
Hari sudah malam saat ziyan kembali ke kediaman Mo. Ia telah berbicara cukup banyak dengan chufeng. Jadi ia tahu apa yang dipikirkannya. Sekarang ia ingin tahu apa yang dipikirkan pamannya. Apakah benar seperti yang chufeng pikirkan. Saat ia sedang sibuk dengan pikirannya. Tanpa sengaja ia bertemu dengan pamannya. Dilihat dari arah kedatangannya, sepertinya pamannya baru saja dari halaman utara.
"Paman, apa kabar. "
Qingchen mengangguk menerima salam keponakannya. "Kau sudah kembali Yaner? Bagaimana kabarmu? "
"Aku baik paman. "
Ziyan sebelumnya tidak pernah bicara banyak dengan pamannya. Sifat pamannya yang tidak banyak bicara membuat ziyan tak tahu apa yang harus ia bicarakan dengannya. Namun kali ini ia memiliki banyak hal yang ingin dibahas dengannya. Hanya saja karena ini berhubungan dengan masalah keluarga pamannya, akan terlihat seperti ikut campur jika ia tiba-tiba membahasnya. Ia bukan ayah atau neneknya yang memiliki kuasa di rumah ini. Mungkin lebih baik jika yifeng yang berbicara dengannya. Tapi akan lama jika menunggu kepulangannya. Mungkin ia bisa berkunjung ke akademinya.
Jadi keesokan harinya ziyan memutuskan untuk pergi ke akademi yifeng.
"Nona apa kau yakin akan kesana? " (xiaoqi)
"kenapa? apa ada masalah.. "
"Itu karena.... " Xiaoqi ragu.
Ziyan tak menyangka ia tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Hanya pria yang diperbolehkan belajar di sini. Jadi akademi ini melarang wanita masuk kedalam. Ziyan menatap tajam xiaoqi.
"Kenapa kau tidak bilang? " (ziyan)
"Saya ingin bilang tapi anda sudah menyuruh kusir jalan. "
Ziyan masih menunggu di depan gerbang akademi itu berharap ada orang di kenalnya yang bisa membantunya. Ia sudah mencoba meminta izin masuk dari penjaga, atau minimal mengirim pesan. Namun penjaga itu tetap teguh dengan keputusannya.
Sebuah kereta kuda mendekat. Sang penjaga gerbang yang sebelumnya bersikap tegas pada ziyan terlihat memberikan hormat. Ziyan menatap kereta tersebut ingin tahu siapa gerangan yang berada di dalamnya.
Pintu kereta terbuka. Terlihat kakinya yang akan melangkah turun. Saat ziyan menatap semakin ke atas untuk melihat wajahnya. Matanya melebar karena pria itu ternyata sima yan.
Beberapa menit sebelumnya.
Sima yan berada di gerbongnya duduk dengan malas. Ia menerima undangan gurunya yang sekaligus kepala akademi. Tentu saja gurunya tersebut juga ayah yelu. Meski sima yan seorang siswa yang terdaftar di akademi ini. Namun karena statusnya. Ia tidak di wajibkan datang ke akademi. Begitu halnya dengan kedua saudaranya.
"Yang mulia, sepertinya ada kereta kediaman mo didepan. "
Feng xiao yang berada di samping kusir secara otomatis melihat apa yang ada didepannya.
"Dimana? " Seakan menemukan hal yang menarik, sima yan terbangun dari kebosanannya.
__ADS_1
"Ada di depan gerbang akademi. "
Gerbang akademi? Apakah itu yifeng? Tapi bukannya belum saatnya para murid untuk kembali ke rumah. Sima yan lalu membuka tirai jendelanya dan melihat pengawal ziyan, xiaoqi.
Sima yan begitu bersemangat setelah mengetahui ziyan yang ada di depan. Ia mencoba menarik napas panjang mencoba menenangkan kegugupannya. Sima yan tidak tahu, entah sejak kapan setiap berada di depan gadis itu, ia akan merasa gugup. Membuat tubuh dan otaknya terkadang tidak sesuai.
Begitu kereta tiba di depan gerbang. Sima yan segera turun dari gerbong. Dan yang ia lihat adalah ekspresi terkejut gadis itu.
"Nona mo, apa kabar? "
Sima yan segera menyapa ziyan begitu kedua kakinya menginjak tanah. Ia tersenyum membuat wajah tampannya semakin mempesona.
"Saya baik Yang mulia. Bagaimana dengan kabar Yang mulia? "
Jika ziyan tak mengingat tindakan pria itu sebelumnya, mungkin saat ini ia akan terpesona dengan wajah tampannya yang tersenyum itu. Meski ziyan tak suka, tapi tak sopan jika ia tak berbalik menanyakan kabarnya. Jadi sebagai formalitas, ia bertanya kembali kabar Sima yan.
