
Tanpa terasa tiga minggu berlalu.
Kondisi Sima Dan hampir pulih sepenuhnya. Ia juga sudah mulai melatih fisiknya sesuai porsi latihan yang dianjurkan lucy. Sayangnya pagi yang cerah hari itu sepertinya berbanding terbalik kabar mengecewakan yang baru saja diterimanya.
" Apa kau bilang! Semua bukti mengarah pada xumu. Bagaimana bisa Lijin terhindar dari semua tuduhan? " Tanya Sima Dan pada rekannya komandan Zhan.
" Sepertinya mereka sudah merubah semua bukti dan mengalihkannya pada xumu, untuk alasannya kenapa? aku juga belum tahu. Tapi kemungkinan besar Lijin menumbalkan xumu untuk memikul kesalahan dirinya. "
" Lalu bagaimana dengan proses pencarian xumu? "
" Petugas kita berhasil menemukannya di jalan ibukota. Namun dia berhasil meloloskan diri. Beberapa petugas kita bahkan harus menerima luka cukup serius. Dia, pria yang sangat berbahaya. " Kesimpulan komandan Zhan. Setelah mendapat laporan, segera komandan Zhan menuju lokasi yang disebutkan. Namun ia justru melihat rekan-rekannya yang sudah terkapar di tanah.
Sima Dan terdiam. Ia memang berniat membunuh Xumu demi membalas dendam Heimian. Tapi juga tak ingin membiarkan mereka yang bersalah terbebas begitu saja. Apalagi setelah saksi terakhir ditemukan tewas. Kini semua petugas dalam daftar sudah tewas. Tak ada lagi yang bisa digunakan untuk memberatkan Lijin.
' Sial! kenapa tidak ada yang berjalan dengan semestinya. ' Geram Sima Dan.
*************
Sementara di tempat xumu sendiri.
Ia meluapkan semua amarahnya. Menendang semua benda yang ada di depannya.
" BAI LIJIN! brengsek kau! Beraninya kau menjadikanku kambing hitam. Lihat saja, akan ku bunuh kau. " Murka Xumu.
Saat berada di jalan. Ia tak menyangka akan melihat lukisan dirinya di papan pencarian ibukota. Beruntung dia bisa lolos dari kejaran petugas saat melarikan diri.
Tanpa membuang waktu xumu bergegas ke tempat Lijin. Ia bertekad akan membunuh pria yang sempat menjadi tuannya meski sekedar tuan di atas kertas.
" Selamat datang xumu. Sepertinya hari mu sangat buruk? Apa yang membuat mu begitu marah? " Lijin menyambut kedatangan xumu seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.
" Aku akan membunuh mu? jadi pilihlah cara kematian apa yang kau inginkan. " Ucapan xumu datar namun penuh dengan aura membunuh.
Lijin tergelak. Dia tertawa seolah ancaman xumu hanya angin lalu. " Xumu. Apa menurut mu kau bisa membunuh siapapun yang kau inginkan. Aku ragu kau bisa tetap hidup bahkan setelah malam ini. "
Kedua alis xumu bertemu. " Apa maksud mu. "
Dan setelah itu muncul beberapa petarung dari persembunyian berjalan mendekati xumu.
Kali ini berganti xumu yang terbahak. " Kau ingin membunuhku dengan menggunakan serangga lemah seperti mereka? memalukan! "
" Kalau begitu coba saja. "
Dan pertarungan tak seimbang pun terjadi. Xumu melawan 20 orang petarung Lijin. Di awal xumu dengan mudah mengalahkan mereka. Membuat xumu berada di atas angin dan membuatnya sedikit lengah. Salah seorang lalu diam-diam melemparkan jarum beracun ke tengkuk xumu.
Xumu menyentuh tengkuk lehernya saat merasakan sensasi terbakar. Mencabut jarum tersebut lalu melempar kembali pada si pemilik jarum. Setelah beberapa saat, Xumu mengalami sesuatu yang aneh pada dirinya. Seluruh ototnya mendadak lemas. Dengan susah payah ia bertahan, berusaha agar tubuhnya tetap berdiri tegap. Namun tubuh yang sudah berubah seperti jeli tersebut tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dan akhirnya Ia tumbang ke lantai.
" Apa yang kau lakukan! " Desis xumu. Wajah yang biasanya menampilkan senyum palsu itu kini berubah gelap. Hanya ada kebencian yang terlihat.
