhirnya memutuskan untuk turun gunung. Sima yan benar-benar tidak habis pikir, bagaimana hal itu bisa terjadi.

__ADS_1


Sima yan memaksa Jiangwu untuk terus bicara. Namun yelu yang sudah sangat malu, memberikan tatapan mematikan padanya. Kini Jiangwu berada dalam dilema. Namun bukan Jiangwu kalau tidak bisa menggunakan tipu dayanya.


"Yelu, Dia adalah putra mahkota. Bagaimana bisa aku melawan perintahnya. Maaf, hari ini aku terpaksa mengkhianatimu. "


Sima yan yang mendengar gurauan Jiangwu hanya bisa tersenyum puas. Temannya ini memang pandai sekali bersilat lidah. Membawa statusnya sebagai putra mahkota untuk menekan temannya.


"Kau ! Terserahlah. " Yelu yang kesal bangkit dari kursinya dan kembali duduk di kursi tehnya dan membaca laporan keuangan tiantang. Meski dirinya kesal tapi ia tetap membuka lebar telinganya mencoba menguping apa yang keduanya bicarakan.


Jiangwu pun menceritakan kejadian lucu yang dia dan yelu alami. Seorang gadis yang memaki yelu sebagai pencuri, namun berakhir dengan hati yelu yang dicuri gadis itu.


Tawa Sima yan membuat wajah yelu semakin memerah. Jika bisa, ingin sekali yelu mengubur dirinya sekarang juga. Kedua sahabatnya itu membuat yelu merasa seperti lelucon. Dan parahnya lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Dan kau tahu. Ia baru sadar, bahwa dia lupa menanyakan namanya saat gadis itu sudah pergi jauh. Bukankah itu seperti kecerdasan yelu yang luar biasa ini menjadi tak biasa. Benar kata pepatah, orang pintar akan menjadi bodoh saat jatuh cinta. " Jiangwu sangat puas menertawakan temannya tersebut.


Tok Tok Tok....


"Tuan... ada yang ingin saya laporkan. "


Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan tawa jiangwu. Yelu mengenali suara yang berada di balik pintu itu. Bawahannya Li Zhong sepertinya memiliki hal penting yang ingin disampaikan. Ia pun menyuruhnya masuk.


Li Zhong membungkuk memberikan hormat pada Sima yan dan Jiangwu. Ia tahu jelas indentitas kedua orang ini. Sima yan, seorang pangeran sekaligus putra mahkota negara jin. Sedangkan jiangwu, meski sikapnya jauh dari kata serius dan hanya suka bermain-main. Tapi ia adalah bangsawan Houjue. Putra perdana menteri Jiang He. Jadi sebisa mungkin ia tak ingin menyinggung mereka.


"Ada apa? " Yelu kembali menanyakan keperluan Li Zhong. Dia tak ingin saat bersama kedua temannya terganggu karena masalah pekerjaan.


"Saya ingin melapor, ini mengenai paviliun chungtian. Mereka sangat berani menangkap dan menyiksa xiao lu, tuan. "

__ADS_1


"Chungtian? bukankah itu paviliun yang ada di depan kita? bukankah dia sudah tutup. Kenapa mereka menangkap xiaolu? " Yelu mendengarkan laporan bawahannya, namun ia juga tak bisa langsung percaya atau menerima begitu saja. Selalu ada sebab akibat dari setiap kejadian.


*******************


__ADS_2