
Penangkapan Arthur membawa Sima rui menemui adiknya, Sima Dan di kantor penyidik. Ia mendapatkan titah dari sang istri yang memintanya menolong Arthur. Dan sebagai suami yang baik, Sima rui akan menjalankan apa saja yang menjadi keinginan istrinya.
Mungkin jika ada sekte pemuja istri. Maka Sima rui akan mendapat kehormatan sebagai ketua suami-suami budak istri.
" Kakak? Apa yang membuatmu datang kemari? " Tanya Sima Dan heran karena tak biasanya sang kakak datang menemuinya di tempat kerja. Ia pun berdiri dan menyambut kedatangan Sima rui.
" Ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu. "
Sima Dan mengangkat kedua alisnya. " Apa itu kak? "
" Seorang pria berambut emas dengan mata biru. Apa kalian baru saja menangkapnya? " Terang Sima rui langsung.
" Hah? " Sima Dan terkejut karena sang kakak tahu mengenai pria asing itu. Pria yang di anggap jelmaan iblis oleh warga karena fisik yang berbeda dengan ciri khas rakyat lokal.
" Kenapa kakak menanyakan pelaku penculikan itu? " Tanya Sima Dan penasaran.
Sima rui kecewa dengan Sima Dan yang biasanya cerdik kini berubah bodoh karena percaya begitu saja dengan rumor tak berdasar itu.
" Apa kau sudah menyelidikinya? Apa kau percaya dia pelaku dari hilangnya orang-orang itu? "
" Maksud kakak? " Sima Dan seolah bisa melihat maksud tersembunyi dari ucapan kakaknya.
Sima rui menarik napasnya lalu kembali bicara, " Bukti apa yang kalian gunakan untuk menetapkannya sebagai tersangka. "
Sima Dan diam, ia memperhatikan kakaknya dengan tatapan menyelidik. Ia yakin ada sesuatu yang membuat kakaknya begitu peduli dengan penangkapan pria itu.
" Sebelum aku mengatakannya, bisakah kakak memberiku alasan kenapa aku harus memberi tahu kakak semua informasi itu. "
" Tentu saja karena dia bukan pelaku sebenarnya. Jika ku katakan aku mengenal pria asing itu apa kau percaya? " Sima rui mengangkat salah satu sudut bibirnya.
Mata Sima Dan membola, terkejut dengan apa yang Sima rui katakan. " Benarkah itu? Tentu saja aku percaya. Kau tak mungkin membual kak. "
Begitulah Sima Dan. Selalu percaya apa yang Sima rui katakan. Bahkan seandainya Sima rui mengatakan ia penyuka pria pun, Sima Dan akan tetap mempercayainya.
" Jadi apa yang membuat mu menetapkannya sebagai tersangka? " Tanya Sima rui lagi.
Sima Dan menggeleng. " Bukan aku. Tapi komandan lain yang menetapkannya. Keputusan itu berdasarkan saksi salah satu korban penculikan. "
__ADS_1
Kening Sima rui mengerut saat mengetahui fakta lain tersebut. " Saksi korban katamu? "
" Benar. " Sima Dan mengangguk.
Sima rui tampak berpikir sejenak. Ia tak bisa bertindak gegabah kali ini. Apa lagi seluruh rakyat ibu kota memperhatikan kasus ini. Jadi tak mungkin ia menukar pelaku dan membawanya pergi begitu saja.
" Aku akan kembali. Tolong untuk sementara kau jaga orang itu. Jangan sampai ia terluka. Aku yakin pelaku sebenarnya akan bertindak dan membuat dirinya bersih dari kasus ini. Aku tak ingin pengorbanan sia-sia orang yang tidak bersalah. " Tekan Sima rui.
" Aku akan mengingatnya. " Jawab Sima Dan.
Setelah itu, Sima rui kembali ke kediamannya. Melihat ziyan yang berada di ruang penerima, ia yakin bahwa istrinya sedang menunggu dirinya. Sima rui tersenyum lalu menghampiri sang istri.
Mata ziyan berbinar ketika melihat sosok yang sejak tadi ditunggunya.
" Bagaimana? Apakah Arthur baik-baik saja. "
Senyum Sima rui langsung luntur begitu mendengar pertanyaan sang istri. Cemburu karena hal yang pertama ia tanyakan bukan tentang dirinya melainkan pria lain.