Bai Lijin bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan mendekat. Kini jarak keduanya hanya tiga kaki. Lijin memandang xumu, merendahkan pria yang selalu mengabaikan perintahnya itu.
__ADS_1
" Bagaimana rasanya dikalahkan xumu? bukankah menyakitkan di kalahkan oleh orang-orang yang kau sebut serangga lemah. Sekarang terima kematian mu xumu. Dan setelah ini bawa mayatnya ke biro penyidik. "
Cuih! Xumu meludah.
" Cara murahan yang kau gunakan sama dengan dirimu yang lemah. Menjijikkan! " Ejek xumu.
Lijin mengabaikan apa yang dikatakan xumu. Ia tidak peduli dengan prosesnya, baginya yang terpenting adalah hasil akhir. Dan sekarang, tujuannya mengalahkan xumu telah tercapai.
Lijin berjalan lebih dekat. Lalu menginjak kepala xumu dengan kakinya.
" Lihatlah. Pria lemah sepertiku mampu menginjak seorang xumu yang hebat dan terkalahkan. " Ucapnya lalu tertawa dengan puas.
"Aku bersumpah akan membunuh mu dan menggantung kepala mu di gerbang kota. " Sumpah xumu dengan mata penuh kebencian.
Lijin merasakan suatu kengerian saat melihat sorot mata penuh kebencian xumu. Menciptakan perasaan gelisah di benak Lijin.
" Bunuh dia. Pastikan bahwa ia mati. Lalu bawa mayatnya ke biro penyidik. " perintah Lijin pada anak buahnya.
Kemudian berbicara pada xumu untuk yang terakhir kali. " Terima kasih, karena berkat dirimu baik nama ku dan organisasi ku jadi bersih. Pengorbanan mu tidak akan pernah ku lupakan. "
Setelah mengatakan itu, anak buah Lijin menyeret tubuh xumu yang sudah lemas tersebut ke luar.
' Kali ini pasti dia akan mati. Benar! dia pasti akan mati. ' ujar Lijin dalam hati mencoba meyakini dirinya. Ingatan akan tatapan dingin xumu masih terus berputar di kepala Lijin dan itu menimbulkan sedikit ketakutan.
Sayangnya ketenangan Lijin tidak akan berlangsung lama.
Lima orang bawahan Lijin yang bertugas membunuh xumu dan membuang mayatnya justru tergeletak bersimbah darah di tanah. Salah satu yang terlihat masih hidup mencoba merangkak, berusaha kabur.
Namun usahanya tersebut berakhir sia-sia ketika tubuhnya diduduki seseorang.
" Kau mau kemana? bukankah kau harus membunuhku terlebih dulu sebelum pergi. Bagaimana jika tuan mu bertanya apakah aku masih hidup atau sudah mati? "
" Ma-maaf xumu. Aku hanya menjalankan perintah ketua. Aku tidak bermaksud membunuh mu. To-tolong maafkan a-aku xumu. Jangan bunuh aku. "
Xumu menyeringai. Ia masih mendudukkan bokongnya di atas punggung mangsanya tersebut.
" Jangan takut. Aku tidak akan membunuh mu. Setidaknya untuk sekarang. Sebagai anjing setia Lijin, aku ingin kau menyampaikan pesan ku padanya. Katakan bahwa tepat tengah malam, xumu akan menagih janjinya. Mencabut kepalanya dan menggantungnya di gerbang kota. "
" Ba-baik akan ku sampaikan. " Jawab bawahan Lijin dengan cepat.
" Bagus. " Xumu bangun dari atas badan mangsanya tersebut. " Sekarang pergilah. " Usir xumu dan dengan cepat pria itu bangkit lalu lari tunggang langgang meninggalkan malaikat pencabut nyawa.
Lijin yang baru saja menerima pemberitahuan anak buahnya bahwa xumu masih hidup sangat syok. Hingga tanpa sadar ia langsung bangkit dari kursinya. Dan detik berikutnya seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang, setelah pria yang di ketahui sebagai anak buahnya juga menyebutkan bahwa xumu akan datang dan menarik kepala Lijin dari tubuhnya lalu menggantungnya di gerbang ibu kota.
Tanpa sadar Lijin memegang lehernya sendiri. Ada sensasi ngilu kala mengingat setiap ucapan penuh ancaman itu.
