
Ziyan menatap langit malam dengan beberapa kilatan cahaya petir. Meski tidak hujan, suasana malam ini lebih mencekam dari biasanya. Entah kenapa sejak tadi perasaannya terasa tidak tenang.
" Ada apa? kenapa kau terus melihat ke arah langit. " Tanya snowy dari arah belakang Gaia.
" Aku tidak tahu apa yang salah. Hanya saja perasaanku sejak tadi tidak tenang. Tiba-tiba aku memikirkan ibu dan ayah. " Resah Gaia memegang dadanya.
" Tenang saja. Mereka berada di tempat paling aman. Pasukan musuh tidak mungkin bisa memasukinya. " Ucap Snowy menenangkan Gaia.
Sayangnya apa yang snowy ucapkan tidak sesuai. Nyatanya pada akhirnya pasukan musuh bisa menerobos masuk pangkalan militer mereka.
Pandangan mata Gaia menyipit menajamkan pandangannya. Ia melihat dari jendela lantai dua beberapa mobil militer dengan bendera musuh menuju ke arahnya. Seketika firasat buruk muncul di benak Gaia.
" Snow, lihatlah. Pasukan poros sedang menuju kemari. "
Dan apa yang ia takutkan terjadi. Truk yang membawa puluhan pasukan militer pasukan poros menerobos pintu gerbang mereka. Rumah gaia yang bergaya Eropa memiliki jarak cukup jauh antara gerbang utama dengan pintu masuk.
Berbekal persenjataan lengkap mereka mulai membuka paksa pintu masuk.
Gaia dengan panik mencoba melarikan diri. Namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan masuklah seorang pria dengan mata biru dan berambut pirang. Napasnya tersengal setelah berlari jauh. Keringat di dahinya menambah raut wajah khawatir pria itu terlihat semakin menyeramkan.
" Arthur? apa yang kau lakukan disini? " Tanya Gaia pada sosok pria yang sudah sejak lama di kenalnya itu.
" Aku tak memiliki waktu lagi untuk menjelaskannya. Ayo ikut aku. " Arthur segera menarik tangan Gaia dan membawanya ke ruang lain. Mereka berlari secepat mungkin, bahkan Gaia sempat beberapa kali hampir terjatuh karena tersandung. Tanpa Gaia suruh, Snowy berlari mengikuti dari belakang.
Arthur mendorong sebuah perapian, dan secara mengejutkan perapian tersebut bergeser ke samping.
Gaia tercengang hingga mulutnya menganga lebar. Ini rumahnya tapi kenapa ia sama sekali tak tahu bahwa ada ruang rahasia.
Segera, setelah terbuka lebar. Arthur menarik Gaia yang sejak tadi masih tertegun dengan rahasia kecil rumahnya itu.
" Jangan melamun. Ini bukan waktu yang tepat. " Sergah Arthur.
Perapian langsung tertutup setelah mereka masuk. Suasana sekitar yang sangat gelap membuat Gaia hanya bisa meraba-raba sekitar.
" Apakah ini lorong? " Tanya Gaia.
" Sstt... " Arthur mengarahkan jari telunjuk nya ke arah bibir untuk meminta Gaia diam. Meski apa yang pria lakukan itu sia-sia karena tempat yang sangat gelap, tak mungkin Gaia bisa melihatnya.
__ADS_1
Seketika suasana sunyi. Dalam keheningan tersebut Gaia bisa mendengar suara ribut dari arah lain.
" Apa sudah ketemu? "
" Tidak ada seorang pun di rumah ini selain beberapa pekerja kapten. "
" Tidak mungkin. Cepat temukan gadis itu. Bagaimana pun kita harus menangkapnya. "
Setelah mencari dan tak mendapatkan hasil, mereka akhirnya pergi.
Gaia bisa mendengar derap langkah kaki yang semakin menjauh. Tanpa sadar, sejak tadi Gaia menutup mulutnya dengan tangannya yang tak bisa berhenti bergetar. Ia tentu tahu apa yang sedang mereka cari. Mereka sedang mencari dirinya, lebih tepatnya apa yang ada di kepalanya. Karena di dalam otaknya tersimpan beberapa rumusan hasil eksperimen ke dua orang tuanya. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu apa saja isi rumusan itu. hal itu hanya bisa di diketahui setelah Gaia melakukan hypnotherapy. Jika orang tuanya tak mengatakan fakta tersebut mungkin selamanya Gaia tak akan tahu.
Arthur yang melihat tangan Gaia gemetar segera menenangkannya. " Jangan takut. Mereka tidak akan menangkap mu. " Genggam Arthur pada tangan Gaia.
