
Ziyan berada di.dalam gerbong kereta bersama sima rui. Bersama iring-iringan Sima Yan, rombongan itu membelah jalanan ibu kota yang ramai karena ikut serta mengantar keberangkatan calon raja wei tersebut. Hingga akhirnya tiba di depan gerbang kota. Kereta kuda Sima Yan berhenti sejenak.
Sima Yan turun dari gerbong kereta. Melihat itu, Sima rui bersama dengan ziyan juga turun dari kereta mereka. Berjalan saling mendekat mengikis jarak di antara mereka.
" Aku pergi kak. " Pamit Sima Yan.
" Hati-hati. Semoga perjalanan kalian lancar sampai tujuan. "
" Terima kasih. " Keduanya tampak canggung.
Ziyan bisa melihat bahwa kedua saudara itu memiliki sifat gengsi yang tinggi. Terbukti percakapan keduanya yang sama sekali tidak berbobot. Namun jika di lihat dari sorot mata keduanya. Terlihat jelas bahwa banyak kata yang belum keduanya ucapkan.
" Jika kehadiran ku membuat kalian canggung. Aku bisa kembali ke kereta. Setelah hari ini kalian akan sulit untuk bertemu. Jadi pergunakan kesempatan terakhir ini untuk menyampaikan apa yang ingin kalian berdua katakan. " Setelah mengatakan itu, ziyan bergegas berjalan mundur menuju keretanya.
Pandangan mata kedua pria itu mengikuti langkah ziyan. Dan benar saja, tindakan sederhana ziyan ternyata ampuh membuat kedua pria itu bersikap lebih terbuka.
" Maaf. " Sima Yan diam sejenak. " Kata itu sudah sejak lama ingin sekali aku katakan padamu kak. Kakak pasti tahu jika aku memiliki perasaan yang tidak seharusnya ada untuknya. Sebagai seorang adik, aku telah gagal menjadi saudara mu. Jadi dalam kesempatan terakhir ini. Aku ingin menyampaikan permintaan maaf ku. Tapi meski mengucapkan kata maaf bukan berarti aku sudah menghilangkan perasaanku. Sejujurnya itu sangat sulit dan aku masih mencintainya. Karena tak mungkin memilikinya. Tolong ijinkan aku untuk sekedar menyimpan perasaanku ini, sampai saatnya ada sosok lain yang menggantikannya. " Ungkap sima yan.
Sima rui menekan perasaan cemburunya. Ia terkesan dengan keberanian adiknya yang berani berkata jujur padanya.
" Jangan menyimpannya. Feiyue lebih berhak untuk perasaan mu dari pada istriku. Jadi alih-alih menyimpan perasaan untuk wanita lain, kenapa kau tak coba membuka hatimu untuk istrimu. Bagaimana pun ia akan membantumu memimpin kerajaan wei. " Pesan sima rui.
Ziyan memperhatikan kedua pria itu dari jarak cukup jauh. Meski tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi ia tahu bahwa dirinya ada dalam pembicaraan itu. Terbukti dengan beberapa kali keduanya melihat ke arahnya. Pembicaraan keduanya cukup menyita waktu. Baik Sima yan dan Sima rui saling mengingatkan satu sama lain.
" Apa yang kalian bicarakan? " Tanya ziyan begitu keduanya berada di gerbong kereta hendak kembali ke kediaman.
Sima rui mengulas senyum lalu berkata, " Bukan hal penting. Hanya obrolan receh antar pria. "
" Obrolan receh? aku tak tahu kalian para pria juga suka bergosip layaknya para wanita. " Ledek ziyan.
Sima rui mengangguk seolah setuju dengan sindiran istrinya. " Kau benar. Kami para pria juga termasuk golongan manusia seperti wanita. "
Ziyan tercengang dengan jawaban Sima rui. Ia memutar bola matanya tak habis pikir suaminya akan bersikap santai tak peduli meski ia baru saja disamakan dengan wanita.
Ia hanya tak tahu bahwa Sima rui hanya bersikap seperti itu pada istri kecilnya saja. Jika orang lain, mungkin Sima rui tak akan segan-segan untuk memotong lidahnya.
Ditengah perjalanan, hidung ziyan mencium aroma sedap yang membuat air liurnya bergejolak.
" Berhenti! " Teriak ziyan. Sontak sang kusir menghentikan laju kudanya.
__ADS_1
" Apakah anda membutuhkan sesuatu wangfei? " Tanya yaoyao. Ia duduk bersama kusir di depan, jadi begitu ziyan menghentikan keretanya, ia dengan sigap langsung turun dan menanyakan permintaan ziyan.
Ziyan mengangguk. " Aku mencium aroma sedap. Apa kau tahu aroma apa ini? "
Yaoyao ikut mengendus aroma yang di maksud ziyan. " Sepertinya ini aroma kue panggang dari kedai itu wangfei. " Ucapnya sembari menunjuk sebuah kedai yang ramai oleh antrian.
" Kalau begitu bisa tolong kau belikan beberapa untuk ku. "
Begitu mendapatkan permintaan ziyan. Yaoyao bergegas mengantri.
Keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada yaoyao. Pelayan kedai yang melihat kereta Sima rui segera memberitahu pemilik kedai. Pria itu turun langsung melayani permintaan yaoyao. Dan tanpa mengantri dan menunggu lama pesanan itu sudah berada di tangannya.
" Nona, silakan kue panggangnya wangfei. " Ziyan mengambil beberapa lalu memberikan sisanya pada yaoyao agar di nikmati oleh yang lain.
" Terima kasih. " Tambah ziyan.
Kereta kuda kembali jalan. Namun tanpa di sadari oleh ziyan, seseorang mencoba mengejar keretanya. Dan dengan putus ada meneriaki namanya.
" GAIAAAA! ! ! "
Deg.
Ziyan menoleh ke arah luar dari jendela samping
" Apa kau mendengarnya? " Tanya ziyan pada sima rui.
" Apa? "
" Sepertinya seseorang memanggilku. "
" Mungkin itu hanya perasaan mu saja. Kau terlalu lelah. Jadi mari kita segera kembali. "
Meski ragu ziyan mengangguk setuju. Sang kusir yang mendapat perintah sima rui langsung menambah kecepatan kuda-kudanya.
*************
Beberapa jam sebelumnya.
Arthur dan wang yi berjalan di jalan ibu kota yang sedang ramai karena rombongan Sima yan. Keduanya penasaran dengan ramainya kota yang tak seperti kota-kota pada umumnya.
__ADS_1
" Apakah sedang ada festival? kenapa begitu ramai? " Tanya wang yi.
" Mungkin. " Jawab Arthur sekenanya. Ia bahkan tidak peduli, yang ada di kepalanya adalah segera menemukan Gaia dan membawanya kembali.
Mereka akhirnya tiba di sebuah kedai mie. Setelah memilih meja, keduanya duduk tenang menunggu pesanan yang akan segera tiba.
Wang yi yang sejak tadi bertanya-tanya mengenai keramaian ibu kota akhirnya tak bisa lagi membendung rasa penasarannya. akhirnya ia bertanya pada dua wanita yang duduk di samping meja mereka.
" Permisi nona. Bolehkah aku bertanya, ada apa gerangan ibu kota hari ini. kenapa begitu ramai? " Tanya wangi yi.
" Apa kau dari luar kota? " Tanya balik salah satu wanita.
Wang yi mengangguk. ' Bukankah negara lain juga termasuk luar kota. Jadi aku tidak berbohong. ' Batin wang yi.
" Pantas. Baiklah akan ku beri tahu. Jadi hari ini adalah hari keberangkatan putra mahkota Yan ke negeri wei dan akan menjadi raja di sana. "
Setelah mendapatkan informasi, wang yi kembali ke mejanya. Dua buang mangkok mie sudah tersaji, menggoda agar segera di nikmati.
Wang yi memperhatikan temannya yang sudah lebih dulu menyantap makanannya.
" Haish... Kau ini benar-benar tidak setia kawan. Kau seharusnya menungguku, bukannya makan terlebih dulu. " Sungut wang yi pura-pura kesal.
Arthur menatap rekan seperjalanannya yang sudah bersama dirinya hampir setahun ini.
" Apakah otak mu ikut terkontaminasi pria cabul itu. "
Wang yi tersedak mie nya hingga salah satu mie keluar dari hidungnya. Sontak pemandangan itu membuat jijik sekaligus lucu.
Arthur menggeser mangkok mie nya yang belum habis menjauh. Ia sudah tak berselera setelah melihat pemandangan menggelikan yang di buat wang yi.
Wang yi ingin bicara namun batuknya belum berhenti. " Kau- "
" Kau benar-benar penjahat. Teganya kau mengingatkan ku dengan kejadian menjijikan itu. Jika saja kulitku ini bisa di ganti. Aku akan merobek dan membeli yang baru. " Berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan. Ia mendengus kesal. " Setiap mengingat kejadian itu, tubuhku secara otomatis akan merinding. Lihatlah, bulu kuduk ku berdiri semua. " Wang yi menunjukan bulu halus di tangannya yang tampak berdiri.
Arthur tersenyum tipis melihat tingkah wang yi. namun sedetik kemudian wajahnya berubah pias. Bahkan kedua matanya membola karena terkejut. Semua ocehan wang yi tak ada yang masuk ke dalam telinga Arthur.
Tiba-tiba ia bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju ke sebuah kereta kuda. Jarak mereka yang cukup jauh membuat Arthur kalah cepat saat kereta itu mulai kembali bergerak.
Ia mulai berlari dengan perasaan takut. Berusaha mengejar kereta tersebut. Namun karena ia menggunakan topi dengan penutup wajah dan juga kondisi jalan ibu kota yang sedang ramai, Membuatnya kesulitan hingga kereta itu semakin menjauh.
__ADS_1
Dengan perasaan putus asa akhirnya ia berteriak berharap orang di dalam kereta itu mendengarnya.
" GAIAAAA!!! ! "