
Wenran melihat kedua pria di hadapannya yang sejak tadi memang sudah ditunggunya. Ia sudah mendengar dari nona Mo bahwa akan ada dua pria yang mencarinya.
" Kalian yang akan bertemu dengannya? Silakan ikut denganku. " Wenran segera menuntun mereka ke ruang kerja ziyan.
Sima rui mengangguk dan mulai mengikuti Wenran. Mereka berjalan menuju lantai dua dan terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di sebuah pintu.
"Silakan. " (Wenran)
Wenran mempersilahkan masuk, namun ketika Keduanya hendak masuk. Tangan wenran menghadang Junyi.
Sima rui menoleh, ia ingin tahu alasan Wenran menghentikan Junyi.
" Hanya satu orang." Jelas Wenran singkat.
" Apa? kenapa? " Junyi bertanya dengan kesal.
"Itu sudah peraturannya. "
Junyi mendengus kesal. Dan membuang wajahnya dari Wenran. Jika sudah peraturan maka ia juga tak bisa berbuat banyak.
"Kau tunggu disini. Jangan membuat masalah. Aku akan masuk sendiri. " Dalam ucapan Sima rui terkandung maksud bahwa ia tak ingin Junyi melampiaskan kekesalannya dan membuat masalah baru untuknya.
Sima rui masuk dan melihat sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja pada umumnya. Ia melihat sekeliling namun tak menemukan seorangpun di dalamnya.
'Dimana dia? bukankah pria itu mengatakan ia di sini. '
Tidak banyak barang di ruangan. Hanya ada meja besar dengan dua kursi di depan untuk tamu dan satu dibelakang untuk si pemilik ruangan. Ia melihat barang-barang yang ada di atas meja. Ada beberapa buku yang tertata rapi, namun ia sama sekali tidak melihat kuas atau penggiling tinta yang biasa ada di meja kerja.
Sima rui berhenti tepat di depan meja ziyan. Matanya menangkap sebuah benda yang tampak asing di matanya. Lima pendulum besi yang berjejer rapi dengan kawat yang sama panjang.
Ketika tanpa sengaja ia menyentuh satu pendulum di salah satu ujung dan melepaskannya. Terjadi sesuatu yang membuatnya tercengang. Pendulum tersebut terpantul menabrak pendulum lain, namun anehnya pendulum yang berada ditengah tidak bergerak dan justru pendulum di ujung sisi lain yang memantul. Ia merasa kagum sekaligus penasaran dengan cara kerja benda yang baru saja ia mainkan itu.
" Itu dinamakan ayunan Newton. Alat yang menunjukkan hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi, terdiri dari sebaris pendulum. Setiap pendulum tergantung dengan dua kawat yang sama panjang. Bila sejumlah pendulum ditarik dari satu sisi dan dilepaskan kembali, maka jumlah yang sama akan terlempar dari sisi yang lain, dan seterusnya."
Wanita dengan cadar itu berjalan dan menjelaskan benda yang baru saja di sentuhnya itu. Ia juga memberikan contoh dari penjelasan yang baru saja di ucapkannya. Ia menarik dua pendulum dan secara mengejutkan dua pendulum di sisi lain juga ikut bergerak.
" Kau sepertinya tidak terkejut dengan kedatanganku? " (Bos zi)
Pintu rahasia yang ziyan desain untuk ia masuk ke ruangannya berbeda dengan pintu rahasia pada umumnya. Ia memperkecil gaya gesek sehingga hampir tak ada suara saat itu terbuka.
Tapi meski begitu, Sima rui masih menyadari kedatangan wanita itu. Seseorang yang tumbuh di medan perang dan di tuntut untuk selalu waspada, tentu saja membuatnya lebih sensitif dari orang biasa. Ia bahkan bisa merasakan perubahan udara saat seseorang datang.
Ziyan sudah menduga akan sangat sulit membuat pria ini terkejut. Jadi ketika melihat wajah tenang Sima rui yang menyambutnya, ia tidak heran.
