
Setelah bertemu sang ayah, gegas A Feng pergi untuk menemui Liu ru. Ia datang langsung ke kamar wanita itu.
Pelayan yang membantu Liu ru mengumumkan kedatangan Sima Feng.
Kini hanya ada mereka berdua setelah sebelumnya Sima Feng mengusir para pelayan di sana.
" Bagaimana acara belanja kalian? " Tanya Sima Feng meski sebenarnya ia tahu apa yang terjadi.
" Ingat kak. Kau harus lebih perhatian. Cobalah untuk bertanya. " Teringat akan pesan A Fei padanya.
Jadi meski A Feng berpikir tindakan basa basi adalah suatu hal bodoh. Tapi ia tetap melakukannya.
' Ah lebih mudah menaklukan musuh di medan perang. Dari pada melakukan hal ini. Sungguh merepotkan. ' Batin Sima Feng saat ini.
Liu ru menatap heran A Feng. " Tidak terlalu baik. Namun cukup menyenangkan. "
Wanita itu terlihat malas namun ia masih berusaha menjawabnya. Mengingat Liu shishi membuat suasana hatinya yang sebelumnya sudah membaik seketika turun lagi.
" Tidak terlalu baik? apa ada masalah? "
Liu ru semakin menatap curiga A Feng setelah beberapa saat ia mengembuskan napas. Mulai lah ia menceritakan pada laki-laki itu apa yang terjadi.
" Dan kau membiarkannya begitu saja. "
" Aku tidak memiliki status ataupun kekuasaan. Bagaimana aku bisa membalasnya. Sejujurnya aku adalah wanita pendendam. Jadi jika kau bertanya apakah aku ingin membalasnya, maka jawaban ku adalah sangat. Namun apa yang bisa ku lakukan? "
" Kau memiliki aku. Gunakan aku. " Santai sekali Sima Feng berkata. Membuat otak Liu ru seketika langsung berpikir liar.
Dua pipinya tiba-tiba bersemu merah.
"Apa yang kau pikirkan? kenapa wajahmu merah? jangan bilang kau sedang memikirkan sesuatu yang kotor? " Selidik Sima Feng.
" Ti-tidak. Kau lah yang berpikir kotor. Kau berkata gunakan aku, siapa pun pasti akan berpikir kotor. " Sanggah Liu ru. Enak sekali ia menuduh dirinya memiliki otak kotor. Dialah yang berkata dengan makna ambigu.
" Apa yang salah dengan kalimat ku. Siapapun pasti akan berpikir bahwa aku menyuruh mu untuk memanfaatkan ku bukan seperti apa yang kau pikirkan tadi. "
Melihat wajah Liu ru semakin merah karena malu, Sima Feng melanjutkan. " Tapi aku tidak keberatan jika kau melakukan seperti apa yang kau pikirkan itu. "
" Lihatlah. Kau sedang mencoba mengambil keuntungan dari ku. "
__ADS_1
Ada perasaan nyaman yang Sima Feng rasakan saat berbincang dengan Liu ru. Seperti saat ini, seolah dorongan emosi untuk membunuh atau apapun itu seketika hilang. Dan ia menyukai perasaan ini.
Tanpa sadar Sima Feng tertawa mendengar ocehan Liu ru. Bagaimana bisa ia baru mengatakan dirinya mengambil keuntungan darinya sementara di antara mereka sudah ada anak.
Untuk pertama kalinya Liu ru melihat Sima Feng tertawa. Dan itu sangat manis menurutnya. Wajah dingin yang terlihat tampan, bertambah semakin tampan ketika tawa menghiasinya.
Deg deg.
Jantung Liu ru tiba-tiba berdebar cepat. Ia sontak memalingkan wajahnya dari pemandangan yang cukup mengganggu kesehatan jantungnya tersebut.
" Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, bagaimana aku bisa menggunakan mu untuk membalas mereka. " Liu ru secepatnya mengubah topik.
" Haruskah aku memberitahu mu? "
" Tentu saja. Aku tak ingin melewati batas. Jangan sampai kau marah dan nantinya berbalik menyerang ku. Bukankah terakhir kali kau mengancam akan memotong lidah ku. "
Kehangatan wajah Sima Feng mendadak hilang berubah menjadi wajah yang entahlah. Antara rasa bersalah, menyesal, atau sedih. Liu ru tak tahu.
" Aku minta maaf untuk kata-kata kasar ku tempo hari. Aku terlalu implusif saat itu. Aku.. " Sima Feng terdiam. Sulit sekali menemukan kalimat yang sesuai. Tenggorokan seakan kering dan lidahnya kelu.