Melihat wajah tertekuk suaminya, ziyan sempat bingung. Kemudian, Ia menepuk jidatnya begitu tersadar akan kesalahan yang tidak disengajanya.
Ziyan tersenyum lalu mengusap lembut pundak Sima rui. " Bagaimana hari ini? Apa kau lelah? " Tanyanya dengan lembut.
" Hari in- " Ucapan Sima rui terpotong oleh wang yi yang langsung menyuarakan pertanyaan tanpa melihat situasi.
" Pangeran bagaiman dengan arthur? Apakah kalian bisa membebaskannya? " Sela wang yi.
Sekali lagi senyum Sima rui jatuh. Ia menoleh menatap Wang yi dengan wajah datar. Namun penuh dengan niat membunuh di matanya. Wang yi yang melihat itu langsung gemetar ketakutan. Sementara Ziyan terkekeh melihat tingkah suaminya dan juga wang yi.
Tanpa menjawab pertanyaan wang yi, Sima rui berjalan melewatinya lalu pergi menuju kamarnya.
" Aku akan mengatakannya nanti. Kau kembalilah ke kamar mu. " Ucap ziyan pada wang yi sebelum meninggalkannya untuk mengikuti langkah Sima rui.
Wang yi masih membeku di tempatnya. Ia tak tahu apa kesalahan yang sudah di buatnya. Kenapa Sima rui tampak sangat marah padanya.
Dengan linglung ia berjalan keluar. Melihat junyi yang berada di luar. Wang yi memutuskan untuk bertanya.
" Apakah tuan mu sedang datang bulan? kenapa mudah sekali marah. Aku hanya datang untuk bertanya, tapi ia justru memberikan tatapan menakutkan. " Tanya wang yi.
__ADS_1
Junyi memutar bola matanya jengah. Ia tak suka karena wang yi mengatakan hal buruk mengenai tuannya. Jelas-jelasnya dirinya yang salah karena mengganggu tuannya di waktu yang tak tepat.
' Sepertinya harus ku beri pelajaran dia. ' pikirnya.
" Jangan salahkan tuan ku. Tapi salahkan kehadiran mu. "
" kehadiran ku? " Beo wang yi. " Apa yang salah dengan ku. " Wang yi kembali bertanya.
" Itu karena dirimu di selimuti oleh aura negatif. Karena itu mata tuan ku panas saat melihat mu. " Junyi berkata dengan wajah serius.
" Benarkah? " wang yi seolah masih mencari kebohongan di wajah junyi. " Lalu apakah aku harus menghilangkan aura negatif ini? "
Junyi mengangguk lalu kembali berkata. " Tentu. Jika kau ingin menghilangkannya pergilah ke kuil di belakang kediaman. Lalu berendam lah pada tengah malam saat bulan penuh. Setelah itu semua aura negatif langsung hilang dan berganti dengan aura positif. "
Setelah mengatakannya, junyi bergegas pergi. Ia sudah tak tahan menahan tawanya lebih lama lagi.
' Lihatlah tampangnya. Bodoh jika ia benar-benar mempercayainya. '
Sayangnya, junyi tak tahu bahwa wang yi yang terlanjur percaya akhirnya benar-benar melakukan apa yang dikatakan junyi. Hingga keesokan harinya ia harus menderita demam tinggi karena hipotermia.
kembali pada ziyan dan sima rui.
Setelah gangguan dari wang yi, sima rui yang tiba di kamarnya segera menarik ziyan masuk ke dalam pelukannya.
" Akhirnya tak ada lagi yang mengganggu. " Ucap sima rui penuh syukur. Sementara ziyan tertawa geli mendengarnya.
" Kenapa kau tertawa? " imbuh sima rui keberatan karena istrinya tampak tak terganggu dengan kehadiran wang yi.
Ziyan melerai pelukannya. Lalu menengadah melihat wajah suaminya. " Aku suka saat kita hanya berdua. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan wang yi karena aku tahu ia sedang mengkhawatirkan arthur. Meski mereka hanya rekan seperjalanan. Tapi aku tahu bagi wang yi, arthur sudah seperti keluarganya."
Sima rui mencubit hidung ziyan.
" Auw.. apa yang kau lakukan! " pekik ziyan.
" Itu hukuman karena kau memahami pria lain. " Ucap sima rui.
Hah?
__ADS_1
Sekali lagi, ziyan di buat tercengang dengan sikap posesif sima rui.