Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 306 side story ' Permulaan ' ( A Feng story)


__ADS_3

Flashback,


Sima rui tidak pernah menyangka bahwa sisi gelapnya sebagai humanoid akan menurun pada A Feng. Sifat haus darah tersebut terlihat saat A Feng berusia 15 tahun.


Saat itu, A Fei pergi ke ibukota bersama A Feng. Dalam perjalanan kembali ke istana, tiba-tiba sekelompok perampok menyerang ketika kereta kuda melewati jalanan sepi.


Pergi tanpa pengawal membuat para perampok tak mengetahui identitas keduanya.


" Hei kalian! serahkan uang dan barang berharga kalian. " Teriak salah satu perampok.


Kusir langsung melaporkan situasi pada A Feng yang duduk bersama A Fei di gerbong belakang.


" Yang mulia, mereka perampok kota. " Tak tampak ketakutan di wajahnya. Meski tanpa pengawal sekalipun. Ia yakin sekali Sima Feng bisa mengalahkan mereka.


A Feng membuka sedikit tirai, mengintip beberapa penghadang di depannya. Total ada empat orang.


" Tetap di dalam. Jangan keluar atau pun melihat keluar. Aku akan membersihkan mereka. " Peringatnya pada Sima Fei.


A Fei mengangguk. " Hati-hati. "


Setelah berbicara, Ia segera keluar untuk menyambut kedatangan penjahat kota tersebut.


Wajah lempeng A Fei menatap satu persatu pria di depannya.


" Lebih baik kalian pergi dari sini. Atau aku tidak segan-segan untuk membunuh kalian semua. " Datar sekali A Feng berbicara, yang mana justru membuat ke empat pria di depannya tergelak.


" Hahaha kau ingin membunuh kami? jangan bermimpi. Lihatlah, kau seorang diri. Justru kau lah yang akan kami bunuh terlebih dulu, dan sebelum kau mati. Aku akan membiarkan kau melihat bagaimana kami menikmati tubuh wanita yang ada di gerbong itu terlebih dulu. " Tampang cabulnya membuat siapapun merasa jijik.


Darah A Feng mendidih mendengar rencana mereka yang ingin melecehkan A Fei.


Karena mereka mengetahui keberanian A Fei, maka dari sini ia menyimpulkan bahwa mereka telah di awasi sejak berada di ibukota.


" Tarik kembali ucapan mu. " Suara A Feng mulai terdengar berat menahan amarah.


Keempat perampok itu kembali terbahak. " Jika aku tak mau, kau mau apa? " Ejeknya.


A Feng tak menjawab, membuat ke empat pria itu semakin puas menertawakan nya. Hingga mereka tak menyadari, sosok A Feng yang sudah bergerak dan tak ada di tempat.


Deg, pria itu berhenti tertawa saat menyadari A Feng sudah ada di belakangnya. Tangan dingin A Feng menyentuh kepalanya dan dengan sekali putar.


Kretekk!


Kepala berputar 180 derajat hingga menghadap tepat ke wajah A Feng di belakang.

__ADS_1


Ketiga pria yang lain terkejut dan tanpa sadar mundur hingga terjatuh.


Mereka mulai merasakan keringat dingin di sekujur tubuh. Menatap nanar tubuh rekannya yang sudah tak bernyawa dengan arah kepala terbalik.


" Siapa lagi yang ingin sepertinya. "


Tersadar dari keterkejutan, ketiga pria itu pun langsung menyerang A Feng bersamaan.


Di dalam gerbong, A Fei bisa mendengar perkelahian dan erangan kesakitan. Tidak perlu melihat, Ia tahu bukan A Feng pemilik suara kesakitan itu.


Sedikit meringis A Fei saat jeritan kesakitan terus berulang. Namun ia memilih abai. Dan tak lama, suasana sudah berubah hening.


" Sepertinya sudah selesai. " Gumamnya. A Fei hendak membuka tirai, namun wajah A Feng sudah lebih dulu menyembul, menghalangi pemandangan berdarah tersebut.


" Jangan lihat. Cepat masuk. " Dengan patuh A Fei kembali masuk.


A Feng memerintahkan kusir untuk kembali jalan, mengabaikan pria paruh baya itu yang gemetar ketakutan melihat bagaimana A Feng menghabisi keempat perampok itu dengan sangat tragis.


Bagaimana tidak ketakutan?


Seolah mendapat dorongan untuk membunuh, A Feng menyerang dan menghabisi mereka semua membabi buta. Bahkan setelah mengetahui musuhnya sudah tak bernyawa pun. Dengan menggunakan pedang mereka, A Feng masih mengoyak tubuh mereka hingga darah menggenang di jalan.