__ADS_1
"Bos zi? salam kenal, aku... "
"Pangeran pertama sekaligus Jenderal utama kerajaan Jin, Sima rui. Benar bukan? "
Sekali lagi, wajah Sima rui tak memberikan respon terkejut. Ia masih tampak tenang.
Sima rui tak merasa terkejut, kenapa? Karena memang banyak rakyat Jin yang mengenalnya. Sebenarnya Sima rui lebih dikenal oleh rakyatnya dari pada putra mahkota sendiri. Jika putra mahkota lebih banyak di kenal oleh wanita karena ketampanan dan sikapnya yang mudah di dekati. Maka sebaliknya, Sima rui justru dikenal karena kehebatannya di medan perang dan segala prestasi yang berhasil ia dapatkan. Tentu saja ketampanannya juga merupakan nilai tambah. Hal itu membuat Sima rui dikenal tak hanya oleh wanita, melainkan hampir semua rakyatnya.
'Kenapa pria ini sama sekali tidak terkejut ia tahu mengenai identitasnya. Apakah ia sudah tahu kalau aku Mo ziyan? Tapi bagaimana bisa. Ia sudah merubah suaranya. ' Melihat ketenangan Sima rui membuat ziyan berpikir demikian.
" Karena kau sudah tahu indentitas ku maka aku akan langsung saja. Tujuan ku menemuimu adalah untuk mengajakmu bekerja sama. Apakah kau bersedia? " Tanpa membuang waktu, Sima rui langsung menjelaskan maksud kedatangannya.
" Apa keuntungan yang ku terima? pangeran tahu jelas bahwa aku adalah seorang pengusaha, bekerja hanya jika itu menghasilkan keuntungan. " Ziyan menunjukan sikapnya sebagai bos zi. Ziyan tidak peduli meski ia adalah tunangannya, tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Uang tetaplah uang.
" Ajukan saja permintaanmu. Aku akan menilai apakah itu sesuai dengan kesepakatan kita. " (Sima rui)
Seringai mengembang di balik penup wajah ziyan. Kelihatannya sudah saatnya ia menjalankan ide konyolnya.
" Bagaimana jika aku mengganti beberapa keuntungan dengan syarat. Apakah kau setuju dengan syarat dariku. "
"Katakan." (Sima rui)
" Menikahlah denganku. "
Bos zi dan Sima rui masih berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Ziyan ingin tahu, apa yang akan ia katakan saat ini. Apakah masih sama dengan yang pria itu ucapkan kemarin malam.
" Baiklah. " Sima rui menjawab dengan sangat ringan, ekspresinya juga masih tenang seperti biasa, seakan hal tersebut bukan pilihan sulit baginya.
" Kau menjawab begitu saja? Sepertinya kau salah pengertian. Aku ingin menikah sebagai istri utama bukan sebagai selir. "
" Aku tahu. "
" Nona besar Mo bukankah dia tunanganmu. Apa yang akan kau lakukan dengannya? "
Sima rui tampak berpikir serius.
" Kalau begitu aku akan menikahi keduanya. "
Apa?! Apakah pria ini bajingan. Kenapa ia bisa begitu tidak tahu malu. Baru semalam dirinya bilang tidak akan menjual dirinya. Kenapa sekarang justru sebaliknya. Tunggu... sepertinya ada yang aneh disini. Kenapa ziyan merasa dirinya seperti dipermainkan pria ini.
Melihat gadis di depannya tidak berbicara lagi. Sima rui mencoba menerka apa yang sedang dipikirkannya. Ia mendorong badannya lebih dekat sementara kedua tangannya bertumpu pada meja. Wajah Sima rui dan ziyan kini sangat dekat. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Bahkan ziyan bisa merasakan napas Sima rui di wajahnya.
__ADS_1
" Apakah belum cukup bermain-mainnya? " Sima rui berbicara dengan senyum di wajahnya
" Kau... Kau sudah tahu. " Ziyan terkejut mengetahui bahwa pria ini mengetahui identitasnya. Bagaimana bisa?