" Seharusnya aku langsung membunuhnya saat itu. Arghhhhh! sial! " Geram Lijin.
lalu berbicara pada salah satu tetua sekaligus bawahan Lijin. " Apa kau yakin racun itu berfungsi? kenapa xumu tidak berpengaruh? " pekik Lijin penuh amarah.
__ADS_1
" Saya yakin ketua racun itu sangat ampuh. Bahkan racun tersebut mampu membuat seekor gajah tumbang. Bukankah kau lihat sendiri tadi ketua, Lijin lumpuh saat pertarungan. " Jawab pria paruh baya itu.
" Lalu kenapa sekarang justru sebaliknya? " tanya balik Lijin tak habis pikir.
" Maaf ketua. Untuk itu aku juga tidak tahu. Mungkin ini berhubungan dengan kekuatan fisik tubuhnya. "
Lijin tidak lagi berminat untuk berdebat. Yang dipikirannya saat ini adalah bagaimana caranya mengalahkan xumu atau menghindar dari kejaran xumu. Nyawanya kini sedang terancam. Hal mustahil jika ia mengalahkan xumu saat ini, karena itu Lijin memutuskan untuk bersembunyi sampai ia kembali dengan rencana untuk membunuhnya. Tidak peduli meski terkesan pengecut, itu lebih baik dari pada kehilangan nyawa.
Mengerahkan semua bawahannya juga percuma. Tak akan ada yang bisa mengalahkannya.
Sayangnya kali ini Lijin lah yang harus mengikuti alur permainan xumu.
" Xu... mu... " Wajah Lijin pucat seolah dirinya baru saja melihat hantu kematiannya.
" Tidak perlu takut. Aku kesini bukan untuk membunuh mu. " Ujar xumu dengan senyum. Namun hal itu justru membuat seluruh bulu halus di tubuh Lijin bergidik ngeri.
" Be-benarkah? " Ucap Lijin terbata. Mencoba meyakini hal yang tidak mungkin.
" Benar. Aku hanya akan mencabut kepala mu dari tubuh mu sesuai dengan janji ku. "
Wajah Lijin semakin putih bukan karena pemutih namun darah yang seperti enggan mengalir ke kepalanya. Seolah tahu bahwa anggota tubuh itu sebentar lagi akan meninggalkan tempatnya.
Melihat ketakutan Lijin. Xumu kembali berkata. " Tidak perlu takut seperti itu? Atau kau bisa mencoba racun yang kau berikan padaku sebelum aku mencabut kepala mu. Bagaimana? "
Namun Lijin masih diam tidak ada keberanian untuk menjawab.
" Tapi mungkin kau membutuhkan waktu beberapa hari hingga rasa lumpuh itu hilang. Racun yang sangat keras. " Xumu menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kekuatan racun tersebut. " Apa kau tidak ingin tahu bagaimana bisa aku lepas dari pengaruh racun tersebut? "
Lijin mundur beberapa langkah. Sementara tangan kirinya sudah memegang sarung pedang. Ia tidak peduli dengan semua yang dikatakan xumu. Begitu xumu maju, Lijin segera menarik pedang miliknya.
" Majulah, Biarkan pedangku menebas kulit mu. " Ancam Lijin panik.
Namun dengan cepat Xumu sudah mengayunkan pedangnya membuat pedang di tangan Lijin terlempar.
" Bahkan kau tak bisa memegang pedang dengan benar, namun kau berani mengancam ku. " Xumu terbahak.
" Sungguh buang-buang waktu. "
Slash!
Kurang dari sedetik sebuah kepala menggelinding. Sementara tubuh Lijin masih berdiri dengan darah yang mulai keluar dari leher. Begitu cepatnya gerakan xumu membuat potongan pada leher Lijin sangat tapi dan tak ada darah yang menciprat. Perlahan tubuh tanpa kepala itu tumbang menodai lantai penuh warna merah. Darah menggenang hingga tercium bau anyir.
Xumu berjalan santai mengambil benda bulat yang tak lain kepala Lijin.
" Saatnya melihat pemandangan. Aku akan mengantar mu ke gerbang kota. " Ucap xumu pada kepala Lijin.
Pagi hari, ibu kota mengalami kegemparan. Semua orang berbondong-bondong menuju gerbang untuk melihat kepala Lijin.
Sementara di shugua. Para tetua bahkan tak ambil pusing perihal kematian Lijin. Mereka saling menjatuhkan berusaha mengambil alih kursi ketua.
__ADS_1