Bagi orang yang tak tahu, mungkin akan berpikir bahwa A Feng hanya sedang melampiaskan kemarahannya karena mereka telah menganggu adiknya.


Berdasarkan laporan penjaga bayangan saat itu. Sima Feng tampak puas saat melihat warna merah darah musuhnya.


Dan setelah itu, terjadi pembunuhan sekelompok bandit dan juga perampok hampir di setiap tempat. Mayat mereka bahkan begitu mengenaskan. Hal itu membuat seluruh penjuru ibukota gempar.


Ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, namun ada juga yang menganggapnya sebagai tindakan kejam karena termasuk dalam pembunuhan terlepas dari siapa korbannya.


" Sepertinya apa yang aku takutkan terjadi. Sifat iblis itu menurun pada A Feng. " Ucap sima rui pada sang istri.


Mengerutkan kening dan melihat suaminya. Ziyan berkata. " Apa kau yakin? apakah A Feng sudah membunuh seseorang? "


Berbeda dengan suaminya yang selalu memantau anak-anak mereka. Ziyan jauh lebih santai, Ia hanya akan bergerak saat sesuatu terjadi.


" Empat perampok yang mencoba merampok. Dalam sekejap semuanya dibunuh oleh A Feng. "


" Aku, aku bukan tidak percaya dengan mu suami ku. Tapi kita tidak bisa memutuskan hanya dengan kejadian itu bukan? "


" Tidak hanya itu, aku sudah meminta penjaga bayangan untuk memeriksa kasus pembunuhan yang terjadi pada bandit dan perampok di luar. Dan itu semua ternyata ulah putra kita. Kelompok itu memang jahat tapi bukan tugas kita untuk menghukum mereka dengan memberinya kematian. " Jelas Sima rui.


Ziyan akhirnya mengerti bagaimana berbahaya nya itu, apa lagi jika tidak memiliki pengendalian diri yang kuat.

__ADS_1


Ah membayangkannya saja membuat kepala ziyan pusing.


" Apakah separah itu ketika sifat iblis mulai muncul. " Ziyan tahu Sima rui memiliki pengendalian diri tinggi berkat mendiang gurunya. Jadi ia tidak tahu seperti apa rasanya saat keinginan membunuh itu muncul.


" Seperti kau sangat haus dan kau melihat air tepat di depan mu. Sayangnya kau tak bisa meminumnya. Bukankah itu sangat menyiksa? "


" Seberat itukah? lalu apa yang harus kita lakukan? Jangan katakan kau akan mengirim putra kita ke perbatasan. " Selidik Ziyan.


" Itu pilihan terbaik. "


Sudah Ia duga.


Pasrah, itulah yang hanya bisa ziyan lakukan saat ini. Ia pikir saat melihat kelahiran A Guang yang tak mewarisi sifat iblis itu. Anak-anaknya yang lain akan sama. Namun nyatanya tidak, A Feng mendapatkan sifat iblis itu.


" Pantas saja A Feng mampu menyaingi A Guang. Bahkan kecerdasannya lebih unggul darinya. " Gumamnya.


Ziyan tahu, selama ini A Feng menahan kemampuannya. Ia tidak bersikap menonjol karena menghargai A Guang.


Kehidupan istana kejam. Dan A Feng sadar fakta tersebut. Jadi ia memilih menjadi bayangan alih-alih cahaya itu sendiri.


Sima rui mulai merencanakan pengiriman A Feng ke perbatasan.


Tak ada penolakan dari A Feng. Penolakan justru berasal dari kedua saudaranya.


" Ayah, apa benar kau akan membuang A Feng ke perbatasan? " Tanya A Fei pada sang ayah.


Apa lagi ini?


Membuang? apakah putrinya ini tidak bisa menemukan kata yang tepat.


Sima rui tampaknya mencium akan ada masalah lain dengan kedatangan putrinya.


" Bukan membuang, ayah hanya mengirim A Feng ke perbatasan untuk pelatihan. " Sabar sekali Sima rui menjelaskan.


" A Feng sudah hebat, pelatihan apa lagi yang Ia perlukan. " Lirihnya.


Sebuah tepukan pelan di kepala Sima Fei membuatnya secara otomatis menoleh. Melihat kedatangan A Guang, membuat gadis itu seolah menemukan rekan untuk mengeluh pada ayahnya.


" Kak, katakan pada ayah. Agar membatalkan keputusan mengirim A Feng ke perbatasan. " Bujuknya memasang wajah memelas.


Berpikir kakak tertuanya akan mendukung, nyatanya A Guang justru mengkhianatinya.


" Jangan seperti itu. Mengirim A Feng ke perbatasan baik untuk dirinya. Banyak pelatihan di sana yang tidak bisa Ia dapatkan di sini. " Jelasnya pelan. A Guang tak ingin mengecewakan adik perempuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2