Gaia menggeleng. " Bukan. Aku tidak takut jika pun mereka menangkap ku. Aku hanya takut mereka menangkap ayah dan ibu. "
" Jangan khawatir, mereka baik-baik saja. Kita akan menemui mereka setelah ini. " Gaia mengangguk setuju.
Dua orang dan seekor kucing itu berjalan menyusuri lorong yang gelap. Setelah mata mereka bisa beradaptasi, Gaia bisa melihat sedikit lebih jelas jalan yang mereka lalui. Entah sudah berapa lama mereka berjalan, hingga akhirnya Gaia melihat sebuah cahaya di ujung lorong.
" Apa ini? " Gaia terkejut ketika melihat ujung lorong adalah komplek pemakaman.
" Aku tidak buta snow. Aku tahu ini makam. " Kesal Gaia.
" Lalu kenapa kau masih bertanya. "
" Bisakah kalian berhenti bercanda. " Potong arthur melerai kedua makhluk itu.
Tak ingin terus berdebat, Gaia akhirnya memilih diam begitu pula dengan Snowy. Mereka menuju ke pangkalan militer utama dimana ibu dan ayah Gaia berada.
" Hei lihat itu mereka! " Tiba-tiba Arthur dan juga gaia di kejutkan dengan sebuah teriakan seorang pria.
Ketika menoleh, mata keduanya membola karena tahu jika pria yang meneriaki mereka adalah pasukan lawan.
" Cepat kau pergi lebih dulu. Aku akan menghambat mereka. " Teriak arthur, ia mendorong Gaia agar pergi.
" Snow, bawa Gaia dan lindungi dia. " Sambungnya lagi.
__ADS_1
Gaia menggeleng, menolak pergi dan mengorbankan temannya.
" Tidak, aku tidak ingin pergi sendiri. Kau harus pergi juga. " Isak Gaia.
" Snow! Cepat bawa dia pergi. " Pekik arthur.
Snowy menatap keduanya dengan kesal. " Hentikan drama konyol ini Gaia. Ayo kita pergi. Arthur bukan pria lemah yang akan dengan mudah mati di tangan tentara rendahan itu. "
" Aku ini bukan manusia yang bisa menarik mu atau menggendong mu. Jadi kau pilih pergi baik-baik denganku atau ku cakar wajahmu terlebih dulu. " Tekan Snowy.
Akhirnya Gaia setuju dan dengan berat hati meninggalkan arthur. Sesekali ia menoleh ke belakang dan melihat Arthur yang sedang melawan beberapa pasukan lawan.
DORR
Terdengar suara tembakan yang membuat langkah Gaia tiba-tiba terhenti. Dengan penuh rasa ketakutan ia kembali menoleh ke belakang. Dari kejauhan ia bisa melihat Arthur yang jatuh bersimpuh ke tanah.
" ARTHUR !!!!!! " Teriak Gaia.
Napasnya tersengal seolah dirinya baru saja lari maraton. Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa Ia bukan berada di Britania melainkan di dalam kamarnya. Akhirnya ia tersadar jika apa yang di alaminya barusan adalah mimpi. Lebih tepatnya kejadian sebelum dirinya datang ke dunianya sekarang.
" Maaf, maafkan aku. " Tiba-tiba ziyan menangis. Sebuah bongkahan penyesalan mengganjal di dadanya. Ia menepuk-nepuk dadanya merasakan sesak.
Kenangan yang ingin dia kubur kini muncul kembali. Membawa rasa bersalah yang tak akan pernah bisa ia tuntaskan.
Setelah menangis dengan puas. Ziyan duduk di pinggir tempat tidur. Rambut panjangnya tergerai hingga menutup sebagian wajahnya yang pucat. Gaun tidur putih ziyan sedikit basah karena keringat dingin yang keluar dari tubuhnya. Dalam heningnya malam ia masih diam.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Gubrak.
Sima rui yang baru saja masuk terkejut saat melihat sosok menakutkan di atas ranjangnya. Ia bahkan sampai mundur dan menabrak pintu. Beruntung ia tidak sampai terjungkal ke belakang.
Mendengar suara berisik, ziyan menoleh dan melihat suaminya yang diam membeku sedang menatapnya.
" Kau sudah pulang pangeran? " Tanya ziyan turun dari ranjang dan menghampiri sima rui.
" Ada apa ? " Tanya ziyan lagi ketika melihat wajah pucat suaminya.
__ADS_1
" Kau, kau menakutkan. "
" Hah? " Ziyan menganga mendengar ejekan suaminya.