"Aku baik. Ada apa kau kesini? "
Ah teringat kembali dengan tujuannya. Ziyan berpikir mungkin ia bisa meminta tolong pada Sima yan.
"Aku ingin menemui yifeng. Tapi mereka melarangku masuk. " Ziyan melirik pada kedua penjaga itu.
"Akademi memang terlarang untuk wanita. Aku bisa membantumu. Tapi... "
"Tapi aku punya syarat. " (Sima yan)
Ziyan melipat keningnya. Ia melepaskan tangannya. Dan mulai memandangnya curiga.
"Jangan salah paham. Aku hanya ingin minta tolong untuk yelu. Dia ingin bertemu nona chufeng. Tapi ia tidak tahu keberadaannya. Ia dengar nona chufeng tidak lagi di kediaman mo. Jadi ia khawatir. Karena itu bisakah kau mengajaknya keluar untuk minum teh bersama. Kita bisa minum teh berempat. '
Sima yan tak bisa mengajak ziyan secara langsung. Karena sudah pasti akan langsung ditolak olehnya. Namun berbeda jika ia menggunakan yelu sebagai alasan. Lagi pula hubungan sahabatnya itu dan adik ziyan cukup bagus. Mengenai bagaimana Sima yan tahu chufeng pergi dari rumah, tentu saja dari laporan feng xiao. Sima yan selalu menerima kabar terbaru tentang gadis itu. Mungkin jika ziyan mengetahui hal ini, ia akan menambah satu lagi sebutan untuk Sima yan, yaitu penguntit.
Ziyan nampak berpikir sejenak. Mungkin hal bagus juga jika ia mengajak chufeng keluar. Itu bisa sedikit menghiburnya.
"Baiklah. Aku setuju. "
Sima yan bersorak dalam hati. Jika orang dengan mata batin mungkin bisa melihat bahwa roh Sima yan sedang menari. Berbeda dengan bagian dalam, penampilan Sima yan masih terlihat tenang, tak ada perubahan pada wajah tampannya.
"Apakah yang ingin kau sampaikan untuk yifeng? "
__ADS_1
Ziyan mengambil surat dari lengannya dan memberikannya pada Sima yan.
"Tolong Yang mulia sampaikan surat ini untuk yifeng. "
"Baiklah."
Sima yan langsung berbalik dan berjalan masuk.
Karena tujuannya sudah tersampaikan. Ziyan masuk ke gerbongnya untuk kembali ke kediaman mo.
Sima yan mengintip dari gerbang, kepergian gadis itu. Ia masih memperhatikan kereta tersebut sampai kereta itu tak terlihat lagi.
Feng xiao hanya bisa memperhatikan tingkah konyol tuannya. Sima yan bergegas masuk tapi tiba-tiba berhenti di balik gerbang untuk mengintip gadis itu.
Setelah kereta ziyan tak terlihat lagi. Sima yan segera membuka surat ziyan dan membacanya.
Feng xiao ingin menegur tuannya, tapi ia hanya pengawal. Tidak ada hak baginya menegur apa yang dilakukan tuannya. Feng xiao tidak tahu lagi dengan tindakan tuannya ini. Kali pertamanya ia melihat Sima yan berlaku tidak sopan.
"Ayo kita ke ruang belajarku. " Sima yan langsung berjalan menuju ruang belajarnya.
" Tapi bukankah anda harus bertemu guru besar, Yang mulia. "
"Nanti setelah urusanku selesai. "
Jika yang ia maksud urusan adalah mengantar surat nona mo. Bukannya ia seharusnya pergi ke ruang kelas untuk bertemu yifeng. Tapi kenapa ke ruang belajarnya?
Sesampainya di ruang belajarnya, Sima yan mengambil kertas dan mulai menulis. Ia melihat surat ziyan lalu kembali melihat kertasnya.
Feng xiao memperhatikan tuannya tersebut. Dan ternyata, ia sedang menyalin isi surat ziyan.
" Sampaikan surat ini untuk yifeng. " Sima yan memberikan surat yang baru saja ia tulis.
"Yang mulia. Bukankah surat nona mo yang itu. " Feng xiao melihat surat ziyan yang sebenarnya.
"Berikan saja surat yang itu. Isi suratnya sama. Aku tidak merubahnya. "
"Lalu jika anda tak merubahnya. kenapa anda tak memberikan surat nona mo yang asli dan malah menulis ulang? "
Sima yan menatap Feng xiao. Lalu dengan serius menjawab.
__ADS_1
"Karena ini surat pertama yang aku terima darinya. Jadi aku akan menyimpannya. "
Feng xiao akhirnya mengerti maksud tuannya tersebut. Karena surat itu di tulis nona mo dan di berikan pada tuannya. Maka ia beranggapan bahwa surat itu untuknya. Satu lagi tindakan gila yang dilakukan hari ini.