" Belum lama. Saat kau mengatakan akan membantuku bertemu dengan bos zi aku sudah curiga. Jadi setelah mengantarmu pulang aku meminta Junyi untuk menyelidiki waktu keluar bos zi dan dirimu. Ternyata ada kesamaan. Jadi aku mulai curiga. lalu ketika kau masuk barusan, meski kau menutup wajahmu dengan cadar. Aku masih bisa mengenalimu. "
Meski ziyan memang berniat menceritakannya, tapi masih cukup mengejutkan karena Sima rui bisa begitu mudah mengetahui hanya dari kata-kata sederhananya. Pengamatan pria ini benar-benar menakutkan.
Sima rui melepaskan penutup wajah ziyan.
" Kau selalu bisa membuatku terkejut. " Sima rui tersenyum dan menarik tengkuk ziyan lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Sampai detik ini, Sima rui masih tidak menyangka akan tiba dimana ia akan sangat mencintai seorang wanita. Seorang wanita yang mampu membuat hatinya bergetar, seorang wanita yang membuat rasa cintanya terus bertambah setiap harinya. Rasa cintanya hari ini lebih besar dari kemarin, dan ia yakin rasa cintanya esok pasti akan lebih besar dari hari ini. Sima rui ingin membuat gadis ini secepatnya menjadi miliknya. Ia tak ingin menambah jumlah lalat yang berkeliaran di sisinya. Sekarang mungkin hanya adiknya Sima yan. Tapi siapa yang tahu, saat gadis ini telah mekar seutuhnya dengan sempurna, dan semua orang melihatnya. Maka itu bisa menjadi sebuah bencana baginya.
Memikirkan banyak mata pria lain yang mengarah padanya. Membuat hati Sima rui terbakar. Ia jadi menyesal kenapa wanitanya ini begitu menawan.
"Bisakah kau tidak cantik sedikit saja. Kenapa kau begitu... "
'Mengagumkan. ' Sima rui menyimpan kata itu di hatinya. Ia menutup matanya dan mengubur wajahnya di pundak ziyan.
" Begitu apa? Pangeran, bisakah kau menyelesaikan ucapanmu. Selain itu, mana ada seorang pria yang ingin pasangannya terlihat tidak cantik. Sementara ia sendiri selalu menarik perhatian para lebah betina. "
" Siapa? aku? menarik lebah betina. " Sima rui terkekeh mendengar ucapan ziyan. " Apakah kau salah satu lebah betina itu? "
Melihat senyum menggoda pria itu membuat ziyan meleleh. Apakah menerkam tunangan sendiri termasuk tindakan kriminal? Jika iya. Maka ia akan tetap melakukannya.
" Aku bukan lebah betina. Tapi aku singa betina. " Ziyan mencium bibir Sima rui dan semakin memperdalam ciumannya.
Sima rui terbelalak karena terkejut. Meski begitu ia sangat menyukainya. Ia menyambut tautan tersebut, lalu membalasnya dengan ciuman yang lebih dalam. Wanitanya benar-benar bagaikan singa betina.
*****************
Di sebuah rumah,
"Tuan, kami sudah membujuk Yuefeng untuk bekerja sama. Jadi kapan kita akan memulai rencananya. "
Wanita yang bersama ketua Gui sebelumnya sedang berbicara dengan Hong Dawei. Terlihat jelas bahwa ketiganya adalah sekutu.
" Jangan terburu-buru. Kita akan melakukannya saat acara perburuan. Kediaman Mo juga akan hadir. Saat itulah kalian bisa menjalankan rencananya. Kalian bisa menculik dan menyiksa gadis itu sepuas kalian. Aku ingin melihat bagaimana Sima rui menderita ketika tunangannya hancur. " (Hong Dawei)
"Anda tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya. "
"Baguslah. Aku tak ingin ada kesalahan. Saat semuanya selesai. Kalian juga harus menyingkirkan yuefeng. Gadis itu bisa menjadi ancaman. "
__ADS_1
*****************