" Tak apa. Aku justru yang seharusnya meminta maaf karena menyinggung sesuatu yang kau benci. " Sela Liu ru sadar akan jeda Sima Feng, kelihatan sekali pria di depannya kesulitan merangkai kata.
Pria yang selalu menggunakan otot untuk memukul dan otak untuk menyusun strategi perang itu tampaknya sangat payah ketika harus mengungkapkan isi hati.
Hening. Suasana kembali canggung.
" Ehem.. Jadi apa kau membutuhkan bantuan ku. " Sima Feng kembali bertanya.
" Untuk sekarang tidak. Tapi mungkin suatu saat nanti. "
" Baiklah. Aku akan menunggunya. " Liu ru hanya mengangguk sebagai respon.
A Feng pergi, sementara Liu ru masih setia melihat punggung Sima Feng saat pria itu meninggalkan kamarnya.
Tak lama pelayannya Xiao Su masuk.
" Nona apa kau membutuhkan sesuatu? " Tanyanya.
" Xiao Su apa kabar itu benar? Bukankah tadi kau mengatakan bahwa pangeran mengirim seseorang untuk memberikan hukuman pada Liu shishi. Tapi tadi ia bertindak seolah tak tahu apa-apa? "
__ADS_1
" Saya sangat yakin nona. Sementara untuk sikap pangeran, saya tidak tahu. "
' Tidak mungkin berita itu palsu nona. Putri Fei lah yang meminta ku untuk mengatakan pada anda. Tapi maaf nona, putri meminta ku merahasiakannya. ' Batin Xiao su.
Sebelum kedatangan Sima Feng, Xiao Su memberitahu perihal hal tersebut, jadi saat Sima Feng datang dan bertanya, Liu ru sempat kebingungan. Mungkinkah pria itu hanya pura-pura.
Untuk apa? apakah ia ingin aku bergantung padanya?
Terkadang pemikiran pria yang hanya tahu berperang tersebut sulit untuk di tebak. Padahal ia hanya perlu berkata jujur dan tidak perlu berputar dengan kalimat basa-basi.
" Aneh. " Liu ru bergumam lirih.
Seorang pelayan datang dan memberitahu Liu ru tentang kedatangan guru etika. Mulai hari ini ia akan menerima latihan tidak hanya mengenai etika dalam bersikap, tapi juga berlatih tentang upacara pernikahan sebelum upacara pernikahan sesungguhnya yang akan berlangsung nanti.
Awalnya ia berpikir bahwa itu hanya sekedar latihan biasa. Siapa yang menduga bahwa pelayan senior sekaligus guru etika itu akan berlaku sangat keras padanya.
Dan setelah berjam-jam sesi latihan berat itu, akhirnya selesai.
Brukk
Liu ru menumbangkan badannya ke atas ranjang. Badannya sangat lelah seakan seluruh tulangnya remuk.
" Masih ada satu minggu dan pelatihan berat ini akan berakhir. Semoga sampai hari itu tiba, kaki dan tangan ku masih tetap utuh. " Gumamnya pelan. Tanpa sadar kedua matanya yang berat akhirnya tertutup.
Ditengah malam. Seseorang menyelinap masuk ke kamar Liu ru.
Melihat betapa buruknya posisi tidur wanita itu. Sima Feng bisa melihat bahwa latihan tadi pasti sangat melelahkan untuknya.
' Sebenarnya ada apa dengan ku. Kenapa aku ingin terus melihat wajahnya. ' Batinnya bertanya.
********
Beberapa hari kemudian.
Di kediaman Liu, mereka mulai menulis surat dan meminta seseorang mengantarnya secepat mungkin ke kediaman pangeran. Karena mereka tidak bisa langsung mengirim ke istana. Maka mereka hanya bisa mengirimnya ke kediaman Pangeran Feng terlebih dulu.
" Yang mulia, ini surat dari kediaman Liu. " Ling he menyerahkan surat yang dimaksud.
Kedua alis Sima Feng terangkat. " Mereka cukup cepat juga. Berikan ini pada Liu ru. "
__ADS_1
Ling he kembali mengambil surat yang tadi ia serahkan itu. Dan bertanya dengan wajah bingung. " Anda tidak membacanya pangeran? "
" Tidak perlu. Aku tahu apa yang mereka tulis. Kita lihat saja langkah apa yang akan wanita itu ambil untuk menghadapi keluarganya. "